
Hongkong.
Lana dan Lukas duduk di meja makan. Sepasang kekasih itu baru saja menyelesaikan sarapan pagi mereka. Walau jam sudah tidak lagi menunjukkan jadwal sarapan pagi. Lana menatap luka yang ada pada lengan Lukas dengan seksama. Ada rasa sedih di dalam hatinya saat melihat pria yang ia cintai terluka.
“Apa kau tidak pernah melihat orang lain terluka?” ucap Lukas sebelum meneguk air putih yang ada di atas meja. Ia tahu kalau kekasihnya kini sedang sedih dan memikirkan luka yang ia alami.
“Aku merasa bersalah padamu. Sejak mengenalku, hidupmu mengalami kesulitan. Aku wanita yang cukup merepotkan,” jawab Lana dengan senyum menyeringai.
“Aku tidak pernah merasa direpotkan.” Lukas memandang wajah Lana dengan seksama. Ada senyum bahagia di wajahnya saat itu.
Dalam sekejap ekspresi wajahnya berubah. Ada Agen Mia yang muncul dengan wajah santainya. Wanita berambut cokelat itu melirik wajah Lukas dan Lana secara bergantian sebelum duduk di bangku yang ada di samping Lukas.
Lana memandang wajah Agen Mia dengan tatapan tidak suka. Sudah sejak lama ia tidak suka dengan wanita itu. Baginya pertemuannya kali ini adalah satu nasip sial yang membuatnya tidak nyaman.
“Bos Lukas, boleh aku meminta uang?” Agen Mia menopang kepalanya dengan tangan. Wanita itu menatap wajah Lukas dengan seksama tanpa berkedip.
Lana merasa kesal saat itu. Wanita itu membuang tatapannya agar tidak terbakar api cemburu. Ia tidak ingin membiarkan Agen Mia dan Lukas berduaan di ruangan itu. Walaupun detik itu ia ingin sekali pergi menjauh.
“Uang?” celetuk Lukas dengan alis saling bertaut. Wajahnya terlihat sangat bingung ketika mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Agen Mia.
Agen Mia mengangguk cepat, “Aku butuh uang. Aku tidak memiliki uang karena tidak bekerja lagi. Semua tabungan yang aku miliki juga di sita. Aku sekarang bagian dari Gold Dragon. Aku bekerja untuk Gold Dragon. Kau Bos Gold Drgaon, berarti kau yang harus membayarku hari ini.”
“Membayar?” tanya Lukas sekali lagi. Pria itu tidak habis pikir dengan apa yang di maksud Agen Mia. Geng Mafia bukan sebuah perusahaan yang menggaji karyawannya setiap bulan dengan nominal tertentu. Hidup di dalam dunia mafia cukup bebas dan tidak menentukan nominal apa lagi bayaran. Bertahan hidup adalah tujuan yang harus di capai saat telah bergabung di dalam geng mafia.
“Bos Lukas. Anda tidak lupakan kalau saya telah berjuang keras membantu anda menyelamatkan kekasih anda tadi malam. Tubuh saya di penuhi dengan luka yang harus segera di obati. Ok. Sudah ada Doker yang memeriksa. Tapi, saya butuh uang untuk membeli apa yang saya inginkan. Anggap saja anda memberi saya bonus,” ucap Agen Mia dengan sebelah mata berkedip.
“Kau meminta Bos Zeroun untuk memasukkanmu ke dalam Gold Dragon karena kau menginginkan uang?” protes Lana dengan wajah kesal. Tadinya ia tidak ingin ikut campur dalam perbincangan Lukas dan Agen Mia. Namun, lama kelamaan. Agen Mia membuatnya semakin geram.
“Ya,” celetuk Agen Mia dengan wajah santai, “Apa itu salah?”
Lana beranjak dari duduknya lalu menggebrak meja makan yang ada di hadapannya. Wajahnya memerah karena terlalu emosi, “Tentu saja salah. Kau ada di sini untuk membantu bukan melakukan sesuatu untuk sebuah bayaran. Jika memang seperti itu sifatmu. Sudah bisa di pastikan. Ketika seseorang membayarmu dengan nominal yang tinggi. Kau akan mengkhianati tim mu sendiri.”
