Moving On

Moving On
Chapter 4



(Almira)


Aku sangat penasaran,orang yang berbicara dengan Fani. Dari balik punggungnya, aku seperti mengenalnya. Tapi, laki-laki tersebut berpakain sangat rapi,sepertinya pemilik acara ini. Apakah,Dia? Entah kenapa aku menjadi gelisah,langkahku sedikit tidak tenang. Aku menjadi ragu mendekat ke arah mereka,karena ini adalah pertama kalinya, aku bertemu dengan sahabatku, setelah kepulanganku.


Aku melangkah bersama dengan putriku,tiba-tiba Ara melepaskan genggamanku,berlari ke arah Fani.


"Tante Fani..." Mereka berbalik arah melihat kita, setelah mendengar Ara berteriak. Aku tersenyum kepada mereka.


Aku berjalan menghampiri mereka, Ara sedang bercerita dengan Fani. Setelah aku berhadapan dengan Nino,aku mencoba menyapanya.


"Hai..."sapaku.


Dia terkejut,melihatku. Aku tersenyum dan mengulurkan tangan,berjabat tangan dengannya.


"Hai juga."Dia membalas uluran tanganku.


"Selamat ya,Nin."kataku.


"Iya,makasih. Lama tak berjumpa Almira."ujarnya.


"Iya Nino. Lama tak berjumpa." jawabku.


Aku mencoba tersenyum dengannya, sorot matanya menjadi senduh. Meski raut wajahnya terlihat datar.


Entah kenapa aku merasa sedih. Dia menjadi dingin denganku. Dalam benakku "Ma'afkan aku, Nino."


"Mom,Ara mau pipis." ujar Ara.


"Oke baby. Kita cari toilet dulu yaa. "


"Ya, Mom."


"Bentar ya, aku cari toilet."


"Oke Al." jawab Fani.


Aku keluar mencari toilet bersama Ara. Sempat bertanya dengan karyawan hotel dan akhirnya kita menemukan toilet.


Setelah itu, kita keluar dari ruang toilet. Masuk kedalam lagi. Aku melihat Fani ,hanya sendiri. Nino sudah pergi bertemu dengan tamu-tamunya.


Aku melihat, dia tersenyum bahagia. Cara menatapnya, terlihat begitu mencintai wanitanya. Istrinya ,juga terlihat begitu bahagia. Aku iri dengan dia, akhirnya dia menemukan seseorang yang pantas bersamanya.


Anita, nama istri Nino. Aku membacanya,di depan ada bingkai kecil dan ada foto mereka berdua. Foto yang Indah.


Aku menatap lagi kearahnya. Dia menatapku,aku tersenyum manis. Nino membalas senyuman, dia tersenyum kearahku.


"Fan, yuk kita pulang!"


"Oke. Queen juga kayanya udah lelah, apa lagi Ara."


Akhirnya, kita memutuskan pulang. Fani berjalan telebih dahulu.


"Mom. Are you okey?" tanya Ara.


"Yaa, Sweety. I'm fine, baby. " Aku menjawab dengan tersenyum kearahnya.


"Oke,Mom. Hayoo, kita pulang."Ajaknya


Hanya bersama Ara, aku sangat bahagia. Duniaku hanya berputar padanya. Dia segala-galanya bagiku, dan aku sangat mencintainya.


Setelah, mengantar Fani pulang. Aku mampir ke supermarket. Kebutuhan di dapur sudah habis, apalagi kebutuhan Ara.


Aku mendorong troli, sedangkan Ara berjalan didepanku. Dia memilih belanjaannya, seperti snack-snack kesukaannya. Ara sangat antusis hari ini.


Dia berhenti melangkah, dan berbalik kearahku.


"Mommy mau beli apa lagi?" tanya.


Sungguh menggemaskan putriku.Aku berpura-pura, seperti orang berpikir.


"Hmmm,sabun mandi sayang."


"Oke, Mom"jawabnya.


Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Kini, dia melangkah kearah bagian sabun-sabun.


Aku hanya tertawa geli, melihat tingkah putriku. Dia menjadi dewasa belum saatnya. Dia terbiasa dengan mengerjakan sesuatu sendiri. Dia pernah bilang,"Ara, nggak mau ngerepotin mommy." Dalam hatiku, aku sangat sedih, Ara kurang perhatianku. Sedangkan, aku sibuk dengan pekerjaanku.


Setelah kejadian itu, aku memutuskan kembali ke Indonesia dengan membangun butik sendiri. Dengan usaha sendiri, dia bisa menjadi fleksibel. Dia juga bisa memperhatikan Ara.


"Mom, itu sabun mandinya." tunjuknya.


