Moving On

Moving On
Baju Renang?



Lana membawa Emelie menuju ke kamar untuk beristirahat. Kamar itu terletak di sudut lorong yang tidak jauh dari ruang utama. Rumah itu memang hanya memiliki satu lantai yang luas dan sangat kokoh. Cat berwarna cokelat dengan gaya bangunan Belanda. Bisa diperkirakan kalau usia rumah itu sudah lebih dari satu abad.


Namun kini, cat dan semua prabot sudah berganti dengan desain modern. Lukas dan Lana yang merenovasi rumah tua itu. Hingga kini rumah itu layak untuk di tempati dan mampu menjadi tempat berlindung pasukan Gold Dragon saat dalam bahaya.


Satu pintu berukuran besar yang dipenuhi dengan ukiran menjadi tujuan akhir langkah Lana pagi itu. Dengan wajah tersenyum ramah, Lana membuka pintu untuk memberi jalan kepada Emelie.


“Terima kasih,” ucap Emelie sambil membalas senyuman manis Lana.


Emelie masuk lebih dulu ke dalam kamar itu. Lana mengikutinya dari belakang. Kamar itu terlihat sangat luas dengan desain kamar pria. Emelie sempat mengeryitkan dahi saat masuk ke dalam kamar itu. Tapi, di sudut ruangan. Ada jendela terbuka dengan hembusan angin yang sangat kencang. Angin itu membuat gorden berwarna putih yang menutupi kaca berterbangan kesana-kemari.


Emelie tertarik dengan pemandangan yang tersaji di balik jendela itu. Putri Kerajaan itu berlari dengan wajah berseri. Jendela itu sudah bisa di bilang sebagai pintu. Emelie mendorong pintu kaca itu untuk berlari keluar.



Matanya tidak lagi bisa berkedip. Kolam renang dengan bentuk yang indah telah tersaji di hadapannya. Kolam renang itu menghadap langsung kearah pegunungan yang hijau dan sangat asri. Masih terlihat jelas kabut putih yang menyelimuti pegunungan berwarna hijau itu.


Udara segar yang berasal dari pepohonan yang terbentang di hadapannya terasa menghanyutkan. Emelie memejamkan mata dengan kedua tangan ia rentangkan. Rambutnya berserak karena terpaan angin yang sangat kencang. Suara kicauan burung itu terdengar dengan begitu jelas. Dari tempat Emelie berdiri juga bisa melihat dengan jelas matahari yang bersinar terang.


Emelie menyebutkan lokasi ia tinggal sebagai surga dunia. Sudah sangat sering ia kabur dari istana dan mencari tempat yang sama seperti yang ada di khayalannya. Tapi, detik ini bersama dengan Zeroun, Emelie bisa merasakan semua mimpi-mimpinya menjadi nyata.


Suatu kebebasan dengan tinggal di alam terbuka. Setiap membuka mata ia akan dimanjakan dengan pemandangan indah. Setiap pagi, ia ingin dibangunkan oleh kicauan burung yang begitu merdu. Setiap ingin mandi, ia bisa berendam di kolam renang dengan menikmati pengunungan yang indah.


Sempurna! Kini semua terasa sempurna. Hidup di tempat indah bersama dengan pria yang ia cintai. Tanpa Emelie sadari, buliran air mata bahagia itu menetes membasahi wajahnya. Masih dengan posisi memejamkan mata dengan dua tangan yang direntangkan.


Lana tersenyum melihat Emelie pagi itu. Hanya dengan melihat wajah Emelie, wanita tangguh itu sudah tahu kelembutan hati yang dimiliki oleh Emelie. Setiap kata dan senyuman itu mencerminkan hatinya yang indah. Tidak ada kata tidak pantas untuk Emelie bersanding dengan bosnya yang tampan itu. Emelie dan Zeroun memang seperti sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk bersama.


“Nona, saya akan menyiapkan sarapan untuk anda.” Lana menganggu penghayatan Emelie detik itu. Emelie memutar tubuhnya memandang wajah Lana dengan senyuman.


“Aku akan sarapan bersama Zeroun,” ucap Emelie sambil memperhatikan keadaan sekitarnya saat ini. Ada satu jendela kaca yang menghubungkan satu ruangan ke kolam renang itu juga. Putri Kerajaan itu terlihat sangat penasaran.


