Moving On

Moving On
S2 Bab 90



Beberapa hari kemudian, Hongkong.


Lana duduk di atas pangkuan Lukas. Wanita itu menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Posisi itu cukup nyaman. Kedua tangan milik Lukas yang kini melingkari perutnya, membuatnya merasa di sayang.


“Lana, kita akan menikah di kota ini. Setelah menikah kita akan tinggal di rumah ini. Bos Zeroun menyerahkan rumah ini untuk kita,” bisik Lukas dengan bibir tersenyum. Sejak berpacaran dengan Lana, Lukas tidak lagi kesulitan untuk tersenyum.


Lana membuka matanya yang sejak tadi terpejam. Wanita itu ingat akan satu hal. Ia ingin menyampaikan informasi penting itu kepada Lukas. Ia tidak ingin pernikahannya dengan Lukas mendapat masalah hanya karena sebuah kebohongan yang ia tutup-tutupi selama beberapa hari ini.


“Lukas, ada hal penting yang ingin aku katakan,” ucap Lana penuh keraguan.


Lukas mengeryitkan dahi. Pria itu penasaran dengan kalimat gantung yang diucapkan Lana. Ia mempererat pelukannya. Lalu meletakkan dagunya di atas pundak wanitanya.


“Apa yang ingin kau katakan? Katakan saja. Aku akan mendengarkannya,” sambung Lukas.


“Aku...Aku hamil,” ucap Lana sambil memejamkan mata. Ia cukup ragu awalnya. Sudah beberapa hari Lana merasa aneh dengan tubuhnya. Hingga beberapa hari yang lalu wanita itu memberanikan diri untuk memeriksa dirinya ke Dokter. Tidak di sangka, dirinya positif hamil.


Hatinya tidak terlalu takut dengan kehamilannya. Ia tahu, bagaimana dengan sifat Lukas. Kekasihnya pria yang baik dan pasti akan bertanggung jawab atas apa yang kini ia alami.


“Benarkah?” ucap Lukas dengan wajah tidak percaya. Bahkan ia baru saja menyiapkan dirinya untuk menjadi sosok suami. Tapi, detik ini ia mendapat kabar dan harus mempersiapkan dirinya menjadi sosok ayah. Pria tangguh itu tidak tahu harus bagaimana.


Lana memiringkan wajahnya untuk menatap wajah Lukas, “Benarkah? Kau tidak yakin dengan perkataanku?” Lana mulai emosi. Sepertinya, bawaan bayi itu sudah membuatnya menjadi jauh lebih berani saat ini.


Lukas melepas pelukannya. Pria itu bersandar dengan posisi menjauhi tubuh Lana, “Bukan seperti itu. Hanya saja-”


“Hanya saja? Kau mengecewakanku. Apa kau lupa ini anakmu. Kau pria terakhirku. Aku cukup yakin, kau melakukannya berulang kali malam itu hingga jadi seperti ini,” ucap Lana dengan wajah menahan amarah. Wanita itu beranjak dari pangkuan Lukas dan berjalan pergi menjauh dari Lukas.


“Bukan begitu, Lana,” teriak Lukas sambil berusaha meraih tangan Lana. Namun, usahanya sia-sia. Lana menghempaskan tangan Lukas. Wanita itu terlihat sangat marah dan kecewa melihat reaksi Lukas pagi itu. Ia lebih memilih pergi ke kamar daripada harus berdebat dengan Lukas.


Lukas menghela napas, “Kenapa dia jadi sensitif seperti itu. Aku hanya ingin bilang, apa yang harus aku lakukan jika dia hamil.” Pria itu beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah kamar Lana untuk membujuk wanita yang ia cintai.


Lukas bukan tidak mau bertanggung jawab. Tentu saja ia sangat bahagia. Belum menikah ia sudah tahu, kalau ada calon anak di dalam rahim wanitanya. Hanya saja, Lukas pria dingin yang tidak mengerti banyak soal wanita. Lalu, pagi ini ia harus mendapat kabar kalau wanita yang ia cintai hamil. Lukas tidak tahu apa-apa tentang wanita apa lagi wanita hamil.


