
Malam kembali muncul. Bulan terlihat terang menerangi bumi pada malam itu. Cahaya bintang terlihat berkelap-kelip di angkasa. Karena rumah itu berada tidak jauh dari hutan. Jika malam telah tiba, akan terdengar jelas suara binatang penghuni hutan.
Emelie duduk di kursi yang menghadap kolam renang. Sejak terakhir kali bertemu dengan Zeroun, Emelie tidak lagi melihat batang hidung pria itu. Masih tersimpan rasa kesal di dalam hatinya hingga malam itu. Bagaimanapun juga, ia memang sungguh bertekad untuk bisa menggunakan senjata api yang biasa di simpan oleh kekasihnya itu.
Bahkan saat selesai melihat keadaan Lana, Emelie lebih memilih untuk masuk kedalam kamar. Emelie duduk dengan kaki di atas kursi. Secangkir teh hangat terlihat menemaninya. Dres santai berbahan katun bercorak bunga sakura menjadi pilihannya pada saat itu. Rambutnya terikat satu sebagai bentuk protes atas sikap kekasihnya.
Dari kejauhan, Zeroun bersandar di ambang pintu sambil memandang punggung kekasihnya. Pria itu sangat paham dengan suasana hati Emelie yang terlihat tidak bersahabat. Untuk hubungan asmaranya kali ini, Bos mafia itu benar-benar harus banyak bersabar.
Dengan ukiran senyuman, Zeroun berjalan santai mendekati posisi Emelie berada. Pria itu duduk di bangku yang ada di samping kekasihnya. Tanpa kata, ia bersandar dan memandang ke arah depan.
Emelie memandang wajah Zeroun masih dengan wajah kesal. Wanita itu beranjak dari duduknya untuk menghindari kekasihnya.
“Baby ....” celetuk Zeroun sambil menggenggam tangan Emelie. Dengan lembut ia menarik tangan Emelie agar wanita itu kembali duduk di kursinya semula.
“Ada apa?” ucap Emelie tidak suka. Wanita itu duduk dengan posisi menghadap ke depan. Tatapan matanya tidak tertarik untuk memandang wajah sang kekasih.
Zeroun mengelurkan pistol yang ia miliki dan memperlihatkannya di hadapan Emelie, “Aku punya alasan kenapa melarangmu untuk tidak menyentuh senjata ini.”
Memandang wajah Emelie dengan seksama, “Apa kau mau mendengar alasannya?”
Emelie menghempaskan tangan Zeroun dengan kasar, “Jika tidak masuk akal, Aku tetap tidak mau berbicara padamu.”
“Ok, deal!” Zeroun tersenyum penuh percaya diri.
“Pertama. Aku tidak ingin Kau berubah menjadi orang lain,” ucap Zeroun sambil memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol itu.
“Aku tidak akan berubah hanya karena senjata seperti itu,” jawab Emelie masih tidak terima dengan alasan pertama Zeroun.
Zeroun mengangguk pelan, “Kedua. Aku tidak ingin Kau sama sepertiku. Karena hal itu akan membuat hatiku tidak memiliki tantangan lagi untuk bersamamu.”
“Zeroun ... kenapa Kau mengatakan hal seperti itu.” Emelie semakin kesal atas kalimat Zeroun.
“Belum selesai, ada satu lagi.” Zeroun mengokang senjata api itu dengan begitu tenang dan ekspresi dingin. Menodongkan senjata api itu ke arah depan dengan bidik sasaran ke sebuah vas bunga.
“Ketiga. Setiap orang yang pernah menembak, dia juga harus merasakan sakitnya tertembak.” Satu tembakan dilepas oleh Zeroun hingga membuat Emelie terperanjat kaget.
“Nyawa di bayar nyawa. Apa kau siap dengan prinsip itu?” Menatap wajah Emelie dengan ekspresi menantang. Wanita itu mematung sambil memandang vas bunga yang telah pecah. Kalimat terakhir Zeroun membuat Emelie mematung untuk mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar.
“Aku juga akan ditembak?” Menunjuk wajahnya sendiri.
Zeroun mengangguk sebagai jawaban setuju, “Apa kau sudah mengambil keputusan saat ini? Jika tetap ingin menembak, Kau harus siap dengan tiga hal yang tadi Aku sebutkan.” Meletakkan senjata api itu di hadapan Emelie.
