
Delapan bulan telah berlalu, kehamilan Emelie sudah memasuki usai sembilan bulan. Tidak lama lagi seorang Pangeran kecil akan lahir dan melengkapi kebahagiaan Zeroun dan Emelie. Berbeda dengan Lana dan Lukas. Zeroun dan Emelie memilih untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Sesuai dengan impian Zeroun selama ini. Ia akan mendapatkan anak pertama laki-laki.
Sepasang suami istri itu bahagia. Sangat-sangat bahagia. Lahirnya sang Pangeran telah di nanti-nanti oleh seluruh penghuni istana. Tidak terkecuali Zeroun. Selama Emelie hamil, ia menjadi pria yang banyak berubah. Jauh lebih sabar dan perhatian. Ia juga sudah menjadi suami siaga untuk Emelie.
Kapanpun Emelie butuh, pria itu selalu hadir di hadapan istrinya. Sebisa mungkin ia juga menghindari masalah agar terhindar dari perkelahian. Zeroun menjauh dari dunia gelap yang penah ia jalani. Kini hidupnya memiliki banyak cahaya terang yang membuat perjalanan hidupnya jauh lebih berarti.
Siang ini, Zeroun dan Emelie berdiri di depan gedung Istana. Mereka akan menyambut tamu spesial mereka. Bibir Emelie tersenyum dengan indah. Ia sudah tidak sabar untuk memeluk wanita yang memiliki perut buncit yang sama dengannya.
“Mereka lama sekali,” ucap Emelie sambil memandang ke arah jalanan.
Zeroun merangkul pinggang Emelie, “Sabar, Sayang.”
Tidak menunggu waktu yang terlalu lama. Mobil sedan berwarna hitam telah berhenti di hadapan Emelie dan Zeroun. Beberapa pengawal membuka sisi kanan dan kiri pintu mobil. Dari dalam mobil tersebut keluar Lana dan Lukas dengan senyuman yang cukup indah.
“Lana,” ucap Emelie kegirangan.
“Nona Emelie,” ucap Lana yang tidak kalah girang dari Emelie. Wanita itu berjalan dengan hati-hati untuk menaiki anak tangga. Di sampingnya ada Lukas yang dengan siaga menjaga dirinya agar tetap aman dan baik-baik saja.
Emelie memeluk tubuh Lana. Namun, cukup sulit. Perut mereka yang sudah sama-sama besar tidak bisa di ajak kerja sama. Dua wanita itu hanya tertawa riang sebelum berpegangan tangan.
“Aku senang melihat kau mau datang, Lana. Awalnya aku tidak yakin, Mengingat usia kandunganmu juga sudah pada bulannya,” ucap Emelie sambil memperhatikan perut Lana.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya akan menemani anda hari ini sampai Pangeran kecil yang ada di dalam perut anda lahir,” ucap Lana sambil mengusap lembut perut Emelie.
“Sayang, sudah waktunya,” ucap Zeroun sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hari ini adalah jadwal operasi untuk Emelie. Sejak awal pemeriksaan, Emelie memiliki masalah hingga tidak bisa melahirkan Normal. Wanita itu memiliki kesempatan untuk memilih tanggal lahir putranya karena operasi. Berbeda dengan Lana yang diprediksi bisa lahir Normal. Wanita itu tidak tahu, kapan anak yang ada di dalam perutnya akan keluar.
Emelie berjalan mendekati Zeroun. Wanita itu memandang beberapa pelayan dan pengawal yang sudah siap mendampinginya. Sejak hamil, memang Emelie tidak lagi bisa berduaan dengan Zeroun kecuali di dalam kamar. Ada banyak pengawal dan pelayan yang dikirimkan Paman Arnold untuk melindunginya.
“Lana, ayo kita berangkat ke rumah sakit,” ucap Emelie sambil memandang wajah Lana dan Lukas secara bergantian.
