
Zeroun menggeleng kepalanya pelan, “Tidak akan. Aku akan kembali secepatnya setelah semua selesai.”
Zeroun menarik tubuh Emelie untuk memeluk wanita itu lagi. Debaran jantungnya kini tidak lagi normal. Setelah puas memeluk dan mencium aroma tubuh wanitanya, Zeroun mengecup bibir Emelie dengan kecupan singkat, “Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan pergi kemana-mana. Tetap berada di rumah ini. Aku akan menghalangi siapa saja yang ingin menyerang rumah ini. Kau pasti akan baik-baik saja, Sayang.”
Emelie mengangguk, “Cepat kembali.”
“Aku mencintaimu,” ucap Zeroun dengan senyuman.
“Aku juga mencintaimu, Zeroun.”
“Sekarang kembalilah ke rumah. Aku akan segera pergi untuk membereskannya,”ucap Zeroun dengan hati yang dipenuhi kesedihan.
Emelie tidak lagi mau mengeluarkan kata. Wanita itu berjalan pergi dengan gaun yang basah. Rambutnya berserak karena terkena terpaan angin yang begitu kencang. Entah kenapa air matanya ingin menetes. Entah kenapa hatinya terasa sedih. Putri kerajaan itu merasakan napasnya berubah sesak dan tidak lagi beraturan.
Dengan gerakan cepat ia memutar tubuhnya dan berlari menuju ke arah Zeroun. Pria itu masih berdiri pada tempatnya untuk memastikan tunangannya masuk ke dalam rumah. Tangannya terbuka saat melihat Emelie berlari dengan mata memerah dan siap untuk menangis.
“Jangan tinggalkan aku,” ucap Emelie saat tubuhnya berhasil berada di dalam pelukan Zeroun. Detik itu juga tangisannya pecah. Ia tidak lagi bisa membendung kesedihan yang kini menyesakkan dadanya, “Aku tidak ingin di tinggal.”
Zeroun memeluk erat tubuh Emelie dengan hati yang sama perihnya. Bibirnya benar-benar membisu karena tidak tahu mau berkata apa lagi. Hanya pelukan itu yang bisa menggambarkan kesedihannya saat ini.
“Sayang, masuklah ke dalam. Semua akan baik-baik saja. Apa kau percaya padaku?” tanya Zeroun sambil memegang kedua sisi pipi Emelie.
Emelie mengangguk, “Aku percaya padamu.”
Zeroun mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Emelie, “Sekarang pergilah masuk ke dalam rumah.”
Kali ini Emelie sudah benar-benar kuat. Wanita itu berlari kencang untuk masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin memutar lagi tubuhnya untuk melihat wajah kekasihnya. Akan semakin berat bagi Emelie jika ia terus-terusan berbalik dan menatap wajah Zeroun.
Di pinggiran pantai, ekspresi wajah bos mafia itu tidak lagi sama. Tatapan matanya kini sudah dipenuhi dengan tatapan membunuh. Setelah pergi menjauh dari rumah itu, ia tidak akan lagi memiliki belas kasih kepada semua musuhnya. Zeroun berjalan cepat menuju ke arah mobil miliknya. Di belakang mobilnya sudah ada Lukas dan Lana yang sejak tadi menunggunya. Zeroun masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pertarungan akan segera di mulai.
Beberapa menit kemudian, Zeroun dan Lukas tiba di pintu masuk ke kota Salvador. Baku tembak terjadi dimana-mana. Bahkan tidak cukup dengan tembakan. Pasuan Heels Devils juga mengeluarkan bom rakitan mereka untuk mengalahkan pasukan Gold Dragon. Zeroun mencari jalan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Bukan di sini tujuan penyerangannya. Jesica ada di Kota Rio. Zeroun ingin segera tiba di kota rio untuk menghabisi Jesica.
Lukas dan Lana turun dari mobil untuk membereskan pertarungan yang terjadi di jalanan itu. Mereka juga tidak ingin ada pasukan Heesl Devils yang berhasil masuk ke dalam wilayah mereka.
“Jesica Gigante, hari ini atau tidak selamanya.” Zeroun mengepal kuat stir mobilnya. Di samping jok mobilnya sudah ada banyak bahan peledak dan senjata api ukuran besar. Tidak cukup jika siang itu ia bertarung dengan pistol. Lelaki itu ingin mengalahkan musuhnya dengan ratusan peluru yang menusuk ke seluruh bagian tubuh musuhnya.
