Moving On

Moving On
S2 Bab 38



Emelie menggenggam jas Zeroun dengan begitu kuat. Kedua matanya terpejam dengan napas yang terputus-putus. Debaran jantungnya tidak karuan saat mendengar ledakan yang memekakan telinga tersebut. Kini posisi wanita itu tiarap. Ada Zeroun yang memeluk pinggangnya yang kini juga tiarap di samping Emelie.


Zeroun beranjak dari posisinya lalu menarik Emelie ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli dengan markas barunya yang sudah menjadi puing-puing. Pria itu lebih khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?”


Emelie menggerakkan kepalanya untuk menatap wajah Zeroun. Betapa terkejudnya Putri kerajaan itu saat melihat dahi suami tercintanya dipenuhi darah. Saat melompat dari jendela, Zeroun terpaksa menerobos jendela kaca. Tanpa sengaja serpihan kaca itu melukai dahi Zeroun.


“Zeroun, kau terluka,” ucap Emelie khawatir. Wanita itu memegang dahi Zeroun dengan perasaan ngeri.


“Aku baik-baik saja. Yang terpenting saat ini, kau baik-baik saja.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie.


“Aku sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Emelie sebelum memeluk Zeroun. Rasanya cukup sulit bersikap tenang dan baik-baik saja di tengah situasi seperti itu. Apapun yang terjadi, Emelie tetap saja merasa tidak pernah tenang. Tidak ada kata baik-baik saja bagi Emelie sebelum pertempuran itu menghasilkan kemenangan.


Di sisi lain. Agen Mia terduduk sambil melipat kedua kakinya. Kedua tangannya mengunci kakinya yang terlekuk dengan posisi memandang Zeroun dan Emelie. Sejak awal ia sudah ikhlas melihat pria yang ia cintai telah menikah dengan wanita lain. Tapi, semakin ke sini. Ia semakin sulit untuk melupakan Zeroun.


“Pria yang cukup manis. Dia terlihat berbeda di saat bertarung dan di saat memperlakukan wanitanya,” gumam Agen Mia di dalam hati.


Lukas berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Lana. Pria tangguh itu cukup lega saat melihat wanita yang ia cintai baik-baik saja. Bibirnya mengukir senyuman dengan wajah berseri. Setelah Lana berhasil berdiri di hadapannya, Lukas mulai memperhatikan pasukan Gold Dragon yang tersisa. Walau ledakan itu cukup besar, tapi kebanyakan dari pasukan Gold Drgaon berhasil selamat. Hal itu membuat Lukas kembali bernapas lega.


“Apa kau baik-baik saja?” ucap Lana sambil memperhatikan wajah Lukas.


“Ya,” jawab Lukas singkat. Pria itu mencari keberadaan Zeroun dan Emelie. Bibirnya mengukir senyuman bahagia saat melihat Bos kesayangan juga selamat.


“Lukas, kenapa mereka bisa tahu markas kita secepat ini?” ucap Lana sambil memandang wajah Lukas dengan seksama.


Pertanyaan Lana membuat perhatian semua orang terpusatkan hanya pada dirinya. Zeroun tidak pernah seceroboh ini dalam memilih markas. Belum pernah secepat ini mereka dapat penyerangan dari musuh.


Zeroun dan Emelie berdiri sambil memandang wajah Lana dan Lukas. Tangan Zeroun merangkul pinggang Emelie dengan begitu posesif. Sudah cukup drama ledak-ledakan yang menegangkan itu. Setelah ini, Zeroun tidak ingin ada adegan seperti itu di dalam hidupnya. Ia tidak ingin kalah cepat dari Arron lagi.


Mia juga beranjak dari posisi duduknya. Ia memutar tubuhnya tanpa mau mengeluarkan kata. Wanita itu tidak ingin berlama-lama di lokasi tersebut.


“Mia,” celetuk Emelie dengan suara yang sedikit meninggi.


Mia menghentikan langkah kakinya. Ia memandang wajah Emelie sekilas sebelum menunduk hormat, “Ada yang bisa saya bantu, Putri?”


“Baik, Putri,” ucap Mia dengan berat hati. Kepalanya masih menunduk tanpa mau memandang wajah Emelie atau Zeroun lagi.


