
Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pagi itu Shabira meminta Lukas untuk mengantarnya ke penjara tempat Inspektur Tao dan Agen Mia di tahan. Ia ingin melihat wajah dua orang yang sangat ingin di perjuangkan oleh Kakak kandungnya. Di samping Shabira ada Kenzo yang sibuk dengan layar ponselnya. Lelaki itu memasang wajah sedikit stress atas laporan keuangan yang terjadi di Z.E Group.
Di bangku depan, tepatnya di samping Lukas ada Lana yang duduk sambil memperhatikan pemandangan yang kini mereka lewati. Wanita itu mengukir senyuman manis dengan hembusan napas yang teratur.
“Sayang, sepertinya kita harus segera pulang ke Sapporo. Perusahaan Z.E Group bisa bangkrut jika kita terlalu lama berada di kota ini.” Kenzo menunjukkan kurva yang menurun.
“Sayang, sebentar lagi Kak Zeroun akan menikah. Ia ingin kita menemaninya selama ia belum menikah. Kita tidak mungkin pulang sebelum pesta pernikahan berlangsung.” Shabira mengusap lembut lengan suaminya, “Aku akan menghubungi Kak Erena agar ia meminta Daniel untuk membantu perusahaan kita.”
Lukas melirik melalui spion. Lelaki itu juga tidak terlalu mengerti dengan dunia Z.E Group yang pernah di bentuk oleh Zeroun. Lukas tidak ada di samoing Zeroun saat lelaki itu membangun Z.E Group. Saat itu, Lukas sibuk mengatur Gold Dragon dan bisnis terlarang milik Zeroun yang sedang berkembang pesat.
“Nona, apa anda yakin akan masuk ke dalam kantor polisi? Jika ada yang mencurigai anda, maka anda tidak akan mudah untuk keluar dari gedung itu.” Lana menatap wajah Shabira dengan perasaan khawatir, “Biar saya yang melakukannya, Nona. Anda hanya perlu mengatakan apa yang harus saya lakukan.”
“Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja,” jawab Shabira dengan senyuman. Wanita itu mengeluarkan kaca mata berwarna putih. Ia mulai menyisir rambutnya untuk merubah penampilannya. Rambutnya sengaja ia berikan poni di depan agar terlihat seperti wanita yang lugu dan sangat di percaya.
Kenzo mengeryitkan dahi saat melihat istri tercintanya berubah penampilan. Lelaki itu menarik cermin yang ada di tangan Shabira, “Sayang, apa lagi sekarang? Aku mengijinkanmu untuk datang ke kantor polisi sendirian. Tapi, tidak dengan penampilanmu yang sekarang.”
“Kenzo, jangan seperti anak kecil. Aku hanya ingin membantumu menolong dua tahanan itu besok,” ucap Shabira sambil merebut kembali cermin yang ada di genggaman Kenzo.
“Apa kau tahu, kami bertiga bisa di cincang oleh Zeroun Zein saat ia tahu kami membiarkan Zetta kesayangannya masuk sendirian ke dalam kantor polisi untuk melaksanakan strategi yang kami sendiri juga tidak tahu seperti apa.” Kenzo meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri pipi istrinya.
“Kenzo, aku baik-baik saja. Jika aku dalam bahaya, kau juga pasti akan menolongku bukan? Lalu apa lagi yang harus aku khawatirkan.” Shabira melepaskan tangan Kenzo dari wajahnya. Wanita itu kembali fokus pada cermin yang ada di genggamannya.
Lukas dan Lana hanya bisa menjadi pendengar sejati atas perdebatan singkat sepasang suami istri itu. Hingga beberapa menit kemudian, Lukas memberhentikan laju mobilnya di parkiran yang ada di halaman kantor polisi.
Beberapa polisi tampak berlalu lalang. Semua orang memperhatikan keadaan sekitar dengan seksama. Di lihat dari keadaannya yang ada, memang tidak terlalu buruk melepas Shabira sendirian di dalam kantor polisi itu.
