Moving On

Moving On
Sahabat Terbaik Selamamya



Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Serena, Emelie mulai menggerakkan kepalanya. Wanita itu ingin memandang wajah pelayan yang sudah berani mengatakan hal itu. Matanya merah dan bengkak. Di tangan kirinya ada selembar foto yang berisi wajah Zeroun Zein. Napasnya terlihat senggugukan saat itu.


“Pergilah! Aku sudah bilang tidak mau makan. Jika kau bekerja untuk Damian, katakan padanya untuk membunuhku saja detik ini.” Emelie menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berbaring miring dan membelakangi tiga pelayan yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.


‘Seperti ini wanita yang membuatmu jatuh cinta? Aku akan menarik kupingmu nanti, Zeroun. Kenapa kau selalu saja jatuh cinta pada wanita yang keras kepala.


“Maafkan saya, Putri.” Serena menundukkan tubuhnya.


Diikuti dengan dua pelayan di belakangnya. Mereka bertiga berjalan dengan kegagalan. Belum sempat keluar dari dalam kamar, pintu sudah terbuka lebih dulu. Damian muncul dari balik pintu itu dengan wajah yang cukup santai. Lelaki itu melirik ke arah pelayan yang berdiri sebelum berjalan ke tempat tidur Emelie.


“Selamat malam, Pangeran,” ucap Serena dan yang lainnya secara bersamaan.


Damian tidak terlalu peduli. Lelaki itu melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah tempat tidur. Ada wajah tidak suka saat melihat makanan Emelie masih utuh, “Tunggu!” teriak Damian.


Serena dan rekannya berhenti dan memutar tubuh mereka. Wajahnya menunduk dengan rasa takut saat Damian menghalangi langkah mereka untuk lari.


“Siapa yang mau bertanggung jawab untuk hal ini?” ucap Damian tanpa mau menjelaskan secara detail.


“Saya, Pangeran,” jawab Serena dengan wajah pura-pura takut.


“Ok. Yang lain boleh pergi.” Damian duduk di atas sofa sambil memandang ke arah tempat tidur. Lelaki iu membuang napasnya dengan kasar saat Emelie tidak juga mau memandang wajahnya, “Apa kau tahu Emelie, Istana ini sudah aku kuasai. Tidak ada satu orangpun yang akan percaya dan membelamu. Kau sudah melakukan dosa karena berhubungan dengan lelaki penjahat seperti Zeroun Zein.”


Serena mengangkat kepalanya. Nama Zeroun di sebutkan, tentu saja membuat hatinya mendidih dan ingin membunuh Damian detik itu juga. Tapi, rencananya masih panjang. Ia tidak ingin gagal karena ketahuan secepat ini.


“Kau pelayan yang ingin bertanggung jawab bukan?” Damian beranjak dari sofa yang ia duduki. Mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya, “Aku akan membunuh satu pelayan setiap kali ia tidak mau makan. Kau pelayan ke dua puluh dari jumlah yang sudah aku bunuh.” Damian menodongkan pistol itu ke arah Serena berdiri.


Serena memandang pistol itu dengan tatapan tajam. Namun, dalam hitungan detik wajahnya berubah. Wanita tangguh itu berlutut untuk memperkuat penyamarannya, “Maafkan saya, Pangeran. Saya sudah berusaha untuk membujuk Putri. Tapi, Putri belum mau memakannya.” Serena memasang wajah takut dan tangisan yang menyedihkan.


“Jawaban yang sama dari sebelumnya. Emelie, apa kau tidak ingin menyaksikan pelayan ke 20 puluhmu ini mati?” ucap Damian dengan senyuman tipis.


“Hentikan, Damian!” teriak Emelie. Wanita itu beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah meja. Sekilas ia memandang ke arah Serena yang kini berlutut ketakutan, “Pergilah! Aku akan makan. Aku harus memiliki tenaga untuk melawan orang yang paling aku benci.” Ada tatapan penuh kebencian saat kedua bola matanya memandang Damian.


“Terima kasih, Putri.” Serena beranjak dari posisinya. Wanita itu membungkuk sebelum pergi meninggalkan kamar Emelie. Ada senyum manis di bibir Serena saat itu.


‘Aku sekarang tahu alasanmu memilihnya.


***


“Sayang, bagaimana kalau lelaki itu benar menembakmu?” ucap Daniel sambil mengeryitkan dahi.


“Aku akan menembaknya lebih dulu,” jawab Serena sambil memandang wajah Zeroun, “Setelah malam itu aku melihatnya makan walau hanya satu sendok selama sehari.”


Zeroun kembali diam saat membayangkan wajah sedih Emelie saat Serena bercerita. Tapi, semua sudah terbayarkan. Kini orang yang sudah membuat hubungannya hingga seperti ini sudah tidak ada lagi di dunia ini.


“Malam sebelum pernikahan, aku menyelinap masuk untuk menyembunyikan senjata api. Aku sengaja memberinya obat tidur saat itu agar bisa menyuntikan vitamin untuknya. Aku tidak ingin wanita itu jatuh sakit.” Serena kembali duduk di posisinya semula, “Zeroun, kau memang pria yang cukup menyebalkan. Kenapa kau merahasikan semuanya dari kami. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada kami. Apa kau bisa terima dengan lapang dada?” Serena melempar bantal kursi ke arah wajah Zeroun. Wanita tangguh itu masih menyimpan rasa kecewa kepada Zeroun.