Lana mengukir senyuman sebelum melangkah menuju mobil. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Wanita itu merasakan hal yang aneh dengan bagian bawah tubuhnya. Ada cairan bening yang terasa hangat membasahi kaki jenjangnya.
“Apa ini?” ucap Lana dengan wajah panik.
Lukas terlihat syok saat melihat cairan itu keluar dan membasahi kaki istrinya, “Lana, apa yang terjadi?”
Lana merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Wanita itu memejamkan mata untuk menahan rasa sakitnya yang saat itu ia rasakan, “Oh my god,” ucap Lana pelan.
“Lana akan segera melahirkan,” celetuk Emelie. Wanita itu juga tidak kalah panik dari Lukas, “Cepat, bawa Lana ke dalam mobil. Kita akan membawanya ke rumah sakit.”
Lukas mengangguk. Pria itu membawa Lana masuk ke dalam mobil. Supir mobil juga segera melajukan mobil agar tiba di rumah sakit. Emelie dan Zeroun juga masuk ke dalam mobil. Sepasang suami istri itu tidak ingin melewatkan momen indah saat anak pertama Lukas dan Lana lahir.
***
Rumah Sakit, beberapa menit kemudian.
Lana sudah ada di atas brangkar. Wanita itu segera dilarikan ke ruang bersalin. Lukas ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Sedangkan Emelie dan Zeroun, lebih memilih untuk menunggu di depan ruangan. Sepasang suami istri itu tidak lagi ingat dengan jadwal operasi anak mereka saat itu. Keadaan Emelie tidak segenting Lana. Emelie memutuskan untuk menunda jadwal operasinya. Ia ingin memastikan dulu Lana lahiran dengan sehat dan selamat.
“Sayang, duduk dan tenanglah. Jangan membuat anak kita takut dengan menjadi panik seperti ini. Semua akan baik-baik saja,” ucap Zeroun sambil memegang pundak Emelie.
“Tapi, aku takut. Aku juga sangat mengkhawatirkannya,” jawab Emelie sambil berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin milik Lana.
Tiba-tiba saja langkah Emelie terhenti. Wanita itu merasakan perutnya sakit. Sakit yang sangat luar biasa. Bahkan wajah Ratu Cambridge itu memucat. Ia memegang perutnya untuk menahan sakit.
“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Zeroun dengan wajah panik. Pria itu memegang tubuh Emelie dan menahannya agar tidak terjatuh.
“Sakit,” ucap Emelie sambil meringis kesakitan.
Zeroun meminta pelayan untuk memanggil Dokter yang menangani Emelie. Pria itu terlihat tidak karuan saat membayangkan wajah kesakitan Emelie siang itu.
Seorang Dokter yang di dampingi beberapa perawat muncul di lorong tersebut. Mereka membawa brangkar lalu meletakkan tubuh Emelie di atasnya.
“Kita harus segera melakukan tindakan operasi,” ucap Dokter itu sambil memandang wajah beberapa perawat yang ada di sampingnya.
Zeroun hanya diam tanpa kata. Pria itu mengikuti brangkar yang kini menuju ke ruang operasi, “Sayang bertahanlah. Semua akan baik-baik saja. Anak kita akan segera lahir,” ucap Zeroun sambil menggenggam erat tangan Emelie, “Aku akan selalu ada di sampingmu.”
Emelie mengangguk pelan dengan tetes air mata haru. Wanita itu mengatur napasnya untuk mengontrol rasa sakit yang begitu luar biasa pada perutnya. Bayang-bayang wajah pangeran kecil sudah terbayang jelas di dalam pikirannya. Satu kekuatan yang membuat Emelie bersemangat saat itu.
Dua pria tangguh yang selalu hidup bersama selama ini, harus menemani istri mereka melahirkan di waktu yang bersamaan pula. Tidak di sangka, tangan kekar yang biasa mereka gunakan untuk membunuh hari ini mereka gunakan untuk mengusap perut wanita hamil. Bibir seksi yang biasa mereka gunakan untuk marah-marah, kini mereka gunakan untuk membujuk dan memuji.