"Ya sayang. Ara pintar sekali, bisa menemukannya." Aku mencoba membelai pucuk rambutnya,memuji Ara.


Aku akan selalu, memuji hasil kerja kerasnya.Dengan begitu, dia akan selalu jadi pemberani.


Aku mengambil,sabun di salah satu rak. Kemudian, aku mendorong troli lagi, mencari-cari lagi.


"Ara, mau beli apa lagi?" tanyaku.


"Apa, Ara boleh beli Es cream Mom?" Dia menjawab dengan pertanyaan lagi.


"Iya sweety."


"Yesss! Oke Mom."Dia sangat gembira sekali dan berlari mencari ketempat bagian Es cream


"Iya, Mom. I love you!!" teriaknya


Aku hanya menggelengkan kepala. Sungguh putriku sangat luar biasa.Aku tersenyum kembali. Ara benar-benar moodboster bagiku.


Ku lihat,belanjaan yang berada di troli. Aku rasa cukup pembelanjaanku dan kita menuju ke kasir. Setelah menunggu antrian yang lumayan panjang, akhirnya sesi belanja telah usai.


Kita melanjutkan perjalanan menuju kerumah. Ara masih menghabiskan es cream yang ia beli. Dia begitu, sangat menikmati. Aku memang melarang Ara memakan es cream. Hanya seminggu sekali, dia boleh memakan es cream.


"Aaaa,mommy. " Ara mencoba menyuapi, es cream kedalam mulutku.


Aku memakannya ,kemudian ia kembali menyuapi satu sendok es cream lagi.


"Sudah, Sayang. Mommy, udah kenyang."


"Iya, Mommy. "


"Thanks, Sayang. "


Dia kembali melanjutkan memakan es creamnya. Aku kembali fokus menyetir. Demi keselamatan ,dia harus mengendarai dengan hati-hati.


Selama 15 menit perjalanan, akhirnya sampai juga dirumah. Aku memarkir mobil ku berada di garasi. Aku turun dari mobil, membantu Ara turun dari mobil juga. Setelah itu, Bibi Emma keluar.


"Dek, Almira sini bibi bantu bawa!"


"Ini Bi.Hati-hati ,Ya Bi." Aku memberikan beberapa kantong belanja ku kepada Bibi Emma


"Iya dek." jawabnya.


Bibi Emma, selalu memanggil aku dengan Adik. Karena bibi Emma sudah menganggapku anaknya. Apalagi, aku tak punya orang tua. Dengan kebaikannya, dia menggantikan sosok orang tua untuk diriku.


Aku sangat sayang dengan Bibi Emma. Dia lah yang selama ini membantuku. Yang selalu menemani suka dan duka. Dialah yang selalu mendukung dalam hidupku.


Ara sudah masuk duluan ke dalam rumah. Aku dan bibi menuju keruang dapur. Menata belanja hari ini,


ke tempatnya. Sedangkan, Ara sudah berada di ruang TV.


"Bibi, sudah makan?"tanyaku


"Sudah, dek. Adek, sudah makan kan?"


"Sudah,Bi. Tadi sudah makan di acara nikahan." jawabnya. Terus bibi bertanya kembali.


"Terus, tadi ketemu sama temannya?"


"Ketemu dong Bibi." jawabku


"Terus,gimana lagi dek?" Bibi sangat penasaran dengan Nino.


Aku sudah pernah bercerita dengan bibi tentang Nino. Makanya, jiwa keponya keluar.


"Ya, nggak gimana gimana lagi Bi. "


"Yaaa...Adek. Mungkin aja ada drama apa gitu, apa seperti teman adek yang nangis ngeliat adek pulang gitu. "


"Ikh, bibi dramatis banget sih"


"Iya kan, kirain aja"


Aku jadi kepikiran lagi dengan kejadian tadi. Nino, memang berubah. Dia sudah tak seperti dulu, seperti waktu SMA. Dia berubah menjadi dingin,meski masih seperti biasa tapi seperti ada tembok di depannya.


Akan tetapi, aku sangat bahagia, melihat dia juga bahagia. Apalagi istrinya begitu mencintai Nino. Dari cerita Fani, istrinya begitu baik dan sholehah. Anita tidak pernah pacaran seumur hidupnya, kemudian ketemu dengan Nino dalam pekerjaan.


Dan ternyata, mama Nino sudah berencana menjodohkan Anita dengan Nino. Dan akhirnya mereka menikah.


Selamat membaca ♥️


Jangan lupa Like dan Vote Yaa chingu.😍🥰


Dan Follow Akun ini ♥️


Saranghae, Kim nana 🥰