Moving On

Moving On
S2 Bab 67



Beberapa saat kemudian.


Lukas telah tiba di markas Gold Dragon. Pria itu turun dari dalam mobil dengan wajah sedih dan kecewa. Ia tidak lagi bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk melihat Lana. Lukas malu karena telah gagal.


“Selamat malam, Bos,” ucap salah satu pasukan Gold Dragon yang tiba-tiba saja berdiri di hadapan Lukas, “Bos Zeroun meminta anda menemuinya di kamar Nona Lana.”


Lukas mengangkat kepalanya yang sempat tertekuk. Mendengar nama Lana tentu saja membuat hatinya tidak lagi tenang. Lukas berjalan cepat menuju ke arah kamar Lana. Ia berharap kalau Lana masih tetap baik-baik saja.


Lukas membuka pintu dan masuk ke dalam kamar milik Lana. Langkahnya terhenti saat melihat semua orang telah mengelilingi tempat tidur Lana. Ada Dokter juga di dalam kamar itu.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Seluruh isi rumah itu tidak ada yang tidur dengan nyenyak. Bahkan Emelie dan Shabira juga ada di kamar Lana. Kenzo duduk bersama Zeroun di sebuah sofa. Dua pria itu menatap wajah Lukas dengan tatapan yang cukup tajam.


“Kau lama sekali,” protes Kenzo dengan wajah kesal.


“Maafkan saya, Bos,” jawab Lukas penuh rasa bersalah.


Zeroun menaikan satu alisnya. Ia memperhatikan luka yang ada di lengan Lukas. Baginya itu hanya luka kecil yang memang sudah biasa mereka dapatkan. Tapi, biasanya. Lukas sudah mengikat lukanya dan menghentikan darah yang keluar dari luka tersebut. Namun, malam ini Lukas tidak lagi ingat dengan luka yang ia terima.


Lukas menatap wajah Lana yang cukup pucat. Wanita itu memejamkan mata. Lukas semakin khawatir dengan kunjungan Dokter yang kini ada di kamar Lana.


“Saya sudah menyuntikkan penawarnya. Nona Lana akan bangun besok pagi,” ucap Dokter itu dengan senyuman.


Emelie dan Shabira mengukir senyuman dengan hati yang cukup lega. Mereka cukup bahagia mendengar kabar baik yang baru saja dikatakan Dokter tersebut. Namun, berbeda dengan Lukas. Ekpresi wajah pria itu seperti tidak percaya.


Jelas-jelas tadi penawarnya telah hilang bahkan Kenzo juga tidak berhasil mendapatkannya. Tapi, kini dengan santainya. Dokter itu bilang kalau penawarnya telah berhasil di suntikkan ke dalam tubuh Lana.


“Lukas, kau terlihat seperti orang bodoh!” ledek Kenzo. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Diikuti Zeroun di sampingnya.


“Dok, tolong urus Lukas. Pastikan Luka yang ada di tubuhnya tidak menimbulkan masalah,” perintah Kenzo sambil menarik tangan Shabira.


“Baik, Tuan.” Dokter itu membungkuk hormat.


“Semua akan baik-baik saja,” ucap Zeroun sambil menepuk pundak Lukas. Pria itu juga membawa Emelie pergi meninggalkan kamar Lana.


Lukas mengukir senyuman bahagia. Pria itu menatap wajah Dokter yang masih berdiri di hadapannya, “Dok, apa Bos Zeroun yang membawa penawarnya?”


Dokter itu tersenyum ramah, “Ya. Bukankah kemampuannya tidak pernah diragukan? Sekarang kemarilah. Saya akan mengobati luka anda. Sepertinya cukup lebar kali ini.”


Dokter itu membimbing Lukas untuk duduk di sofa. Lukas hanya bisa menurut tanpa mau membantah. Setelah mendengar kabar baik dari Lana, baru saja luka yang ada di lengannya terasa sakit dan perih. Lukas menatap wajah Lana sambil duduk di sofa. Pria itu membuka kemeja putih yang sudah di penuhi dengan darah.


Satu persatu kancing kemeja ia buka sebelum meletakkannya agar tergeletak di lantai, “Dok, apa Lana akan sembuh setelah penawar itu bereaksi?” Lukas menatap wajah Dokter yang kini berdiri di sampingnya.


