Moving On

Moving On
Ledekan Kenzo



Di rumah Zeroun.


Kenzo membawa tubuh Shabira menuju ke arah sofa yang ada di dalam kamar. Lelaki itu ingin menceritakan tetang kehidupan Emelie. Ia tahu semua tentang Emelie saat Serena menceritakannya. Kini saatnya Kenzo yang menyampaikan hal itu kepada wanita yang paling ia cintai.


Sepasang suami istri itu duduk saling berdampingan dengan wajah yang cukup santai. Kenzo memulai ceritanya di mulai dari kaburnya Emelie di pesta pernikahan. Ceritanya itu terus berlanjut hingga ke tahap penghianatan yang di lakukan Adriana dan Damian. Shabira sendiri cukup syok dengan cerita yang baru saja ia dengar.


Bagi Shabira, keluarga adalah segalanya. Tidak peduli itu saudara kandung atau bukan. Saudara adalah sosok yang harus ia lindungi dan ia sayangi seumur hidupnya. Shabira tidak pernah menyangka kalau masih ada wanita jahat seperti Adriana. Di saat kemewahan dan kasih sayang tersaji di depan mata. Rasa iri justru menghantui dan membuatnya menjadi berubah haluan.


“Aku tahu sekarang arti air mata Kakak ipar,” ucap Shabira sambil menunduk sedih, “Bahkan aku sangat menyayangi Kak Erena walau kami bukan saudara kandung.”


“Sayang, sangat jarang wanita memiliki sifat yang baik seperti dirimu. Kau cukup pengertian dan selalu melindungi semua orang yang juga menyayangimu. Berbeda dengan wanita itu yang cukup serakah dan tidak pernah bersyukur.” Kenzo melingkarkan kedua tangannya di perut milik Shabira. Bibirnya mengecup pipi sang istri dengan penuh cinta.


“Kenzo, maafkan aku karena datang tanpa memberi tahu lebih dulu. Aku tidak bisa hidup dengan tenang di kota Sapporo. Tuan dan Ny. Edritz memberikan ijin kepadaku untuk membantu kalian. Mereka yang akan mengambil alih untuk menjaga baby Al dan baby El. Aku-”


“Kau selamat dan sekarang ada di dalam pelukanku. Sudah cukup. Aku tidak akan membahas masalah apapun itu. Bagiku ini sudah cukup membuatku bahagia. Kau dan calon anak kita baik-baik saja.” Kenzo membungkukkan kepalanya untuk mencium perut Shabira. Lelaki itu berbicara seolah bayi yang ada di dalam perut Shabira mendengar semuanya.


“Kenzo, aku ingin meminum jus jeruk,” ucap Shabira dengan wajah manjanya.


“Aku akan menyuruh seseorang untuk membuatnya,” jawab Kenzo sambil mengusap lembut perut istrinya.


“Aku ingin kau yang membuatnya,” sambung Shabira dengan senyuman yang cukup indah.


“Hmm. Baiklah. Aku akan membuatkan segelas jus jeruk untuk istri dan calon anakku.” Kenzo beranjak dari duduknya. Lelaki itu berjalan menuju ke arah pintu untuk keluar meninggalkan kamar tidur.


Kenzo menutup pintu kamar secara hati-hati. Lelaki itu berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai bawah. Bibirnya mengukir senyuman karena kini wanita yang ia rindukan ada di sampingnya. Ia bisa dengan bebas mendengar suara dan tawa wanita yang sangat ia cintai.


Ketika tiba di lantai bawah. Kenzo mengeryitkan dahi saat mendengar tawa dua sejoli yang kini duduk di dekat kolam renang. Lelaki itu berjalan ke arah lokasi itu untuk melihat sumber suara. Wajahnya berubah berseri saat melihat tawa bahagia Zeroun siang itu. Lelaki itu terlihat seperti lelaki normal seperti biasanya. Tidak ada senjata api maupun senjata tajam yang membuatnya terlihat menakutkan. Hanya ada tawa dan cinta yang memancarkan wajah bahagianya.


“Baby, kau terlihat sangat menggemaskan,” celetuk Emelie sambil mencubit pipi Zeroun yang kini ada di hadapannya.


