
Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia melihat keberadaan pasukan Gold Dragon melalui kaca spion. Bibirnya mengukir senyuman tipis sebelum menambah laju mobilnya.
Zeroun mengalihkan pandangannya ke arah istri tercintanya. Wanita itu terlihat sangat nyaman duduk di samping Zeroun. Posisinya membelakangi Zeroun karena memang sejak tadi ia menghadap ke jendela.
Emelie mengukir senyuman indah sambil memandang keluar jendela. Rambutnya berterbangan mengikuti arah angin. Sesekali menutupi wajah hingga Emelie sendiri harus menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga. Tidak tahu bagaimana bentuk perkelahian suaminya selama ini. Di balik senyum indah itu masih tersimpan rasa khawatir yang begitu besar.
“Emelie, apa kau mau jalan-jalan?” ucap Zeroun.
Emelie mengalihkan pandangannya. Wanita itu menatap wajah suaminya dengan penuh tanya, “Aku takut.”
“Apa yang kau takuti? Selama aku ada di sampingmu, tidak akan ada satu orangpun yang berani melukaimu,” ucap Zeroun penuh keyakinan.
“Bukan aku. Tapi, aku takut kau terluka saat melindungiku nanti.” Emelie menunduk sambil memegang pistol yang di berikan Zeroun. Secara teori ia sudah cukup paham bahagimana cara menghindar dan mengincar musuh. Tapi, untuk hal praktek ia masih ragu. Emelie takut, tembakan itu tidak tepat sasaran hingga akhirnya mencelakai dirinya sendiri.
Zeroun menghentikan mobilnya di pinggiran gedung yang cukup padat. Jarak antara rumah satu dengan yang lainnya hanya di batasi gang sempit yang bisa dilalui orang saja.
“Untuk apa kita ke sini?” tanya Emelie sambil mengeryitkan dahi.
Zeroun memperhatikan lokasi yang terlihat sangat sunyi. Selama ini mereka berada di dalam hotel mewah yang cukup nyaman. Tapi, mulai malam ini mereka harus tinggal di markas baru Gold Dragon.
Setelah melihat mobil Zeroun tiba. Beberapa pasukan Gold Dragon muncul untuk menyambut Zeroun dan Emelie.
“Mulai sekarang kita akan tinggal di rumah ini,” ucap Zeroun sambil memandang rumah bercat putih yang hanya memiliki satu lantai.
Emelie mengangguk pelan sebelum mengukir senyuman. Jalanan berbatu yang terlihat memang sangat indah. Rumah yang mereka tempati tidak terlalu menyeramkan. Tidak sama dengan apa yang memenuhi isi kepala Emelie sebelumnya.
Markas yang mereka tempati masih layak di bilang sebuah rumah mewah. Tidak ada coretan warna-warni di dinding. Tidak ada debu bahkan semua barang yang ada di halaman depan masih terlihat tertata rapi.
“Kita bisa masuk melalui pintu yang ada di sana,” ucap Zeroun sambil menunjuk rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya dan Emelie, “Pasukan Gold Dragon tinggal di beberapa pintu yang mengelilingi rumah ini.”
“Kita memiliki banyak rumah?” ucap Emelie bingung.
“Ya. Aku tidak ingin mereka sering-sering melihat wajahmu. Wajahmu hanya milikku. Hanya aku yang boleh menikmatinya setiap saat,” ucap Zeroun sambil mengusap lembut pipi Emelie.
Emelie mengukir senyuman bahagia. Wanita itu menunduk malu dengan bibir terkunci. Ia sendiri tidak tahu, harus berkata apa lagi.
Zeroun membawa Emelie keluar dari dalam mobil. Mereka berdiri di depan mobil sebelum berjalan masuk ke dalam rumah. Beberapa pasukan Gold Dragon yang berdiri terlihat menundukkan kepala karena tidak ada yang berani memandang wajah Emelie. Sudah seperti itu aturannya. Zeroun akan murkah jika wanita miliknya di pandang bawahannya sendiri.
