Moving On

Moving On
S2 Bab 45



Markas Gold Dragon, satu jam kemudian.


“Apa ini sakit?” ucap Emelie sambil membersihkan luka yang ada di sudut bibir Zeroun. Wanita itu duduk di hadapan Zeroun dan memandang wajah Zeroun dengan begitu teliti.


“Tidak sakit,” jawab Zeroun dengan suara yang cukup lembut. Pria itu membuang tatapannya ke arah lain. Sudah hampir larut malam. Tapi, bawahan yang ia perintahkan untuk melaksanakan misi rahasia belum juga kembali. Zeroun takut, jika benar-benar nyawa Lana dalam bahaya.


Jika hal itu sampai benar-benar terjadi. Maka Zeroun tidak akan memiliki keberanian lagi untuk berdiri di hadapan Lukas.


“Apa yang kau pikirkan?” Emelie meletakkan kain yang ia gunakan untuk mengkompres luka Zeroun. Wanita itu mengukir senyuman sebelum duduk di atas pangkuan suaminya, “Memikirkan Arron yang kabur?”


Zeroun mengukir senyuman tipis, “Tidak. Aku tidak lagi memikirkannya. Sebentar lagi kami akan berhasil mengalahkannya.” Pria itu mengalungkan kedua tangannya di pinggang Emelie, “Aku hanya memikirkan rencana yang sudah aku susun untuk memenangkan pertarungan ini. Aku telah mengorbankan seseorang.”


Emelie mengukir senyuman kecil. Kedua tangannya ia letakkan di sisi kanan dan kiri pipi Zeroun, “Kau pria tanggu yang cukup hebat. Aku cukup yakin, kalau kau tidak akan menyerah hanya karena masalah seperti ini. Berjuanglah selagi masih bisa. Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah tersedia di depan mata.”


“Sejak kapan kau terlihat bersemangat mendukungku seperti ini?” Zeroun mendekatkan hidungnya dengan hidung Emelie. Hembusan napas mereka bisa dirasakan dengan jelas di kulit wajah masing-masing.


“Sejak aku menikah denganmu. Semau hal yang berhubungan denganmu, perlahan mulai aku cintai. Aku juga tidak ingin menjadi istri yang mempersulit suaminya,” jawab Emelie dengan tawa kecil.


“Terima kasih, Sayang.” Zeroun mendaratkan satu kecupan mesra di bibir Emelie. Sentuhannya sangat lembut dan dipenuhi kasih sayang.


Mata mereka saling terpejam untuk menikmati waktu berdua yang kini mereka rasakan. Sayangnya, adegan mesra itu tidak bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Seseorang telah berdiri di depan pintu kamar Zeroun dan mengetuk pintu itu dengan durasi yang cukup cepat.


Zeroun menurunkan Emelie dari pangkuannya. Pria itu berjalan ke arah pintu. Ia berharap, seseorang yang muncul adalah sosok yang membawa kabar baik. Ia tidak akan pernah sanggup jika mendengar kabar buruk secepat itu.


Zeroun menarik pintu dengan gerakan cepat. Ia melihat seorang pria yang sejak awal telah ia tugaskan untuk melakukan misi rahasia tersebut. Ada senyum puas di bibir Zeroun walau pria itu belum mengeluarkan satu katapun.


“Selamat malam, Bos. Semua berjalan lancar sesuai rencana,” ucap Pria itu sambil membungkukan tubuhnya.


Lukas yang berdiri tidak jauh dari pria itu terlihat mengeryitkan dahi. Ia bingung dengan kalimat yang baru saja di ucapkan bawahannya itu. Di samping Lukas ada Agen Mia yang juga terlihat bingung.


“Bagus,” sambung Zeroun dengan napas yang kembali lega.


Emelie muncul dengan senyuman. Wanita itu memandang wajah pria yang membawa informasi sebelum memandang wajah Lukas dan Agen Mia, “Apa kita telah menang?”


“Ya, Sayang,” jawab Zeroun mantap.