“Maafkan aku, Serena. Aku tahu kalian di serang di Sapporo hingga membuat orang tua Daniel di rawat dan kritis. Aku tidak ingin membuat kalian sulit lagi,” jawab Zeroun dengan wajah penuh rasa bersalah.


“Kak, maafkan Kak Zeroun,” ucap Shabira sebelum memeluk bantal kursi yang baru saja di lempar oleh Serena.


Serena menghela napas, “Aku ingin bersiap-siap. Aku ingin segera pulang ke Sapporo sebentar lagi. Aku cukup merindukan kedua buah hatiku saat ini.” Serena beranjak dari kursi menuju ke arah tangga. Wajahnya masih di selimuti rasa kesal terhadap rahasia yang di lakukan oleh Zeroun.


“Kak Erena marah kepada kakak. Bahkan ia juga tidak berselera makan selama beberapa hari ini. Kak Erena selalu bilang. Kalau kakak berbohong sudah menganggapnya sebagai sahabat.” Shabira memegang tangan Zeroun sambil memandang wajah Bos Mafia itu.


Zeroun memandang punggung Serena yang kini sudah menaiki tangga. Lelaki itu beranjak dari sofa yang ia duduki untuk menemui Serena. Ada banyak hal yang memang harus ia jelaskan agar Serena tidak marah kepada dirinya. Zeroun sangat kenal dengan Serena. Ia sudah cukup tahu dengan suasana hati wanita itu saat ini.


Serena berdiri di balkon yang ada di lantai dua. Sorot matanya cukup tajam walau hanya memandang pepohonan yang berbaris rapi. Kedua tangannya mencengkram kuat besi pembatas balkon.


“Kira-kira jam segini apa yang di lakukan oleh kedua keponakan kecilku itu?” ucap Zeroun sambil berjalan pelan mendekati posisi Serena berdiri.


“Baby Al dan Baby El sedang tidur di jam sekarang,” jawab Serena pelan.


“Aleonora dan Eleonora,” sambung Zeroun dengan senyuman.


Serena menghela napas, “Apa kau ke sini untuk meminta maaf atau membujukku agar melupakan kesalahan yang telah kau perbuat Zeroun Zein?” ucap Serena tanpa memandang.


“Ya. Aku salah. Aku ke sini untuk meminta maaf padamu. Aku sudah mengingkari janjiku untuk mengatakan masalah yang aku punya kepadamu. Tidak meminta bantuan saat aku sedang dalam masa kesulitan.” Zeroun berdiri di samping Serena, “Awalnya aku ingin melakukan hal itu. Tapi, aku berpikir ulang agar tidak menyusahkan hidup kalian yang sudah tenang di sana.”


“Keputusan yang bagus. Aku harap kau bisa mempertahankan keputusan itu selamanya,” jawab Serena dengan wajah kesal.


Zeroun tertawa kecil saat mendengar jawaban Serena, “Apa seperti ini sikap wanita yang sudah melahirkan? Kau terlihat jauh lebih galak dari sebelumnya, Serena.”


Serena memutar tubuhnya agar bisa menatap wajah Zeroun, “Jangan ulangi lagi. Kau akan masuk ke dalam anggota kerajaan. Itu juga bukan hal yang mudah Zeroun. Beri tahu kami jika ke depannya kau memiliki masalah. Soal Emelie ....” Serena menahan kalimatnya, “Dia wanita yang cukup cantik dan lemah lembut. Jika ada waktu bawa dia ke rumah agar aku bisa kenal lebih dekat dengannya.”


Zeroun mengukir senyuman, “Apa kau sudah memaafkanku?” Zeroun menyodorkan jari kelingkingnya.


“Tentu saja aku memafkanmu karena kau masih hidup. Jika kau benar-benar pergi aku tidak akan memaafkanmu dengan semudah itu.” Serena mengikatkan jarinya di jari Zeroun. Bibirnya mengukir senyuman manis.


“Serena, aku sudah melamarnya. Aku akan segera menikahinya.”


Serena mengukir senyuman, “Kau memang sudah seharusnya menikah. Usiamu tidak lagi muda Zeroun Zein,” ucap Serena cepat sambil tertawa.


Zeroun mengukir senyuman sambil menatap wajah Serena, “Apa kau memikirkan hal yang sama denganku, Serena?”


Serena mengangguk pelan sambil menahan tawa.


“Daniel, keluarlah!” teriak Serena dan Zeroun secara bersamaan.


“Hmm, Baiklah. Kalian memang sudah terlatih sejak dulu,” ucap Daniel. Lelaki itu muncul dari balik dinding dengan wajah kesal karena ketahuan menguping, “Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian.”


“Apa kau masih cemburu padaku, Daniel?” tanya Zeroun dengan penuh selidik.


“Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberi tahu kalau pesawat akan segera berangkat,” jawab Daniel asal saja.


“Aku sangat suka jika kau cemburu seperti itu. Kau terlihat sangat manis, Daniel.” Serena memeluk Daniel yang sudah mendekat dengan tubuhnya.


“Ya. Aku juga ingin berangkat. Kita bisa berangkat sekarang bersamaan. Aku juga ingin memeluk Emelieku saat ini.”


Zeroun memutar tubuhnya. Diikuti dengan Daniel dan Serena. Mereka tidak ingin berlama-lama lagi di Inggris. Sosok yang mereka cintai dan sayangi sudah menanti kedatangan mereka saat ini.