Moving On

Moving On
Kabar Buruk



“Aku baik-baik saja, Sayang. Hei jangan bersedih.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie dengan jemarinya.


“Apa yang baik-baik saja? Kau membohongiku.” Emelie terlihat bingung saat itu. Darah itu tidak kunjung berhenti. Bahkan jauh lebih deras dari sebelumnya. Lukas yang berpengalaman mengobati luka Zeroun selama ini. Namun, saat ini pria berbahaya itu tidak ada di samping Zeroun.


Zeroun mengukir senyuman lagi. Kepalanya menggeleng pelan saat melihat tetes air mata yang jatuh di pipi kekasihnya. Tidak pernah terpikirkan di dalam hatinya. Kalau ia bisa jatuh cinta dengan wanita seperti Emelie. Jika diingat-ingat lagi. Bahkan awal pertemuannya dengan Emelie, ia sangat tidak suka melihat karakter yang dimiliki wanita itu.


“Peluk aku maka semua akan baik-baik saja.” Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Ia juga tidak tega jika melihat kekasihnya meneteskan air mata hanya karena keadaan yang ia miliki.


“Bagaimana mungkin pelukan bisa menghentikan darah itu,” ucap Emelie sambil memeluk erat tubuh Zeroun. Menyandarkan kepalanya di dada bidang milik kekasihnya.


“Sayang, sebaiknya kau segera bersihkan dirimu. Aku akan mengurus luka ini sendirian.” Zeroun menunduk untuk menatap wajah Emelie.


“Tidak mau. Kita harus panggil dokter untuk mengobati luka itu.”


“Tidak perlu. Aku akan memberi perintah kepada anggotaku untuk mengobatinya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sekarang pergilah ke kamar. Aku akan menyusul jika sudah selesai.”


Emelie tidak lagi mau membantah. Ia beranjak dari sofa dan berjalan pelan menuju ke arah tangga. Tubuhnya memang sudah terasa sangat lengket. Keringat yang sempat berkucur deras kini sudah membaur di gaun yang ia kenakan saat itu. Emelie ingin berendam di dalam bak mandi dengan aroma terapi yang menenangkan.


Di lantai bawah, Zeroun memandang punggung Emelie sebelum memanggil pasukan Gold Dragon yang sejak tadi berdiri secara diam-diam. Dua pria berbadan kekar itu berdiri di depan Zeroun sebelum mengambil tugas masing-masing. Ada yang membersihkan darah. Ada juga yang bersiap untuk menutup luka.


“Apa mereka sudah mulai menyerang?” tanya Zeroun tanpa memandang.


“Sudah, Bos. Mereka sudah berhasil masuk ke dalam kasino. Helikopter juga sudah bersiap untuk membawa mereka pergi saat ledakan itu terjadi.” Salah satu bawahan Zeroun menjelaskan segala info yang baru saja ia dapatkan.


Zeroun kembali mengukir senyuman indah. Tidak pernah bawahannya itu gagal dalam misi yang ia perintahkan. Kasino ini akan ia jadikan kejutan untuk Damian.


“Bos, wanita itu benar-benar telah tewas. Kami mengikutinya sampai ia di bawa ke rumah sakit.” Pria berbadan tegab itu memandang wajah rekannya. Ada satu pertanyaan yang sejak awal ingin mereka tanyakan.


“Bos, kenapa anda tidak membunuh pria itu. Bukankah anda memiliki banyak kesempatan untuk membunuhnya tadi?”


“Aku tidak ingin Damian secepat itu pergi dari dunia ini. Aku ingin melihatnya menderita atas kejadian yang kini ia alami. Penderitaan yang akan ia hadapi juga jauh lebih menyakitkan daripada sebuah kematian.” Zeroun beranjak dari duduknya saat melihat lukanya sudah tertutup sempurna, “Siapkan makan malam.”


“Baik, Bos,” jawab keduanya secara bersamaan.