“Sayang, kau harus memberiku tanda jika kau dalam bahaya.” Kenzo menahan tangan Shabira. Ia tidak akan melepas tangan istrinya jika wanita itu belum mengucapkan janji.
“Ya, aku janji akan memberikan kode kepadamu jika aku berada dalam bahaya,” ucap Shabira sambil mengukir senyuman indah. Wanita itu turun dari dalam mobil dengan tas berwarna hitam di genggamannya.
Di dalam mobil, Lukas memandang wajah Kenzo melalui spion. “Tuan, bagaimana jika Nona Zetta dalam bahaya?”
“Tentu saja aku tidak akan mematuhi larangannya. Apa kau pikir aku akan diam di mobil ini karena takut ia marah?” Kenzo memakai rambut palsu dan memulai penyamarannya, “Aku lebih memilih di marahi olehnya daripada harus membiarkannya sendiri di dalam sana.”
Kini di dalam mobil hanya tersisa Lukas dan Lana. Sepasang kekasih itu terlihat sama-sama canggung. Padahal sudah cukup sering mereka berduaan di dalam mobil. Namun, momen pagi itu terlihat sedikit berbeda. Di tambah lagi, momen pembelaan Lukas di hadapan Zeroun. Momen itu masih melekat abadi di dalam ingatan mereka masing-masing.
“Aku ingin jalan-jalan ke suatu tempat setelah Bos Zeroun dan Putri Emelie menikah,” ucap Lana dengan suara pelan.
“Kemana?” tanya Lukas dengan wajah yang cukup penasaran.
“Brasil. Ada tempat yang belum sempat aku datangi saat kita tinggal di sana. Aku ingin bermain bungee jumping denganmu.” Wajah Lana merona malu. Wanita itu bahkan sudah membayangkan bagaimana manisnya mereka terbang di udara nantinya saat memainkan permainan itu.
“Baiklah, aku akan membawamu ke Brasil sebelum kita kembali ke Hongkong nanti,” ucap Lukas dengan wajah yang cukup menyakinkan.
Lukas mengeryitkan dahi saat melihat Shabira dan Kenzo keluar dari kantor polisi secara bersamaan. Ada wajah kesal yang terpancar jelas di wajah sepasang suami istri itu. Tidak ada kata lain yang kini memenuhi pikiran Lukas selain kata gagal.
Kenzo masuk lebih dulu ke dalam mobil. Diikuti Shabira setelah lelaki itu masuk dan duduk dengan posisi nyaman.
“Kau seperti anak-anak, Kenzo!” protes Shabira sambil mencoba untuk menahan amarahnya.
“Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan polisi itu. Kau terlalu genit, Shabira. Apa tidak cukup bagimu?” protes Kenzo tidak mau kalah.
“Aku hapir berhasil masuk ke dalam penjara itu dan melihat wajah Agen Mia. Apa kau tahu kau tahu, kalau sejak dulu aku juga sedang mencari sahabat terbaikku yang hilang.” Shabira membuang tatapannya keluar jendela.
“Aku sudah bilang, kalau Mia yang pernah kau kenal sudah meninggal. Mereka bukan wanita yang sama,” ucap Kenzo yang terus saja membela dirinya sendiri, ”Kita kembali ke istana. Kau sebaiknya duduk diam di istana itu bersama Putri Emelie. Jangan lagi pikirkan pertarungan atau apapun itu karena kau sedang mengandung.”
Lukas dan Lana saling memandang dengan wajah bingung. Setelah mendengar keadaan di dalam mobil mulai aman, Lukas melajukan mobilnya. Lelaki itu menyimpan rasa penasaran terhadap nama Mia yang kini sedang di cari oleh Adik bosnya.
.
.
.
Vote dan likenya jangan lupa ya Readers... terima kasih.