
Lukas mengokang senjata api yang ada di tangannya. Pria itu berhasil masuk ke dalam lift dengan selamat. Di dalam lift, ia tidak lagi bisa bernapas dengan tenang. Tidak tahu kemana kini Morgan akan membawa Lana. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki telah rusak dan tertinggal di lantai bawah.
Pintu Lift terbuka. Lukas berlari keluar untuk melihat keadaan di atap gedung. Ia cukup yakin, kalau malam itu Morgan dan Lana ada di atas gedung tertinggi tersebut. Langkahnya terhenti saat melihat pasukan milik Morgan berdiri dengan senjata api ke arah tubuhnya. Tembakan demi tembakan yang terdengar seakan memecah kesunyian di apartemen tersebut.
Setelah berhasil mengalahkan beberapa pria yang menghalanginya, Lukas terus berlari ke arah tangga yang akan menghubungkannya ke atap gedung. Pria itu berlari dengan gerakan yang cepat namun tetap waspada. Setiap sudut lorong yang ia lewati selalu ia periksa dengan begitu teliti.
Setelah tiba di atas gedung. Lukas menghentikan langkah kakinya. Lagi-lagi ia harus bertemu dan berhadapan langsung dengan pasukan yang di miliki Morgan. Sorot matanya yang tajam memperhatikan wajah kekasihnya yang masih tertidur dengan lelap. Giginya menggertak dengan begitu kesal saat melihat wanita itu ada di dalam gendongan musuhnya.
Malam itu Morgan terlihat kebingungan. Baling-baling helikopter itu tidak bergerak. Rencana yang sudah cukup rapi ia rencanakan harus hancur berantakan. Dua pilot yang akan mengemudikan helikopter untuknya kabur telah tewas dan tergeletak di lantai. Ada luka tembakan di dahi dua pilot tersebut. Jika di lihat dari bentuk tembakannya, peluru itu beasal dari temabakn jitu dari jarak yang cukup jauh.
“Apa kau pikir bisa dengan mudah mengalahkanku, Morgan?” ucap Lukas penuh dengan percaya diri.
Beberapa tembakan lagi-lagi berhasil melumpuhkan bawahan Morgan. Di sisi gedung lainnya, ada Agen Mia yang membantu Lukas dengan snipernya. Walau Lukas tidak merencanakan semua ini sebelumnya dengan wanita tangguh itu. Tapi, ia cukup yakin kalau Agen Mia yang kini sedang menolongnya.
“Apa kau mau merebut kekasihku, Lukas?” ucap Morgan dengan satu alis terangkat, “Atau kau belum tahu, kalau Lana adalah wanitaku sejak dulu.”
Lukas berjalan beberapa langkah. Pria itu tidak takut sama sekali dengan ujung pistol yang kini mengincar nyawanya. Tatapannya yang tajam terlihat tidak berkedip dan sangat menyeramkan. Tembakan terus ia arahkan ke tubuh musuh yang ingin menghalangi langkahnya. Hingga akhirnya peluru senjata apinya habis. Lukas melempar senjata apinya ke lantai dan siap untuk bertarung dengan tangan kosong.
Morgan membalas tatapan Lukas. Pria itu meletakkan Lana di dalam helikopter. Di dalam hati ia terus saja mengumpat kesal karena gagal membawa Lana pergi tepat waktu.
Satu kecupan di daratkan Morgan di dahi Lana. Hal itu berhasil membuat Lukas semakin cemburu. Dengan gerakan cepat ia berlari untuk menerkam Morgan. Kesabarannya sudah benar-benar habis melihat tingkah laku Morgan malam itu.
Morgan mengukir senyuman licik. Pria itu mengambil belati miliknya lalu memainkannya di hadapan Lukas. Sesekali ia memandang wajah bawahannya yang terus berjatuhan di lantai karena peluru sniper milik Agen Mia.
Lukas melompat untuk melayangkan satu pukulan ke arah wajah Morgan. Gerakannya tertahan saat Morgan mencengkram kuat tangannya. Tidak cukup sampai di situ. Dengan gerakan cepat Morgan mengarahkan belatinya ke perut Lukas.
Lukas memutar tubuhnya sambil melintir tangan Morgan yang masih mencengkram tangannya. Gerakan yang di lakukan oleh Lukas berhasil menghindari sentuhan belati pada perutnya.
