
Hongkong.
Lana berjalan menuju ke arah halaman depan. Wanita itu terus saja mengeluarkan isi hatinya dengan wajah kesal. Ingin sekali ia memukul wajah Agen Mia tadi. Baginya tindakan Agen Mia sudah sangat keterlaluan. Bukan hanya tidak menghormati Lukas sebagai seorang pemimpin. Di mata Lana, wanita itu terlihat seperti seorang penghianat yang berwajah manis.
“Aku tidak mau satu rumah dengan wanita seperti itu,” umpat Lana kesal sambil menarik pintu mobil. Ia memiliki niat untuk kembali ke apartemen dan tinggal bersama Alika.
Namun, belum sempat kakinya melangkah masuk ke dalam mobil. Satu tangan kekar mendorong pintu mobil hingga tertutup kembali. Dengan wajah malas Lana menatap wajah sang pemilik tangan. Wanita itu menghela napas kasar saat melihat Lukas berdiri di sampingnya.
“Jangan halangi aku,” ucapnya sebelum berusaha membuka pintu mobil itu lagi. Hatinya masih kesal dengan Agen Mia dan pembelaan yang di lakukan oleh Lukas. Andai saja pisau itu berhasil melukai Agen Mia. Maka hati Lana tidak akan seburuk sekarang.
“Kau mau kemana? Biar aku antar.” Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Walaupun kini wanita yang ia pandang terlihat tidak tertarik menatap kedua matanya.
“Aku tidak-” ucapan Lana terhenti saat melihat Agen Mia keluar dari dalam rumah. Wanita itu menggenggam kunci mobil dengan senyuman indah. Kedua matanya tertutup kaca mata berwarna hitam.
“Terima kasih, Bos Lukas,” teriak Agen Mia sambil memamerkan kartu yang baru saja di berikan Lukas. Wanita itu menurunkan sedikit kaca matanya untuk meledek Lana. Setelah puas membuat Lana panas, Agen Mia masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya dengan cepat tanpa peduli lagi dengan sepasang kekasih yang ia tinggal.
“Kau memberinya uang?” protes Lana tidak terima.
“Aku hanya tidak ingin kalian berkelahi. Lagian uang Gold Dragon cukup banyak. Kita tidak akan jatuh miskin hanya karena memberinya bayaran.” Lukas berusaha membela diri. Walaupun ia tidak tahu. Lana percaya atau tidak kepada dirinya saat itu.
“Kau pria yang cukup lemah. Hanya ancaman seperti itu saja sudah menyerah.” Lana mendorong tubuh Lukas hingga pria itu mengeryitkan dahi.
“Lana!” ucap Lukas sambil berusaha menahan tangan Lana. Pria itu mendorong tubuh Lana hingga wanita itu bersandar di pintu mobil dengan posisi menghadap Lukas, “Kau marah padaku?” ucapnya tidak percaya. Sejak awal ia juga korban dari dua wanita yang tiba-tiba berdebat hanya karena masalah sepele.
“Ya,” jawab Lana sambil memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centi dengan wajah Lukas, “Kau seharusnya mengusirnya pergi dari Hongkong. Kenapa sekarang justru membela dan menuruti permintaannya.”
Lukas menatap kedua bola mata kekasihnya dengan seksama. Satu tangannya mulai terangkat ke atas. Dengan hati-hati Lukas mulai menyentuh lengan Lana. Bibirnya tersenyum kecil. Ia tidak tahu harus marah atau tertawa saat itu. Tiba-tiba saja hatinya merasa bahagia. Walau Lukas sendiri tidak tahu, bahagia karena apa.
“Kau cemburu?” celetuk Lukas dengan wajah polos.
“Cemburu?” ucap Lana dengan alis saling bertaut. Ia juga tidak yakin kalau Lukas bisa menuduhnya hingga separah itu. Walau memang benar kenyataannya seperti itu. Tapi, Lana tidak mau mengakui kalau dirinya memang benar cemburu, “Kau terlalu percaya diri,” umpat Lana dengan tawa kecil di sudut bibirnya.
Lukas menarik lengan Lana hingga bibir wanita itu berhasil ia sentuh. Tanpa permisi Lukas mulai mencium bibir Lana dengan penuh cinta dan kasih sayang. Belum lama ia menguasai bibir Lana, bibir manis itu sudah menjauh darinya.
