
Waktu terus berlalu, Morgan dan pasukan miliknya tiba di depan markas White Tiger. Sebelum pasukan White Tiger menyambut kedatangannya, Morgan dan pasukannya lebih dulu menghujani markas tersebut dengan ratusan peluru.
Morgan berjalan masuk dengan wajah khawatir. Ia ingin melihat Lana dan menyelamatkan wanitanya. Diiringi dengan pasukan miliknya, Morgan terlihat santai saat melangkah masuk ke dalam markas White Tiger.
Puluhan tembakan menyambutnya dan berusaha mengusirnya agar segera pergi. Tapi Morgan tidak goyah sedikitpun. Pria itu terus saja berjalan untuk mencari Lana.
Tembakan demi tembakan terdengar dimana-mana. Lana terbangun dari tidurnya yang tidak terlalu nyenyak. Wanita itu memandang wajah beberapa pria yang menjaganya. Hatinya kembali tenang saat melihat pasukan Gold Dragon masih ada di dalam ruangan itu untuk menjaganya.
Pintu tiba-tiba terbuka dan Morgan berdiri di ambang pintu. Pria itu cukup murkah. Tidak ada lagi belas kasih di dalam sorot mata Morgan malam itu. Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan tembakan ke arah beberapa pria yang duduk tidak jauh dari posisi Lana. Semua orang tergeletak di lantai.
Lana tercengang saat melihat pasukan Gold Dragon juga menjadi korban tembakan Morgan malam itu. Tetes air mata membasahi pipi Lana karena hatinya terlalu sedih melihat pasukan miliknya tergeletak. Namun, pria itu memberi satu kode melalui tangan. Hal itu berhasil membuat Lana kembali bernapas lega. Kini ia tahu, kalau pria itu hanya pura-pura mati agar berhasil mengelabuhi Morgan.
“Lana, apa kau baik-baik saja?” ucap Morgan dengan wajah yang cukup panik. Pria itu mengeluarkan belati lalu melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Lana. Ia juga melepas kain yang membuat Lana kesulitan untuk berbicara.
Lana hanya diam menunduk tanpa mau menjawab. Ia juga bingung, harus bagaimana.
“Honey, apa yang mereka lakukan padamu? Kenapa bajumu koyak seperti ini,” ucap Morgan menahan geram.
Morgan melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Lana yang terbuka. Ia tidak suka jika bagian tubuh Lana di lihat semua orang.
“Mereka menyiksaku,” jawab Lana dengan suara yang cukup lemah. Wanita itu jatuh ke dalam pelukan Morgan dan pura-pura pingsan.
“Lana, bangun Lana,” ucap Morgan semakin panik. Pria itu terus-terusan menepuk pipi Lana agar wanita itu segera bangun. Tapi, Lana tidak memberikan tanda-tanda. Ia tetap berakting pingsan dan tidak sadarkan diri.
Morgan mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Giginya saling beradu karena marah, “Aku ingin tempat ini rata dengan tanah,” perintah Morgan pada pasukan miliknya.
“Baik, Bos,” ucap tangan kanan Morgan sambil membungkuk hormat.
Morgan menatap wajah Lana sebelum melanjutkan langkah kakinya. Pria itu ingin segera membawa Lana kembali ke markas miliknya. Setelah Lana kembali sehat, Morgan bertekad untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya kepada pimpinan White Tiger secara langsung.
Morgan meletakkan Lana di dalam mobil. Pria itu memasang sabuk pengaman sebelum menutup pintu mobil. Lana membuka mata saat melihat Morgan dan pasukan miliknya masih berperang di luar mobil. Lana menghela napas dengan senyuman bahagia.
Detik itu Lana mengerti strategi yang sudah di buat oleh Zeroun. Ia sengaja membuat Morgan menyerang markas White Tiger. Dengan begitu pertahanan White Tiger tidak akan lagi seimbang. Hingga akhirnya membuat satu kemenangan bagi Gold Dragon nantinya.