Lukas membuka pintu kamar Lana. Pria itu masuk ke dalam kamar sambil menatap wajah Lana. Kini wanita itu duduk di atas tempat tidur dengan wajah kesal. Ada bantal di atas pangkuannya. Setelah melihat kedatangan Lukas, wanita itu memalingkan wajahnya.


“Untuk apa kau ke sini? Pergi sana!” teriak Lana.


Lukas tidak memasang ekspresi apapun. Pria itu terus saja berjalan untuk mendekati Lana. Ia menarik kursi kecil dan duduk di samping tempat tidur Lana.


“Kau marah padaku?” ucap Lukas dengan penuh kesabaran.


“Kau menyebalkan. Kau terlihat sangat tidak suka dengan anak ini. Jika kau tidak suka aku tidak mau menikah denganmu,” ucap Lana masih dengan wajah yang kesal.


“Darimana kau tahu kalau aku tidak suka?” Lukas mengeryitkan dahinya.


Lana menatap wajah Lukas dengan seksama. Sekilas, ia juga tidak tahu. Dari segi mana kalimat Lukas yang menunjukkan tanda tidak suka. Pria itu awalnya memang hanya bertanya untuk kembali memastikan.


Lana menunduk dengan bibir membisu, “Apa maksudnya? Kenapa suasana hatiku jadi buruk seperti ini,” gumam Lana di dalam hati.


Lukas tertawa kecil. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Ia berdiri dan menarik tangan Lana agar wanita itu berdiri di hadapannya. Lana menjadi penurut. Wanita itu mengikuti perintah Lukas dan berdiri di hadapan pria itu.


Lukas menyelipkan rambut Lana di belakang telinga. Pria itu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala wanitanya, “Aku cukup bahagia mendengarnya. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Mungkin pernikahan kita bisa dilakukan secepatnya. Sebelum kehamilanmu membesar. Mungkin hari ini?”


Lana tercengang. Wanita itu masih tidak yakin dengan kalimat yang baru saja ia dengar. Rencana pernikahan mereka satu minggu yang akan datang. Namun, detik ini Lukas justru mengajaknya menikah hari ini juga.


“Apa kau yakin?” ucap Lana dengan wajah serius.


Lukas mengangguk dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “Ya. kita akan menikah hari ini. Setelah pernikahan itu, maka kita sudah memiliki status yang sah. Anak ini juga sudah memiliki ayah.” Lukas melirik ke bagian perut Lana. Pria itu masih canggung untuk memegang perut Lana.


“Bagaimana dengan pestanya,” rengek Lana dengan wajah memelas.


Lukas tertawa kecil, “Tentu saja tidak jadi. Uangnya bisa kita tabung untuk biaya persalinan nanti,” jawab Lukas asal saja.


Lukas tertawa lagi, “Pesta kita tetap berlangsung. Seluruh biaya pesta kita di bayar oleh Nona Emelie. Bahkan Nona Emelie sudah menyiapkan paket bulan madu untuk kita.”


Lana mengukir senyuman bahagia, “Bulan madu mewah?”


Lukas menarik tubuh Lana ke dalam pelukannya, “Bukankah kau sudah hamil. Lalu, untuk apa lagi bulan madu?” ledek Lukas dengan suara kecil.


“Lukas,” rengek Lana lagi sebagai dengan wajah tidak terima.


Lukas tertawa kecil, “Ya. Apapun itu, akan aku kabulkan untukmu. Selama kau bahagia, aku juga akan bahagia.”


Lana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lukas. Wanita itu merasa sangat beruntung karena memiliki Lukas di sampingnya, “Aku mencintaimu, Lovely.”


“Aku juga mencintaimu, Lovely,” jawab Lukas sambil mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala Lana.


Suasana kamar itu berubah hening seketika. Lukas dan Lana terlalu asyik menikmati pelukan hangat mereka. Mata sepasang kekasih itu saling terpejam.