***
Waktu terus berlalu hingga tidak terasa bulan kembali muncul. Malam itu langit terlihat mendung hingga bintang tidak ada yang terlihat. Hembusan angin terasa sangat dingin.
Lana duduk di sofa sambil memainkan sebuah pulpen. Entah dari mana ia dapat pulpen dan kertas tersebut. Tiba-tiba saja ia ingin mencoret sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya. Di hadapan Lana, ada Morgan yang terlihat sibuk dengan bom rakitannya. Pria itu juga merakit beberapa senjata api.
Morgan tampak serius hingga tidak terlalu memperhatikan Lana. Baginya, Lana ada di depan matanya sudah lebih dari cukup. Morgan sudah mempersiapkan rencana untuk membunuh Lukas. Pria itu sudah cukup paham, kalau dalam waktu dekat pria tangguh itu akan muncul untuk membunuhnya dan menyelamatkan Lana.
“Apa kau tidak ingin memberiku satu senjata rakitanmu itu?” ucap Lana sambil menggambar sebuah pistol di kertas yang ada di hadapannya.
Morgan melirik sinis sebelum melanjutkan rakitannya. Ia terlihat sangat sabar dan teliti. Setiap detail bahan peledak yang ada di dalam bom ukuran kecil itu tersusun rapi dan sempurna.
Lana beranjak dari kursi yang ia duduki sambil melemparkan gambar yang ada di kertas ke atas meja. Hari sudah malam dan sunyi. Lana ingin istirahat. Percuma saja ia duduk di situ untuk menunggu. Sejak tadi, tidak ada tanda-tanda kemunculan kekasih yang ia nantikan.
Lana menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas. Sekali lagi ia memperhatikan pasukan milik Morgan yang berjaga dengan begitu siaga, “Bagaimana caranya aku kabur dari sini.”
Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang cukup memekakan telinga. Semua orang terlihat waspada, termasuk Morgan. Lana menghentikan langkah kakinya. Wanita itu cukup penasaran dengan tamu yang datang berkunjung ke dalam markas Morgan. Kedua tangannya ia lipat di depan dada dengan tubuh bersandar di pegangan tangga.
Betapa bahagianya Lana saat melihat sosok yang membuat kekacauan itu adalah Lukas. Morgan memerintah pasukan miliknya untuk membereskan bom dan senjata api rakitannya. Dua orang pria membawa benda-benda itu menuju ke lantai atas.
Lana memperhatikan benda- benda yang di bawa sebelum memandang wajah Lukas lagi, “Lukas, akhirnya kau datang. Aku sudah terlalu lama menunggumu. Aku tahu, kau pasti akan baik-baik saja.”
Lana mengukir senyuman bahagia. Wanita itu berlari kencang untuk memeluk pria yang sangat ia rindukan. Tidak peduli dengan suara tembakan yang kini memenuhi ruangan tersebut. Lana terus saja berlari.
Morgan menatap tajam ke arah Lana. Pria itu juga berlari agar Lana tidak berhasil mendekati Lukas. Beberapa pasukan milik Morgan juga terus-terusan muncul seperti tidak ada habisnya untuk menghajar Lukas.
“Lana!” teriak Morgan. Morgan mengeluarkan senjata apinya lalu mengarahkannya ke arah Lukas. Pria itu ingin segera membunuh Lukas agar tidak ada lagi musuh yang merebut kekasihnya.
Tapi, sebelum Morgan menarik pelatuknya. Lana berdiri di tengah-tengah untuk menghalangi. Wanita itu menatap wajah Morgan dengan tatapan yang cukup tajam.
“Menyingkirlah. Jika kau berdiri untuk melindunginya, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu, Lana.” Morgan terlihat sangat kesal. Rencana yang sudah sangat matang untuk menyambut Lukas juga harus gagal. Seharusnya, detik ini Lukas kalah dalam pertempuran. Hingga membuatnya sangat mudah menyiksa Lukas tepat di hadapan Lana.
“Coba saja kalau kau bisa,” ledek Lana dengan senyuman tipis. Wanita itu mulai membantu Lukas menghajar satu persatu pasukan Morgan.