Moving On

Moving On
Rencana Penyelamatan



Lukas dan Zeroun duduk saling berhadapan lagi. Masih terlihat jelas wajah kesal di raut wajah Lukas siang itu. Ingin sekali pria itu kembali ke dapur untuk membalaskan perbuatan Lana saat itu.


“Aku tidak menyangka, kau bisa jatuh gara-gara seorang wanita.” Zeroun meledek Lukas dengan senyuman kecil.


Lukas menatap wajah Zeroun dengan wajah malu. Pria itu menunduk dalam menyembunyikan wajah malunya dari tatapan Zeroun Zein.


“Maafkan saya, Bos. Tidak seharusnya saya berbohong pada anda tadi.” Lukas masih menekuk kepalanya, tidak berani memandang wajah Zeroun.


Zeroun mengangguk pelan sebelum memandang keluar jendela.


“Lana memiliki kemampuan bela diri yang sangat bagus. Aku ingin membawanya untuk menjadi mata-mata di Inggris nanti.”


Lukas mengangkat kepalanya. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu nama pramugari baru itu. Tapi, Zeroun entah sejak kapan ia menyelidikinnya. Detik itu dia sudah mengetahui nama wanita yang sempat dicurigai Lukas sebagai mata-mata.


Tidak ada yang luput dari pandangannya. Seharusnya aku tahu sejak awal. Bos Zeroun pasti udah tahu semua ini.


Umpat Lukas dengan penuh penyesalan karena sudah berurusan dengan wanita itu tadi di dapur. Bahkan sampai dipermalukan seperti itu. Tidak terbayang bagaimana ekpresi pasukan Gold Dragon, saat mereka juga melihat kejadian memalukan tadi.


Zeroun mulai memejamkan mata. Menikmati tidur siangnya saat itu. Tidak ada hal penting yang ingin ia bicarakan saat itu. Ajakannya semata-mata untuk memisahkan perdebatan antara Lana dan Lukas di dapur tadi.


Lukas terlihat berjaga sambil memasang handset dikedua telinganya. Membuka handphonenya untuk memeriksa informasi yang baru saja ia dapatkan melalui Email. Semua info itu berisi daftar kegiatan musuhnya saat ini.


Lukas terbelalak kaget saat melihat salah satu misi musuhnya adalah menyerang Emelie sore ini. Bahkan lokasi dan waktunya sudah ditentukan. Strategi itu tersusun dengan sangat rapi.


Lukas memandang wajah Zeroun yang sudah terlelap. Ada sedikit karaguan di dalam hatinya untuk menceritakan masalah ini kepada Zeroun. Tujuan mereka ke Inggris untuk balas dendam. Bukan untuk menolong Emelie lagi.


“Bos,” ucap Lukas dengan hati-hati.


“Hmm,” jawab Zeroun tanpa membuka mata.


“Musuh kita akan melakukan aksinya sore ini.” Lukas masih menahan perkataan selanjutnya.


“Biarkan saja, kita akan mulai besok menyerang mereka. Hari ini terlalu cepat untuk mereka kalah,” jawab Zeroun santai.


Lukas menelan salivanya. Mengatur debaran jantungnya agar kembali normal.


“Misi mereka sore ini adalah membunuh Putri Emelie, Bos,” sambung Lukas dengan nada yang begitu hati-hati.


Zeroun membuka mata dalam waktu cepat. Menatap wajah Lukas dengan tatapan tak terbaca. Membuat Lukas menjadi bingung dalam mengartikan tatapan Zeroun siang itu.


“Berikan padaku,” Zeroun mengulurkan tangannya meminta ponsel Lukas.


Lukas memberikan ponselnya dengan jantung berdebar cepat. Memperhatikan Zeroun yang terlihat serius mengamati strategi musuh mereka sore nanti.


“Jika kita muncul dengan identitas kita. Maka pihak kerajaan akan menuduh kita sebagai salah satu dari bagian mereka.” Zeroun meletakkan ponsel Lukas di atas meja.


“Apa kita akan membiarkan mereka membunuh Putri Emelie, Bos?” tanya Lukas dengan wajah serius.


“Aku tidak bilang begitu, bukan?” Zeroun menyeringai.


“Apa rencana anda, Bos?” tanya Lukas penuh rasa penasaran.


“Kita akan masuk ke dalam kerajaan, Bos?” tanya Lukas tidak percaya.