Jika di bandingkan dengan ledakan White Tiger saat di markas Gold Dragon semalam, ledakan ini jauh lebih dahsyat. Morgan masuk ke dalam mobil setelah ia puas membalaskan rasa sakit hatinya. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat Lana sudah sadar dan bisa memandang wajahnya.
“Honey, apa kau baik-baik saja?” ucap Morgan sambil mengusap lembut pipi Lana.
“Jangan sentuh aku,” protes Lana. Walau kini ia harus akting di depan Morgan, tapi ia tidak ingin mengkhianati Lukas. Sebisa mungkin ia menghindar dari sentuhan tangan Morgan.
“Kau masih marah padaku?” ucap Morgan dengan suara yang pelan.
Lana menunduk sambil memegang kakinya. Ia memijat kakinya seolah kini kakinya sedang sakit, “Mereka ingin membuatku lumpuh. Sebuah kayu besar mereka gunakan untuk memukul kakiku tadi.”
Wajah Morgan lagi-lagi berubah. Ia tidak terima saat mendengar kabar buruk tersebut, “Aku akan membuat pelajaran kepada Arron dan seluruh pasukannya. Aku pastikan mereka akan pergi meninggalkan Spanyol dalam waktu dekat.” Morgan melajukan mobilnya untuk kembali ke kota Valencia.
"Aku mau sekarang juga," ucap Lana sambil memandang wajah Morgan.
Morgan mengukir senyuman tipis, "Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. Kita akan menyerang Arron malam ini juga."
Lana mengukir senyuman bahagia sambil melihat keluar jendela. Satu tangannya yang sejak tadi memegang kaki sudah tidak lagi ada di situ. Masih terbayang jelas saat awal-awal aksinya yang mendebarkan dan penuh resiko itu ia alami. Lana bahagia. Ia cukup tenang karena Zeroun tidak menganggapnya sebagai seorang penghianat.
“Aku sudah bilang, hanya aku yang bisa melindungimu. Lihatlah saat ini, dimana pria itu? Dia tidak datang untuk menyelamatkanmu.” Morgan memandang wajah Lana sekilas sebelum memandang jalan lurus di depan.
“Mereka cukup jahat. Bahkan pasukan White Tiger ingin memperkosaku tadi,” jawab Lana dengan wajah menunduk dan memelas lagi. Air mata palsu juga harus ia teteskan supaya Morgan semakin percaya.
Morgan menggertakkan gigi dan mencengkram kuat stir mobilnya. Hatinya terasa panas saat mendengar kalimat yang di ucapkan Lana, “Berani-beraninya mereka menyentuh wanitaku. Tenang, Honey. Aku akan membalas perbuatan White Tiger terhadapmu.”
Lana membuang tatapannya ke arah lain. Bibirnya lagi-lagi harus mengukir senyuman, “Cinta memang membutakan siapa saja. Maafkan Aku. Kali ini aku harus memanfaatkan cintamu, Morgan,” gumam Lana di dalam hati.
Morgan menambah laju mobilnya menuju ke kota Valencia. Pasukan milik Morgan terlihat berbaris di belakang mobilnya. Walaupun Morgan hanya sebuah gangster, tapi tetap saja ia memiliki pertahanan yang kuat.
Baginya Spanyol adalah rumahnya. Morgan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Termasuk mengusir semua tamu yang datang berkunjung ke rumahnya. Saat ini, orang yang paling ingin di usir Morgan adalah Arron. Pria itu telah memandang jelek White Tiger karena mereka telah menculik wanitanya.
Morgan tidak pernah sadar, kalau ia sudah berada di dalam permainan Gold Dragon. Bagi Morgan, semua kalimat yang di ucapkan Lana adalah kebenaran. Ia tidak akan pernah menyangka, kalau Lana juga kini telah memanfaatkan dirinya.