Moving On

Moving On
Hilangnya Zeroun



Suasana menjadi cukup romantis malam itu. Lana menatap lekat wajah pria yang kini mencengkram kuat pinggangnya. Wanita itu mengusap lembut pipi Lukas dengan wajah lembut, “Kau memiliki senyuman yang indah, Lukas. Berbahagialah untuk dirimu sendiri. Cari seseorang yang bisa menemanimu merasakan kebahagian itu.”


Lukas hanya diam membisu. Entah kenapa setiap kali perkataan konyol Lana selalu saja tercatat rapi di dalam ingatannya. Bahkan sering merubah hatinya yang tadinya membenci berubah menjadi peduli.


“Terima kasih,” jawab Lukas pelan, “Kita harus pergi ke Monako besok. Sebaiknya kita segera kembali ke markas.” Lukas melepas tangannya dari tubuh Lana. Pria itu mengeluarkan tali yang memang selalu ia bawa untuk pertolongan saat situasi mendesak.


Setelah memposisikan talinya dengan posisi yang pas dan aman. Lukas menatap wajah Lana lagi. Pria itu mengulurkan tangan untuk membawa Lana turun dengan tali itu.


“Apa kau berencana untuk memelukku lagi?” ledek Lana untuk menghilangkan rasa gugupnya.


“Jika kau tidak mau ikut denganku, kau bisa turun dengan tangga itu lagi.” Lukas memposisikan tubuhnya untuk mulai turun.


“Hei, tunggu! Dasar pria menyebalkan.” Lana memeluk tubuh Lukas agar bisa turun bersama dengan pria itu. Namun, kali ini ekspresi wajah Lana sedikit berbeda. Wanita itu tidak lagi bisa bernapas dengan tenang setiap kali tubuhnya berada di dekat tubuh Lukas. Ada getaran aneh yang mengganggu kosentrasinya.


Lukas, sepertinya kali ini aku yang kalah. Aku kalah untuk melawan perasaanku. Sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu hadir.


Lana memejamkan matanya saat tubuhnya melayang di udara sambil membayangkan perasan yang berkecambuk di dalam hatinya.


***


Beberapa saat kemudian.


Emelie tergeletak di atas sofa sambil memperhatikan pistol pemberian Zeroun. Setiap inci pistol itu ia perhatikan dengan seksama. Hatinya cukup bahagia karena bisa memiliki senjata berbahaya itu. Di tambah lagi, pistol itu adalah hadiah yang diberikan Zeroun untuk dirinya. Satu nama yang sangat ingin ia bunuh adalah pria yang berstatus Pangeran Monako. Putri kerajaan itu ingin memberikan peluru pertamanya pada Damian. Pria yang cukup ia benci seumur hidupnya.


Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Tetapi, rasa kantuk itu seakan hilang entah kemana. Di tambah lagi, sejak beberapa jam yang lalu Zeroun pergi meninggalkan kamar dan kini belum juga kembali.


Emelie mengeryitkan dahinya saat melihat ponselnya berdering malam itu. Ada tertulis nama Inspektur Tao di layar ponsel kekasihnya. Emelie terlihat tertarik untuk mengangkat panggilan telepon itu. Di tambah lagi, kini Emelie tidak tahu dimana keberadaan kekasihnya itu.


“Inspektur Tao. Apa yang ingin ia bicarakan saat ini hingga menelpon Zeroun malam-malam seperti ini,” ucap Emelie sebelum melekatkan ponsel Zeroun di telinga kanan.


Emelie menatap layar ponsel Zeroun dengan wajah bingung. Tertulis jelas di layar ponsel itu nama Inspektur Tao, “Sejak kapan Inspektur Tao merubah suaranya menjadi seorang wanita. Dan .... untuk apa dia meminta tolong Zeroun?” Emelie terlihat berpikir sejenak. Ada senyum licik di wajah putri kerajaan itu.


“Apa yang terjadi dengan kalian saat ini, itu bukan urusan Zerounku!” Emelie meletakkan ponsel itu kembali di atas meja. Ia berniat untuk merahasiakan permintaan tolong Agen Mia saat itu. Emelie tidak ingin Zeroun keluar malam ini dan pulang dengan sejumlah luka. Namun, baru beberapa detik Emelie merahasiakan masalah itu, sudah tersimpan rasa bersalah di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, ada nama Inspektur Tao di ponsel itu. Sudah bisa di pastikan kalau wanita yang berbicara itu juga pasti kini bersama dengan Inspektur Tao berada.


“Sungguh merepotkan punya kekasih bos mafia,” umpat Emelie kesal sambil menutup wajahnya dengan bantal kursi. Dengan langkah berat, Emelie beranjak dari sofa untuk memberi kabar tentang telepon itu kepada Zeroun. Walaupun kini Emelie juga tidak tahu dimana kekasihnya itu berada.


Emelie keluar kamar dengan wajah ragu-ragu. Rumah besar itu terlihat tidak berpenghuni. Tidak ada terlihat satu orangpun di dalam rumah itu. Hanya ada Emelie sendiri yang menjadi penghuni rumah itu satu-satunya.


“Dimana Zeroun,” ucap Emelie pelan. Wanita itu berjalan menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti saat melihat Lukas dan Lana yang baru saja tiba di rumah itu. Wajah Emelie berseri. Wanita itu berjalan cepat menuju ke arah pintu tempat Lukas dan Lana berdiri.


“Apa kalian melihat Zeroun?” tanya Emelie dengan wajah penuh tanya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala Emelie memperhatikan penampilan dua orang yang kini berdiri di hadapannya.


“Maaf, Nona. Kami tidak tahu di mana Bos Zeroun berada saat ini. Apa ada sesuatu yang penting, Nona? Sudah sangat larut, kenapa Nona belum tidur?” tanya Lana dengan nada pelan.


“Aku belum mengantuk. Zeroun selalu membawa ponselnya saat berpergian. Tapi malam ini ponsel ini tertinggal. Tadi Inspektur Tao menghubunginya. Ada suara wanita yang berteriak minta tolong sebelum panggilan teleponnya terputus.”


“Wanita, Nona?” tanya Lana penuh selidik.


“Ya. Suaranya sangat jelas. Aku yakin itu suara wanita. Tapi ini sudah hampir tengah malam.” Emelie menatap jam dinding. Ada perasaan khawatir saat mengingat Zeroun tidak ada di rumah itu.


“Nona, apa anda mau saya temani untuk beristirahat di dalam kamar? Soal Bos Zeroun biar Lukas yang mencarinya.” Lana mengukir senyuman untuk membujuk wanita itu agar segera beristirahat.


“Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa banyak sekali rahasia di dalam rumah ini.” Emelie memutar tubuhnya saat tidak mendapatkan info tentang keberadaan Zeroun. Entah kemana perginya bos mafia itu. Bahkan Lukas sendiri tidak tahu dimana Bosnya itu kini berada.


Terkadang dia dekat hingga aku bisa menyentuhnya kapan saja. Namun, dalam sekejab ia berubah dan menjauh hingga sulit untuk ku genggam. Zeroun, sebenarnya pria seperti apa dirimu? Kenapa terasa sangat sulit untuk membaca jalan pikiranmu. Kenapa kau selalu saja menyembunyikan sesuatu dariku.


Emelie berjalan dengan sejuta pertanyaan di dalam hatinya. Wanita itu tidak pernah menyangka kalau hubungan percintaannya dengan bos mafia itu akan dipenuhi teka-teki yang terasa begitu rumit.