“Baby, apa kau puas mengerjaiku hingga seperti ini?” balas Zeroun dengan suara dipenuhi tawa.


Dari kejauhan, Kenzo bersandar di dinding dengan wajah menahan tawa. Lelaki itu tidak pernah menyangka kalau kini lelaki yang cukup menakutkan itu memangil kekasihnya dengan sebutan Baby.


Kenzo cukup tertarik untuk menjahili Zeroun siang itu. Bahkan ia tidak lagi ingat dengan permintaan Shabira untuk membuat segelas jus jeruk.


Zeroun menghela napas saat sikap manjanya di dengar oleh Kenzo. Sejak dulu, memang lelaki itu sangat suka meledeknya, “Kenzo, apa kau bisa menyingkir dari tempat ini!” ucap Zeroun dengan wajah serius.


“Baby, aku ingin berada di sini. Di dekatmu,” ucap Kenzo dengan wajah imutnya. Tentu saja sangat mudah bagi Kenzo untuk memasang senyuman manis seperti itu. Sejak dulu memang lelaki itu tidak pernah terlihat menyeramkan. Keturunan keluarga Chen memang di takdirkan untuk menjadi sosok pria murah senyum.


“Kenzo, kau.” Zeroun mulai kesal melihat tingkah laku sahabatnya.


“Kau adik ipar yang cukup menggemaskan,” ucap Emelie sambil menarik kedua pipi Kenzo saat itu. Cukup jarang bagi Emelie bertemu dengan lelaki semanis Kenzo. Sejak dulu memang ia selalu menghindari segala bentuk pria. Satu-satunya pria yang cukup lama ia kenal adalah Zeroun.


“Emelie, kenapa kau menyentuh lelaki lain. Walaupun pria ini adik iparku. Tapi, tetap saja kau tidak boleh menyentuhnya,” protes Zeroun sambil beranjak dari kursi yang ia duduki.


“Kakak ipar, kenapa kau memarahi adikmu ini. Aku tidak tahu apa-apa.” Lagi-lagi Kenzo meledek pria tangguh yang berdiri di hadapannya.


“Hentikan sikap menjijikanmu itu, Kenzo. Kau memang sangat menyusahkan!” umpat Zeroun sambil menarik tangan Emelie ke dalam pelukannya. Lelaki itu cukup cemburu saat ada pria lain yang duduk di samping tunangannya walau itu seorang Kenzo.


Dari arah depan, muncul seorang pelayan yang berjalan menuju ke arah Zeroun berada. Pelayan itu membungkuk hormat sebelum mengeluarkan kata, “Selamat siang, Bos. Di depan ada tamu dari Inggris yang ingin mengunjungi anda.”


Emelie dan Zeroun terperanjat kaget saat mendengar kata Inggris. Tidak ada hal lain yang berhubungan dengan negara itu selain nama Emelie. Tiba-tiba saja suasana yang dipenuhi candaan itu berubah menjadi suasana yang cukup menegangkan.


Bahkan Kenzo yang sejak tadi membuat satu lelucon kini sudah memasang wajah cukup serius. Sekali lagi ia memastikan kalau pistol masih ia bawa. Pasukan Gold Dragon sudah habis. Hal itu cukup membuat rasa khawatir di dalam hati Zeroun dan Kenzo.


“Dimana, Lukas?” tanya Zeroun dengan tatapan serius.


“Bos Lukas pergi tanpa meninggalkan pesan, Bos.” Pelayan itu menjelaskan kepergian Lukas tanpa mau menambah atau mengurangi yang sebenarnya terjadi.


“Sayang, ayo kita lihat tamu kita siang ini.” Zeroun merangkul pinggang Emelie dan membawa wanita itu untuk melihat tamu yang datang.


Kenzo juga mengikuti langkah Zeroun dan Emelie dari belakang. Lelaki itu memasang wajah cukup waspada jika ada kemungkinan buruk yang terjadi.


Emelie menghentikan langkah kakinya saat melihat sosok yang ia kenali berdiri di ruang tamu. Wanita itu segera melepaskan genggaman tangan Zeroun dari pingganganya. Putri kerajaan itu berlari dengan tetesan air mata haru, “Paman,” ucapnya lirih.


Vote yang banyak ya reader...biar updatenya banyak...😘. Jangan lupa likenya.