Zeroun memandang kepulan asap berwarna hitam dari balik gedung yang tinggi. Keadaan di persimpangan jalan itu memang terlihat sangat kacau. Api ada di mana-mana. Tidak hanya mobil yang banyak terbakar, tapi beberapa gedung juga terlihat menghitam karena bekas terbakar.
Zeroun menurunkan laju mobilnya. Pria itu memperhatikan polisi yang terluka dan beberapa masih siap mengincar si biang masalah. Tatapan mata Zeroun berubah tajam saat melihat Inspektur Tao dan Agen Mia ada di sudut jalan. Dua polisi itu terlihat sibuk mengatur strategi selanjutnya untuk menangkap sang ratu mafia.
Bahkan hingga kekacauan terjadi sebesar itu, mereka belum juga berhasil menemukan jejak keberadaan Jesica saat ini.
Zeroun menghentikan mobilnya tepat dipingiran jalan. Pria itu membuka kaca mobil sebelum memandang wajah Inspektur Tao dari dalam mobil, “Dimana dia?”
Inspektur Tao berjalan untuk mendekati mobil Zeroun. Pria itu melirik beberapa komplotan polisi yang kini terlihat berserak dimana-mana.
“Zeroun, aku tidak menyangka kalau wanita itu benar-benar licik. Kekacauan ini ia buat atas nama Gold Dragon. Maafkan aku tidak bisa melindungimu dengan bantuan Polisi. Kali ini di mata seluruh polisi Gold Dragon dan Heels Devils adalah buronan yang harus segera di tangkap.” Inspektur Tao melirik beberapa polisi yang terlihat mencurigainya, “Maafkan aku. Keadaan sangat kacau. Bahkan aku dan Mia juga berada di masa penjagaan.
Zeroun memandang wajah Inspektur Tao dengan seksama, “Apapun yang terjadi nantinya, lindungi Emelie.”
Inspektur Tao mengangguk pelan, “Aku akan menjaga Putri Emelie.”
Tidak banyak kata lagi. Zeroun melajukan mobilnya saat melihat rombongan Lukas dan Lana telah tiba. Pasukan Gold Dragon tiba dengan puluhan kereta dan mobil. Para polisi itu sudah sibuk untuk menyerang Gold Dragon.
Dari sisi yang berbeda, ada mobil hitam yang berhenti dengan tatapan mengintai. Mobil itu memutar arah sebelum pergi untuk meninggalkan kekacauan yang ada di lokasi itu.
Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil mencurigakan itu. Ia sangat yakin kalau sosok yang mengemudikan mobil itu adalah musuhnya. Jesica.
Lukas membelokan arah mobilnya untuk mengejar mobil Zeroun yang melaju cepat. Namun, mobil itu terhenti bahkan mundur hingga beberapa meter saat ada mobil dari arah berlawanan menghantamnya. Tubuh Lukas dan Lana seperti terpental di dalam mobil. Sosok pria dan wanita tangguh keluar dari dalam mobil dengan senjata api ukuran panjang.
Dalam hitungan detik, Lana dan Lukas segera berlari meninggalkan mobil itu. Mereka tidak ingin mati secepat itu. Tepat di saat tubuh mereka berdua berguling di jalanan, mobil yang sempat mereka gunakan meledak dan melayang ke udara. Lukas mengeluarkan senjata apinya. Pria itu menembak tanpa jeda. Dari sisi lain, Lana juga mengeluarkan tembakan dengan puluhan peluru tiada henti. Tidak ingin kalah dari Gold Dragon, orang kepercayaan Jesica itu juga mengeluarkan tembakan dan bersembunyi untuk menghindari peluru.
Tepat di saat yang bersamaan. Seluruh pasukan Heels Devils dengan jumlah yang tidak kalah dari Gold Dragon keluar. Tembakan demi tembakan terjadi di mana-mana. Bahkan polisi yang berkumpul di areal itu juga banyak yang mati tertembak. Bukan hanya dari peluru Heels Devils, tapi peluru dari Gold Dragon juga banyak yang salah sasaran.