“Lana, berapa usia kandunganmu?” Lukas menunduk untuk menatap wajah Lana.


“Sekitar empat minggu,” jawab Lana dengan suara yang pelan, “Masih sangat kecil.”


Lukas menaikan alisnya, “Kenapa Dokter tidak mengatakan apapun saat di rumah sakit?” ucap Lukas penuh curiga.


“Aku juga tidak tahu kenapa,” sambung Lana dengan wajah bingung. Benar kata Lukas, seharusnya saat Lana dan Morgan masuk ke rumah sakit, janin itu telah ada. Tapi, Dokter itu tidak mengatakan apapun kepadanya kalau saat itu ia hamil.


“Apa bisa seperti itu?”


“Mungkin masih terlalu kecil hingga tidak kelihatan,” jawab Lana asal saja.


Lukas tertawa juga saat mendengar kalimat yang diucapkan Lana, “Mungkin.” Lukas menarik lagi tubuh Lana ke dalam pelukannya. Kali ini pria itu mencium rambut Lana dengan penuh perasaan. Hatinya bahagia. Ia akan segera memiliki istri dan anak. Pernikahan luar biasa dengan bonus di depan mata.


“Apa kau benar-benar miskin?” ucap Lana pelan. Ia cukup penasaran dengan harta kekayaan pria yang akan ia nikahi.


“Aku bukan pria kaya yang memiliki segalanya. Tapi, aku memiliki cukup uang untuk membahagiakanmu.” Lukas mengusap lembut punggung Lana.


“Kau selalu memberikanku barang-barang mewah. Tapi, kenapa saat di awal kau selalu mengancamku dengan merampok Bank?” Lana mengangkat wajahnya. Ia menatap kekasihnya dengan tatapan penuh selidik.


“Ya. Itu karena aku tahu, kalau kau tahu uangku banyak. Nanti kau akan minta yang aneh-aneh. Itu akan membuatku pusing,” jawab Lukas dengan alis saling bertaut.


“Kau memang pria yang pelit.”


Lukas menaikan satu alisnya, “Terus saja katakan aku pelit.”


“Kau memang pria pelit, Lukas,” sambung Lana dengan wajah menahan tawa.


Melihat ekspresi wajah Lukas yang sudah mulai berubah, membuat Lana segera memeluk pria itu. Ia membenamkan kepalanya di dalam dekapan kekasihnya, “Kau memiliki kekayaan yang sama dengan Bos Zeroun. Apa kau pikir aku tidak tahu?” gumam Lana di dalam hati.


Lana tidak pernah mengetahui bahkan tidak peduli dengan harta milik Lukas. Wanita itu hanya fokus pada hati dan persaannya yang telah berlabu kepada Lukas. Ia cukup bahagia, saat Lukas tidak selalu memamerkan kekayaan yang ia miliki. Bahkan tidak jarang pria itu merendah. Sekilas sifat Lukas memang sama dengan Zeroun.


Lana merasa sangat beruntung bisa diperkenalkan dengan pria baik dan setia seperti Lukas. Hal yang membuatnya semakin bahagia karena dirinya adalah wanita yang menjadi cinta pertama bagi Lukas. Lana merasa tersanjung bahkan sulit mengungkapkan kebahagiannya dengan kata-kata.


"Jadi kapan kita menikah? Apa jadi hari ini?" tanya Lukas lagi.


"Candaanmu tidak lucu. Kau pikir menikah sama seperti membuat baby. Kapan kau ingin langsung jadi," umpat Lana kesal.


Lukas mengeryitkan dahinya, "Hmm, baiklah. Kembali ke rencana awal. Kita menikah satu Minggu lagi." Lukas mengecup pucuk kepala Lana berulang kali sebelum memeluk wanitanya.


“Harta sangat mudah aku dapatkan. Tapi, wanita sepertimu hanya ada satu di dunia. Sejak jatuh cinta denganmu, kaulah satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah aku miliki.” _Lukas.