“Kali ini aku tidak akan kalah,” ucap Morgan dengan penuh semangat. Satu tendangan ia layangkan ke arah perut Lukas. Kali ini tendangannya berhasil walau ia juga mendapat satu pukulan di wajah dari Lukas.
Baku hantam itu terus terjadi dan membuat wajah Morgan dan Lukas di penuhi luka. Bahkan darah segar mengalir deras di bibir dan hidung dua pria tangguh itu. Pukulan demi pukulan rasanya tidak ada habisnya dan tidak akan ada akhirnya.
Di bawah langit gelap yang di penuhi kabut yang cukup dingin, mereka bertarung dengan begitu mengerikan.
“Aku seharusnya membunuhmu sejak dulu!” teriak Lukas dengan penuh amarah. Satu tangannya memainkan belati miliknya dan siap untuk menusuk Morgan malam itu. Namun, tiba-tiba saja lengannya tertembak hingga membuatnya harus melepaskan belati yang sempat ada di tangannya.
Pria yang menjadi tangan kanan Morgan berhasil datang tepat waktu. Pria itu berlari kencang untuk membawa Morgan lari dari lokasi tersebut.
Tidak ingin musuhnya lolos begitu saja, Lukas mengambil pistol yang tergeletak di lantai. Ia terus menekan pelatuk pistolnya ke arah Morgan hingga beberapa kali. Ingin sekali ia mengejar Morgan dan menghabisi nyawa Morgan malam itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Lana yang tertidur di dalam helikopter.
“Dimana musuh kita?” ucap Mia terlihat sangat bersemangat.
Lukas memperhatikan pinggiran gedung tempat Morgan melarikan diri. Agen Mia langsung berlari untuk mengejar musuh Lukas malam itu. Tapi, usahanya seperti sia-sia. Setelah melihat ke arah tepian gedung, yang terlihat hanya jalanan sunyi dengan mobil terparkir.
“Kenapa mereka hilang begitu saja?” ucap Agen Mia sambil memasukkan pistolnya.
Lukas memperhatikan lengannya yang terkena tembakan. Pria itu mengambil belati lalu mencungkil peluru di dalamnya dengan gerakan cepat. Wajahnya terlihat menahan sakit hingga memerah.
Agen Mia berlari sambil membawa kain untuk menghentikan darah yang keluar. Wanita itu memandang ngeri saat melihat kelakuan Lukas yang terbilang berani tersebut.
“Apa yang kau lakukan?” ucapnya sambil mengikat kain pada lengan Lukas.
“Terima kasih. Aku tidak menyangka, kalau kau bisa berpikiran untuk menyerang mereka dari jarak yang cukup jauh.” Lukas berjalan ke arah helikopter.
“Aku tidak membantumu. Semua ini aku lakukan karena memang aku bekerja untuk Gold Dragon.” Agen Mia memandang wajah Lana yang masih tertidur, “Apa kekacauan ini di sebabkan oleh wanita ini?”
Lukas menatap tajam wajah Agen Mia sebelum mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Malam itu ia tidak ingin terlalu lama berdebat dengan Agen Mia. Sejak awal bertemu, mereka memang tidak pernah memiliki kecocokan. Bahkan Lukas sendiri tidak pernah menganggap kalau Agen Mia adalah bagian dari Gold Dragon. Tapi malam ini, berkat jasa Agen Mia semua rencana Morgan hancur berantakan. Baginya itu alasan yang cukup untuk menerima Agen Mia sebagai anggota Gold Dragon.
“Sebaiknya kita segera pulang ke Hongkong. Setelah keadaan membaik, kita akan melakukan penyerangan ke markas Morga,” ucap Lukas sambil berjalan cepat.
“Dimana?” celetuk Agen Mia sambil mengikuti langkah Lukas dari belakang.
Lukas menghentikan langkah kakinya. Pria itu menatap wajah Agen Mia sebelum mengeluarkan kata, “Spanyol.”
.
.
.
Karena Like ya makin dikit. aku jadi gak semangat buat up banyak 😔
padahal like gratis.
Like, Komen dan Vote. Kalau likenya banyak aku juga akan update banyak. terima kasih.