“Sepertinya tidak buruk,” jawab Zeroun santai sambil tersenyum kecil.


Lukas hanya bisa mengunci mulutnya. Mencerna semua perkataan Zeroun untuk memikirkan rencana selanjutnya. Sedangkan Zeroun melanjutkan tidur siangnya dengan wajah yang sangat tenang.


***


Beberapa jam kemudian. Pesawat Zeroun mendarat dengan sempurna. Zeroun turun dengan wajah tenang favoritnya. Lukas mengikuti langkah Zeroun dari belakang. Memperhatikan sekeliling bandara itu dengan seksama.


“Bos, Kita harus mengganti pakaian kita lebih dulu. Rombongan Putri Emelie belum jauh dari bandara ini. Masih ada waktu untuk mengejar mereka.” Lukas menyodorkan pakaian pengawal kerajaan.


Zeroun menerima pakaian itu dengan tatapan tak terbaca. Lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Lukas juga berada di belakang Zeroun untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sama dengan Zeroun.


Setelah mengganti pakaian. Zeroun dan Lukas berjalan ke arah mobil yang sudah mereka pesan. Lukas melajukan mobil itu menuju lokasi penyerangan Putri Emelie. Sesuai dengan perhitungan waktu Lukas, setelah tiba di lokasi penyerangan itu. Tembakan terdengar dari mana-mana. Lukas dan Zeroun memperhatikan dengan seksama dari dalam mobil.


“Bos, apa yang harus kita lakukan?” Tidak pernah sebelumnya Lukas menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. Ini pertama kalinya ia menanyakan pertanyaan itu kepada Zeroun.


“Tidak ada, kita hanya perlu menyaksikan aksi mereka dari jarak dekat.” Zeroun keluar dari dalam mobil berjalan ke arah semak-semak untuk memperhatikan musuhnya yang kini menyerang


Lukas juga ada di samping Zeroun. Memperhatikan satu persatu musuh mereka yang kini bersembunyi.


“Bos, ada 3 penembak jitu.” Lukas menunjuk ke arah penembak jitu itu.


“Kuasai penembak jitu itu,” perintah Zeroun dengan tenang.


“Baik, Bos.” Lukas pergi untuk menyerang tiga penembak jitu itu. Zeroun masih tetap bersembunyi di tempat itu memperhatikan aksi Lukas dari jarak jauh.


Dalam waktu singkat, Lukas berhasil menghabisi tiga penembak jitu itu. Pria itu kembali sambil membawa beberapa barang penting milik musuhnya.


“Bos, sepertinya ada Bom di mobil Putri Emelie.” Lukas memberi tahu info yang baru saja ia dapat.


“Berikan padaku senjata itu.” Zeroun meminta senjata laras panjang milik penembak jitu yang ada di genggaman Lukas.


Zeroun mulai mengamati keadaan Emelie dengan senjata itu. Laser itu berada di depan dada Emelie. Membuat Zeroun tersenyum kecil. Namun, satu pengawal menghalangi bidikannya. Wajahnya berubah kesal detik itu juga.


“Lemparkan bom asap itu!” Zeroun berdiri dari tempat persembunyiannya.


“Baik, Bos.” Lukas ikut berlari bersama Zeroun untuk melemparkan bom asap yang ia temukan. Setelah asap itu mengelilingi mobil Emelie, Zeroun masuk untuk menarik paksa tubuh Emelie. Membawa Emelie menjauh dari mobil itu.


Lukas juga berlari menjauh dari mobil itu. Berdasarkan perhitungan Lukas, mobil itu akan meledak beberapa detik lagi. Melihat Emelie berlari dengan sangat lambat. Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya.


Mobil itupun meledak. Zeroun dan Lukas bersembunyi di balik pohon. Kedua tangan Emelie melingkari leher Zeroun, menatap wajah Zeroun dengan seksama. Jarak mereka berdua terlihat sangat dekat. Zeroun juga memandang wajah Emelie dengan seksama. Mata mereka berdua tidak berkedip. Ada debaran jantung yang terasa aneh, yang kini dirasakan oleh Zeroun dan Emelie.


Teriakan Adriana mengganggu momen indah itu. Zeroun memalingkan tatapan matanya dari Emelie lalu berjalan ke tempat Adriana berada. Pria itu tidak lagi ingin memandang wajah Emelie yang kini masih ada di gendongannya.


Like, Komen dan Vote ya kakak...Terima kasih.