
Hari kembali berganti. Hari ini tanggal pertama di awal tahun baru. Sebagian orang masih terlelap di alam mimpi karena merasa lelah. Sedangkan Emelie sudah terbangun sejak beberapa jam yang lalu. Berdiri di depan jendela memperhatikan matahari yang muncul ke permukaan. Kota Hongkong terlihat sangat indah saat Emelie memandangnya dari ketinggian.
Ada banyak tempat yang belum sempat ia kunjungi selama ia berada di Hongkong. Danau hijau, pelabuhan hingga pantai. Emelie sedikit merasa kecea, Karena liburannya kali ini tidak membuahkan hasil sama sekali. Justru menambah kesedihan dan menyisahkan trauma yang begitu dalam.
Sejak beberapa menit yang lalu, Emelie sudah bersiap-siap untuk berangkat. Kini wanita itu sedang menunggu jemputan yang dikirimkan Lukas untuk mengantarnya ke bandara. Emelie tidak ingin membawa barang-barang miliknya yang sempat ia beli di Hongkong. Ia ingin meninggalkan semua barang miliknya sebagai kenang-kenangan.
“Aku datang dengan baju yang aku kenakan, kini aku akan pulang dengan baju yang aku kenakan.” Emelie menyimpan beberapa tumpuk bajunya di dalam lemari kayu kerukuran kecil.
Memberikan barang-barang miliknya kepada penghuni baru yang akan tidur di kamar itu. Sisa uang yang sempat diberikan oleh Zeroun Zein untuknya kini ada di genggaman tangannya. Wanita itu berniat untuk mengembalikan uang itu langsung kepada pemiliknya.
Tapi, karena beberapa hari ini tidak pernah bertemu langsung dengan Zeroun. Emelie berencana untuk menitipkan uang itu kepada supir yang akan mengantarkan dirinya ke bandara nanti.
Hingga detik itu ia tinggal di Hongkong. Belum ada satu orangpun yang mengenalnya sebagai putri kerajaan. Semua orang yang ada di rumah kontrakan itu hanya mengenal Emelie sebagai bagian dari Gold Dragon.
Suara ketukan pintu memecahkan lamunan Emelie. Wanita itu menggenggam uang itu sambil berjalan ke arah pintu. Terlihat tiga pria berdiri di balik pintu. Wajah ketiga pria itu tampak sedih saat harus berpisah dengan Emelie. Selama beberapa hari ini, memang hanya ada tiga pria itu yang menjadi rekannya untuk mengobrol.
“Kak, apa Kakak tidak bisa tinggal beberapa hari lagi?” Salah satu pria angkat bicara dengan mata berkaca-kaca.
Emelie menggeleng kepalanya pelan dengan bibir tersenyum kecil.
“Setelah semua masalah yang saya miliki selesai. Saya janji, akan mengunjungi tempat ini lagi. Jangan lupakan Saya.” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kak, Kakak harus janji akan datang ke tempat ini lagi.” Pria yang lain juga mengeluarkan isi hatinya.
“Saya janji.”
Mereka saling berpelukan. Sudah lama ketiga pria itu hidup tanpa orang tua. Namun, saat bertemu dengan Emelie, mereka merasa memiliki keluarga. Emelie sudah seperti Kakak kandung bagi ketiga pria itu.
“Ingat, jangan suka mencelakai orang lagi.” Emelie mengedipkan sebelah matanya.
“Kami janji Kak, Kami gak akan melakukan perbuatan kriminal lagi.” Ketiga pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Dari kejauhan. Salah satu pasukan Gold Dragon menjemput Emelie. Pria itu membungkuk hormat di hadapan Emelie. Memperlakukan wanita itu layaknya majikan yang harus ia lindungi.
“Nona, mobil sudah siap di bawah. Apa anda mau berangkat sekarang?” Pria itu menatap Emelie dengan seksama.
“Ya, saya ingin segera pulang.” Emelie menutup pintu kamarnya. Memberikan kunci kamar itu kepada salah satu pria yang sudah ia anggap adik.
“Kak, Kami tidak akan membiarkan orang lain menempati kamar ini. Kamar ini akan selamanya menjadi milik Kakak.” Satu pria menggenggam kunci kamar milik Emelie.