Zeroun berjalan menuju ke arah tangga. Pria itu juga ingin segera membersihkan dirinya. Baru beberapa meter ia berjalan menaiki anak tangga. Ponsel yang ada di saku celananya berdering. Ada nama Inspektur Tao di layar ponselnya saat itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasakan satu firasat buruk saat itu.


“Hallo, ada apa Inspektur Tao? Apa semua baik-baik saja?” Zeroun melanjutkan langkah kakinya dengan ponsel yang masih melekat di telinga.


[Zeroun. Kami sudah di bandara. Lukas dan Lana belum juga muncul. Jika lima menit lagi mereka tidak muncul apa yang harus kami lakukan? Apa kami harus pergi ke kota Rio dan meninggalkan mereka di sini?] Terdengar jelas kepanikan yang kini di rasakan oleh Inspektur Tao.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Zeroun dengan wajah mulai panik.


Monako


Inspektur Tao menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Perbedaan waktu antar kota Rio dan kota Monako sekitar lima jam. Hati Inspektur Tao masih berat untuk meninggalkan kota Monako tanpa ada Lukas dan Lana. Di dalam hatinya yang paling dalam masih tersimpan harapan besar kalau Lana dan Lukas akan kembali dengan selamat.


“Kak, ayo sudah waktunya,” ucap Agen Mia dari arah belakang.


“Semua sudah di perkirakan dengan hitungan yang cukup tepat. Apa yang menyebabkan mereka tidak berhasil melompat tepat waktu?” ucap Inspektur yang masih terus-terusan berpikir keras.


“Kak, jika kita tidak segera pergi bukan hanya kita dua yang tertangkap. Bisa jadi pesawat milik Zeroun ini juga di ledakkan oleh Pangeran sial*an itu.”


Inspektur Tao menatap wajah Agen Mia dengan seksama. Memang semua yang ia ucapkan benar. Jika waktu penerbangan ini sampai tertunda maka akan ada harapan untuk piha Damian menangkap semua orang yang berhubungan dengan nama Gold Dragon. Dengan langkah berat dan wajah penuh kesedihan, Inspektur Tao masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat, pria itu melihat seorang pramugari yang menangis senggugukan. Ada beberapa pramugari juga yang kini melingkari wanita itu.


“Apa yang terjadi?” tanya Inspektur Tao penasaran.


“Lana adalah adik Alika. Melihat Lana tidak kembali bersama dengan Tuan, membuat Alika menjadi sedih,” jawab salah satu pramugari yang berstatus rekan Alika dan Lana.


“Lana?” Inspektur Tao kembali mengingat wajah wanita berambut pendek yang selalu berada di samping Lukas, “Aku yakin mereka akan baik-baik saja. Ada Lukas yang pasti akan menjaga Lana.”


Alika mendongakkan kepalanya dengan bibir tersenyum tipis, “Terima kasih, Tuan. Saya juga yakin kalau Bos Lukas bisa melindungi Lana. Saya tidak siap untuk kehilangan Lana secepat ini.”


“Maafkan aku karena tidak bisa menolong mereka tadi.” Inspektur Tao menunduk dengan wajah sedih.


“Anda pria yang baik, Tuan. Bos Zeroun memang tidak pernah salah saat memiliki orang.” Alika membungkukkan tubuhnya.


“Silahkan kembali pada kursi anda, Tuan. Pesawat kita akan segera lepas landas.”


Inspektur Tao mengangguk pelan tanpa mau mengeluarkan kata lagi. Hatinya juga sangat senang bisa mengenal Zeroun Zein di dalam hidupnya. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di dalam pesawat. Tidak jauh dari posisi Agen Mia duduk.


“Zeroun Zein. Pria yang cukup berbahaya dengan sejuta rahasia. Tetapi semua orang bisa menghormatinya hingga seperti ini. Seharusnya pria sepertinya sangat jarang menggunakan hati. Dia memang pria yang cukup sempurna.” Inspektur Tao mengukir senyuman sebelum membuang tatapannya ke luar jendela.


Jangan lupa Votenya ya Readers..😘