
Daniel terlihat bahagia saat melihat Emelie muncul. Pria itu melepas rangkulannya di pinggang Serena. Ia sudah tidak sabar melaporkan Zeroun agar mendapat hukuman dari Emelie, “Putri, kebetulan sekali anda ada di sini. Lihatlah bagaimana kelakuan suami anda. Ia terus saja mencari cara untuk mendekati istri saya.”
Daniel menunjuk ke arah Zeroun dan Serena. Pria itu terlihat kesal dan cemburu. Hatinya terasa panas karena selalu melihat Zeroun dan Serena berduaan di satu tempat tersembunyi.
“Apa benar seperti itu, Zeroun?” ucap Emelie dengan tatapan serius.
Zeroun menaikan satu alisnya, “Kau percaya sama Ceo ini, Sayang?” Pria itu berjalan pelan untuk mendekati posisi Serena, “Kami hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa sambil membahas sesuatu. Apa itu salah?” ucap Zeroun dengan nada yang cukup lembut.
“Tentu saja itu salah, Zeroun!” protes Emelie dengan nada sedikit meninggi.
Serena mengukir senyuman tipis sambil memandang wajah Daniel dan Emelie secara bergantian, “Apa kami harus menjelaskan yang terjadi sejak awal kami bertemu beberapa menit yang lalu?”
Daniel melipat kedua tangannya di depan dada. Ada wajah penuh kemenangan karena ia sudah berhasil membuat Emelie ada di pihaknya, “Apa kau dengar, Zeroun?”
Emelie memandang wajah Daniel, “Tuan, sepertinya anda telah salah paham.”
Daniel memandang wajah Emelie lalu meletakkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Pria itu melebarkan bola matanya saat melihat Emelie berjalan mendekati posisi Zeroun dan Serena berada.
“Bukan hanya Zeroun, Aku juga sangat suka berada di dekat Serena,” ucap Emelie sambil memeluk tubuh Serena dari samping. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di perut Serena sebelum menjatuhkan kepalanya di pundak wanita tangguh itu.
Daniel mendengus kesal, “Kalian sepasang suami istri yang sama saja. Kenapa harus tertarik dengan istriku.”
Zeroun mengukir senyuman kecil saat melihat wajah kesal Daniel siang itu. Ia semakin yakin, kalau Serena telah jatuh di tangan pria yang tepat. Menyayangi Serena dengan tulus dan sepenuh hati. Sikap posesif Daniel telah membuktikan dengan nyata, kalau pria itu tidak suka ada orang lain yang perhatian terhadap istrinya. Hanya dirinya yang boleh perhatian kepada Serena.
“Sayang, kau tidak ingin memeluk Serena juga? Ini akan jauh lebih seru,” ucap Emelie dengan tawa kecil.
“Tidak!” teriak Daniel sebelum berjalan cepat mendekati posisi Serena dan Emelie. Pria itu menarik paksa tangan Serena hingga pelukan Emelie terlepas. Ia memeluk Serena dan melindungi tubuh wanita itu agar tidak lagi tersentuh oleh siapapun.
“Tuan Daniel, kau pelit sekali.” Emelie tertawa kecil sebelum mendaratkan pelukannya di tubuh Zeroun.
Zeroun juga tertawa saat melihat kelakuan Daniel dan Emelie. Pria itu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Emelie dengan penuh cinta, “Aku sangat mencintaimu, Sayang.”
“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Emelie dengan penuh rasa bahagia.
“Aku mencintaimu, Daniel. Sangat mencintaimu ....” Serena memeluk tubuh Daniel sebelum memejamkan matanya. Hatinya memang selalu saja merasa tenang dan nyaman saat tubuhnya ada di dalam dekapan Daniel.
***
Beberapa saat kemudian.
Lukas dan Lana telah ada di dalam pesawat. Sepasang kekasih itu duduk berhadapan dan saling memandang. Beberapa pramugari berlalu lalang setelah pesawat terbang dengan sempurna. Ada Alika di salah satu rombongan Pramugari itu.
