
Matahari kembali bersinar. Zeroun dan Emelie masih terlelap dalam tidurnya. Tubuh mereka berdua berada di bawah selimut. Tubuh Emelie meringkuk seperti janin yang ada di dalam perut. Wanita itu tidak ingin berada jauh dari tubuh kekasihnya.
Sepanjang malam, Zeroun melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh tunangannya. Pria itu merasa tidurnya sangat nyaman saat bisa mencium aroma tubuh wanitanya dari jarak yang cukup dekat.
Cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar membuat tidur Zeroun mulai terganggu. Pria itu membuka matanya secara perlahan untuk melihat matahari pagi yang bersinar cukup terang. Bibirnya mengukir senyuman indah saat melihat wajah cantik Emelie pagi itu. Hanya wajah itu yang saat ini menjadi semangat dalam hidupnya. Satu ciuman ia daratkan di bibir Emelie sebagai sambutan selamat pagi.
Emelie membuka matanya saat merasakan bibir hangat Zeroun kini menyentuh bibirnya. Napas pria itu terasa begitu hangat di depan wajahnya.
Zeroun melepas kecupannya saat melihat Emelie sudah membuka mata, “Selamat pagi, Baby Emelie.”
Emelie tertawa saat mendengar perkataan Zeroun. Jika disamakan dengan wajah dingin Zeroun. Sangat lucu bagi Emelie saat mendengar bos mafia itu memanggilnya dengan sebutan manja ‘Baby Emelie’.
“Aku semakin mencintaimu, Zeroun.” Tangan Emelie menarik leher Zeroun sebelum menambah aksi morning kiss mereka pagi itu.
“Kau semakin berani, Emelie,” ucap Zeroun sambil mengernyitkan dahi.
“Zeroun,” celetuk Emelie pelan.
“Hmm. Apa yang ingin kau pinta kali ini,” jawab Zeroun sambil mengusap lembut rambut tunangannya.
“Ayo kita menikah,” sambung Emelie dengan wajah berseri.
Zeroun mengukir senyuman saat mendengar permintaan manis tunangannya pagi itu. Satu tangannya masih tetap mengusap lembut pucuk kepala Emelie, “Tanpa kau pinta aku memang akan segera menikahimu, Baby.”
“Benarkah?” Emelie mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah Zeroun dengan cukup jelas.
Zeroun mengangguk pelan, “Ya. Aku ingin kau menjadi istriku. Menemani hidupku hingga tua nanti. Kita akan memiliki banyak anak yang lucu dan menggemaskan seperti dirimu.” Lelaki itu mempererat pelukannya. Hatinya merasa bahagia karena bisa membayangkan impian indah seperti itu lagi. Sudah lama ia melupakan impian sederhana itu. Bahkan sempat terpikir selamanya ia tidak akan pernah merasakan kehidupan seperti yang ia harapkan.
“Kau ingin memiliki banyak anak?” ucap Emelie sambil mengeryitkan dahi.
“Ya. Agar aku bisa merasakan repot saat mengurus mereka nantinya,” sambung Zeroun dengan tawa kecil.
Emelie mengukir senyuman sebelum memeluk tubuh Zeroun, “Impian yang sangat manis. Aku ingin impian itu terwujud secepatnya.”
“Emelie ....” Wajah Zeroun berubah serius, “Apapun yang terjadi berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku.”
“Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkanmu, Zeroun Zein,” jawab Emelie dengan penuh percaya diri. Kini Zeroun ada di sampingnya dan bisa memeluk tubuhnya. Tidak ada alasan bagi Emelie untuk meninggalkan tunangannya.
“Aku lebih baik mati daripada hidup dan melihat kau bersama dengan orang lain,” sambung Zeroun sambil memejamkan mata. Entah kenapa rasa perih saat ditinggalkan itu kembali memenuhi hatinya. Membuat dadanya terasa sesak dan napasnya menjadi cukup berat.
“Zeroun,” ucap Emelie dengan sangat lembut. Wanita itu beranjak dari posisi tidurnya. Tubuhnya membungkuk sambil menatap kedua bola mata Zeroun dengan seksama, “Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Jiwa dan ragaku selamanya hanya akan menjadi milikmu.”
Zeroun menghela napas dengan hati yang kembali tenang, “Sebaiknya kita segera bersiap-siap dan sarapan. Aku ingin jalan-jalan di pinggiran pantai pagi ini.”
Emelie mengangguk pelan sebelum mendaratkan satu kecupan di dahi Zeroun. Wanita itu beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Sedangkan Zeroun duduk dengan posisi bersandar di tempat tidur.
“Aku harap kita bisa segera menikah untuk melewati pagi dengan momen indah seperti ini,” ucap Zeroun dengan tatapan tidak terbaca.