Buliran air mata menetes dari pelupuk mata Emelie. Wanita itu semakin sedih saat mendengar satu harapan yang baru saja dikatakan teman barunya itu. Satu harapan yang sangat mustahil untuk ia wujudkan.
Setelah kembali ke Inggris, Emelie sangat yakin kalau ia tidak akan memiliki kebebasan lagi. Hidupnya sepenuhnya akan terkurung di dalam istana. Tidak akan ada cela untuk dirinya kembali ke tempat itu.
Tidak ingin terus-terusan larut dalam kesedihan. Emelie berjalan ke arah pengawal yang dikirimkan untuknya. Dengan sekuat tenaga, Emelie menahan air matanya agar tidak jatuh. Tidak lagi ingin memandang ke arah belakang, untuk menghilangkan kesedihannya.
Di lantai bawah. Pria pemilik kontrakan itu juga mengantarkan kepergian Emelie. Pria itu sudah menganggap Emelie seperti anak kandungnya. Emelie gadis baik yang sangat ramah. Membuat semua orang yang ada di tempat itu menyukai Emelie. Kepergian Emelie, membuat rasa kehilangan yang begitu besar.
“Nona, anda boleh kembali ke rumah saya ini kapanpun anda mau.” Pria tua itu memberikan satu tangkai mawar merah.
“Terima kasih, Pak Tua.” Emelie mengambil bunga mawar itu sambil mengedipkan salah satu matanya. Mengukir senyum kecil di bibirnya.
Pria tua itu tertawa dengan terbahak-bahak saat mendengar perkataan Emelie.
“Nona, anda orang pertama yang berani berkata jujur.” Buliran air mata menetes di mata pria itu. Ada kesedihan dan rasa tidak rela saat harus melepaskan kepergian Emelie.
“Anda memang sudah tua,” jawab Emelie dengan tawa kecil.
“Iya, Iya. Hanya anda yang berani untuk mengatakan kebenarannya.” Pria itu membuka kedua tangannya dengan senyum kecil.
Emelie masuk ke dalam pelukan pria itu. Baginya pria itu sangat baik, karena sudah menjaganya saat ia berada di dalam keterpurukan.
“Nona, anda mengingatkan saya pada putri saya yang sudah tiada. Anggaplah saya ini adalah Ayah anda. Saya sangat ingin menggantikan Ayah anda yang sudah tiada.” Pria itu menepuk punggung Emelie sambil memejamkan mata.
Mendengar perkataan itu, Emelie menangis sejadi-jadinya. Pria itu kembali mengingatkannya kepada Raja yang sudah tiada.
“Terima kasih,”ucap Emelie dengan nada yang sangat lirih.
Pria itu melepas pelukannya. Menghapus air mata Emelie dengan senyum kecil.
“Nona, sudah waktunya.” Pasukan Gold Dragon memperingatkan Emelie untuk segera berangkat.
“Saya pergi dulu.” Emelie memandang beberapa penghuni rumah kontrakan yang ada di situ. Bibirnya tersenyum dengan tangan melambai.
Semua orang membalas lambaian tangan Emelie dengan wajah sedih dan senyum kecil.
Emelie masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan untuknya. Setelah duduk dengan posisi nyaman, Emelie membuka kaca mobil untuk melihat wajah-wajah orang yang ia tinggal untuk yang terakhir kalinya.
Semua orang berkumpul menjadi satu. Mengukir senyum manis untuk melepas kepergian Emelie pagi itu. Mobilpun melaju dengan cepat meninggalkan rumah kontrakan itu.
Emelie menutup kaca jendelanya saat sudah berada jauh dari rumah kontrakan itu. Memandang keluar kaca untuk menikmati pemandangan Hongkong.
Apa aku akan kembali ke tempat ini lagi? Kota kecil ini terasa sangat nyaman. Jika boleh memilih, Aku ingin terlahir di Kota ini bersama kedua orang tuaku. Tanpa harta dan tahta agar bisa hidup dengan bahagia layaknya orang biasa.
Mobil itu melaju kencang menuju ke arah bandara. Menembus terik matahari pagi yang bersinar terang.