Moving On

Moving On
Emelie Vs Adriana



Pagi yang cerah dan begitu indah. Suara kicau burung masih terdengar sangat jelas. Gumpalan awan putih tampak menghiasi langit yang biru. Hamparan rumput nan hijau terlihat masih basah. Embun-embun pagi masih melekat di dedaunan hijau. Pagi itu hangatnya matahari bersatu dengan hembusan angin yang sejuk.


Emelie duduk di tengah-tengah taman Istana sambil menatap burung-burung yang berterbangan. Melihat burung itu terbang secara bebas, membuat perasaan iri di dalam diri Emelie. Sejak dulu, ingin sekali ia merasakan kebebasan seperti itu.


Beberapa pengawal Emelie terlihat berbaris di posisi yang tidak jauh dari dirinya. Entah kenapa, pagi itu Emelie merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya. Hatinya dipenuhi kegelisaan.


Emelie memandang gelang pemberian Zeroun. Setelah makan malam itu, ia belum berani menemui Zeroun lagi. Putri Kerajaan itu masih trauma dengan kejadian di malam itu. Setiap kali ia ingin keluar dan bersenang-senang, selalu saja ada orang yang ingin membunuhnya.


“Zeroun ....” Bibir Emelie tersenyum saat menyebutkan nama Zeroun. Sepertinya ia benar-benar sudah di mabukan dengan pesona ketua mafia berbahaya itu. Hatinya yang tadi gelisah kini sudah bertukar dengan rasa bahagia. Emelie mengusap lembut gelang itu, lampu merah itu menjadi sorot perhatiannya. Sejak awal, ia sangat curiga dengan fungsi lampu itu.


“Apa ini sebuah alat pelacak?” Emelie mengerutkan dahinya. Ada rasa ingin menyelidiki lebih dalam lagi agar ia bisa tahu fungsi gelang itu. Zeroun bukan tipe pria yang suka merayu wanita dengan memberikan barang.


Dari kejauhan, Emelie melihat gerak-gerik Adriana yang mencurigakan. Wanita itu entah dari mana, kini berjalan masuk ke Istana secara terburu-buru. Emelie sedikit tertarik dengan tingkah laku adiknya itu. Dengan sigap, ia berlari mengikuti jejak kaki Adriana dari belakang.


Adriana masuk ke sebuah ruangan yang sangat jarang dimasukin anggota kerajaan. Bahkan Emelie sendiri tidak tahu, ruangan apa itu. Dengan penuh rasa penasaran, Emelie berjalan untuk mendekat ruangan itu. Menarik handle pintu secara hati-hati agar tidak ketahuan.


Tapi, ruang itu kosong. Ada pintu terbuka di sudut ruangan. Emelie memperhatikan ruangan kosong itu. Hatinya semakin penasaran dengan pintu yang terbuka itu. Sebelum melangkah masuk, Emelie memandang beberapa pengawalnya.


“Kalian jaga di sini. Ingat, dengar suara saya baik-baik. Cepat masuk dan tolong saya saat saya berteriak.”


“Baik, Putri.” Pengawal itu menunduk hormat, menuruti permintaan Emelie.


Dengan penuh waspada dan sedikit rasa takut, Emelie memberanikan diri untuk memeriksa pintu itu. Pintu itu menghubungkan tangga yang menuju keruang bawah tanah. Jantung Emelie tidak lagi bisa berdetak dengan normal.


Emelie menjejaki anak tangga itu dengan penuh perhitungan. Tidak jauh dari tangga, ia sudah bisa mendengar suara Adriana. Wanita itu terdengar tertawa dengan penuh kegirangan. Semakin penasaran, Emelie melanjutkan langkah kakinya. Mengintip keberadaan Adriana di lantai bawah.


Adriana berdiri di hadapan pelayan setianya. Tangannya terlipat di depan dada. Gaya dan nada bicara Adriana tidak lagi sama dengan sifatnya selama ini. Adriana terlihat seperti wanita jahat yang tidak memiliki perasaan.


“Aku tidak ingin hari ini kalian gagal lagi.” Adriana berjalan ke meja yang ada di ruangan itu.


