Moving On

Moving On
S2 Bab 28



Emelie dan Zeroun sudah dalam perjalanan menuju ke dermaga. Sesuai dengan rencana Zeroun sejak awal. Ia ingin membawa Emelie berlayar untuk menikmati keindahan laut.


“Kita akan berenang nanti,” ucap Emelie dengan senyum yang cukup indah.


“Bukan hanya berenang, kita juga akan menyelam untuk bermain dengan lumba-lumba,” jawab Zeroun dengan hati yang bahagia.


“Ide yang bagus. Aku sangat suka bermain dengan lumba-lumba.” Emelie memegang kedua pipinya dengan wajah yang sangat bahagia. Bulan madunya kali ini merupakan liburan yang cukup indah dan menyenangkan. Padahal baru hitungan jari ia berada di kota metropolitan Dubai.


Hatinya semakin tidak sabar untuk menanti kejutan-kejutan berikutnya yang sudah di persiapkan Zeroun untuknya. Zeroun dan Emelie berencana menghabiskan waktu selama satu minggu di Dubai sebelum mereka bertolak ke Spanyol.


Zeroun memperhatikan beberapa pasukan Gold Dragon yang sudah siap mengawalnya sejak tadi. Komplotan mafia tersebut menyamar sebagai pengawal kerajaan agar tidak membuat Emelie curiga.


Zeroun menghentikan mobilnya disebuah dermaga. Sudah ada kapal pesiar yang siap ia tumpangi siang itu. Beberapa pasukan Gold Draon terlihat menyamar dengan gaya masing-masing.


“Sayang, ini kapal kita?” tanya Emelie sambil menggandeng lengan Zeroun.


“Ya. Apa kau suka?” Zeroun memandang wajah Emelie dengan tatapan yang menanti jawaban.


Emelie mengangguk cepat, “Tentu saja. Berlayar mengelilingi pulau Palm Jumeirah adalah spot wisata yang memang wajib di kunjungi jika kita sudah tiba di Dubai.”


Zeroun melepas tangan Emelie yang melingkari lengan kekarnya. Pria itu mengagandeng pinggang Emelie lalu membawanya menuju ke kapal, “Aku akan membawamu melihat matahari tenggelam dari atas kapal.”


“Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia,” jawab Emelie dengan wajah manjanya.


Zeroun mendaratkan satu kecupan mesra di pucuk kepala istrinya. Sepasang suami istri itu duduk di bagian depan kapal untuk menikmati pemandangan laut biru yang tersaji di depan mata.


Kapal yang mereka tumpangi melaju dengan cepat menembus ombak lautan. Angin bertiup dengan begitu kencang untuk menerpa tubuh Emelie dan Zeroun.


“Apa kau tidak dingin, Sayang?” ucap Zeroun sambil memeluk tubuh Emelie dari belakang.


Emelie menggeleng pelan, “Di sini cukup panas. Angin ini justru membuat tubuhku menjadi tidak gerah lagi.”


Ponsel Zeroun berdering. Suara ponsel itu mengalihkan pandangan Emelie dan Zeroun. Dengan senyuman Zeroun mengusap lembut pipi Emelie, “Aku harus mengangkatnya.”


“Di sini. Tetap di sini. Angkat saja teleponnya, aku tidak akan mendengarkannya,” ucap Emelie sambil menahan tangan Zeroun. Wanita itu justru menjatuhkan kepalanya di pangkuan Zeroun agar suaminya tidak menjauh pergi.


Zeroun menghela napas. Panggilan masuk yang akan ia terima dari pasukan Gold Dragon. Ia belum mau jujur kepada Emelie, melihat wajah berseri istrinya siang ini membuatnya semakin tidak tega untuk jujur. Sudah bisa dipastikan kalau wajah ceria dan bersemangat itu terganti dengan kesedihan dan kekhawatiran.


“Baiklah,” ucap Zeroun sambil mengusap lembut rambut Emelie. Pria itu melekatkan ponselnya di telinga untuk mendengar kabar selanjutnya.


[Bos, pesawat kita di sabotase oleh White Tiger. Pilot mendaratkan pesawat kita di atas laut. Tapi, pesawat meledak sebelum mendarat. Semua senjata api dan bahan peledak kita hancur tidak tersisa.]


Zeroun berusaha memasang wajah setenang mungkin. Wajahnya mengukir senyuman sambil mengusap rambut istrinya, “Bagaimana dengannya?”


[Bos Lukas selamat, tapi ia kini tidak tahu dimana keberadaannya.]


“Yang lain?”


“Nona Lana dan Nona Mia telah berhasil di tahan oleh Morgan dan di bawa ke Spanyol, Bos.]


Napas Zeroun semakin berat hingga membuat dadanya semakin sesak, “Alika?”


[Nona Alika tewas, Bos.]


Zeroun tidak lagi sanggup mendengar kabar buruk selanjutnya. Jika sebelumnya ia berhadapan dengan Jesica dan kehilangan kapalnya. Hari ini ia harus kehilangan pesawat dan beberapa kru kesayangannya. Dengan mata terpejam Zeroun menekan kesedihan di dalam hatinya.


Emelie yang sejak tadi memang tidak mendengar apapun mulai menatap Zeroun dengan tatapan curiga. Wanita itu duduk sambil mengusap lembut pipi suaminya. Wajahnya berubah khawatir saat melihat wajah Zeroun yang sudah berubah sedih.


“Sayang, apa yang terjadi? Aku sempat mendengar Alika. Bukankah Alika kakak Lana, ada apa dengannya?” ucap Emelie dengan suara yang sangat lembut.


