Moving On

Moving On
S2 Bab 9



Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kilometer lagi ia akan segera tiba di rumah yang selama ini di tempatinya bersama Zeroun. Bibirnya tersenyum bahagia saat membayangkan wajah Lana. Pria itu sudah tidak sabar untuk mendengar suara Lana yang cukup membuat rindu.


“Apa dia sudah menungguku?” ucap Lukas pelan sambil menghentikan laju mobilnya. Alisnya saling bertaut saat melihat mobil yang di kemudikan Lana tidak ada di halaman depan rumah besar itu, “Kemana dia? Apa dia kembali ke Apartemen Alika.”


Lukas mengeluarkan ponselnya. Dengan ponsel itu ia bisa melacak di mana keberadaan kekasihnya. Sejak dulu, setiap anggota Gold Dragon memang memiliki alat pelacak agar mereka bisa tahu dimana rekan satu tim mereka berada di saat kesulitan.


“Tiongkok?” ucap Lukas dengan wajah kaget. Tujuan Lana malam itu adalah Tiongkok, “Apa yang mau ia lakukan di sana?” Tanpa pikir panjang lagi, Lukas melajukan mobilnya. Pria itu merasa ada hal yang tidak beres dari posisi Lana saat ini berada. Satu tangannya mengotak-atik ponsel untuk menghubungi Lana. Namun, tidak ada satu panggilanpun yang berhasil masuk.


Kekhawatiran Lukas semakin memuncak saat itu, “Apa kau dalam bahaya?”


Lukas menginjak pedal gasnya dengan penuh emosi. Ia tidak ingin terlambat. Jika di lihat dari pergerakan di layar ponsel, mobil yang membawa Lana juga dalam kecepatan tinggi. Lukas tidak ingin terlambat saat membebaskan kekasihnya dalam bahaya.


***


Morgan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ada senyum licik di bibirnya. Sesekali ia memandang wajah Lana yang masih memejamkan mata. Wajah wanita itu terlihat sangat menyejukkan hati. Sejak dulu memang Lana adalah wanita yang selalu di puja oleh Morgan. Alasannnya pergi secara tiba-tiba karena ia ingin mempersiapkan diri untuk mengalahkan Lukas dan membalaskan dendamnya.


Kedua bola matanya rusak karena terkena tusukan yang cukup menyakitkan dari Lukas beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu Morgan mencari tempat berlindung dan melakukan operasi untuk matanya. Setelah ia bisa kembali melihat, justru ia harus mengalami masalah besar hingga akhirnya berakhir di penjara. Morgan hanya ketua gangster yang memiliki kekuasaan di beberapa negara besar.


Jika di bandingkan dengan Mafia Gold Dragon, Morgan mungkin tidak ada apa-apanya. Namun, saat ini ia cukup percaya diri saat tahu Mafia besar itu baru saja mengalami kehancuran. Ia cukup percaya kalau kali ini kemunculannya bisa memperoleh kemenangan.


Morgan berencana membawa Lana kembali ke Spanyol. Memang di sana selama ini mereka tinggal dan memadu kasih. Hatinya cukup murkah dan cemburu saat melihat kedekatan wanita yang ia cintai bersama dengan musuh yang paling ia benci.


“Kau hanya milikku, Lana.” Morgan menambah laju mobilnya agar bisa segera tiba di lokasi yang sudah ia rencanakan. Seluruh pasukan yang ia miliki telah menunggu di Tiongkok. Morgan sudah tidak sabar untuk berkumpul dengan pasukannya dan membawa Lana pergi.


Sorot matanya yang tajam memandang cahaya mobil yang mengejarnya dari belakang. Morgan mengukir senyuman tipis sebelum menambah laju mobilnya lebih cepat lagi. Mobil yang di pilih pria itu adalah mobil cepat yang akan meluncur dengan kecepatan kilat. Untuk mobil sekelas Lukas tidak akan pernah berhasil mengimbangi laju mobil miliknya.


Dengan penuh percaya diri Morgan mencengkram kuat stir mobilnya. Beberapa kilometer lagi ia akan melewati perbatasan Hongkong. Setelah keluar dari perbatasan itu ia akan bebas. Tidak ada lagi nama Gold Dragon yang akan menyerangnya.


“Kali ini aku yang akan menang, Lukas,” ucap Morgan dengan penuh kegirangan. Pria itu mengeluarkan granat agar bisa menghalangi laju mobil Lukas. Di jalan depan telah berbaris rapi pasukan yang ia miliki.


Lukas mengarahkan stir mobilnya ke arah lain agar terhindar dari ledakan granat tersebut. Mobil berwarna silver meluncur cepat mengejar ke arah depan. Kaca mobil itu terbuka hingga membuat Lukas bisa melihat jelas siapa yang ada di dalam mobil.


“Agen Mia,” ucapnya pelan sebelum melajukan kembali mobilnya. Pria itu mengeluarkan tembakan dari dalam mobil ke arah pasukan yang di miliki Morgan.


Cukup sulit bagi Lukas jika sendirian menghadapi pasukan yang berjumlah puluhan orang tersebut. Tapi, Agen Mia tiba di waktu yang tepat. Wanita itu tidak sendirian. Ada beberapa pasukan Gold Dragon di belakang mobilnya.


“Biar aku yang mengatasinya. Kau kejar saja mobil yang di depan,” teriak Agen Mia dari dalam mobil.


Lukas tidak menjawab satu katapun kepada Agen Mia. Pria itu kembali fokus pada jalan yang ada di depan untuk mengejar mobil Morgan. Walau jarak mobil Morgan sudah terbilang sangat jauh, tapi hal itu tidak menyulitkannya untuk mengejar karena ada alat pelacak yang di bawa Lana.


Beberapa saat kemudian.


Morgan memberhentikan mobilnya di sebuah gedung tinggi yang sunyi. Ada beberapa penjaga di bawah. Pria itu segera menggendong Lana lalu membawanya masuk ke dalam gedung.


“Apa semua sudah siap?” tanya Morgan dengan tatapan dingin.


“Sudah, Bos. Bos, tangan anda terluka,” ucap pengawal setia Morgan dengan wajah khawatir.


Morgan melirik tangannya yang terkena tembakan Lana. Pria itu mengukir senyuman sebelum melanjutkan langkah kakinya. Ia cukup tahu kalau akan semakin sulit untuk menaklukan Lana. Kekasihnya sudah berubah menjadi wanita yang tidak penurut dan pembakang.


Terdengar tembakan yang cukup memekakan telinga di depan gedung. Morgan memutar tubuhnya dengan wajah tidak suka. Ia sudah pergi sejauh itu tapi masih saja ketahuan oleh Lukas. Dengan gerakan cepat ia berjalan menuju ke arah lift. Di puncak gedung sudah ada helikopter yang sedang menunggunya dan Lana. Setelah ia berhasil membawa Lana masuk ke dalam helikopter maka Lukas tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menghalanginya.


Morgan memegang ponsel yang ada di dalam saku Lana. Pria itu tahu kalau Lukas menemukannya melalui ponsel Lana, “Aku tidak sebodoh dulu, Lukas.” Ponsel itu ia lempar ke lantai hingga rusak.


“Berhenti, Morgan!” teriak Lukas dari arah depan. Wajah pria itu cukup menyeramkan dengan senjata api di genggamannya. Keringat membasahi jaket hitam yang ia kenakan. Napasnya terputus-putus karena baru saja berkelahi melawan bawahan Morgan yang mencoba untuk menghalanginya.