
( Almira )
Hal gila yang aku lakuin saat ini, membalas pesan dari suami orang. Aku tau ini salah,tapi cara ini lah untuk mengakhiri semuanya.
"Mom." panggilnya.
"Yaa sayang." Aku tersenyum ke arahnya.
"Are you okey,Mom?." Terlihat di wajahnya Arabela mengkhawatirkan diriku.
"Ya sweety.Mommy baik-baik aja."
"No. Mommy nggak baik-baik aja," ujarnya dengan suara yang tegas.
Karena dia,pikiranku jadi hilang arah. Ada ketakutan yang menyerpa diriku. Aku takut tak sesuai harapanku.
Arabela memeluk ku dengan erat. Tangan mungilnya mengusap punggungku,dan katanya "Ada Ara Mom. Ara selalu sayang Mommy."
Mendengar perkataannya, membuat aku ingin menangis. Hatiku terenyuh dengannya. Ara benar,aku tak sendiri. Ada putriku yang selalu menemani, ketika mereka meninggalkan aku. Putriku lah sumber kekuatanku selama ini. Cukup dengannya, dunia tampak sempurna bagiku.
"Mommy juga sayang sama Ara." Aku memeluknya dengan erat.
Ku pandangi wajahnya,kemudian membelai rambutnya.
"Sweety. Kalau sudah dewasa nanti,jadilah orang yang kuat ya," ujarku.
"Yes,Mommy. Ara akan jadi woderwoman. Hehehe"
"Hahaha,anak mommy menggemaskan sekali sih.Hmm..." Aku mencubit pipinya dengan gemas.
"Hehehe... Siapa dulu,anak mommy Almira."
Aku dan arabela ketawa bersama. Tak henti- hentinya, aku selalu bersyukur memiliki putri cantik sepertinya.
Keesok harinya,aku bersama Ara datang ke cafe yang dia janjikan. Ara begitu bahagia hari ini, katanya akhirnya dia bisa jalan-jalan. Memang, selama di Jakarta aku belum mengajak liburan. Bulan depan, aku berencana akan mengajaknya ke Bali. Bekerja sambil liburan.
Sesuai gps, akhirnya sampai juga di tempat. Cafenya cukup rame, mungkin masih hits. Makanya banyak anak muda, apalagi ini weekend.
Nino sempat mengirim pesan. Katanya, dia berada di ruang atas. Aku dan Ara masuk ke dalam cafe. Kemudian,kita langsung menuju lantai atas.
"Hati-hati sayang,langkahnya."
"iya,Mom."
Untung tangganya tidak terlalu tinggi. Jadi tidak bahaya untuk anak kecil. Setelah mencapai anak tangga yang terakhir, aku langsung melihat keberadaan Nino. Di berada di pojok sendiri.
Nino melihat kedatangan kita, dia langsung melambaikan tangan ke arah kita. Aku menggenggam tangan Ara dan melangkah menuju ke arahnya.
Aku tersenyum di hadapannya. Dia juga membalas senyumanku.
"Apa kabar, Al." sapanya.
"Baik, Nin."
Suasana menjadi canggung,entahlah aku merasa asing dengannya. Meski dulu aku dengannya persahabatan.
"Mom, Ara haus."celetuk Ara.
"Sorry, tadi aku bingung mau pesan buat kalian." ujar Nino.
"Nggak apa-apa. Aku yang pesan aja." Aku berdiri beranjak dari kursi.
Berpamitan dengan Ara, aku membelai rambutnya dengan lembut.
"Mommy tinggal sebentar ya Ara. Jangan nakal sama Om."
"Iya mom." jawabnya.
"Titip Ara ya, Nin."
"Oke."
Aku meninggalkan mereka berdua, dan berjalan menuju ke bawah. Aku nelirik ke arah mereka,Nino seperti mengajak berbicara dengan Ara. Aku melihatnya, sebelum turun melewati tangga,dia membelai pucuk rambut Ara. Aku tersenyum melihat kedekatan mereka.
Setelah memesan makanan dan minuman, aku kembali ke atas. Nino terlihat masih berbicara dengan Ara, apalagi terdengar suara ketawa Ara. Aku mendekat ke arah mereka.
"Sepertinya, lagi seru nih. Mommy ikut dong!"
"Hehehe, rahasia mommy." jawabnya Ara.
Mereka berdua saling pandang, Nino pun ikutan tersenyum dan menggerakkan tanggannya seperti mengunci mulutnya. Ara kembali tertawa dan mengikuti gerakan Nino.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka. Kemudian, aku menyodorkan minuman untuk Ara.