***
Lana baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh penghuni rumah. Kini meja makan sudah di penuhi dengan aneka menu sarapan buatannya. Bibirnya mengukir senyuman bahagia saat bisa kembali ke markas nyamannya. Tidak pernah terbayangkan, bagaimana nasipnya saat ini jika bawahan Damian berhasil menangkapnya semalam.
Lana kembali ingat dengan Lukas. Sejak bangun tidur ia belum melihat wajah pria yang ia cintai. Dengan jiwa di penuhi rasa penasaran, ia berjalan menuju ke kamar Lukas. Wanita itu berniat untuk membangunkan Lukas jika pria itu masih terlelap di alam mimpi. Dengan hati-hati Lana mendorong pintu kamar Lukas. Kepalanya masuk lebih dulu ke dalam kamar sebelum diikuti seluruh tubuhnya. Ia menutup kembali pintu kamar Lukas sebelum berjalan masuk ke dalam kamar.
Lana cukup syok saat melihat pemandangan yang kini tersaji di depan matanya. Wanita itu mengukir senyuman terpaksa saat melihat Lukas telah duduk di atas kursi sambil merakit sebuah senjata api.
“Pagi. Apa kau sudah bangun,” ucap Lana untuk sekedar basa-basi. Bahkan kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.
Lukas melanjutkan rakitan pistolnya tanpa mau terlalu lama memandang wajah Lana, “Apa kau lupa apa yang harus kau lakukan sebelum masuk ke dalam kamarku? Aku bahkan selalu menembak siapa saja yang masuk ke dalam kamar secara diam-diam seperti tadi.” Lukas membersihkan pistol rakitannya yang baru saja jadi.
“Maaf,” ucap Lana sambil berjalan untuk lebih mendekat.
Lukas menghela napas. Pria itu memasukkan peluru ke dalam pistol. Lana cukup tertarik dengan pistol rakitan Lukas pagi itu. Bibirnya mengukir senyuman sebelum duduk tepat di samping Lukas duduk.
“Apa aku boleh meminta pistol itu?” Lana menyodorkan tangannya dengan telapak tangan ke atas.
Lukas memberikan pistol itu kepada Lana tanpa mengeluarkan kata. Hal itu cukup membuat Lana mengukir senyuman bahagia karena berhasil mendapat pistol baru dari Lukas.
“Lukas, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Lana memperhatikan pistol itu dengan seksama.
“Katakan,” ucap Lukas singkat.
“Kau tidak lupa bukan kalau kita pacaran?” sambung Lana sambil menatap wajah Lukas dengan seksama.
“Kapan kita pacaran?” tanya Lukas sambil mengeryitkan dahi.
Lana tertegun beberapa saat. Kini isi pikirannya di penuhi dengan ingatan saat pria itu mengucapkan kata cinta untuknya.
“Bukankah kau bilang juga mencintaiku,” ucap Lana dengan wajah penuh percaya diri.
Lukas mendekatkan wajahnya dengan wajah Lana, “Aku bilang mencintaimu. Lalu kapan aku bilang kita resmi pacaran? He?”
Lana mengukir senyuman yang cukup indah, “Jika kau mencintaiku, berarti mulai detik itu kita sudah resmi berpacaran.”
Lukas menatap wajah Lana dengan ekspresi dingin favoritnya, “Terserah kau saja.”
“Lukas, kenapa kau cukup menyebalkan. Apa kau tidak bisa bersikap jauh lebih lembut kepada kekasihmu?” protes Lana sambil menarik-narik kemeja putih yang saat itu dikenakan oleh Lukas.
Lukas menghela napas sebelum memutar tubuhnya. Satu tangannya menarik pinggang Lana dan menariknya ke dalam pelukan. Tanpa permisi, pria itu mengecup bibir Lana yang memang sejak awal sudah menggodanya.
Lana mengukir senyuman bahagia sebelum melingkarkan tangannya di leher Lukas. Ia juga mulai membalas kecupan yang diberikan Lukas pagi itu. Kedua bola matanya terpejam untuk menikmati momen indah yang kini ia rasakan bersama dengan pria yang sangat ia cintai.
**Vote ya Reader. Kalau jumlah Vote tembus 50ribu kita akan crazy up lima episode. Kalau ga sampek segitu ya aku juga akan sering-sering up banyak sih. Tapi gakk sampek lima bab. Terima kasih untuk dukungan yang uda vote. Aku seneng. Babang Zeroun bisa ada di rangking atas. Semoga bisa bertahan sampai hari penutupan vote. Aminnn....
Ok. Besok kita masuk Part Action**. Jadi siapkan jantungnya dari sekarang.