Zeroun menatap wajah Lukas dengan seksama, “Cari markas baru. Aku akan tinggal di hotel hingga markas baru kita berhasil di temukan.”


“Baik, Bos.” Lukas menunduk dengan penuh hormat. Diikuti pasukan Gold Dragon lainnya.


“Satu lagi, selidik masalah ini. Aku cukup yakin, kalau ada penghianat di dalam geng kita. Penghianatnya kali ini cukup cerdas hingga membuatku tidak menyadari kehadirannya,” sambung Zeroun dengan tatapan tidak terbaca. Entah ke siapa tujuan kalimat itu terucap. Sorot mata Zeroun memandang wajah Mia dan Lana dengan tatapan menyelidik.


Lukas memandang wajah Zeroun dengan tatapan bingung. Dari seluruh pasukan yang kini ada di sekitarnya tidak ada orang baru. Semua orang lama yang sudah pasti setia kepada Gold Dragon. Perintah yang di berikan oleh Zeroun membuat Lukas bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Saya akan berusaha untuk menemukannya, Bos.”


Zeroun mengangguk pelan sebelum membawa Emelie pergi meninggalkan lokasi tersebut. Mobil mereka masih utuh, hingga memudahkan Zeroun untuk berpergian. Lagi-lagi pria itu harus mengalami kerugian besar karena markasnya di hancurkan. Padahal sakit hatinya belum juga sembuh saat pesawat miliknya hancur.


Emelie memandang wajah Zeroun sambil berjalan. Satu tangannya mengusap lembut lengan Zeroun, “Semua akan bak-baik saja. Aku tahu kau sedang memikirkan masalah ini.”


Zeroun menghentikan langkah kakinya. Tangannya membuat pinggang Emelie berputar hingga posisi mereka saling berhadapan, “Maafkan aku.” Jemari Zeroun menyelipkan rambut Emelie ke belakang telinga. Bibirnya mengukir senyuman agar Emelie tidak lagi kahwatir terhadap keadaannya.


“Aku akan sedih jika kau berwajah murung seperti ini,” ucap Emelie sambil mengusap lembut pipi Zeroun, “Tersenyumlah. Kita akan hadapi semua masalah ini bersama-sama. Aku tahu, aku tidak hebat. Tapi, aku bisa membantu sedikit demi sedikit.” Emelie mengedipkan sebelah matanya.


Zeroun tertawa kecil saat mendengar kalimat yang di ucapkan Emelie, “Kau membantu banyak. Bukan hanya membantu sedikit, Sayang. Mia dan Lana terlihat kesulitan mengalahkan pria itu. Tapi, kau dengan satu tembakan saja sudah berhasil meraih kemenangan.” Zeroun mencubit pipi Emelie dengan gemas, “Kau memang istriku. Wanita yang hebat yang sangat aku cintai. Terima kasih atas bantuanmu hari ini, Sayang.”


“Aku bersedia membantu lagi jika di butuhkan,” jawab Emelie penuh semangat.


“Kau harus ingat. Pistol ini untuk melindungi dirimu. Teknik bela diri yang aku ajarkan juga untuk melindungimu. Bukan untuk bertarung dan memenangkan satu pertarungan seperti yang kini aku lakukan,” ucap Zeroun untuk kembali mengingatkan Emelie.


“Ya, ya. Aku mengerti.” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada, “Ayo kita cari hotel terbaik yang memiliki pengawasan internasional. Setidaknya malam ini kita merasakan aman tidur di dalam hotel tersebut.”


“Come on, Baby,” jawab Zeroun penuh semangat.


Zeroun mengukir senyuman sebelum membuka pintu mobil. Pria itu memandang wajah pasukan Gold Dragon yang berdiri tidak jauh dari posisi tersebut. Zeroun memberi satu kode sebelum masuk ke dalam mobil.


Ada perintah yang sudah di persiapkan Zeroun. Pasukan Gold Dragon yang mendapatkan perintah itu harus segera melaksanakannya. Kali ini, Zeroun terpaksa merahasiakan perintahnya dari Lukas. Ada rencana besar yang telah ia pikirkan demi kemenangannya dalam pertarungan melawan White Tiger.