“Jika kau benar-benar sudah yakin dan percaya diri. Mari kita mulai latihannya malam ini,” sambung Zeroun lagi.
Emelie menggeleng pelan dengan senyuman kecil, “Aku tiba-tiba tidak ingin belajar menembak lagi, bahkan memegangnya juga sudah tidak ingin lagi.” Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kau terluka. Cukup Aku yang merasakan semua itu.” Melemparkan pita rambut itu ke sembarang arah.
“Maafkan Aku. Aku terlalu egois sejak sore tadi. Satu yang Aku pikirkan saat melihat senjata itu. Aku tidak membuat dirimu merasa khawatir atas keselamatanku. Jika Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku pikir kau akan menjadi jauh lebih tenang.”
Zeroun menggenggam tangan Emelie, “Sayang, Aku memang tidak pernah bisa tenang saat berada jauh darimu. Bisa atau tidaknya kau menembak, Aku tetap mengkhawatirkan keselamatanmu. Karena setiap kali Aku terlibat dalam masalah, semua orang terdekatku juga akan mendapatkan masalah.” Zeroun memasang wajah sedih.
Beberapa menit yang lalu Kenzo memberi kabar kalau kini Shabira dan Serena di serang oleh Heels Devils. Hal itu juga yang membuat pikiran Zeroun hari ini semakin bercabang. Di saat dua wanita yang sangat ia sayangi berada dalam bahaya, pria itu tidak bisa menepati janjinya untuk membantu.
“Zeroun ....” Emelie tersentuh dengan ucapan Zeroun. Wanita itu meletakkan tangan kekasihnya di pipi sebelah kanan.
“Aku akan selalu mendoakanmu agar Kau bisa melewati masalah yang kau miliki dengan kemudahan.”
Zeroun mengukir senyum kecil, “Terima kasih, sayang.” Mengusap lembut pipi Emelie.
“Emelie, Kau sumber kebahagiaanku saat ini. Jadi, jangan pernah memasang wajah sedih seperti tadi lagi.”
“Ok, Bos.” Mengedipkan sebelah matanya dengan senyum meledek.
Zeroun tertawa kecil melihat tingkah lucu Emelie malam itu, “Apa kau sudah makan?”
“Sudah, tadi Aku makan sendiri di dapur.”
“Kau tidak menyisakan makanan untukku Emelie.”
“Itu karena tadi Kau menyebalkan,” sambung Emelie cepat.
Zeroun terus saja menjahili kekasihnya. Bos Mafia itu bisa melupakan kesedihan yang ia miliki saat melihat tawa Emelie. Walau sangat mencintai Emelie, tetapi pria itu masih ragu untuk menceritakan segala kesedihan yang memenuhi pikirannya.
“Sayang, aku sangat ngantuk.” Emelie menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu terlihat lelah dengan mata yang mulai terasa berat.
“Ayo kita tidur,” ucap Zeroun sambil beranjak dari kursinya. Sebisa mungkin pria itu mengukir senyum indah untuk menutupi kesedihan hatinya.
Emelie juga beranjak dari tidurnya. Wanita itu berjalan dengan tenang ke arah tempat tidur. Menjatuhkan tubuhnya di permukaan kasur yang terasa sangat empuk.
“Tidur dan mimpi yang indah,” ucap Zeroun sambil menarik selimut berwarna putih untuk menutupi tubuh Emelie dari rasa dingin. Pria itu mengecup pucuk kepala Emelie sambil mengusap lembut rambutnya.
Emelie merasakan posisi yang cukup nyaman. Sentuhan tangan Zeroun seperti obat tidur yang membuat matanya ingin segera terpejam. Wanita itu tersenyum dengan wajah yang cukup tenang. Napasnya terlihat sangat teratur.
Setelah menunggu beberapa menit, Zeroun memandang arloji yang ada di pergelangan tangannya. Waktunya sudah tiba. Pria itu memperhatikan wajah Emelie yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
“Sayang, Aku pergi dulu. Aku akan segera kembali.” Mengecup bibir Emelie sebelum beranjak dari tempat tidur. Ekspresi Zeroun yang tadi terlihat ceria berubah menjadi ekspresi dingin ciri khasnya. Dengan langkah tenang dan hati-hati bos mafia itu meninggalkan Emelie tidur sendirian di kamar berukuran luas itu.