Moving On

Moving On
Jangan Bersedih



Emelie masih berada di atas tubuh Zeroun sambil memandang ke arah jendela. Pemandangan indah yang tersaji di depan matanya kini tidak lagi menarik baginya. Sesekali napasnya terisak atas sisa kesedihannya beberapa jam yang lalu. Kedua tangannya mencengkram kuat seprei hitam tempat tidurnya saat ini. Matanya masih bengkak dan merah. Bibirnya juga masih membisu.


Zeroun hanya diam mematung memberikan tubuhnya untuk kekasihnya. Pria itu menunggu sampai kekasihnya benar-benar bisa di ajak bicara. Satu tangannya terus saja mengusap lembut punggung dan kepala Emelie.


Suara ketukan pintu membuat Zeroun mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Pria itu menghentikan sentuhannya di tubuh Emelie.


“Sayang, ada yang mau masuk. Apa tidak apa-apa jika mereka melihat kita seperti ini?” tanya Zeroun dengan nada yang cukup hati-hati.


“Biarkan saja,” jawab Emelie masih dengan nada yang malas.


Zeroun menghela napas pelan sebelum mengeluarkan kata, “Masuk!”


Lukas muncul dari balik pintu dengan ekspresi dingin favoritnya. Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat pemandangan yang kini ada di hadapannya. Selimut dan bantal jatuh di lantai. Di tambah lagi kini seprei yang ditiduri bosnya tidak lagi rapi. Tidak cukup sampai di situ. Tubuh Emelie yang kini berada di atas tubuh Bos mafia itu membuat Lukas sedikit merasa tidak enak untuk melihatnya. Lukas menundukkan kepalanya agar pemandangan yang ada di depan matanya tidak terlihat.


Mendengar jejak sepatu Lukas yang semakin dekat, Emelie beranjak dari tubuh kekasihnya. Wanita itu turun dari tempat tidur tanpa mau memandang dan menjahili Lukas seperti biasanya. Dengan langkah kaki yang cukup lemah, Emelie berjalan ke arah jendela kaca untuk memandang keindahan pantai siang itu.


Zeroun memandang Emelie beberapa detik sebelum duduk dari tidurnya. Bos Mafia itu memijat kepalanya sebelum menatap wajah Lukas.


“Ada apa?”


“Bos, hari ini pihak kepolisian mengejar Damian dan Adriana. Namun, mereka gagal menangkapnya. Selain itu, Agen Mia hari ini juga kritis di rumah sakit karena serangan mendadak yang dilakukan oleh Jesica di kota Rio.” Lukas menceritakan semua info yang baru saja ia dapat beberapa menit yang lalu. Pria itu memandang luka Zeroun yang perbannya kini terlihat basah.


“Bos, luka anda,” ucapan Lukas terhenti saat Zeroun menaikan satu tangannya.


“Jangan ganggu aku hari ini. Apapun info yang anda, beritahu aku besok saja.” Zeroun kembali memandang punggung kekasihnya. Walau tidak memandang wajah Emelie secara langsung, tetapi Zeroun sudah bisa membayangkan wajah sedih Putri kerajaan itu.


“Baik, Bos. Saya permisi dulu. Saya akan kembali lagi membawa obat untuk luka anda.” Lukas memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar berukuran luas itu.


Zeroun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan untuk mendekati Emelie. Pria itu memeluk tubuh Emelie dari belakang. Mengecup pipi kanan Putri Kerajaan itu untuk menghiburnya.


Emelie memandang laut dan langit yang kini seolah menyatu. Langit hari ini memang sangat cerah. Sinar matahari membuat keindahan laut yang ada di hadapannya seperti sebuah lukisan.


“Apa langit secerah ini hanya untuk menertawakan diriku yang kini terlihat menyedihkan?” tanya Emelie dengan tatapan kosong.


“Baby, jangan sedih lagi. Aku selalu ada di sini untuk membuatmu bahagia.” Zeroun meletakkan kepalanya di pundak Emelie. Pria itu juga memandang pemandangan laut yang kini tersaji di depan matanya. Sejak dulu, Lukas memang selalu bisa di handalkan dalam memilih tempat tinggal. Pria berbadan tegab itu selalu saja memilih lokasi yang menyajikan pemandangan yang cukup indah.