Dokter itu hanya tersenyum manis, “Anda bisa melihat keadaannya besok pagi.”


“Terima kasih, Dok.”


***


Zeroun dan Emelie masuk ke dalam kamar mereka. Wajah sepasang suami istri itu terlihat lelah. Zeroun kembali menutup pintu. Sedangkan Emelie berjalan cepat ke tempat tidur. Ia ingin segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Sayang, apa yang terjadi? Kau kabur saat aku tidur tadi,” protes Emelie sambil memperhatikan Zeroun. Kini pria itu sedang membuka pakaiannya yang terlihat kotor.


“Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu,” jawab Zeroun dengan senyum tipis, “Aku mandi dulu.”


Emelie hanya mengangguk pelan sebelum menjatuhkan lagi kepalanya di atas bantal. Wanita itu kini bisa memejamkan mata dengan tenang karena Zeroun pasti tidak akan kabur lagi dari kamar mereka.


Di saat memejamkan mata, Emelie kembali ingat dengan pesta dari kerajaan Madrid. Wanita itu membuka matanya lalu duduk di atas tempat tidur. Emelie melihat kalender yang ada di atas nakas.


“Pesta itu nanti malam? Hampir saja aku lupa,” ucap Emelie sambil menepuk pelan kepalanya. Putri Kerajaan itu mengambil ponselnya. Ia kembali memastikan kalau undangan itu memang nanti malam. Cukup sulit bagi Emelie karena ia terbiasa diingatkan sedangkan sekarang ia harus mengingat semuanya sendirian.


Zeroun keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar dan pastinya harum. Pria itu hanya mengenakan celana pendek dan memamerkan dada bidangnya. Dahinya mengeryit saat melihat Emelie tidak tidur justru mengotak-ngatik layar hp.


“Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa tidak tidur?” ucap Zeroun dengan suara pelan. Pria itu naik ke atas tempat tidur. Ia duduk lalu memeluk tubuh Emelie dari belakang.


“Nanti malam kita akan ke Madrid untuk menghadiri pesta di sana,” jawab Emelie sambil meletakkan ponselnya. Wanita itu memiringkan kepalanya lalu menatap wajah Zeroun dengan senyuman.


Cup. Satu kecupan di daratkan Zeroun di bibir Emelie. Singkat namun tetap saja manis. Emelie mengukir senyuman dengan wajah merah merona. Wanita itu menunduk karena terlalu bahagia.


“Jangan seperti itu. Kau terlihat semakin menggemaskan dan menggoda jika seperti itu. Bukankah aku belum bisa memilikimu,” bisik Zeroun dengan mesra.


Emelie memejamkan matanya. Ia merasakan geli dan melayang saat merasakan hembusan napas Zeroun malam itu.


Zeroun tertawa kecil melihat wajah istrinya yang semakin lama semakin menggoda, “Emelie ayo kita tidur. Jangan menyiksaku dengan wajah menggemaskanmu itu.”


Emelie mendaratkan satu kecupan di pipi Zeroun, “Aku sangat mencintaimu.”


“Ya. Aku juga sangat mencintaimu.” Zeroun menarik tengkuk Emelie. Pria itu mulai mengecup bibir Emelie. Ia tidak melepas kecupannya hingga waktu yang cukup lama. Bahkan saat meletakkan kepala Emelie di atas bantal, bibir mereka masih menyatu.


Emelie melingkarkan kedua tanganya di leher Zeroun. Wanita itu membalas kecupan Zeroun sebisanya. Walau sejujurnya malam itu Emelie sedikit kesulitan mengimbangi cumbuan Zeroun yang manis dan memabukkan.



“Mimpi yang indah,” ucap Zeroun sambil menatap wajah Emelie dari jarak yang cukup dekat.


Emelie mengangguk pelan, “Selamat pagi. Mimpi yang indah.”


Zeroun tertawa kecil sebelum berbaring di atas tempat tidur. Pria itu menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya sebelum memejamkan mata. Walau singkat, tapi Zeroun ingin beristirahat dengan tenang tanpa gangguan sedikitpun.