Moving On

Moving On
S2 Bab 88



Flashback on


DUARR DUARR


Morgan berhasil memeluk Lana. Peluru menembus punggung Morgan begitu saja. Semua terjadi dengan hitungan waktu yang cukup cepat. Lana bisa merasakan dengan jelas getaran tubuh Morgan. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Morgan yang kini memeluknya.


Morgan terlihat menahan sakit. Ia berusaha mengatur napasnya yang mulai hilang. Wajahnya sayu dan ada senyum kecil yang cukup tulus di bibirnya, “Pengorbanan ini setimpal untuk menebus kesalahanku beberapa waktu yang lalu. Kau memang wanita yang menyusahkan, Lana.” Morgan batuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Tiba-tiba tubuhnya kehilangan keseimbangan. Pria itu mengukir senyuman sebelum terjatuh di lantai berdebu.


Seketika semua hening. Lukas melihat Morgan yang memeluk Lana untuk menghalangi peluru saat itu. Ia juga melihat wajah Morgan saat pria itu terjatuh ke permukaan lantai dengan darah yang terus mengalir.


Lana mematung. Air matanya terjatuh saat melihat wajah sedih Morgan saat itu. Tapi, belum sempat Lana melangkah, sudah berdiri pria tangguh dengan sebuah pistol di tangannya.


“Lana!” teriak Lukas dari kejauhan.


DUARR


Tembakan itu berhasil menembus kulit Lana. Bagian dada wanita itu mengeluarkan darah yang cukup deras dan mengerikan.


Kini wanita yang mereka cintai yang menjadi sasaran berikutnya. Morgan dengan tubuhnya yang tidak lagi berdaya hanya bisa diam di tempat untuk menyaksikan wanita yang ia cintai terluka.


Lana menunduk dengan wajah syok. Peluru itu menancap tepat ke vertrikel kanan yang memasok darah ke paru-paru. Lana merasa dirinya seperti kena serangan jantung saat itu. Darah berkucur deras dan membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Lana tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa kematian telah dekat dengannya saat itu.


Di sela-sela tatapannya yang sudah berkabut, Lana masih bisa melihat jelas wajah Morgan dan Lukas di depannya. Wanita itu mengukir senyuman sebelum jatuh kepermukaan lantai yang berdebu.


Lukas menusuk pria yang telah menembak Lana dengan sebuah belati. Tanpa ampun. Belatinya ia tarik dan ia tusuk lagi di bagian lain. Detik itu juga, Lukas ingin menyiksa orang yang telah membuat kekasihnya kesakitan. Darah berkucur deras dari tubuh pria itu.


Lukas mendorong tubuh lawannya saat darah sudah membanjiri tubuh musuhnya. Lukas memandang wajah Lana. Ia berlari dan mengangkat tubuh wanitanya ke dalam gendongan. Ia juga menatap wajah Morgan yang masih setengah sadar sambil menahan sakit dari luka tembak yang ia terima.


Dalam waktu bersamaan. Pasukan Gold Dragon muncul. Sisa pasukan dari musuh yang menyerang mereka telah di atasi oleh pasukan Gold Dragon.


“Lana, bangunlah Sayang,” ucap Lukas sambil menepuk pipi Lana. Pria itu mengangkat tubuh Lana untuk segera membawanya ke rumah sakit. Beberapa pasukan Gold Dragon yang tersisa juga membawa Morgan ke rumah sakit.


Mobilpun melaju kencang menuju ke rumah sakit terdekat. Setelah tiba di rumah sakit, dua perawat berlari dengan brangkar yang mereka dorong. Tubuh Lana dan Morgan di letakkan di masing-masing brangkar.


Morgan menatap Lana yang sudah tidak sadarkan diri. Pria tangguh itu meneteskan air mata. Ia sudah berkorban sejauh ini tapi tidak juga berhasil melindungi wanita yang ia cintai. Morgan cukup sedih saat itu.


Sama halnya dengan Lukas. Pria tangguh dengan sejuta strategi itu kali ini harus gagal melindungi kekasihnya. Ia sangat menyesali semua yang terjadi, bahkan pria itu menyalahkan dirinya berulang kali. Tetes air mata di sudut mata Lukas terjartuh. Pria itu menangis karena tidak ingin kehilangan wanita yang ia cintai.


“Lana, tolong jangan tinggalkan aku,” ucap Lukas dengan suara lirih dan wajah frustasi. Pria itu mulai sadar, bagaimana bentuk mencintai dan rasa cinta itu sendiri. Ia tidak bisa menggunakan logikanya untuk berpikir. Apapun caranya akan ia lakukan asal Lana tetap hidup. Seperti itulah jalan pikiran Lukas saat itu.