Lukas semakin bingung. Ia cukup tahu kalau Arron berhasil kabur dan sekarang tidak tahu sedang bersembunyi dimana. Kapan saja, pria itu bisa muncul dan membuat penyerangan balik nantinya. Tapi, dengan wajah penuh percaya dirinya Zeroun mengatakan mereka telah menang. Lukas tidak mengerti. Kemenangan seperti apa yang kini di maksud oleh big boss Gold Dragon itu.


“Maaf, Bos. Tapi saya sendiri tidak tahu dimana kini Arron bersembunyi.” Lukas menunduk dengan wajah penuh tanya.


“Ayo kita jemput, Lana,” ucap Zeroun dengan senyuman tipis.


Kalimat yang di ucapkan Zeroun berhasil membuat Agen Mia dan Lukas terperanjat kaget. Tapi, tidak dengan Emelie. Wanita itu justru merangkul lengan suaminya dengan senyuman bahagia. Tidak harus menunggu berhari-hari, maka Lana akan segera menjadi anggota Gold Drgaon lagi.


“Aku tahu, kalau kau sengaja membuat strategi itu untuk memenangkan pertarungan dengan White Tiger,” ucap Emelie sambil memandang wajah Zeroun.


“Terima kasih karena sudah percaya padaku, Sayang.” Zeroun mengusap lembut rambut Emelie. Pria itu cukup bahagia karena di saat semua orang meragukan keputusannya, tapi Emelie justru mendukungnya dengan cinta, “Jika mereka bisa memasukkan penghianat di tengah-tengah Gold Dragon, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama.”


Lukas menunduk saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Zeroun. Kalimat itu seperti satu sindiran pada seseorang. Sejak semalam ia tidak percaya dengan Zeroun bahkan meragukan keputusan pria itu. Tapi, detik itu ia cukup percaya dengan semua perkataan Zeroun.


Agen Mia menunduk sambil mengepal kuat tangannya. Wajahnya berubah takut dan bingung. Namun, sebisa mungkin Agen Mia mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan.


“Kami harus pergi untuk menyerang Arron. Dia bersembunyi di suatu tempat saat ini. Aku ingin mengalahkannya malam ini juga,” ucap Zeroun sambil memandang wajah Emelie.


Emelie mengangguk setuju, “Aku sangat lelah. Aku akan berusaha melindungi diriku dari bahaya,” jawab Emelie dengan bibir tersenyum.


“Kau akan baik-baik saja di sini. Pasukan White Tiger sudah kalah. Mereka tidak akan lagi memiliki pemikiran untuk menyerang markas kita.” Zeroun mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Emelie.


“Hati-hati,” ucap Emelie dengan suara yang sangat lembut.


Zeroun mengangguk lalu memutar tubuhnya. Langkahnya terlihat sangat tenang dengan ekspresi dingin favoritnya. Di belakang Zeroun ada Agen Mia dan Lukas yang terlihat setia mendampingi Zeroun.


Lukas terlihat sangat bahagia. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk menemui wanita yang ia cintai. Padahal, jika besok pagi tidak ada kabar baik tentang Lana. Lukas bertekad untuk menolong wanita itu secara diam-diam, walau harus menentang perintah Zeroun.


“Anda memang Bos yang cukup hebat. Saya tidak pernah bisa membaca jalan pikiran anda. Semua strategi ini hanya anda pikirkan dalam waktu hitungan hari. Saya harap, malam ini semua bisa berakhir,” gumam Lukas di dalam hati.


Lukas masuk ke dalam mobil untuk mengambil alih kemudi. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tidak sabar melihat wajah kekasihnya.


“Lana, aku sangat bahagia karena kau baik-baik saja. Aku tahu, kalau kau bukan pengkhianat. Sejak awal, hatiku telah percaya padamu kalau kau adalah wanita yang cukup baik,” gumam Lukas di dalam hati.


Di samping Lukas ada Agen Mia yang sedang menunduk bingung. Ia terlihat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sepertinya rahasia yang di miliki Agen Mia juga akan segera terbongkar. Dengan penuh rasa waspada, Agen Mia telah mempersiapkan dirinya jika hal buruk itu benar-benar terjadi nantinya.