
Pagi hari di markas baru milik Gold Dragon. Rumah besar yang cukup luas itu terlihat sangat tenang dan nyaman. Beberapa pasukan Gold Dragon tidak ada di lokasi markas. Hanya ada beberapa Gold Dragon yang tersisa yang ditugaskan Lukas untuk berjaga di depan rumah. Rumah besar bercat hitam itu kini hanya dipenghuni sekitar belasan orang saja. Lukas memberi waktu istirahat kepada seluruh bawahannya selama beberapa hari.
Rumah itu menghadap langsung dengan lautan luas yang kini berwarna biru. Ombak di pantai terlihat sangat menyejukkan mata. Hembusan angin yang cukup kencang membuat daun-daun di pepohonan berguguran.
Zeroun duduk di tepian tempat tidur sambil menatap wajah Emelie. Tadi malam, telah ada Dokter wanita yang memeriksa keadaan kekasihnya itu. Dokter bilang, Emelie baik-baik saja, wanita itu hanya syok dengan kejadian yang baru saja ia alami. Beberapa resep obat juga sudah di sediakan di atas nakas.
Emelie bisa bangun cepat atau lama. Semua itu tergantung dengan guncangan yang kini ia alami. Kejadian semalam cukup membuat tekanan jiwa yang mendalam di dalam hatinya hingga membuat Putri Kerajaan itu berat untuk membuka mata.
Pakaian Emelie sudah terganti dengan piyama tidur berwarna cokelat. Lana yang diperintahkan Zeroun untuk mengganti pakaian kekasihnya yang compang-camping itu. Bahkan Lana juga yang membersihkan tubuh Emelie yang terlihat lengket.
“Baby ....” ucap Zeroun pelan sambil memegang pipi kiri Emelie dengan sentuhan lembut. Pria itu juga tidak bisa bernapas dengan tenang saat melihat kekasihnya tidak kunjung membuka mata.
“Jangan menyiksaku dengan cara seperti ini,” sambung Zeroun dengan wajah sedihnya. Pria itu membungkukkan tubuhnya untuk mengecup kening kekasihnya. Ciumannya cukup lama dan dipenuhi dengan penghayatan. Ada doa yang ia ucapkan sambil memejamkan mata.
“Zeroun ....” ucap Emelie dengan nada cukup pelan. Wanita itu membuka matanya secara perlahan saat merasakan hembusan napas Zeroun di pipinya. Hatinya sedikit tenang, saat melihat wajah kekasihnya hanya berjarak beberapa inci dengannya.
“Emelie,” ucap Zeroun dengan senyuman bahagia. Kini Bos mafia itu bisa kembali bernapas lega. Pria itu menjauh dari wajah kekasihnya.
“Apa kau baik-baik saja?” Emelie memandang perban putih dengan bercak darah yang ada di lengan Zeroun. Pria itu kini tidak mengenakan baju, hingga membuat luka miliknya terlihat dengan begitu jelas.
Zeroun memandang luka miliknya beberapa detik sebelum memandang wajah Emelie lagi. Kepalanya menggeleng pelan sebelum pria itu menjawab pertanyaan kekasihnya.
“Aku baik-baik saja, maafkan aku, Sayang.” Zeroun meraih tangan Emelie sebelum mengecupnya berulang kali. Pria itu kini benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atas masalah yang menimpah kekasihnya itu.
Emelie mengukir senyuman kecil. Wanita itu menatap langit-langit kamar dengan tatapan sedih. Ada kristal bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Wanita itu bahkan kini cukup jijik dengan tubuhnya sendiri. Bayangan pria yang sangat ia benci, dengan bebas menyentuh tubuhnya yang berharga. Bahkan pria yang sangat ia cintai saja, belum pernah melakukan hal itu terhadapnya.
“Sayang ....” Zeroun mengecup setiap tetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Emelie sangat sulit untuk mengeluarkan banyak kata pagi itu. Entah kenapa bibirnya terasa berat untuk berbicara. Hatinya yang luka masih tetap terasa sakit saat ini, walau ada pria yang ia cintai di hadapannya. Dendam dan sakit hati itu memenuhi hatinya hingga napasnya terasa sesak.
