
Beberapa hari kemudian.
Pagi kembali muncul. Hari ini, langit terlihat tidak terlalu bersahabat. Matahari terlihat malu-malu untuk muncul. Awan gelap menghalangi cahaya terangnya untuk menyinari kota Salvador. Udara yang menerobos masuk ke dalam kamar juga terasa sangat dingin. Emelie duduk bersandar di tempat tidur dengan setelan sweter berwarna abu-abu. Wanita itu membaca sebuah buku untuk membuang rasa bosannya.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Zeroun keluar dengan setelan jas putih dan celana hitam. Pria itu memasang jam tangan di pergelangan tangannya sambil memasang ekspresi dinginnya. Sesekali ia melirik ke arah kekasihnya yang terlihat fokus dengan bacaannya. Zeroun merasa tidak di pedulikan pagi itu. Dengan langkah cepat dan pasti, pria itu merebut paksa buku bacaan Emelie.
“Baby!” ucap Emelie kesal. Wanita itu mengeryitkan dahi sambil menatap wajah kekasihnya,” Kembalikan.” Emelie mengulurkan tangan untuk meminta buku itu kembali.
Bukan mengembalikan buku itu kepada pemiliknya. Zeroun justru melemparnya ke arah sofa. Pria itu mengukir senyuman tipis untuk menjahili kekasihnya.
“Kau memang pria yang cukup menyebalkan,” ucap Emelie. Wanita itu beranjak dari tempat tidur untuk mengambil bukunya kembali. Langkahnya terhenti saat Zeroun menarik tangan Emelie dan membawa tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
“Aku tidak suka kau seperti itu. Kenapa buku itu mendapat perhatian lebih dibandingan aku yang kekasihmu,” ucap Zeroun sambil menatap serius wajah Emelie.
“Kali ini kau cemburu dengan buku itu?” tanya Emelie menantang tatapan tajam Zeroun.
Zeroun terdiam sejenak. Pria itu melepas pelukannya sebelum menatap ke arah lain, “Matamu akan sakit jika terlalu sering membaca,” jawab Zeroun mencari alasan.
Emelie tertawa kecil mendengar pernyataan bohong kekasihnya. Wanita itu berjinjit hingga wajahnya sejajar dengan Zeroun, “Apa kau tidak mau mengakuinya?” tanya Emelie penuh selidik.
“Baby, kenapa kau selalu terlihat menggemaskan,” ucap Zeroun dengan tangan yang ingin meraih tubuh kekasihnya. Belum sempat Zeroun menyentuhnya, Emelie lebih dulu memutar tubuhnya. Wanita itu berlari menuju ke arah teras yang ada tidak jauh dari kamar itu.
Zeroun menggeleng sambil tersenyum, sebelum mengejar kekasihnya, “Awas saja kau, Baby.”
“Baby, kejar aku,” ledek Emelie dengan penuh percaya diri.
Sepasang kekasih itu terlihat bahagia di pagi yang mendung. Ada canda tawa yang menghiasi ruangan terbuka itu. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Lukas menatap Zeroun dan Emelie dengan senyum bahagia. Pria itu merasa cukup bahagia. dengan gerak cepat, Lukas pergi meninggalkan ruangan yang menghubungkannya ke teras yang sama dengan tempat Zeroun berada.
Di lantai bawah.
Lana terlihat sibuk membersihkan piring kotor yang baru saja ia ambil dari kamar Zeroun. Wanita itu terlihat bahagia pagi ini. Sesekali ciuman Lukas terbayang hingga membuat wajahnya merona malu. Ciuman Lukas membuatnya ketagihan. Bahkan, wanita itu berencana untuk mengerjai Lukas lagi dengan trik yang sama. Baginya ciuman hanya sebuah game untuknya bersenang-senang.
Setelah selesai membersihkan piring-piring itu. Lana memandang sekelilingnya. Biasanya pria berbahaya itu selalu duduk di bar mini yang tidak jauh dari meja makan. Tapi, pagi ini pria itu tidak terlihat batang hidungnya. Bahkan sejak sarapan pagi berlangsung, Lukas juga tidak ada keluar dari kamar pribadinya.
“Kemana dia? apa dia meratapi ciuman keduanya kali ini,” ucap Lana asal saja. Wanita itu mengambil pistol miliknya yang terselip di paha. Hari ini cukup membosankan bagi Lana karena tidak melakukan kegiatan apapun di markas.