Setelah minum, Ara beranjak menuju ke tempat bermain. Di dalam cafe ini, ada mini tempat bermain untuk anak-anak.
"Mom, Ara mau bermain dulu ya."
"Iya sayang. Hati-hati mainnya."
Ku lihat Ara sudah bermain dengan temannya. Tampak bahagia bermain dengan teman barunya.
"Kok istri kamu nggak di ajak?" tanyaku kepada Nino.
"Dia lagi ada urusan pekerjaan." jawabnya
"Owh seperti itu."
"So, sekarang kamu sibuk apa?" tanyanya.
"Aku buka butik di Jakarta."
"Akhirnya cita-cita kamu tercapai ya."ujarnya sambil memandang ku dengan tersenyum. Meski mata tak bisa berbohong, dia terlihat sendu.
"Ya. Aku dapat beasiswa dan aku langsung mengambilnya." jawabku. Sambil memainkan sedotan minumanku.
Aku merasa pembicaraan saat ini, akan menguras pikiran dan tenagaku. Hatiku pun mulai sakit, seperti terbukanya luka masa lalu.
"Maaf, untuk semuanya."ucapnya
"Aku baik-baik saja kok." jawabku.
"Aku tau. Kamu pasti berjuang sendiri. Sekali lagi maaf, aku gak berada disisimu."
Aku hanya terdiam membisu. Mulutku ingin berbicara akan tetapi seperti terkunci.
"Sepertinya, terjadi sesuatu yang aku tak tau?"
Aku masih terdiam mendengarkannya. Kepalaku menunduk,tanganku berpindah berada di bawah meja. Aku menyatukan kedua tanganku. Aku merasa gugup sekali.
Aku memberanikan memandangnya. Raut wajahnya berubah sedih,seperti halnya dengan diriku.
Kita saling bertatap mata. Aku melihatnya, ada luka di matanya. Aku menangis, dan menarik tangannya. Ku genggam tangannya.
"Maafkan aku."
Pertahananku mulai runtuh. Akhirnya aku menangis di depannya. Aku terus menggumamkan kata "Maaf".
Di balik senyumnya,kita saling terluka dan rapuh. Takdir terkadang menyakitkan. Seperti halnya hubunganku dengannya. Berakhir saling menyakiti karena keadaan.
Dia beranjak dari kursinya dan berpindah di sebelahku. Dia memelukku dengan erat. Aku menangis di pelukannya seperti dulu. Dia adalah tempat dimana aku menangis ketika takdir hadir di hidupku. Takdir dimana orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Dia lah orang pertama yang memelukku.
Ketika tangisanku berhenti, dia membelai wajahku.
"Kau tau. Kamu tetap berarti buat aku."
"Aku tau." Aku memeluknya. Dengan penuh sayang dia membelai rambutku.
"Aku mencintaimu hingga sekarang. Aku selalu mencarimu." ujarnya.
"Maaf." Nadaku seperti orang menahan tangisan.
"Arabela,dia mirip keponakanku." katanya. Aku semakin memeluknya dengan erat.
Aku masih terdiam, enggan menjawabnya. Dia masih membelai rambutku.
"Aku senang melihatnya. Dia cantik,kaya kamu. Hmmm..." ujarnya.
"Iya dia cantik. Mukanya kaya kamu." jawabku.
"Aku tau." katanya sambil tertawa kecil. Dia melukku dengan erat.
Sebentar saja aku ingin keadaan seperti ini. Tanpa memperdulikan dunia,mengenang masa lalu kita. Karena setelah keluar dari caffe,dunia kita berbeda. Dan saat ini aku ingin menikmatinya.
"Bukannya, kita harus berbicara dengan Ara?" tanyanya.
"Biar aku saja yang bilang sama Ara."
"Oke." Dia tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya.
Setelah beberapa jam kita berada di caffe. Akhirnya, kita pulang karena langit sudah berubah menjadi gelap. Dan Nino sudah di telfon oleh istrinya.
Aku iri dengan istrinya, bisa memiliki suami seperti Nino. Seharusnya, Nino milikku. Bolehkah aku egois?.
Aku ingin mengambil yang seharusnya milikku. Tapi itu akan menyakitkan semuanya.
Aku menghela nafas. Bertemu kembali dengannya, membuat pikiran negatif berada di otakku.
***
Sebelumnya,aku minta maaf untuk readerku yang mengikuti cerita ini karena lama gak post cerita kelanjutannya. Mianhae chingu 😘
Selamat membaca chingu 🥰
Jangan lupa like dan komentnya chingu.😘
Dan jangan lupa follow akun ini 🤩