“Kau tidak akan berhasil merayuku dengan cara seperti ini,” protes Lana sambil menghapus bekas ciuman Lukas pada bibirnya yang merah. Dengan sekuat tenaga, Lana mendorong tubuh Lukas.
Namun, lagi-lagi tenaganya tidak sekuat Lukas. Pria itu berhasil menahan Lana sebelum mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Dengan gerakan cepat dan wajah santai, Lukas masuk ke dalam rumah. Bibirnya tersenyum penuh kemenangan saat Lana kini ada di dalam gendongannya. Setidaknya ia berhasil menggagalkan kekasihnya untuk kabur meninggalkan rumah. Lukas tidak mau di tinggal oleh Lana.
Namun, teriakan Lana tidak membuat Lukas bergeming sedikitpun. Pria itu terlihat asyik dengan langkah kakinya dan menggendong Lana siang itu.
“Kau pria yang cukup menyebalkan,” teriak Lana sekali lagi dengan wajah kesal dan tubuh berontak. Suara wanita itu cukup kuat hingga terdengar di segala penjuru rumah besar itu.
Lukas menghentikan langkah kakinya walau tujuan kamar Lana masih jauh. Pria itu menurunkan Lana dengan wajah kesal. Cukup sulit bagi Lukas menggendong wanita yang terus saja berontak seperti Lana. Di tambah lagi, tenaga Lana memang cukup lumayan.
“Apa yang kau inginkan?” ucap Lukas dengan wajah frustasi.
“Jangan bela wanita lain di hadapan maupun di belakangku,” ucap Lana dengan suara cukup pelan. Awalnya ia cukup berani hingga berniat menantang Lukas. Tidak di sangka. Ketika melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Lukas membuat Lana mengurungkan niatnya untuk protes lebih jauh lagi.
“Kau cemburu tapi tidak mau mengakuinya,” ucap Lukas dengan penuh keyakinan, “Aku memiliki tugas untuk menjaga semua anggotaku. Aku tidak akan membiarkan anggotaku pecah karena masalah sepele. Mia memang wanita yang keras kepala sama sepertimu. Bahkan jauh lebih parah dia. Aku juga tidak suka dengannya sejak dulu, sekarang hingga selamanya. Tapi, kita sekarang berada di bawah geng yang sama. Gold Dragon. Dia membutuhkan pertolongan kita. Ya, walaupun dari segi uang.” Lukas mengatur emosinya dengan napas terputus-putus.
“Aku tahu. Maka dari itu aku tidak membunuhnya tadi,” sambung Lana sambil membuang tatapannya ke arah lain.
“Lalu, kau masih menyalahkanku saat ini?” Lukas mengukir senyuman sambil mengusap lembut pipi Lana. Entah sejak kapan sentuhan pria dingin berubah menjadi hangat. Bahkan, Lana yang sudah cukup lama mengenal Lukas merasa ada yang berbeda dari pria yang kini berdiri di hadapannya.
“Maafkan aku,” ucap Lana. Di detik-detik terakhir Lana mulai mengerti bagaimana posisi Lukas saat ini. Ia sebagai kekasih juga tidak ingin membuat Lukas dalam kesulitan. Sebisa mungkin, Lana ingin mengurangi beban kekasihnya.
“Kau juga tidak salah,” ucap Lukas sambil menarik Lana ke dalam pelukannya. Satu kehangatan yang bisa membuat tubuh dan hatinya nyaman adalah pelukan Lana. Ia tidak ingin menjauh dari Lana dan di tinggal pergi oleh wanita itu.
Lambat laun Lukas mulai menyadari perasaan Zeroun selama ini. Bagaimana kekonyolan sifat Zeroun yang kadang membuat dirinya sendiri tertawa geli. Lukas paham detik itu juga. Ia juga sempat merasa malu karena pernah mengatakan bos terbaiknya terlalu lebay.
Cinta memang indah. Tapi cukup konyol! -Lukas
.
.
.
Besok kita akan buka part bulan madu Emelie .. sabar ya.. kalau Uda waktunya pasti ada crazy up.. 😘
Like, komen dan Vote. Terima kasih.