“Lana, itu ruangan apa?” Emelie menunjuk pintu kaca yang sangat membuatnya penasaran.


“Itu kamar Bos Lukas, Nona.” Lana memandang ke arah kamar itu.


“Kamar Bos Lukas?” celetuk Emelie tanpa bersalah.


“Bos Lukas, Nona?” Kali ini gantian Lana yang mengeryitkan dahi. Bagaimana tidak, dengan berani Emelie memanggil big bossnya dengan nama ‘Zeroun’. Namun, memanggil bawahan bosnya dengan sebutan bos.


“Maksudku, Lukas.” Emelie tertawa renyah menyadari perkataannya yang membuat Lana bingung.


“Iya, Nona. Rumah ini hanya memiliki 3 kamar. Dua kamar utama ini milik Bos Zeroun dan Bos Lukas. Kamar saya ada di tempat yang tidak jauh dari sini. Kolam renang dan pemandangan ini hanya bisa di akses melalui dua kamar ini saja.”


“Kamar Zeroun? apa Aku tidur di kamar Zeroun?” Mata Emelie melebar.


Lana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Mungkin, nanti Bos Lukas yang akan mengalah dan pindah ke tempat lain, Nona.”


Lana curhat di dalam hati dengan bibir tersenyum kecil.


Emelie memandang pegunungan itu lagi, “Aku ingin berenang. Apa Aku memiliki baju ganti?”


“Saya belum menyiapkan keperluan anda, Nona. Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu kalau anda ikut dengan Bos Zeroun.” Lana memasang wajah bersalah.


“Apa Aku boleh meminjam baju renangmu, Lana.”


“Baju renang, Nona?” Lana menatap wajah Emelie dengan seksama.


“Ya, Aku ingin mandi di kolam ini.”


“Tapi ....” Lana menahan perkataannya. Ia sangat takut untuk melakukan kesalahan. Mengingat wanita yang ada di hadapannya adalah wanita kesayangan bos besarnya.


“Nona, beri saya waktu setengah jam. Saya akan mencarikan baju renang dan baju ganti untuk Nona.”


“Kau tidak memiliki baju renang? liburanmu akan terasa sia-sia jika tidak mempersiapkan keperluan yang kau butuhkan.” Emelie melipat kedua tangannya.


“Liburan, Nona?” Lagi-lagi perkataan Emelie membuat Lana tercengang bingung.


“Aku akan menunggu di sini,” jawab Emelie sambil duduk di tepi kolam. Wajahnya mengarah langsung ke pemandangan indah yang telah disajikan untuknya.


“Saya permisi, Nona.” Lana menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan kamar itu. Wanita berusia 24 tahun benar-benar terlihat bingung. Ia berada di tempat itu untuk menjalankan misi. Bagaimana mungkin ia sempat memiliki pikiran untuk berenang.


Lana mencari Lukas. Wanita itu ingin meminta ijin untuk keluar meninggalkan markas. Ia ingin mencari segala keperluan yang dibutuhkan Emelie. Belum jauh langkahnya mencari, Lukas sudah muncul di hadapannya. Pria itu terlihat sangat tidak bersahabat. Entah apa masalah yang baru saja terjadi. Tapi, Lana tidak memiliki keberanian untuk bertanya.


“Lukas, Nona Emelie menginginkan pakaian renang. Selain itu, pakaian untuk gantinya belum Aku persiapkan sama sekali.” Lana memasang wajah bingung dan sedikit frustasi.


“Apa Bos Zeroun akan marah padaku?” Bersandar di dinding dengan wajah menunduk. Memperhatikan kakinya yang bergerak tidak tentu arah.


“Pergilah, hati-hati.” Lukas berlalu begitu saja tanpa ingin merespon curhatan hati Lana. Pria itu berjalan pergi menuju ke arah pintu utama.


“Kenapa dia sangat menyebalkan hari ini.” Dengan wajah tidak bersemangat, Lana berjalan ke arah depan untuk pergi mencari baju renang Emelie.


Vote, like, komen...


biar author semangat.


Terima Kasih untuk Reader setia.


Love u Pulll....💗