Tubuh Morgan dan Lana di letakkan di dalam IGD dan di periksa oleh Dokter yang berjaga. Samar-samar Morgan mendengar kabar kalau Lana tidak bisa di selamatkan. Morgan cukup syok mendengarnya. Jika ada yang pergi, itu hanya dirinya. Ia tidak rela jika Lana harus pergi meninggalkan hidupnya.


“Dok, selamatkan Lana,” pinta Morgan pada Dokter yang berdiri di sampingnya.


“Kami butuh cangkok jantung secepatnya. Wanita ini tidak akan tertolong jika kami tidak mendapatkan jantung untuknya,” ucap Dokter itu dengan wajah bersungguh-sungguh.


“Anda bisa mengambil jantung saya. Apapun itu yang ia butuhkan ambil saja,” ucap Morgan dengan suara serak. Pria itu lagi-lagi harus batuk darah, “Saya mohon.”


Dokter itu memeriksa keadaan Morgan. Detik itu Morgan juga dalam keadaan sekarat. Beberapa luka sayatan sudah memenuhi tubuhnya. Bahkan beberapa peluru menancap di bagian punggung Morgan hingga menusuk ke tulang.


“Baiklah. Saya akan memeriksa kecocokan anda dengan wanita ini.” Dokter itu menyerah. Morgan juga tidak memiliki gambaran hidup lebih lama lagi. Tidak ada pilihan lain, selain mengambil jantung Morgan dan meletakkannya di tubuh Lana. Setidaknya salah satu di antara mereka selamat.


Flashback off


Honey, I love you. Maafkan aku, Honey.


Aku terlalu serakah hingga tidak bisa membedakan mana cintaku mana ambisiku. Sejak awal aku yang salah. Tidak seharusnya aku menjadikanmu umpan untuk mencelakai Lukas.


Kau wanita lucu dan unik. Kau spesies langkah yang pernah aku temui selama aku menghembuskan napas. Aku mencintaimu, Honey. Maafkan aku karena membuatmu sempat merasakan sakit dan tersiksa. Seharusnya aku tidak melakukan semua itu.


Apa kau tahu, Honey. Hatiku menangis dan menjerit saat melakukannya. Bibirku berontak untuk mengatakan maaf padahal hatiku menyesalinya. Honey, maafkan aku.


Apa kau ingat saat pertemuan pertama kita? Semua sudah aku rencanakan. Kau hanya bagian dari permainanku karena aku ingin balas dendam kepada Lukas. Tidak aku sangka, aku jatuh ke dalam hubungan yang cukup serius denganmu. Sentuhanmu sungguh memabukkan.


Aku tidak pernah secandu itu kepada wanita. Tapi denganmu semua berbeda. Aku kembali mengingat tujuan utamaku untuk mendekatimu. Malam itu aku bertarung melawan Lukas, aku berpikir kalau aku akan memenangkan pertarungannya dan bisa menjalin hubungan yang serius denganmu. Tidak di sangka, aku harus kehilangan mataku malam itu. Aku membenci Lukas dan membenci semuanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkanmu. Aku tidak ingin menjadi lemah hanya karena wanita.


Honey, aku kembali muncul di dalam kehidupanmu saat aku mendengar kabar kalau kau sudah ada di pihak musuh. Aku mulai berpikir untuk memanfaatkan cintamu lagi. Tidak aku sangka, hatiku terluka saat itu. Melihatmu tertawa dengan pria lain membuatku sakit.


Bodohnya aku justru tetap jatuh cinta padamu. Aku berusaha membuang rasa cinta itu. Tapi, ternyata cinta cukup sulit untuk di hilangkan. Justru jika aku semakin membencimu, maka rasa cintaku padamu semakin besar.


Hanya pengorbanan ini yang bisa aku lakukan. Hiduplah dengan tenang bersama dengan pilihanmu. Selamanya aku akan selalu ada di dalam hatimu. Jantung ini aku berikan agar kau bisa tetap melewati semuanya.


Selamat tinggal. I love you, Honey.


-Morgan-


Lana meletakkan surat dari Morgan di sebuah kotak berwarna cokelat. Kotak itu berisi foto-foto dirinya bersama Alika. Semua kenangannya bersama Alika ia simpan di dalam sana. Lana mengukir senyuman lagi sebelum meletakkan kotak itu di dalam lemari. Seperti inilah akhir perjalanan hidup Lana. Nama Morgan an Alika akan terus saja ia ingat seumur hidupnya. Dua sosok yang cukup berharga bagi hidup Lana.


Lana memegang jendela kaca yang berembun. Wanita itu menapakkan telapak tangannya di kaca. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Lana memutar tubuhnya. Wanita itu membuka pintu dengan wajah yang cukup tenang.


Sebuah buket bunga yang berisi seratus tangkai bunga mawar ada di hadapannya. Lana mengeryitkan dahi. Ia berpikir kalau di balik bunga itu adalah Lukas. Tidak di sangka, saat ia menarik bunga itu justru salah satu pasukan Gold Dragon yang ada di sana.


