
Beberapa jam kemudian, pesawat yang di tumpangi Lukas mendarat dengan sempurna di Hongkong. Wajah Lana dan Lukas terlihat berseri malam itu. Mereka saling berpegangan tangan.
“Malam ini kau tidur di rumah,” perintah Lukas dengan ekspresi dingin.
“Apa aku punya kesempatan untuk menolak?” ledek Lana sebelum menyandarkan kepalanya di pundak Lukas. Wanita itu terlihat semakin manja dengan kekasihnya.
Lukas tidak lagi mau mengeluarkan kata. Pria itu terus saja membawa Lana menuju ke arah mobil. Ia ingin segera membawa Lana pulang agar mereka bisa segera beristirahat.
“Apa Agen Mia juga ada di rumah?” Lana menatap wajah Lukas dengan tatapan menyelidik.
“Kita sama-sama ada di Inggris. Tentu saja aku tidak tahu wanita itu ada di mana,” jawab Lukas dengan wajah santai. Pria itu membukakan pintu mobil sebelum menyuruh Lana masuk ke dalam, “Ada hal penting yang aku urus di pelabuhan. Kau ke rumah lebih dulu. Aku akan pulang secepatnya setelah urusan pengiriman barang itu selesai.”
“Kenapa aku tidak di ajak?” rengek Lana dengan wajah yang cukup menggemaskan.
“Berhentilah menjadi pembakang. Sekarang masuk dan segera istirahat jika kau sudah tiba di rumah.” Lukas menggerakkan kepalanya agar Lana mau menurut dan tidak membantah lagi.
“Hmm, baiklah.” Lana mendaratkan satu kecupan singkat di pipi Lukas, “Hati-hati.”
Lana masuk ke dalam mobil. Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk meninggalkan Lukas pada posisinya.
“Dasar wanita,” keluh Lukas sebelum berjalan menuju ke mobil yang akan ia tumpangi. Pria itu ingin mengatur bisnis yang telah di wariskan Zeroun kepadanya. Lukas tidak ingin mengecewakan Zeroun. Ia bertekad untuk membuat bisnis itu jauh lebih jaya dari sebelumnya.
Lana membuka kaca mobil agar angin malam yang dingin memebuhi seisi mobil. Wanita itu memutar musik favoritnya sambil mengetuk-ngetuk stir mobil dengan jari. Sesekali kepalanya ikut bergoyang mengikuti irama lagu yang ia dengar.
Mobil sport berwarna hitam meluncur dengan begitu cepat. Mobil itu memotong laju mobil Lana dan kini berhenti secara mendadak di depan Lana.
Dengan sigap Lana mengeluarkan pistol miliknya. Kaca mobil yang sempat terbuka kembali ia tutup. Wajahnya terlihat sangat waspada. Ia cukup tahu kalau orang yang kini menghalanginya pasti musuh yang harus ia waspadai.
“Siapa yang berani-beraninya menghalangiku,” umpat Lana kesal.
Agen Mia turun dari mobil dengan senyum menyeringai. Wanita tangguh itu berjalan pelan ke arah mobil Lana. Pakaiannya terlihat cukup seksi. Ada sebuah pistol di tangan wanita itu.
“Ternyata wanita ini. Aku baru saja membahasnya beberapa detik yang lalu. Apa ia memiliki niat jahat kepadaku malam ini?” ucap Lana sebelum keluar dari dalam mobil. Wanita itu membanting pintu mobil sebelum berjalan mendekati Agen Mia yang ada di depan mobilnya.
“Aku sudah repot-repot menjemputmu di bandara. Tapi kau mala pulang sendirian seperti ini,” ucap Agen Mia sebelum membuang tatapannya ke arah lain.
“Aku tidak menyuruhmu untuk menjemputku hari ini,” jawab Lana dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Agen Mia tertawa kecil, “Tentu saja bukan kau. Tapi, Lukas yang ingin aku jemput. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya.” Agen Mia mengukir senyuman tipis sambil memandang wajah Lana, “Dimana dia saat ini?”
“Aku tidak tahu,” jawab Lana cepat. Ada rasa cemburu yang kini memenuhi hatinya. Lana tidak terima jika pria yang ia cintai mendapat perhatian lebih dari wanita lain.
“Sayang sekali. Sepertinya usahaku malam ini sia-sia.” Agen Mia berjalan ke arah mobilnya. Wanita itu mengukir senyuman ke arah Lana sebelum masuk ke dalam mobil.