Setangguh apapun pria. Ia akan tetap luluh jika mencintai pasangannya. Hatinya tetap keras kepada orang lain, tapi akan selembut kapas kepada istrinya.
***
Satu minggu kemudian.
Semua orang telah berkumpul di istana Cambridge. Termasuk Lana dan Lukas. Serena dan Daniel. Kenzo dan Shabira. Biao dan Sharin. Tama dan Anna. Adit dan Sonia. Aldi dan Diva. Semua berkumpul untuk merayakan kelahiran dari sosok pangeran kecil yang sudah di lahirkan Emelie satu minggu yang lalu.
Semua tamu undangan berkumpul di aula istana untuk menikmati hidangan yang tersedia. Dua bayi mungil telah ada di hadapan mereka. Terlihat tampan dan sangat menggemaskan. Ada Zeroun dan Lukas yang menjadi bodyguard khusus untuk dua bayi laki-laki tersebut.
“Pangeran Jordan Zein. Dia akan menjadi penerus kerajaan Cambridge,” ucap Zeroun sambil meletakkan bayi mungil itu di lengan kekarnya.
“Oliver. Pria tangguh yang akan melindungi seluruh orang tercintanya dari bahaya,” ucap Lukas. Pria itu juga sama dengan Zeroun. Ada bayi mungil di dalam dekapan lengan kekarnya.
“Aku juga tidak mau kalah,” ucap Kenzo. Pria itu mengangkat bayi laki-laki berusia tujuh bulan dan membawanya mendekati posisi Zeroun dan Lukas berdiri, “Nak, jika nanti besar. Kau bebas memberi perintah kepada dua pria ini. Kau pemimpin utamanya karena kau yang paling tua,” ucap Kenzo dengan senyum jahat. Walau sudah punya anak, tapi masih tetap saja pria itu ingin meledek Zeroun dan Lukas. Termasuk anak mereka.
“Aku juga punya. Eleonora Edritz Chen dan Aleonora Edritz Chen.” Daniel berjalan mendekat dengan menggandeng dua balita yang berjalan pelan. Sesekali dua balita itu tertawa kecil saat memandang wajah bayi-bayi mungil yang ada di hadapan mereka.
“Kwan Daeshim Chen,” ucap Kenzo sambil mengangkat tubuh putra kesayangannya melayang ke udara.
Emelie dan Lana saling berpelukan. Pemandang yang sangat indah kini telah tersaji di depan mata. Sama halnya dengan Serena dan Shabira. Dua wanita itu juga mengukir senyuman indah di bibir mereka. Sesekali Serena juga berbisik dengan Shabira perihal ucapan Kenzo yang terdengar sok hebat itu.
Emelie memandang wajah semua orang. Ia bahagia. Seperti inilah keluarga terhebatnya saat ini. Ia tidak lagi merasa kehilangan karena sudah ada Lana, Serena, Shabira dan yang lainnya. Wanita itu bahkan berulang kali mengucapkan syukur atas kebahagiaan yang luar biasa yang saat ini ia dapatkan.
Zeroun berjalan mendekati posisi Emelie. Pria itu mendaratkan kecupan mesra di pucuk kepala wanita itu, “Aku mencintaimu, kemarin, hari ini dan seterusnya, Emelie.”
Emelie mengukir senyuman sebelum melingkari lengan kekar Zeroun. Wanita itu menyandarkan kepalanya sambil memandang ke arah yang lainnya.
“Aku terjatuh dan terluka. Aku hampir ingin berhenti untuk hidup karena patah semangat. Namun, setelah bertemu dengan cinta. Aku menjadi wanita pejuang yang pantang menyerah. Hingga akhirnya aku bisa menikmati hasil yang selama ini aku perjuangkan, yaitu kebahagiaan.” Emelie.
...-Tamat-
...