
Zeroun mengukir senyuman tipis dengan ekspresi dingin favoritnya, “Kau yakin?”
Shabira menatap wajah Zeroun sekilas sebelum memandang wajah Agen Mia lagi. Ada keraguan di dalam hatinya. Entah kenapa hatinya merasa dekat dengan sosok wanita yang kini sedang menatap wajahnya. Tapi, dari penampilannya. Sungguh berbeda. Shabira merasa kalau Agen Mia bukan wanita yang sama dengan Mia yang ia kenali.
“Mungkin aku yang terlalu rindu dengan Mia hingga mengira wanita ini adalah Mia yang aku kenal, Kak.” Shabira memutar tubuhnya. Ia tidak lagi peduli dengan sosok yang bernama Mia itu.
Agen Mia menatap wajah Zeroun dengan seksama. Tetes air mata harus jatuh saat melihat Zeroun mengunjunginya malam itu.
“Zeroun, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu,” ucap Agen Mia dengan suara yang serak.
“Katakan,” jawab Zeroun tanpa mau memandang.
“Aku mencintaimu, Zeroun.” Ada tawa kecil yang terdengar dari bibir Agen Mia. Wanita itu bahkan memandang ke arah lain dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Kau pasti sudah tahu jawabannya. Sudah ada wanita lain yang aku cintai saat ini.” Zeroun memandang wajah Agen Mia dengan tatapan yang cukup serius.
“Ya. Aku tahu aku salah. Aku tidak seharusnya memiliki niat untuk bekerja sama dengan Morgan.” Agen Mia menunduk lagi, “Aku menyetujui permintaan Morgan karena berharap besar bisa mendapatkan perhatianmu. Aku tidak tahu, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu.”
Zeroun tidak lagi mau banyak mengeluarkan kata. Pria itu memutar tubuhnya untuk meninggalkan Agen Mia sendirian di tempat itu.
Agen Mia memejamkan mata dengan hati yang sangat perih. Bibirnya gemetar saat ia berusaha menahan kesedihan itu. Pintu kembali tertutup dan ruangan itu kembali gelap. Tidak ada lagi teman Agen Mia di dalam ruangan sempit itu selain kesunyian.
“Maafkan aku,” ucap Agen Mia dengan nada yang lirih. Ia kesal, ia marah, ia benci dan ia menyesal. Agen Mia tidak lagi tahu, nasipnya kemudian hari bagaimana.
“Bodoh! Bodoh!” umpatnya kesal.
Zeroun berdiri di depan ruangan Agen Mia di kurung. Pria itu menggertakkan giginya dengan sorot mata yang cukup tajam.
“Jangan biarkan wanita itu lepas. Aku akan memberi hukuman pada kalian jika wanita itu berhasil kabur dari tempat ini.”
“Baik, Bos,” jawab pasukan Gold Dragon yang ada di lorong itu.
Zeroun melanjutkan langkah kakinya. Pria itu cukup puas dengan hasil yang ia dapat malam itu. Shabira tidak akan lagi membuat masalah kepadanya sampai nanti Mia mendapatkan hukumannya.
***
Lukas dan Kenzo melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Mereka ingin segera bertemu dengan sosok yang membuat racun tersebut. Kabar terbaru yang mereka dapat, kalau Morgan berniat untuk membawa sang pembuat racun itu pergi meninggalkan Spanyol.
Lukas tidak ingin kehilangan obat penawarnya secepat itu. Ia akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Lana.
Lukas mengambil pistol yang memang selalu menemaninya. Pria itu turun dari dalam mobil lalu mengeluarkan tembakan ke arah mobil Morgan. Beberapa pasukan Gold Dragon juga keluar untuk membantu Lukas malam itu.
Kenzo tetap di dalam mobil. Pria itu mencari cela agar bisa kabur dari lokasi pertempuran itu. Tujuan mereka adalah sosok yang membuat racun. Jika sampai kehilangan orang tersebut, maka usaha mereka akan sia-sia.
Lukas tahu, kalau Kenzo ingin kabur dari tempat itu. Sekuat tenaga Lukas membuka jalan yang menghalangi mobil Kenzo. Pria itu mengganti pistolnya dengan senjata api yang jauh lebih hebat. Tembakan demi tembakan di layangkan Lukas ke arah mobil-mobil yang berbaris untuk menghalangi.