“Sayang, aku memiliki masalah besar.” Zeroun mengucapkannya sambil memejamkan mata. Tidak ada cara lain, selain menceritakan semuanya kepada Emelie. Wanita itu cukup bijak dalam menyikapi masalah yang ia miliki. Zeroun cukup percaya, kalau Emelie bisa membantunya saat ini.


“Masalah?” tanya Emelie sambil mengeryitkan dahi. Hanya mendengarkan satu kata awal saja sudah membuat jantung Emelie tidak karuan. Suaminya cukup tenang dalam masalah kecil. Sudah di pastikan kalau masalah yang kini di hadapi Zeroun adalah masalah yang cukup berat.


Zeroun mengangguk pelan, “Kita kedatangan tamu. Tamu dari musuh masa laluku.”


“Mafia?” celetuk Emelie dengan dada yang sudah berubah sesak. Cukup sulit bagi seorang istri saat mendengar kata musuh. Musuh lama suaminya telah kembali. Kalimat selanjutnya yang akan terucap sudah pasti pertarungan.


“Ya.”


Emelie memandang ke arah laut biru tempat mereka kini berada. Ia juga tidak tahu harus bicara apa. Pertarungan besar suaminya yang terakhir saja sudah cukup menguras air mata dan emosi. Ia tidak ingin mengalami posisi yang sama seperti itu lagi.


“Aku ikut denganmu. Kemanapun kau berada. Aku tidak ingin di pulangkan ke Istana dan menunggu,” ucap Emelie dengan sorot mata yang cukup serius, “Jika kau setuju, maka aku setuju untuk mengagalkan bulan madu ini.”


“Emelie, ini bukan-” Zeroun berusaha menolak.


“Aku tidak suka menunggu,” sambung Emelie dengan mata berkaca-kaca, “Menunggu dan berakhir dengan kehilangan. Itu cukup menyakitkan. Apa kau bisa memposisikan diriku saat ini. Aku sangat mencintaimu hingga tidak sanggup bernapas saat kau tidak ada di depan mataku.”


Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukan. Pria itu mengusap lembut rambut istrinya dengan wajah sedih juga, “Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak ingin kau terluka dan celaka. Pertempuran adalah tempat yang tidak bisa di tebak.”


“Maafkan aku juga Zeroun. Tapi, untuk pertempuranmu kali ini aku tetap memaksa ikut. Aku tidak ingin kau sembunyikan hingga tidak bisa melihat wajahmu.” Emelie mempererat pelukannya.


Zeroun membisu untuk waktu yang cukup lama. Ia terus berpikir keras untuk merayu istrinya. Tapi, pikirannya benar-benar buntuh. Emelie akan semakin murkah jika ia menggunakan trik yang biasa ia gunakan. Ketika bangun wanita itu akan mencarinya. Belum lagi, teknik kabur-kaburan Emelie juga tidak bisa di anggap sepele.


“Baiklah, kau ikut denganku. Aku akan mengajarimu cara menembak dan melindungi diri.” Zeroun mempererat pelukannya. Tidak ada pilihan lain selain menjadikan istrinya wanita yang tangguh. Hidupnya akan terus-terusan seperti itu ke depannya.


Ketenangan dan ketentraman dalam hidup yang selama ini di harapkan Zeroun hanya sebuah harapan kosong yang tidak akan terwujud. Semua nol besar. Karena pria petarung sepertinya tidak akan pernah sanggup menghindari pertarungan.


“Kemana kita akan pergi setelah ini?” ucap Emelie sambil menatap wajah Zeroun.


“Mereka menunggu kita di Spanyol,” jawab Zeroun dengan wajah bingung.


“Lukas dan Lana? Mereka menunggu kita di sana.”


“Ya, Sayang. Mereka menunggu kita. Mereka menunggu kita menyelamatkan nyawa mereka,” sambung Zeroun sambil mengusap lembut pipi istrinya, “Kali ini musuh kita lumayan cerdik.”


“Kau jauh lebih hebat dari siapapun. Aku cukup yakin kau akan menang,” jawab Emelie dengan senyuman indah.


“Mulai besok kau tidak lagi bisa mengenakan ini.” Zeroun memegang gaun indah istrinya.


“Tidak masalah,” jawab Emelie sambil menggeleng pelan, “Aku juga sudah bosan mengenakannya.” Emelie berusaha tertawa agar suasananya tidak terlihat menegangkan dan menakutkan.


“Kita juga harus pergi secara diam-diam. Aku tidak ingin kerajaan tahu hingga berakibat fatal untukmu,” ucap Zeroun sambil kembali memikirkan jabatan istrinya.


“Aku sudah pernah bilang, aku tidak akan keberatan jika diturunkan dari tahta. Kau memiliki harta yang berlimpah. Aku tidak akan jatuh miskin walau tidak menjadi Ratu,” jawab Emelie dengan senyum menyeringai.


“Aku mencintaimu, Emelie. Sangat mencintaimu.” Zeroun mengecup bibir Emelie dengan durasi yang cukup lama. Pria itu sangat membanggakan istrinya.


Emelie bukan wanita lemah dan manja seperti apa yang dulu ia pikirkan. Bahkan wanita itu jauh lebih hebat daripada dirinya. Emelie sosok pemimpin yang cukup bijaksana dengan sifat yang tidak pantang menyerah. Semakin hari Zeroun semakin paham, kenapa Paman Arnold sangat memaksa istrinya menjadi Ratu. Hal itu sudah pasti di sebabkan karakter sempurna yang dimiliki istrinya.


.


.


Like dulu....