“Jangan menangis. Air matamu ini adalah benda berharga yang tidak boleh dikeluarkan karena sembarang orang. Aku sangat menyayangimu. Kau pasti tahu kalau kini di hatiku hanya ada namamu. Jangan pikirkan orang lain lagi. Apapun alasannya itu,” ucap Zeroun sambil menatap kedua bola mata biru milik Emelie. Pria itu tahu, apa yang membuat kekasihnya bersedih. Bahkan Bos Mafia itu kini juga tahu, siapa pria yang ada di dalam pikiran kekasihnya.
“Apapun keadaanmu, Aku akan tetap mencintaimu, Sayang.” Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie lagi.
Emelie mengalungkan tangannya di leher jenjang milik Zeroun, “lakukan sekarang!” Entah apa yang kini memenuhi isi kepala Putri Kerajaan itu, hingga ia sanggup mengatakan kalimat terlarang itu. Kalimat yang mungkin akan sangat mustahil untuk ia ucapkan selama ini.
“Aku tidak ingin pria lain menyentuhku lebih dulu. Aku ingin kau yang menjadi pria pertama bagiku,” sambung Emelie sambil menarik wajah kekasihnya itu hingga membuat hidungnya bersentuhan dengan Zeroun. Emelie mulai mencium Zeroun lebih dulu untuk memberi godaan kepada pria itu. Hanya itu cara yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan rasa jijik terhadap tubuhnya saat ini.
Zeroun membisu saat mendengar ocehan-ocehan aneh kekasihnya itu. Pria itu membalas ciuman Emelie dengan begitu ahli. Melihat kekasihnya mulai memanas, Zeroun melepas ciuman panas itu. Pria itu mengusap lembut rambut Emelie dengan satu senyuman kecil di bibirnya.
“Kau tidak perlu melakukan hal itu, Sayang. Aku tetap akan menjadi pria pertamamu.”
Emelie menggeleng kepalanya, “aku ingin sekarang.” Emelie kembali menarik kepala Zeroun dan mengecupnya lagi. Wanita itu memang sudah dipenuhi dengan rasa kecewa dan sedih yang cukup mendalam, hingga membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Zeroun menarik pinggang Emelie sambil menjatuhkan tubuhnya ke sisi lain tempat tidur. Pria itu menahan wajah kekasihnya agar tidak terus-terusan menggodanya.
“Baby, lihat aku.” Kini tubuh mereka telah bertukar posisi. Emelie ada di atas tubuh Zeroun dengan mata berkabut dan napas terputus-putus.
“Aku tidak akan mungkin menolak hal seperti itu. Bagaimanapun juga, aku seorang pria dan kau wanita yang sangat aku cintai. Apapun yang akan terjadi hari ini, sudah pasti akan aku pertanggungjawabkan. Tetapi, tidak dengan cara seperti ini. Hatimu menolaknya, tetapi kau tetap memaksa tubuhmu untuk melakukannya.” Zeroun mengusap lembut rambut kekasihnya.
“Aku tidak bisa melakukannya dengan cara seperti ini.”
Bibir Emelie gemetar saat menahan sesak di dadanya. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di dada bidang milik kekasihnya. Meluapkan emosinya yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Emelie menangis dengan cukup keras untuk melampiaskan isi hatinya.
“Aku membencinya! Aku ingin membunuhnya! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!” Kini wanita itu berhasil mengeluarkan seluruh rasa sakit yang sempat tertahan di dalam hatinya.
“Menangislah, Sayang. Jika itu bisa membuat hatimu lega,” ucap Zeroun sambil memeluk tubuh kekasihnya yang kini menangis senggugukan. Zeroun menatap langit-langit kamar serba hitam itu dengan sorot mata yang cukup tajam. Ada dendam di dalam hatinya untuk membalas segala penderitaan yang kini diderita oleh kekasihnya.
Damian. Aku akan membalas semua perbuatanmu saat ini. Aku pastikan kau akan membayar semua perbuatanmu, karena sudah berani menyentuh wanitaku!
Like, Komen dan Vote...😘💗