Emelie memandang wajah Zeroun yang kini ada di samping kepalanya. Wanita itu menaikan satu tangannya untuk mengusap lembut wajah kekasihnya.


“Aku sangat mencintaimu,” ucapnya dengan suara yang cukup pelan.


“Aku tahu itu,” jawab Zeroun sambil mengecup pipi Emelie lagi.


“Bos, perban anda harus segera diganti,” ucap Lukas sambil menunduk.


Mendengar perkataan Lukas, membuat Emelie kembali ingat dengan luka yang dimiliki kekasihnya. Wanita itu menatap luka di lengan Zeroun dengan seksama.


“Biar aku saja yang mengganti perbannya,” tawar Emelie sambil menatap wajah kekasihya.


“Baik, Nona. Saya permisi dulu.” Lukas pergi meninggalkan kamar itu. Menutup kembali pintu kamar dengan hati-hati agar tidak menyisakan suara.


Zeroun mengukir senyuman saat mendengar perhatian Emelie siang itu. Pria itu menyelipkan rambut kekasihnya di belakang telinga, “Terima kasih.”


Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama. Wanita itu mengukir senyuman indah sebelum menarik tangan kekasihnya menuju ke arah sofa.


“Baby, I love you,” ucap Zeroun sambil mengikuti langkah kekasihnya saat ini. Emelie hanya diam saat itu. Wanita itu membawa tubuh kekasihnya agar duduk di sofa.


“I love you to,” jawab Emelie sambil mengambil kotak P3K yang ada di atas meja. Mendengar jawaban Emelie membuat Zeroun tersenyum lagi. Walau wanita itu belum seceria biasanya, tapi dengan Emelie mau berbicara sudah membuat Zeroun cukup tenang.


Dengan hati-hati Emelie membuka perban yang sudah basah karena darah itu. Putri Kerajaan itu sudah membiasakan diri untuk melihat darah akibat pekerjaan kekasihnya. Tanpa rasa takut, Emelie melepas dan meletakkan perban berdarah itu pada tempatnya.


“Apa ini sangat sakit?” tanya Emelie dengan tatapan masih fokus ke arah luka Zeroun.


“Tidak sesakit hatiku saat melihatmu bersedih seperti tadi,” jawab Zeroun pelan.


“Maafkan Aku,” sambung Emelie yang mulai membungkus luka itu dengan perban yang baru. Wanita itu cukup teliti dengan pekerjaannya yang menggantikan tugas Dokter. Sebisa mungkin, Emelie memberi perawatan terbaik yang Ia ketahui untuk kekasihnya.


Setelah selesai, Emelie memegang perban itu. Wanita itu mengecup luka Zeroun sebelum menatap wajah sang pemilik luka, “Lukanya akan sembuh beberapa menit lagi.”


Zeroun tertawa kecil saat mendengar perkataan Emelie. Pria itu menarik pinggang kekasihnya agar berada di dekat tubuhnya.


“Lukanya sudah sembuh setelah kau menciumnya,” ucap Zeroun menggoda.


“Secepat itu?” ucap Emelie sambil mengeryitkan dahi.


Zeroun mengangguk pelan sebelum memeluk tubuh kekasihnya. Pria itu mengusap lembut rambut Emelie yang terlihat sangat berantakan.


“Emelie, kau harus segera membersihkan dirimu. Kita akan makan siang setelah kau selesai mandi nanti,” ucap Zeroun. Sejak pagi, pria itu belum ada memakan atau meminum apapun. Ia tidak ingin makan atau minum sebelum kekasihnya juga makan.


Emelie mengangguk pelan sebelum beranjak dari posisi nyamannya. Wanita itu melangkah ke arah kamar mandi tanpa memandang Zeroun lagi. Sedangkan Zeroun, ia masih duduk di atas sofa dengan senyuman penuh arti.


Kita akan segera membuat mereka membayar semua ini, Emelie.