Moving On

Moving On
Kakak Ipar



Angin berhembus dengan sangat kencang. Matahari yang bersinar di langit, secerah hati Emelie dan Zeroun. Tubuh mereka masih saling berpelukan untuk melepas rindu. Bahkan perputaran waktu yang sudah cukup lama tidak lagi terasa. Hanya ada cinta di antara mereka. Sepasang kekasih itu tidak ingin berpisah lagi. Sudah cukup takdir mempermainkan perasaan mereka selama beberapa hari ini. Detik ini mereka ingin kembali bahagia. Hanya ada tawa dan cinta.


“Sayang, aku sangat merindukanmu,” ucap Zeroun sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Emelie.


“Aku juga sangat merindukanmu. Kenapa kau membiarkanku menunggu di sini?” Emelie mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Zeroun. Ada rasa kesal karena ia harus pulang ke Hongkong dan tidak menemukan Zeroun ada di rumah.


“Sayang, maafkan aku. Ada hal penting yang harus aku selesaikan di Inggris. Seluruh keluargamu telah di sekap oleh Damian. Tapi sekarang mereka sudah bebas. Damian dan Jesica juga sudah tidak ada lagi di dunia ini.” Zeroun mengusap lembut rambut Emelie.


Emelie mengangguk pelan, “Bukan hanya keluarga kerajaan yang setia kepadaku. Tapi, beberapa pelayan juga telah ia bunuh. Bahkan beberapa pejabat negara tidak berani berbuat apa-apa karena mendapat ancaman darinya,” ucap Emelie. Tiba-tiba saja wanita itu kembali ingat dengan Serena. Wanita tangguh yang sempat ia temui dan sangat ingin ia ajak berbicara, “Zeroun, dimana Serena?”


“Serena?” tanya Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


“Ya. Serena. Wanita tangguh itu,” jawab Emelie dengan penuh semangat.


“Mereka sudah kembali ke Sapporo. Kedua bayi mereka tidak bisa di tinggal terlalu lama.” Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama, “Tapi, aku punya seseorang yang pasti akan membuatmu bahagia.” Lelaki itu mengukir senyuman penuh arti.


“Benarkan? Siapa?” tanya Emelie dengan penuh semangat.


“Mereka ada di bawah,” ucap Zeroun sambil menggandeng pinggang Emelie. Lelaki itu cukup yakin kalau Emelie pasti akan sangat bahagia saat melihat sosok yang akan ia perkenalkan nantinya.


Dengan hati-hati, Zeroun membawa Emelie menuruni anak tangga. Dari arah tangga mereka sudah bisa mendengar tawa lelaki dan wanita yang menjadi tamu istimewa mereka siang itu. Emelie mengukir wajah penuh tanya saat melihat seorang wanita cantik berdiri dan mengukir senyuman kepadanya.


“Zeroun, siapa wanita itu?” tanya Emelie sambil memandang wajah Zeroun yang kini sangat dekat dengannya.


“Zettaku. Dia adik kandungku, Emelie. Mulai sekarang, dia juga akan menjadi adikmu.” Zeroun memandang wajah Shabira dengan seksama, “Kemarilah.”


Shabira berjalan dengan bibir tersenyum bahagia. Sedangkan Kenzo tetap duduk di sofa yang sejak tadi ia duduki. Lelaki itu mengukir senyuman saat melihat wajah bahagia istri dan sahabatnya.


“Zetta?” ucap Emelie ragu-ragu. Tiba-tiba saja hatinya merasa bahagia. Kini ia kembali memiliki adik perempuan. Sosok adik yang bisa ia sayangi dan selalu ia manjakan. Sosok adik yang selama ini memang selalu ia rindukan. Kehadiran Shabira seperti sebuah kebahagiaan yang terganti setelah ia kehilangan.


“Kakak Ipar?” celetuk Shabira ragu-ragu.


Zeroun mengangguk pelan, “Ya, Zetta. Ini Emelie, kakak iparmu.” Lelaki itu cukup bangga memperkenalkan Emelie kepada Shabira. Bibirnya tersenyum bahagia.


Shabira mengukir senyuman sebelum memeluk tubuh Emelie, “Apa sekarang aku memiliki kakak perempuan lagi,” ucap Shabira dengan wajah berseri.


Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Lelaki itu memang sejak awal meminta Kenzo dan Shabira ikut bersamanya pulang ke Hongkong. Zeroun ingin memperkenalkan Emelie kepada adik yang sangat ia sayangi.


“Zetta, aku harap kau mau menerimaku sebagai kakakmu. Aku sangat ingin memiliki adik,” ucap Emelie dengan suara serak. Tiba-tiba saja air mata menetes di pelupuk matanya. Hatinya cukup terharu dengan kejutan terindah yang diberikan Zeroun kepadanya saat itu.


Kedua wanita itu melepas pelukan untuk menatap wajah satu sama lain. Emelie menghapus setiap tetes air mata yang jatuh dari pipi Shabira. Bibirnya mengukir senyuman penuh bahagia, “Kau sangat mirip dengan, Zeroun.”


Shabira memandang wajah Zeroun sebelum memandang wajah Emelie lagi, “Ya. Semua orang berkata seperti itu.”


Emelie kembali memeluk tubuh Shabira. Kali ini tangisnya benar-benar pecah. Wanita itu kembali ingat dengan Adriana. Kekecewaan dan kerinduan semua itu melebur menjadi satu. Emelie tidak tahu harus melupakan atau tetap mengingatnya. Bagaimanapun juga Adriana memang telah mengisi hidupnya hingga ia beranjak dewasa.


Shabira mengeryitkan dahi saat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Emelie. Wanita itu mengusap lembut punggung kakak iparnya dengan wajah bingung. Ia tahu kalau momen ini memang sebuah momen haru yang cukup menguras air mata. Tapi, kesedihan Emelie cukup berbeda saat itu.


“Apa yang terjadi? Kenapa kakak menangis?” ucap Shabira dengan hati-hati.


“Kau mengingatkanku kepada seseorang,” jawab Emelie di sela-sela isak tangisnya.


Shabira memandang wajah Zeroun untuk menagih satu penjelasan. Tetapi bos mafia itu hanya menggeleng kepalanya untuk melarang Shabira membahas lebih jauh lagi.


“Aku tidak mau Kakak bersedih seperti ini,” ucap Shabira pelan.


Emelie melepas pelukannya lagi. Kali ini wanita itu sudah bisa mengusai kesedihan yang memenuhi isi hatinya. Secara perlahan ia hapus sendiri air mata yang terus saja menetes tanpa henti.


“Sayang,” ucap Zeroun pelan. Lelaki itu menarik pinggang Emelie sebelum memeluknya dengan penuh cinta, “Kami tidak akan membuatmu bersedih lagi. Lupakan semua yang telah terjadi.”


Kenzo beranjak dari duduknya. Lelaki itu cukup tahu dengan suasana hati Emelie saat ini. Zeroun sudah menceritakan semua kejadian yang terjadi. Berbeda dengan Shabira yang belum mengetahui apa-apa tentang Adriana.


“Sayang, ayo kita istirahat. Kata Dokter kau tidak boleh terlalu lelah,” bisik Kenzo sambil memeluk tubuh Shabira dari belakang. Lelaki itu menatap wajah Zeroun dengan tatapan penuh kode, “Aku akan menceritakan semuanya kepada Shabira.”


Zeroun mengangguk pelan, “Ada kamar di lantai atas yang sangat cocok untuk kalian.”


“Baiklah. Kami istirahat lebih dulu,” ucap Kenzo sambil membawa tubuh Shabira berjalan menuju ke arah tangga.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ada Lukas yang sejak tadi memperhatikan keadaan yang telah terjadi. Lelaki itu kembali ingat dengan Lana. Kini wanita berstatus kekasihnya itu tidak lagi tinggal bersama dengan dirinya. Zeroun yang belum tahu tentang hubungan asmara di antara Lukas dan Lana, telah memberi perintah kepada Lana agar kembali menjadi pramugari di pesawat yang ia miliki.


Lukas melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lelaki itu ingin menemui Lana. Ia tahu dimana saat ini kekasihnya tinggal, “Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu di sisiku. Hingga saat kau jauh aku merasa kehilangan.”


Besok malam author janji up tiga bab. Malam ini satu dulu. Mau crazy up Babang Biao di Novel Biao’s Lovers. Biar reader di sana seneng juga.


Kecup sayang buat reader setia ....