Moving On

Moving On
Harapan Lukas



Setelah berada di dalam mobil beberapa puluh menit, kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Semua orang duduk dengan posisi nyaman masing-masing. Lukas duduk di kursi yang sedikit ke belakang dari Zeroun dan Kenzo. Ia terus menatap pramugari yang berlalu lalang untuk mencari keberadaan kekasihnya.


“Dimana dia?” ucap Lukas dengan suara pelan.


Pesawat terbang dengan begitu sempurna. Semua orang kembali melepas sabuk pengaman. Sama halnya dengan Lukas. Lelaki itu juga melepas sabuk pengamannya sebelum memandang lagi keadaan sekitar.


Beberapa pramugari muncul dan membawa minuman dan makanan ringan. Ada Alika juga di antara pramugari itu. Lukas semakin frustasi karena tidak bisa menemukan Lana di dalam pesawat.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari kursi yang ia duduki. Lelaki itu berjalan menuju ke arah dapur, “Apa dia sedang sibuk di dapur?” gumamnya di dalam hati.


Lukas berdiri di dapur dengan satu gelas di tangannya. Lelaki tangguh itu memang sedang mencari Lana. Hanya saja, ia tidak berani bertanya langsung pada Pramugari yang berlalu lalang. Hingga akhirnya Lukas pura-pura mengambil air putih agar bisa menemukan wanitanya di dapur. Namun, harapannya terlihat mengecewakan saat di dapur ia juga tidak bisa menemukan Lana.


“Kau mencariku?” celetuk Lana secara tiba-tiba. Wanita itu mengukir senyuman sebelum berjalan mendekati posisi Lukas berada, “Kenapa kau membuatku mabuk? Apa kau memiliki niat jahat kepadaku semalam?” Kedua bola mata Lana menatap wajah Lukas dengan tatapan menuduh.


“Aku tidak membuatmu mabuk. Kau mabuk sendiri.” Lukas meneguk air putih yang ada di genggaman tangannya.


“Lukas, apa kalian akan pergi bertarung lagi?” Lana duduk di atas meja dapur dengan wajah yang sudah berubah sedih. Wanita itu baru saja mendapat kabar kalau Lukas akan melakukan misi penyelamatan Agen Mia dan Inspektur Tao di Inggris.


“Hmm,” gumam Lukas tanpa mau menjawab.


“Kapan kita bisa bertemu lagi?” Lana menatap wajah Lukas dengan mata berkaca-kaca.


“Kau boleh ikut jika kau ingin ikut. Aku tidak ingin memaksamu. Bukankah kau ingin hidup bebas tanpa perkelahian?” Lukas meletakkan gelas yang sudah kosong tepat di samping Lana. Wajahnya mendekati wajah Lana dengan tatapan yang cukup tajam, “Semua keputusan ada di tanganmu. Berpikirlah sebelum mengatakan keputusan akhir yang akan kau ambil.”


Lukas menjauh dari tubuh Lana. Lelaki itu berniat untuk kembali pada kursi yang ia duduki. Langkahnya terhenti saat tangan Lana memegang lengannya. Dengan cepat wanita itu menarik tangan kekasihnya dan mencium bibir Lukas dengan begitu lembut. Matanya terpejam. Tangan yang sempat menarik tangan Lukas juga sudah berpindah di belakang kepala lelaki itu.


Lukas mengukir senyuman sebelum menarik pinggang Lana. Lelaki itu juga membalas ciuman mesra yang di berikan Lana saat itu. Satu ciuman hangat dan mesra yang membuatnya semakin cinta kepada Lana.


“Aku sangat mencintaimu, Lukas.” Lana melekatkan dahinya di dahi Lukas. Hembusan napasnya terlihat terputus-putus karena terlalu lama berciuman dengan Lukas saat itu.


“Aku juga mencintaimu, Lana. Aku harus kembali. Sebaiknya kau beristirahat.” Lukas mendaratkan satu kecupan di dahi Lana sebelum pergi meninggalkan wanita itu.


Sedangkan Lana masih duduk di meja dapur dengan wajah bingung atas pertanyaan Lukas beberapa saat yang lalu, “Aku tidak tahu, harus ikut denganmu lagi atau tidak.”


Semua awak kapal berbaris rapi di depan pintu keluar. Mereka menunduk untuk menghormati Zeroun yang akan keluar dari pesawat. Ada Alika dan Lana juga di dalam barisan itu. Dua wanita itu berdiri dengan bibir tersenyum.


Zeroun membiarkan lengannya di rangkul oleh Emelie. Sepasang kekasih itu berjalan dengan bibir tersenyum bahagia saat menuruni tangga. Di belakang Zeroun ada Kenzo dan Shabira yang juga terlihat tidak kalah mesra dari sepasang kekasih yang ada di depannya.


Lukas memperhatikan wajah Lana yang masih menunduk dengan seksama. Lelaki itu membuang tatapannya ke arah depan. Kakinya mulai menuruni anak tangga dan berjalan ke bawah. Langkahnya terhenti di tengah tangga. Lukas memutar tubuhnya lalu memandang wajah Lana yang sudah mengangkat tubuhnya dan menatap punggung lelaki berbahaya itu.


“Apa kau mau ikut denganku?” ucap Lukas sambil mengulurkan tangannya. Cukup berat bagi Lukas untuk mengatakan isi hati yang sebenarnya ia rasakan. Lelaki itu butuh Lana. Ia tidak ingin berada jauh dari Lana. Bahkan hatinya tidak rela jika harus memiliki jarak dengan Lana.


Lana memandang wajah Lukas dengan seksama. Hati wanita itu kini di penuhi dengan keraguan. Ia juga tidak mau berpisah dari Lukas namun ia juga tidak mau membahayakan pria itu dalam misinya.


“Aku tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya,” ancam Lukas dengan ekspresi dingin favoritnya.


Lana berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Tangannya meraih tangan Lukas lalu menggenggamnya dengan begitu erat, “Aku ingin ikut denganmu. Apapun yang kau lakukan, aku harus ada di sampingmu,” ucap Lana dengan senyuman manis.


Lukas mengukir senyuman kecil sebelum melanjutkan langkah kakinya. Hatinya cukup bahagia karena wanita yang ia cintai akhirnya mengikutinya untuk melakukan aksi selanjutnya.


Di atas pesawat, Alika mengukir senyuman indah dengan hembusan napas yang cukup lega. Wanita itu cukup percaya, kalau Lukas akan menjaga adiknya dengan baik. Tidak akan ada yang berani mencelakai Lana saat Lukas ada di sampingnya.


Zeroun menghentikan langkah kakinya. Lelaki itu memutar tubuhnya dengan gerakan cepat. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat Lukas menggandeng tangan Lana.


“Sayang, ada apa?” ucap Emelie dengan wajah bingung.


“Tidak ada. Aku rasa semua orang telah menemukan wanita yang ia cintai,” jawab Zeroun sebelum melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah bandara.


.


.


.


Mohon maaf. dikarenakan author jatuh sakit. asam lambung kumat. jadi akan up 1 bab ataupun GK update. tapi di usahakan up walau satu bab. setelah kembali pulih akan up normal dan kita crazy up lagi. terima kasih.🙏