“Kak, tunggu,” teriak Lana. Wanita itu berjalan cepat untuk mengejar Alika. Langkahnya terhenti saat Lukas menarik tangannya dan menahan langkahnya.
“Kembali duduk pada kursimu, Lana!” perintah Lukas.
Alika menggeleng pelan sambil menatap wajah Lana. Wanita itu berusaha membujuk Lana agar tidak mencari masalah kepada Lukas. Setelah melihat Lana tidak lagi membantah, Alika pergi bersama dengan pramugari lainnya.
“Aku tidak mau duduk di sini jika kau tidak mau berbicara padaku seperti itu,” ucap Lana sebelum menghempas tangan Lukas, “Sudah beberapa hari ini kau diam seperti ini dan bersikap dingin kepadaku.”
Lukas menatap wajah Lana dengan dahi mengeryit, “Aku hanya ingin kau jujur dengan semua yang telah terjadi. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya dan membela dirimu. Tapi, kau tidak melakukan apapun selama beberapa hari ini.”
“Aku sudah bilang, antara aku dan Morgan tidak ada hubungan apa-apa lagi. Malam itu aku hanya tidak ingin kalian berkelahi,” ucap Lana dengan nada yang tidak kalah tinggi dari Lukas.
Lukas beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu menatap wajah Lana dengan seksama, “Kau tidak ingin kami berkelahi atau kau ingin melindunginya?”
Lana membisu saat mendengar pertanyaan Lukas. Awalnya memang seperti itu yang ia rasakan. Tapi, lama - kelamaan. Lana justru menyesali perbuatannya karena sudah membela Morgan. Ia cukup tahu, kalau cepat atau lambat Morgan pasti akan menemuinya dan membuat dampak buruk bagi hubungannya dengan Lukas.
“Kenapa kau tidak bisa menjawab? Apa kau benar-benar membelanya?” ucap Lukas sebelum berlalu pergi meninggalkan Lana sendirian di tempat itu. Hatinya justu semakin kesal dan semakin sulit untuk di obati.
Lana memutar tubuhnya untuk memandang punggung Lukas, “Lukas, aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya mencintaimu. Kenapa kau tidak percaya padaku? Ok. Aku minta maaf karena sudah membelanya malam itu. Sekali lagi saat aku bertemu dengannya, aku akan menembaknya. Tepat di hadapanmu.” Lana mencengkram kuat tangannya. Ucapanya di penuh janji dan keyakinan yang tidak terbantahkan lagi. Ia cukup serius dengan apa yang ia katakan saat itu.
“Bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin kau jujur tanpa tekanan dan paksaan,” jawab Lukas tanpa mau memandang wajah Lana.
Lana menghela napas dengan kepala yang tiba-tiba sakit, “Terserah kau saja. Aku memang sudah salah sejak awal. Seharusnya kau tidak perlu membalas cintaku. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dariku,” ucap Lana sebelum pergi menjauh dari tempat itu.
Tiba-tiba saja ia kembali ingat dengan tubuhnya yang tidak suci lagi. Wajahnya berubah sedih. Secara hati-hati Lana berjalan menuju ke arah dapur. Langkahnya terhenti saat semua pemandangan yang ada di hadapannya berputar-putar. Lana merasakan sakit yang luar biasa pada bagian kepalanya. Hingga akhirnya tubuhnya terjatuh dengan mata terpejam.
Lukas memutar tubuhnya saat tidak lagi mendengar perkataan Lana. Wajahnya terlihat kaget saat melihat Lana telah tergeletak dan tidak sadarkan diri, “Lana.”
Lukas berlari kencang mendekati Lana. Ia berjongkok lalu mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Wajahnya sangat-sangat khawatir. Walaupun hatinya sempat sedih dan kecewa. Tapi, detik itu juga di saat melihat Lana tidak berdaya justru hatinya jauh lebih sedih, “Lana bangunlah.” Lukas berjalan cepat untuk membaringkan Lana dengan perasaan khawatir.
.
.
.
Jangan Lupa Votenya ya reader...like juga... terima kasih.