Agen Mia tidak mau kalah. Wanita itu juga berdiri dan menggebrak meja jauh lebih kuat daripada Lana, “Aku hanya meminta sedikit kau sudah mengungkit soal kesetiaan. Jika tidak ingin memberiku uang ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Aku bisa mencuri atau merampok bank bila perlu. Saat ini aku ada di lingkungan hitam yang bertolak belakang dengan reputasiku dulu. Tidak ada hal apapun yang aku takutkan lagi.”
“Hentikan!” teriak Lukas hingga suaranya memenuhi seisi ruangan. Beberapa pengawal dan pelayan yang ada di rumah itu menunduk takut saat mendengar teriakan Lukas yang cukup menggema dan menakutkan. Wajah pria itu juga tidak kalah memerah dan di penuhi emosi seperti dua wanita yang kini berdiri di hadapannya.
Lana menatap wajah Lukas sebelum menunduk. Wanita itu tidak mau melanjutkan kalimatnya walau kini hatinya berontak dan ingin protes.
“Laporkan saja. Apa kau pikir kami takut dengan ancamanmu?” Lana mengeluarkan ponselnya, “Apa kau punya nomor telepon Bos Zeroun? Aku akan membantumu menghubunginya jika perlu.”
Lana benar-benar geram saat itu. Ingin sekali ia menghajar wanita yang ada di hadapannya. Namun, emosinya masih ia tahan. Ia tidak ingin membuat keributan di sebuah rumah apa lagi dengan rekan satu gengnya.
“Wanita breng*sek!” ungkap Agen Mia dengan wajah yang tidak kalah kesal. Tidak tanggung-tanggung. Agen Mia menghempaskan ponsel Lana hingga ponsel itu terjatuh di lantai dan berserak.
Untuk tindakan Agen Mia yang satu ini. Lana tidak lagi bisa bersabar. Wanita itu meraih pisau buah lalu melemparnya ke arah Agen Mia. Dengan gerakan cepat Lukas menahan pisau itu. Wajahnya menatap wajah Lana dengan tatapan tidak suka. Namun, bibirnya masih membisu. Belum ada satu kalimatpun yang bisa ia ungkapkan untuk meredam emosi kekasihnya saat itu.
Agen Mia juga tidak mau kalah. Wanita itu mengambil pisau buah lalu melemparnya ke arah Lana. Nasip pisau buah itu lagi-lagi berakhir di tangan Lukas. Pria itu menghela napas kasar dengan wajah bingung. Ini pertama kalinya amarah yang ia luapkan tidak di takuti oleh bawahannya.
Biasanya setelah mendengar teriakannya, bawahannya akan membungkuk dengan wajah di penuhi rasa bersalah. Sedangkan dua wanita yang ada di hadapannya justru melanjutkan perkelahian mereka dan memicu keributan.
“Aku membencimu, Mia!” teriak Lana sambil memutar tubuhnya.
“Aku juga sangat membencimu, Lana!” teriak Agen Mia tidak mau kalah dan juga memutar tubuhnya.
Dua wanita itu pergi meninggalkan meja makan dengan berlawanan arah. Tidak ada yang peduli dengan keadaan Lukas yang berdiri dengan wajah menyeramkan dan dua pisau di genggamannya.
Beberapa pelayan dan pengawal yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan tawa. Pemandangan yang ada di hadapan mereka adalah pemandangan langkah yang tidak akan mungkin terulang lagi. Jika bisa di rekam. Mungkin sejak awal mereka sudah merekam dan mengirimnya kepada Zeroun.
Lukas memandang punggung dua wanita yang sudah semakin jauh dari posisinya. Pria itu memandang wajah pengawal dan bawahannya dengan tatapan mengerikan. Semua orang menjauh dari hadapan Lukas karena takut menjadi korban pelampiasan kekesalan pria itu.
“Dasar wanita!” ucap Lukas dengan wajah pusing.
Lukas melemparkan dua pisau di tangannya ke sembarang arah sebelum pergi meninggalkan meja makan tersebut. Baru saja ia mengalami masa indah dengan Lana beberapa saat yang lalu. Tidak di sangka momen indah itu berakhir dengan insiden menjengkelkan seperti saat ini.
.
.
.
Vote, Like, komen. Terima kasih