Moving On

Moving On
Hilangnya Lana



Zeroun menutup pintu kamar dengan cepat. Berjalan untuk mencari keberadaan Lukas saat ini. Ia sangat yakin, jika sesuatu terjadi dengan Lana. Wanita tangguh itu tidak pernah terlambat untuk kembali saat melakukan sesuatu. Bos Mafia itu berjalan menuju ke pintu utama. Pintu itu akan menghubungkannya dengan Gold Dragon yang kini sedang berkumpul.


Zeroun muncul dengan ekspresi dingin ciri khasnya. Menatap tajam setiap anggota Gold Dragon yang ada di hadapannya. Saat melihat kemunculan Zeroun, semua pasukan Gold Dragon berdiri dan menunduk. Mereka berdiri dengan posisi siap untuk menerima perintah Zeroun.


“Dimana Lukas?” tanya Zeroun tanpa banyak basa-basi.


“Bos Lukas pergi, Bos.” Salah satu Gold Dragon angkat bicara setelah menunduk hormat.


“Apa bersama Lana?” Zeroun menatap ke arah jalan yang terlihat sunyi.


“Nona Lana lebih dulu pergi, sebelum Bos Lukas pergi, Bos.” Anggota Gold Dragon yang lain juga menjelaskan apa yang telah ia lihat.


Zeroun mengambil ponsel dari saku jasnya. Saat ini, hal utama yang harus ia lakukan adalah memastikan. Apakah Lukas dan Lana kini bersama. Belum sempat ia menekan nomor telepon Lukas, terdengar suara klakson mobil. Mobil hitam itu sudah muncul dari kejauhan. Mobil itu milik Lukas. Terlihat jelas di samping Lukas ada Lana yang duduk dengan manis.


Dua bawahannya itu turun secara bersamaan. Ada darah kering di ujung bibir Lana. Sudah bisa dipastikan wanita itu baru saja berkelahi. Sambil menggenggam lima paper bag, Lana menunduk penuh rasa bersalah. Rambutnya terlihat sedikit berantakan. Baju yang ia kenakan juga kotor seperti habis jatuh di permukaan tanah.


Lukas menatap wajah Lana dengan tatapan sinis. Pria itu juga memiliki luka di bagian punggung tangannya. Ada darah yang menetes di sela-sela jari Lukas. Darah itu meninggalkan jejak di setiap jalan yang dilalui Lukas.


“Apa yang terjadi?” Zeroun memperhatikan wajah Lana dan Lukas bergantian.


“Maafkan Saya, Bos.” Lana menunduk dalam dengan mata terpejam.


“Heels Devils menyerang Lana, Bos. Sepertinya wajah seluruh pasukan Gold Dragon sudah mereka ketahui.” Lukas angkat bicara. Ia sangat tahu, kalau detik itu Lana tidak memiliki keberanian untuk menceritakan semua yang telah terjadi.


Zeroun menarik napas secara kasar, “Obati lukamu. Berikan barang-barang itu padaku.”


Lana memberikan lima paper bag itu kepada Zeroun. Masih dengan wajah menunduk takut yang tidak berani memandang bosnya.


“Kalian harus siap dengan misi kita nanti malam.” Zeroun memandang ke arah Gold Dragon yang kini berdiri mematung.


“Siap, Bos,” jawab seluruh pasukan Gold Dragon secara kompak. Termasuk Lana dan Lukas.


Setelah menerima paper bag itu, Zeroun berjalan masuk ke dalam rumah.


Kini Lana hanya berdiri di hadapan Lukas. Walaupun sudah menjadi teman. Tapi, kali ini Lana tidak berani memandang wajah pria dingin itu. Hari ini dia sudah melakukan kesalahan yang membuat pria itu menjadi terluka.


“Lana, masuklah. Obati Lukamu dan istirahatlah. Nanti malam ada misi yang harus kita selesaikan. Kau harus menjaga kesehatanmu.” Lukas juga melangkah masuk ke dalam rumah dengan satu tangan di dalam sakunya. Wajah marahnya seperti sudah hilang.