Zeroun belum memberi perintah apapun beberapa hari ini. Bos mafia itu sepertinya ingin beristirahat sebelum rencana besarnya berlangsung. Suasana rumah itu terlihat aman dan nyaman layaknya rumah yang biasa di tempati. Tidak tersirat sedikitpun tanda-tanda, kalau rumah mewah itu hanya sebuah markas persembunyian. Kapan saja jika musuh menyerang, rumah itu akan berlumuran darah dan orang-orang tidak bernyawa.
Baru saja wanita tangguh itu memikirkan nama Lukas, pria itu sudah muncul di depan matanya. Lukas duduk di kursi favoritnya yang terletak di bar mini. Satu tangannya menuang wine kristal ke dalam gelas ukuran kecil. Tatapan matanya tertuju ke arah Lana sebelum meneguk minuman itu. Suhu pagi itu memang cukup dingin. Hanya dengan meminum-minuman beralkohol bisa menghangatkan tubuh.
“Hei, Lukas.” Lana duduk di samping Lukas. Menopang kepalanya dengan satu tangan. Bibirnya tersenyum saat isi kepalanya di penuhi dengan rencana licik untuk mengerjai Lukas.
“Ada apa?” jawab Lukas acuh.
“Apa kau tidak ingin menciumku lagi?” ucap Lana tanpa berpikir dulu.
Lukas yang saat itu masih meneguk minumannya, langsung tersedak seketika. Pria berbahaya itu meletakkan gelasnya secara kasar. Hentakan gelas dan meja kaca itu menimbulkan satu suara yang bisa memecah kesunyian. Kedua bola mata Lukas menatap tajam wajah Lana. Pria itu mengeryitkan dahi saat tidak yakin dengan kalimat yang diucapkan Lana.
“Apa kau pikir itu sebuah lelucon?” Lukas terlihat tidak suka dengan candaan Lana pagi itu. Pria itu beranjak dari kursinya untuk meninggalkan Lana sendiri di tempat itu.
“Lukas, aku hanya bercanda. Kenapa kau marah.” Lana juga beranjak dari duduknya. Wanita itu mengejar lagkah cepat Lukas dengan wajah bingung.
“Lukas, berhenti.” Lana berhasil mengenggam tangan Lukas. Kini, pria itu menghentikan langkah kakinya untuk memberi kesempatan kepada Lana berbicara.
“Lukas, maaf.” Lana menunduk dengan wajah bersalah,” Awalnya aku hanya ingin membuatmu tertawa. Sepertinya tawamu itu cukup langkah. Kau tidak pernah tertawa kepadaku. Aku seperti berteman dengan kulkas dua pintu.”
Lukas kembali mencerna perkataan Lana. Ya, memang benar perkataan Lana. Lukas memang bukan pria yang murah senyum apa lagi tertawa. Pria itu hanya tersenyum saat melihat musuhnya kalah atau saat Zeroun berbahagia. Sisanya, ia tidak pernah tersenyum atau tertawa untuk dirinya sendiri.
“Maaf ya,” sambung Lana sambil menatap wajah Lukas dengan tatapan penuh harap.
“Lana, apa kau mau menemaniku latihan di pantai?” Lukas tidak lagi mau mempermasalahkan candaan Lana pagi itu. Pria itu justru tertarik untuk melatih ilmu bela diri Lana. Ia tidak ingin Lana terus-terusan kalah saat bertarung.
“Sekarang?” tanya Lana kurang yakin.
“Ya,” jawab Lukas singkat.
“Ada satu syaratnya.” Lagi-lagi wanita tangguh itu mengukir senyuman licik.
“Apa?” tanya Lukas menyelidik.
“Jika kali ini aku menang. Kau harus tertawa sesuai dengan tawa yang aku ajarkan. Bagaimana?” ucap Lana penuh percaya diri.
“Jika aku menang?” tanya Lukas dengan alis terangkat.
“Kau boleh meminta apa saja dariku,” jawab Lana mantap.
Setelah melewati kesepakatan pagi itu. Lana dan Lukas berjalan bersama-sama menuju tepian pantai. Mereka ingin berlatih dengan disaksikan ombak pantai yang bergulung indah.