
Pagi yang indah dan cerah. Secerah pengantin baru yang baru saja selesai mandi. Zeroun memeluk tubuh Emelie dari belakang sambil mengecup pipi wanitanya. Sudah cukup lama Zeroun menjahili Emelie yang sedang berdandan di depan cermin. Putri raja itu sungguh bahagia karena mulai sekarang setiap harinya ia akan bangun dengan melihat wajah Zeroun.
“Apa kau tidak lelah membungkuk dan menciumku seperti ini,” ucap Emelie sebelum meletakkan sisir pada tempatnya.
“Tentu saja tidak. Kau wanita yang cukup menggemaskan hingga membuatku ingin menciummu lagi dan lagi,” jawab Zeroun sebelum mendaratkan satu kecupan lagi di pundak kanan Emelie.
“Ayo kita turun. Semua orang pasti sudah menunggu kita untuk sarapan.” Emelie beranjak dari duduknya. Wanita itu menatap wajah Zeroun sebelum mendaratkan satu kecupan mesra, “Aku sangat mencintaimu.”
Zeroun mengukir senyuman sebelum mengusap lembut pucuk kepala Emelie, “Aku juga sangat mencintaimu, Emelie.”
Sepasang pengantin baru itu berjalan meninggalkan kamar. Ada senyum indah di wajah yang cukup berseri. Mereka berjalan secara perlahan untuk menuju ke lantai bawah. Sudah waktunya untuk sarapan pagi.
“Apa yang lain sudah lebih dulu ada di meja makan?”ucap Emelie sambil menatap wajah Zeroun.
Zeroun mengangkat kedua bahunya, “Tamuku adalah orang-orang yang suka melanggar peraturan. Sepertinya mereka belum bangun dan memilih sarapan di dalam kamar. Apa lagi sekarang masih cukup pagi.”
Emelie tertawa kecil sambil menggeleng pelan kepalanya, “Kehidupanmu yang dulu sangat berbeda dengan kehidupanku. Tapi tenang saja. Aku sudah mulai membiasakan diri untuk menjadi seperti kalian.”
Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum memandang ke arah meja makan. Dahinya mengeryit saat melihat semua orang yang ia kenali telah ada di meja makan. Serena, Daniel, Kenzo, Shabira, Lana dan Lukas. Ada obrolan ringan yang sedang mereka bicarakan. Obrolan dan tawa itu terhenti saat melihat Emelie dan Zeroun muncul.
“Selamat pagi pengantin baru,” ledek Kenzo dengan satu kedipan mata. Pria itu menatap wajah Zeroun dengan tatapan penuh arti.
Zeroun menghela napas yang cukup berat. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan adik ipar yang cukup menjengkelkan itu. Namun, bibirnya mengukir senyuman saat melihat wajah Shabira ada di meja makan, “Selamat pagi Zetta.”
“Selamat pagi, Kak.” Shabira mengukir senyuman sambil memandang wajah Emelie dan Zeroun secara bergantian.
Emelie duduk di kursi yang ada di samping Zeroun. Wanita itu masih enggan duduk di kursi utama yang memang menjadi kursi yang cocok dengan posisinya.
“Selamat pagi. Saya sangat bahagia bisa berkumpul di meja makan ini bersama dengan keluarga Zeroun. Saya harap kalian bisa betah tinggal di istana ini dan bersenang-senang.” Emelie mengukir senyuman indah sambil memandang wajah semua orang secara bergantian.
Setelah sapaan pagi di ucapkan, semua orang yang ada di meja makan mulai memakan menu yang telah terhidang di atas meja. Dua baby sister turun dari tangga dengan bayi lucu di gendongan mereka.
Serena yang menatap wajah kedua buah hatinya spontan menghentikan aktifitas sarapan paginya. Ia beranjak dari kursi yang ia duduki sebelum berjalan mendekati baby Al dan baby El. Hal itu juga di lakukan oleh Daniel. Pria itu menjadi Ayah siaga saat kedua buah hatinya ada di depan mata apa lagi saat sedang menangis.
“Apa mereka baik-baik saja?” ucap Serena sambil mengambil baby El dari gendongan baby sister.
“Nona muda menangis sejak tadi, Nyonya. Saya juga tidak tahu kenapa,” jawab baby sister itu takut-takut.
“Apa putriku sakit?” ucap Daniel dengan wajah khawatir. Pria itu memandang wajah baby Al dengan seksama, “Bagaimana dengan Baby Al?”
“Tuan muda cukup tenang, Tuan.”
Serena memeriksa keadaan Baby El dengan seksama. Tidak ada yang salah dari tubuh bayi mungil itu. Suhu tubuhnya normal dan tangisnya juga berangsur redah saat ada di gendongan Serena.
“Apa kau merindukan Mama, Sayang? Mama hanya meninggalkanmu untuk sarapan pagi.” Serena mencium pipi baby El dengan senyum bahagia. Sesekali ia menggelitik bagian tubuh putrinya hingga terdengar tawa dari bibir mungil baby El.
“Sepertinya ia tidak ingin di tinggal di kamar. Ia ingin ikut denganmu sarapan, Serena.” Emelie berdiri di samping Serena sambil memegang tangan mungil baby El.
“Ya. Dia wanita yang sangat suka di perhatikan,” jawab Serena sambil menggukir senyuman indah.
Daniel menggendong baby Al lalu mencium putranya dengan penuh kasih sayang, “Jagoan Papa pria yang cukup tangguh. Kau tidak menangis saat Mama dan Papa pergi sebentar.”
“Daniel, bukankah kau menginginkan anak perempuan. Kenapa sekarang kau terlihat ada di pihak baby Al,” ucap Serena sambil berjalan menuju ke arah meja makan. Diikuti Emelie dari belakang.
“Karena hanya pria yang boleh menjadi jagoan. Aku tidak ingin keturunan keluarga Chen semua pria yang bisa di kalahkan oleh seorang wanita.” Daniel berjalan ke arah meja.
Zeroun mengukir senyuman tipis saat mendengar perkataan Daniel. Pria itu melanjutkan sarapan paginya dengan gaya yang cukup elegan.