Lana tersenyum kecil sebelum menyentuh wajahnya yang terasa perih. Wanita itu memandang Gold Dragon yang kini memperhatikannya. Tanpa peduli, Lana juga masuk ke dalam rumah itu. Meninggalkan pasukan Gold Draon yang kini menyimpan sejuta pertanyaan.


***


Zeroun masuk ke dalam kamar dengan barang-barang keperluan Emelie. Pria itu tersenyum lagi saat membayangkan tingkah lucu Emelie. Dengan hati-hati ia masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu kamar itu.


Wajah Emelie terlihat sangat lelah. Satu malaman ia tertidur dengan posisi duduk. Saat ini di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman, Emelie tidak bisa menahan rasa kantuknya.


Zeroun tersenyum memandang Emelie, meletakkan paper bag itu di atas tempat tidur yang tidakjauh dari posisi Emelie tertidur. Ia duduk dipinggiran tempat tidur sambil mengusap lembut rambut Emelie yang setengah kering.


Tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya, kini ada wanita yang membuatnya tergila-gila. Bahkan hatinya tidak ingin jauh dari wanita itu. Rasa sayang dan cinta yang kini ia rasakan bahkan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan perasaannya dulu.


Emelie terbangun dari tidur singkatnya. Bibirnya tersenyum indah saat melihat Zeroun duduk di hadapannya.


“Zeroun, apa Lana sudah kembali?” Emelie duduk dengan posisi menghadap Zeroun. Memperhatikan paper bag yang ada di hadapannya.


“Apa ini baju ganti untukku?” Emelie mengambil paper bag itu.


“Cepat ganti pakaianmu, kita akan sarapan. Seseorang akan membereskan kamar ini.” Zeroun memperhatikan kamar miliknya yang terlihat berantakan.


Emelie mengangguk, namun ada perasaan ragu saat ia ingin beranjak dari tempat tidur itu. Wajahnya terlihat malu kalau Zeroun masih ada di ruangan itu saat ia akan melepas selimutnya.


Zeroun tahu, arti wajah merona malu itu. Pria itu mendengus kesal sebelum berdiri di samping tempat tidur, ”Aku akan menunggumu di meja makan.”


Zeroun pergi menuju ke arah pintu, meninggalkan Emelie sendiri di dalam kamar.


Emelie tersenyum memandang punggung Zeroun yang menghilang dari balik pintu.


“Zeroun, Aku sangat mencintaimu.”


Tanpa menunggu lama lagi, Emelie membuka paper bag itu untuk melihat isi di dalamnya. Ada beberapa gaun yang dipilihkan Lana untuk Emelie. Gaun santai itu terlihat sangat pas dengan postur tubuh yang ia miliki. Emelie memilih gaun berwarna kuning muda.


“Lana sangat berbakat dalam memilih pakaian.” Emelie memutar-mutar tubuhnya didepan cermin. Rambutnya yang sudah hampir kering, ia sisir agar terlihat rapi. Di dalam paper bag itu jug ada beberapa make up yang memang sangat dibutuhkan Emelie.


Dengan begitu ahli dan terlatih. Emelie memberi sentuhan make up natural di wajahnya yang cantik. Tapi, detik itu ia tidak menggunakan farpum yang dipilihkan Lana untuknya. Putri Kerajaan itu lebih suka dengan farpum milik Zeroun yang tersusun rapi dimeja rias.


“Sepertinya mulai detik ini Aku menyukai semua barang miliknya.” Emelie menyemprotkan farpum itu sedikit. Wajahnya tersenyum dengan ceria.


“Sempurna,” ucap Emelie dengan senyum di bibir. Setelah melihat penampilannya yang begitu menarik, Emelie berjalan ke arah pintu. Ia ingin segera menemui Zeroun untuk sarapan bersama.


Emelie tersenyum bahagia, saat Zeroun mencium aroma tubuhnya yang kini sama dengannya. Ada hati bahagia, saat Emelie membayangkan wajah tampan kekasihnya itu.


"Kau tidak akan marah hanya karena farpum bukan?" Emelie bergumam di dalam hati dengan wajah berseri.


Reader...besok jgn ada yg begadang. kita update pagi sekitar jam 8 pagi. Di usahakan 4 bab.. kalau GK dpt 3 GPP ya...🤭