
Monako.
Damian berdiri di depan puing-puing bangunan yang selama ini ia banggakan. Tatapannya tidak terbaca. Tidak ada satu orangpun yang berani mengajaknya berbicara. Beberapa pengawal terlihat berbaris rapi di belakang tubuh Damian.
Tangannya terkepal kuat untuk menahan rasa sakit hati yang kini meluap-luap di dalam hatinya. Baru saja semalam dia menangis karena mengantar jenazah kekasihnya ke pemakaman. Bahkan, di detik terakhir Adriana wanita itu tidak di hormati layaknya putri kerajaan. Justru di pandang sebagai buronan yang memang pantas mendapatkan hal mengerikan seperti itu.
Kini Pangeran Monako itu tidak hanya bersedih atas perginya sang kekasih. Namun, pohon uangnya juga telah roboh dan tidak bisa terselamatkan lagi. Ada dua nama yang kini memenuhi hatinya. Ingin sekali ia membalas dendam atas apa yang ia terima saat ini.
“Pangeran, maafkan saya sudah lancang. Tetapi dua bawahan Zeroun yang hampir berhasil kita tangkap kini telah berhasil kabur ke Italia.” Pengawal itu terlihat ketakutan untuk memberi kabar yang mungkin akan membuat Damian semakin murkah dan sangat mengerikan.
“Tidak akan mudah menangkap mereka,” jawab Damian dengan nada datar. Tidak ada amarah yang tiba-tiba meluap seperti biasanya.
“Pangeran, masalah Istana semakin sulit untuk di atasi. Sepertinya seseorang ingin anda turun dari jabatan anda. Sebaiknya dalam waktu dekat anda tidak meninggalkan Istana lagi, Pangeran.” Pengawal itu menjelaskan beberapa resiko yang akan di hadapi Damian jika pria itu berani meninggalkan Monako lagi.
Damian mengukir senyuman tipis, “Aku hanya akan kembali ke Rio ketika tubuh dua manusia itu sudah berbaring di balik tanah.”
Salvador.
Zeroun dan Emelie duduk di meja makan untuk menyantap makan siang mereka. Ada beberapa menu yang cukup mengugah selera yang kini tersaji di atas meja. Tapi tidak dengan dua orang yang kini menyantap makanan lezat itu.
Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama. Sudah banyak candaan yang ia berikan kepada Zeroun hari ini namun tidak berhasil membuat kekasihnya tertawa riang. Hilangnya Lukas cukup membuat keceriaan Zeroun hilang bersamanya.
Bahkan saat di ajak berbicara Zeroun lebih sering memegang pipi Emelia tanpa mau mengeluarkan kata. Satu keadaan yang cukup dilema kini di hadapi oleh Zeroun Zein. Dua hari lagi ia akan melakukan penyerangan besar terhadap Heels Devils. Ada atau tanpa adanya Lukas, Zeroun harus tetap maju. Ia tidak ingin mundur dan gagal dalam penyerangan ini.
Ponsel yang tergeletak di atas meja berdering. Zeroun meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya. Ada nama Inspektur Tao di layar ponselnya. Kini polisi itu juga sedang menyiapkan strategi untuk menyerang Heels Devils bersama dengan Zeroun. Walau mengambil resiko cukup besar atas tanggung jawab negara yang ia terima. Tapi, Inspektur Tao lebih mementingkan dendamnya daripada jabatan yang kini ia miliki.
Zeroun melekatkan ponselnya di telinga. Kedua bola matanya menatap ke arah dua pasukan Gold Dragon yang kini berjalan mendekat. Bos mafia Gold Dragon itu memberi kode agar bawahannya menahan informasi yang ingin mereka sampaikan. Dua pria itu menunduk hormat sebelum berdiri di samping Zeroun untuk menunggu.
“Ada apa Inspektur Tao?”
[Zeroun, malam ini kami akan mulai mengepung kota Rio agar Heels Devils tidak berhasil kabur meninggalkan kota. Aku berharap kalau penyerangan ini tidak terhalangi apapun.]
“Kita akan menghancurkan Jesica dua hari lagi. Terima kasih atas infonya.”
Zeroun meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Pria itu menatap wajah dua bawahannya dengan seksama, “Ada apa?”
“Pria itu telah kembali ke Monako tadi malam ini, Bos.”
Emelie menghentikan gerakan tangannya. Wanita itu cukup tahu dengan pria yang di maksud oleh bawahan Zeroun. Tidak ada nama lain yang berhubungan dengan Monako selain Damian.
“Tapi, Bos. Kami belum mendapat kabar tentang Bos Lukas.” Salah satu Anggota Gold Dragon kembali melanjutkan kalimatnya. Untuk informasi yang terakhir, wajah Zeroun berubah sedih.
Emelie menggenggam jemari Zeroun untuk memberi kekuatan kepada pria tangguh itu, “Mereka akan segera pulang.”
Ponsel Zeroun kembali berdering. Kali ini Zeroun mengeryitkan dahi saat melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Dengan gerakan cepat ia melekatkan ponsel itu di telinga. Baru beberapa detik memasang wajah sedih kini wajahnya sudah terganti dengan tatapan berseri. Belum sempat mengeluarkan kata, Zeroun sudah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
“Siapkan penerbangan untuk Lana dan Lukas sekarang,” perintah Zeroun cepat.
“Mereka selamat?” tanya Emelie dengan senyum bahagia, “Sekarang mereka ada dimana?”
Zeroun menghela napas lega, “Italia.”
“Baik, Bos.” Dua pria berbadan tegab itu pergi untuk melaksanakan perintah yang di berikan oleh Zeroun.
Emelie terlihat kegirangan. Bukan hanya hatinya yang cukup bahagia. Raut wajah kekasihnya kini juga terganti menjadi kebahagiaan.
“Aku senang melihatmu seperti ini lagi,” ucap Emelie dengan senyuman.
“Maafkan aku, Sayang.” Zeroun meraih tangan Emelie mengecupnya berulang kali, “Apa aku melukai hatimu?”
Emelie menggeleng pelan dengan bibir yang masih tersenyum bahagia, “Kau sumber kebahagiaanku.”
“Kemarilah,” ucap Zeroun sambil menarik tangan Emelie. Wanita itu beranjak dari duduknya dan duduk di atas pangkuan Zeroun, “Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa terima jika Lukas benar-benar menghilang dan pergi dengan cara seperti itu.”
Emelie menyentuh wajah Zeroun dengan jemari lentiknya, “Aku tahu apa yang kau rasakan.” Secara perlahan Emelie mendekatkan wajahnya. Mencium bibir kekasihnya sambil memejamkan mata. Satu tangan Zeroun menahan pinggang kekasihnya agar tidak terjatuh. Pria itu juga memejamkan mata saat menikmati kehangatan bibir Emelie.
Emelie melepas ciumannya. Melekatkan hidungnya di hidung Zeruon. Masih dengan napas yang terputus-putus, “Aku ingin kita selalu seperti ini. Melewati hari dengan ketenangan dan hanya ada cinta.”
“Secepatnya aku akan menyelesaikan semua ini. Kita akan hidup bahagia untuk selamanya.” Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie.
“Aku sangat mencintaimu, Zeroun Zein.” Emelie mengukir senyuman yang cukup indah.
“Sayang, kita akan mengunjungi tempat yang indah nanti malam.” Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama.
“Kemana?” tanya Emelie dengan wajah penasaran.
“Kejutan, Baby.”