Morgan mengukir senyuman. Pria itu tahu apa yang di pikirkan Lukas dan Kenzo. Dengan satu gerakan yang di lakukan oleh Morgan, sebuah truk besar berhenti di tengah-tengah jalan dengan posisi menghalangi jalan. Kanan kiri jalan itu adalah jurang yang cukup curam. Cukup mustahil bagi siapa saja berhasil melewati jalanan tersebut.
“Tidak semudah itu, Lukas.” Morgan melihat jam yang melingkar di tangannya, “Kau hanya memiliki waktu setengah jam. Jika kau tidak berhasil, maka obat penawar itu akan menghilang untuk selama-lamanya. Wanita itu akan mati.”
Lukas menggertakkan giginya. Pria itu tidak terima dengan kalimat yang di ucapkan oleh Morgan. Tangannya mengangkat senjata api yang sejak tadi ia genggam. Lukas ingin menghabisi Morgan malam itu juga.
Morgan bergerak dengan begitu cepat. Satu kakinya terangkat ke atas. Senjata api yang ada di tangan Lukas terhempas ke tanah saat terkena tendangan Morgan malam itu.
“Lawan aku dengan tangan kosong jika kau memang pria yang hebat, Lukas.” Morgan mengacungkan tangannya untuk menantang Lukas malam itu.
Kenzo juga keluar dari dalam mobil. Kini posisi Lukas di kelilingi pasukan Morgan. Kenzo tidak akan tinggal diam melihat Lukas dalam bahaya.
“Jangan pedulikan aku,” ucap Lukas dengan nada yang meninggi. Pria itu menatap wajah Kenzo untuk memohon agar Kenzo tidak perlu memperdulikannya. Lukas tidak rela jika penawar untuk Lana harus hilang begitu saja.
Kenzo menghentikan langkah kakinya. Pria itu tampak ragu dengan keputusan yang ia ambil, “Aku harap kau bisa menang melawan pria itu,” gumam Kenzo di dalam hati.
Kenzo berlari ke arah truk yang menghalangi mobilnya. Pria itu menghujani pasukan Morgan dengan puluhan tembakan hingga tewas. Setelah melihat penghalang-penghalang itu tidak ada lagi, Kenzo masuk ke salah satu mobil pasukan Morgan. Ia melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan lokasi pertempuran yang masih ada Morgan dan Lukas di tempat itu.
“Kau sudah terlambat,” ucap Morgan dengan senyuman tipis, “Obat penawar itu akan pergi menjauh.”
Lukas tidak peduli dengan kalimat yang di ucapkan oleh Morgan. Pria itu berdiri dengan posisi siap untuk bertarung. Tenaganya ia kumpulkan untuk memberi pukulan-pukulan terbaiknya malam itu. Semua demi Lana. Hanya nama wanita itu yang membuat hatinya bersemangat.
Morgan mengukir senyuman tipis sambil menatap wajah Lukas dengan seksama. Pria itu membuat satu gerakan untuk memukul Lukas. Gerakan cepat dan cukup kuat. Pukulan Morgan berhasil mengenai bagian perut Lukas.
Lukas mundur beberapa langkah sambil menahan sakit pada perutnya. Tubuhnya yang basah karena keringat, membuat Lukas memutuskan untuk membuka jas hitam yang menutupi tubuhnya. Pria itu juga membuka kemeja putih yang menutupi tubuh sempurnanya. Terlihat jelas tato naga berwarna gold di dada bidang milik Lukas.
Morgan juga membuka jaket hitam yang menutupi tubuhnya. Pria itu memakai kaos berwarna hitam yang sudah basah karena keringat. Morgan juga membuka kaos tersebut. Tubuh Morgan tidak kalah keren dengan Lukas. Setiap otot-otot tubuh Morgan terbentuk indah.
“Malam ini aku tidak akan kalah lagi. Aku akan membalas rasa sakit hatiku lima tahun yang lalu, Lukas,” ucap Morgan dengan sorot mata yang dipenuhi dendam.