“Apa dia sudah tidak waras? Apa untungnya dia melakukan semua ini,” umpat Lana kesal. Wanita itu kembali masuk ke dalam mobil untuk segera pulang dan beristirahat di rumah.
“Lana, berhenti,” teriak seseorang dari samping mobil Lana.
Lana memandang ke arah sumber suara. Wanita itu membuka kaca mobil agar bisa melihat jelas suara yang sudah memanggilnya. Matanya membulat lebar saat melihat Morgan kini ada di dekatnya.
“Apa yang mau ia lakukan? Kenapa dia bisa ada di Hongkong. Bukankah Hongkong daerah kekuasaan Gold Dragon? Kenapa dia bisa ada di sini.” Lana menambah laju mobilnya. Wanita itu menolak keras untuk bertemu dengan Morgan. Ia tidak ingin mengkhianati Lukas. Sudah cukup perselisihan yang terjadi di antara dirinya dan Lukas selama ini. Lana tidak ingin muncul masalah baru lagi kedepannya.
Morgan tidak menyerah. Pria itu menghadang mobil Lana di depan. Berhentinya mobil Morgan secara mendadak membuat Lana menghentikan mobilnya secara mendadak juga. Bahkan kepalanya hampir saja terbentur langsung dengan stir mobil.
Lana mencengkram kuat pistolnya. Ia sudah cukup paham kalau pertemuannya dengan Morgan kali ini pasti akan di penuhi dengan drama sedih yang di katakan oleh Morgan.
Morgan turun dari dalam mobil. Pria itu berdiri di depan mobil Lana sambil mengacungkan jarinya. Ia meminta Lana segera turun dan menemuinya.
Lana membuka pintu mobilnya. Sesuai dengan apa yang sempat ia katakan, kalau ia akan menembak Morgan saat bertemu dengannya.
Lana menodongkan ujung senjata apinya sebelum menekan pelatuknya dengan penuh semangat.
DUARRR
Peluru berwarna emas itu berhasil menancap di lengan kekar milik Morgan. Pria itu cukup syok saat melihat sambutan yang di berikan Lana kepada dirinya, “Sayang, apa yang kau lakukan?”
“Sayang, kau bilang!” protes Lana tidak terima. Wanita itu ingin menembak Morgan lagi. Baginya satu tembakan saja tidak cukup seimbang dengan rasa sakit hatinya selama ini. Di saat ia menyerahkan seluruh hidup dan cintanya kepada pria itu, tapi justru di tinggalkan begitu saja. Rasanya sangat sakit dan sulit untuk di lupakan.
“Ok. Aku minta maaf. Apa kau bisa tenang dulu,” bujuk Morgan sambil menahan perih di lengannya. Ada darah yangberkucur deras di lengan pria itu. Bahkan darah itu berhasil menetes hingga ke telapak tangan Morgan.
“Aku tidak mau mendengar apapun darimu, Morgan. Pergi dan menjauhlah dari hadapanku. Sampai kapanpun aku tidak mau menemuimu lagi, apa lagi berbicara kepadamu!” protes Lana dengan wajah tidak suka.
“Sayang, maafkan aku,” ucap Morgan sekalilagi. Tanpa peduli dengan suasana hati Lana, Morgan memeluk tubuh Lana dengan begitu erat. Melampiaskan kerinduannya kepada wanita yang sangat ia cintai. Darah yang di miliki Morgan juga menempel pada pakaian yang di kenakan Lana malam itu, “Aku masih sangat mencintaimu.”
“Maaf, Morgan. Tapi, aku sudah tidak mencintaimu lagi.” Lana mendorong paksa tubuh Morgan hingga pelukan pria itu terlepas, “Sekarang, menyingkirlah. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.” Lana memutar tubuhnya.
Morgan segera membungkam mulut Lana dengan selembar kain yang sudah ia persiapkan sejak awal. Pria itu mengukir senyuman licik saat melihat Lana kini tidak berdaya di dalam pelukannya, “Kau tidak akan bisa menjauh dariku semudah itu, Lana.”
Morgan mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Pria itu ingin segera membawa Lana untuk menjauh dari Lukas dan Hongkong. Ia ingin merebut kembali apa yang pernah ia miliki.
.
.
.
Mohon maaf buat yang uda di keluarkan dari grupchat. Semalam sore ada pembersihan grup. Buat pembaca setia masih bisa masuk dengan syarat tulis kesan kalian terhadap novel author. Terima kasih.
Jangan lupa Vote dan Like nya ya...😘