“Silahkan, Nona.” Pria itu menunjuk jalan menuju ke tangga yang sudah di penuhi kelopak bunga mawar.


“Lukas,” ucap Lana kegirangan. Ia cukup bahagia melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Wanita itu sudah paham kalau kejutan itu pasti bentuk kejutan manis dari Lukas untuk melamarnya ulang.


Buket bunga itu ada di dalam pelukan Lana. Lana berlari kencang menuju ke arah tangga. Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah kekasihnya. Dengan cepat dan pasti, Lana menjejaki kakinya di atas tangga yang bertabur kelopak mawar merah. Seluruh pasukan Gold Dragon berbaris rapi di bawah tangga untuk membentuk sebuah jalan ke arah kolam renang. Mereka membungkuk dengan gerakan serempak.


Lana turun dengan bibir tersenyum. Setiap pria memberikan satu tangkai mawar beraneka warna. Ada warna merah, kuning, putih bahkan pink. Lana meletakkan buket yang lebih besar di atas meja sebelum menerima satu persatu tangkai mawar yang di berikan pasukan Gold Dragon untuknya. Wanita itu terus saja berjalan cepat karena tidak lagi sabar melihat wajah Lukas.


Lukas berdiri di pinggir kolam renang. Kolam renang telah di hias dengan tulisan will you merry me. Pria itu berdiri dengan setelan yang cukup rapi. Sangat berbeda dari penampilannya yang biasa saja selama ini.


Lukas mengukir senyuman saat melihat Lana muncul. Pria itu mengeluarkan kotak cincin dari dalam sakunya. Cincinya sudah berbeda dari yang sebelumnya. Pria itu harus kembali membeli cincin yang baru karena cincin yang pertama di tahan oleh sang kekasih.


“Lana, will you merru me?” ucap Lukas dengan sungguh-sunggu. Pria itu harus kembali belutut sebagai bentuk keseriusannya kepada Lana.


Lana hanya diam membisu pada posisinya berdiri. Sorot matanya memperhatikan kolam renang dan penampilan Lukas malam itu. Secara perlahan bibirnya mengukir senyuman.


Lukas terlihat semakin kesal. Memang pria itu tudak pernah bisa mengontrol emosinya. Ia kembali berdiri dengan sorot mata yang cukup tajam, “Lana, jika kali ini kau menolakku lagi. Aku akan benar-benar merampok bank malam ini juga,” ucap Lukas dengan sorot matanya yang tajam. Bentuk lamaran yang cukup aneh dan tidak biasa.


Lana tertawa kecil. Sebelum berhambur ke dalam pelukan Lukas, “Ya. Aku mau menikah denganmu, Lukas.”


Lukas mengukir senyuman sebelum membalas pelukan Lana. Bunga api terdengar begitu jelas dari posisi mereka berdiri. Bunga api warna warni yang cukup indah itu juga salah satu bagian rencana Lukas.


Lukas memakaikan cincin lamarannya di jari Lana. Pria itu mengangkat tangan Lana sebelum mengecupnya dengan sentuhan manis.


“Malam ini kita berstatus tunangan,” ucap Lana dengan wajah berseri.


“Ya. Dalam hitungan hari kau akan berubah menjadi istriku.” Lukas merangkul pinggang Lana. Mereka bersama-sama menyaksikan bunga api yang kini menyala di depan mereka.


Lana menjatuhkan kepalanya di pundak Lukas, “Ternyata pria sepertimu bisa romantis juga.”


“Apapun itu akan aku lakukan asal kau bahagia,” jawab Lukas dengan suara pelan.


***


Reader : Thor, kenapa Morgan mati?


Author : Uda tanggalnya dia pergi. Nanti kalau dia hidup kalian pasti pada nagih cerita Morgan di novel baru 🤣.


Reader : Kan keren Thor kalau mereka bisa sahabatan kayak Daniel sama Zeroun.


Thor : Nah, di situ dia yang aku pikir2. Kalau alurnya sama ntar aku tinggal copas aja dari novel sebelumnya.😂


Reader : Si Lana gemesin Thor. Kesel aku.


Author : Aku jadi ingat sama Serena. Reader kesel sama dia.. tapi endingnya kalian syaang banget sama dia.😅


Percayakah Reader, di dunia nyata juga gak akan bisa seorang wanita melupakan mantannya dengan semudah itu. Apa lagi hubungan mereka Uda sampai tahap itu.


Stop!!! Jangan ada yang bilang author pernah ngalami ya. Aku gak update seminggu entar🤧 Merajukk... Aku ingat waktu Serena jumpa Zeroun dlu. ada yg bilang aku tukang selingkuh😂


Reader : Akhirnya Lana sama Lukas mau nikah.


Author : Kan Uda mau tamat.. harus bahagia donk.😘