“Kita sudah berhasil membunuh Ratu, Aku ingin Putri manja itu juga ikut dengannya,” sambung Adriana dengan tawa yang tidak bisa di tahan lagi. Wanita itu tidak sadar, jika kini Emelie telah menguping percakapannya.


Emelie menutup mulutnya dengan tangan. Ia sungguh kaget dan tidak pernah menyangka, jika Adriana sekejam itu. Wanita yang selama ini ia pandang lembut dan berbelas kasih itu kini telah berubah. Buliran air mata menetes saat hatinya terasa di gores. Emelie tidak bisa membendung air matanya atas rasa sesak yang memenuhi dadanya.


“Adriana!” teriak Emelie tidak terima. Menghapus air matanya dengan cepat. Tidak tahu, apa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Tapi, yang pasti kini Emelie ingin melawan adiknya itu secara langsung.


“Selamat pagi, Putri.” Adriana membungkuk hormat.


Satu tamparan yang sangat kuat dilayangkan oleh Emelie. Hatinya kini dipenuhi rasa kecewa dan amarah. Ibunda yang paling ia cintai, justru di bunuh dengan anak yang ia angkat.


“Kau tidak lagi pantas menduduki posisi Putri. Kau seorang penjahat Adriana.” Emelie menatap wajah Adriana dengan wajah dipenuhi amarah.


Adriana memegang wajahnya yang merah. Bibirnya tersenyum kecil dengan tatapan yang berubah licik.


“Aku tidak pantas menjadi Putri? lalu, apa kau pantas Emelie?” teriak Adriana hingga suaranya memenuhi isi ruangan bawah tanah itu.


“Kau bahkan tidak pernah mematuhi peraturan yang ada. Selalu melanggar semua peraturan. Lalu, apa yang dilakukan Raja dan Ratu?” Adriana tertawa kecil.


“Mereka terus-terusan membelamu, Emelie. Bahkan menyuruhku untuk meniru sifat lembutmu itu. Dimana sifatmu yang bisa di katakan lembut Emelie? dimana?” Adriana mendorong tubuh Emelie hingga ia mundur beberapa langkah.


“Bahkan seujung jari saja, kau tidak sama seperti Putri Kerajaan pada umumnya. Kau wanita pembakang Emelie. Tapi, kenapa kau tidak pernah dihukum!” Luapan emosi Adriana tidak terkendali. Adriana terus saja berjalan mendekati Emelie. Membuat Emelie memundurkan langkah kakinya untuk menjauh.


“Sejak dulu, Raja dan Ratu selalu memberikan apapun kepada kita berdua secara adil. Tidak pernah jauh lebih banyak milikku daripada milikmu Adriana. Kau terlalu serakah hingga merasa seperti itu.” Emelie mencoba tegar, walau kini hatinya di selimuti rasa takut dan kecewa.


Adriana berhenti, mendengus kesal. Tatapannya ia buang ke arah lain dengan wajah masih dipenuhi emosi.


“Apa kau pikir aku percaya dengan perkataanmu? bahkan saat ia sudah tiada, ia mewariskan seluruh hartanya kepadamu, Emelie.”


“Itu karena perbuatanmu sendiri Adriana, Ratu tahu kalau kau ingin membunuhnya.” Emelie tidak tahu, kenapa bibirnya ingin mengatakan hal itu.


“Pengawal!” teriak Emelie cepat. Bagi Emelie tidak ada lagi waktu untuk menunggu. Dalang penyebab kematian Ratu sudah diketahui. Putri Kerajaan itu ingin menghukum Adriana secara langsung. Memberikan pelajaran agar wanita berusia 23 tahun bisa menyadari kesalahannya selama ini.


Pengawa-pengawal Emelie muncul dan berbaris di belakang Emelie. Satu senyuman di ukir Emelie di bibirnya yang merah.


“Adriana, kau sudah terbukti berada di dalam insiden kecelakaan Ratu. Dengan ini, kau harus menerima hukuman yang setimpal untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang sudah kau buat.” Emelie menatap wajah Adriana dengan tatapan penuh kebencian.


“Pengawal! tangkap Putri Adriana. Kurung dia di penjara bawah tanah. Jangan beri dia makan atau minum sampai saya berhasil menemukan hukuman yang setimpal untuknya.”


Yang koinnya banyak bagi sama author🤣