Moving On

Moving On
Akhir Penuh Darah



Serena hanya diam tanpa mau berdebat lagi. Satu-satunya yang kini ia pikirkan adalah bom itu. Sejak dulu ia tidak pernah takut mati saat melakukan satu misi. Tapi, detik ini ia sangat takut. Semua pesan yang di ucapkan Daniel kembali mengiang di telinganya. Wanita itu tidak ingin meninggalkan buah hatinya seperti dulu ia ditinggalkan oleh sang ibunda.


Jesica mendorong tubuh Serena hingga posisi mereka berganti. Kali ini Jesica yang ada di atas tubuh Serena. Wanita itu mengukir senyuman licik saat melihat posisi Serena yang sudah siap untuk ia habisi.


Satu belati ia keluarkan saat tangannya yang lain masih di tahan oleh Serena, “Kau pembunuh Erena. Seorang pembunuh memang pantas mati dengan cara di bunuh.”


Serena memberi satu pukulan ke arah wajah Jesica. Membuat hidung mancung Jesica mengelaurkan darah segar. Belati yang ada di tangan Jesica terlepas hingga menusuk di lengan Serena yang sebelah kiri.


Serena memejamkan mata saat rasa perih dan basah itu menyerangnya. Sekali lagi ia berusaha bangkit agar bisa berhasil merebut bom mini yang ada di tangan Jesica.


Zeroun melirik keadaan Serena yang cukup berbahaya. Lelaki itu segera membantai habis pria-pria berbadan tegab yang ada di hadapannya. Tatapannya ia arahkan juga ke arah Damian yang terlihat sudah kehabisan banyak darah dan mulai tergeletak lemah.


Bertahanlah, Serena. Aku akan segera menolongmu.


Tersisa satu pria berbadan kekar yang sama dengan yang ia hadapi saat di hotel. Dulu ia mengalahkan pria berbadan tegab itu dengan mendorongnya keluar gedung. Namun, untuk detik ini Zeroun terlihat memikirkan strategi instan untuk mengalahkan lawannya.


Pistol yang ia genggam, pelurunya tidak lagi bisa menembus tubuh lelaki itu. Zeroun mengeluarkan belati untuk mengalahkan musuhnya. Ia tidak tahu berhasil atau tidak saat itu. Namun, ia akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya agar selesai dengan cepat.


Zeroun menyerang lelaki itu dengan dorongan yang cukup kuat. Tenaganya belum pulih saat itu. Gerakan yang cukup menguras tenaga itu membuat Zeroun lagi-lagi harus kehilangan banyak darah.


DUARR! DUARR!


Suara tembakan terdengar secara tiba-tiba. Zeroun fokus pada Damian yang kini memegang senjata api. Ujung senjata api itu mengarah ke arah tubuh Serena kini berada.


Satu pukulan dengan tangan di rasakan Zeroun secara tiba-tiba saat ia lengah. Pria berbadan besar itu mengangkat tubuh Zeroun seperti mengangkat sebuah boneka. Setelah puas bermain dengan mainannya, ia membanting tubuh Zeroun dengan kekuatan penuh.


Darah segar keluar dari mulut Zeroun saat itu. Lelaki itu tidak lagi memiliki kesempatan untuk melihat keadaan sahabatnya. Hanya satu usaha yang bisa ia lakukan saat itu. Zeroun mengambil pistolnya lalu membidik dahi Damian.


Tadinya ia ingin membunuh lelaki itu setelah mengucapkan beberapa kata. Tapi, sepertinya keputusan yang ia ambil salah. Satu peluru ia lepas dengan tatapan yang cukup tajam. Zeroun merasa cukup sulit untuk bernapas saat itu. Bahkan tubuhnya terasa sangat lemah karena kehabisan banyak darah.


DUARR!


Peluru itu berhasil mendarat di dahi Damian hingga lelaki itu kehilangan nyawanya detik itu juga. Zeroun kembali fokus pada pria berbadan besar yang berdiri di hadapannya. Secara perlahan, Zeroun berusaha bangkit dan kembali berdiri.


Tiba-tiba sebuah pedang menembus tubuh lelaki besar itu dari belakang hingga menembus ke bagian depan. Pedang itu tertarik lagi dan ditusuk lagi dengan cara yang cukup keji.


Zeroun terlihat kaget beberapa saat. Lelaki itu tidak tahu siapa yang telah membantunya di detik-detik menegangkan seperti ini.


Pria berbadan besar itu menunduk untuk melihat perutnya yang tercompang-camping. Sebelum akhirnya ia jatuh dan tergeletak tidak bernyawa di bawah kaki Zeroun.


“Kakak baik-baik saja?” ucap Shabira dengan satu pedang di tangannya. Belum sempat Zeroun menjawab, Shabira sudah lebih dulu berlari dan memeluk tubuh Zeroun, “Aku tidak bisa bernapas dengan tenang jika tidak melihatmu baik-baik saja. Aku tidak ingin kehilangan Kakak kandungku lagi. Kabar kepergainmu, cukup membuat napasku terhenti, Kak.” Shabira meluapkan kesedihannya di dalam pelukan Zeroun.


“Serena,” ucap Zeroun sambil melepas pelukan Zetta dan memutar kepalanya.


“Kak Erena?” celetuk Shabira panik.


Tubuh Jesica ada di atas tubuh Serena saat itu. Ada rembesan darah segar yang mengalir deras di lantai tempat Serena dan Jesica berada. Tubuh dua wanita tangguh itu sama-sama tidak bergerak.


Zeroun berlari cepat dengan napas yang tidak normal. Entah apa yang akan ia lakukan saat itu jika terjadi hal buruk kepada Serena. Zetta berjalan dengan hati-hati untuk menjaga kandungannya.


“Serena,” ucap Zeroun sambil berjongkok di samping dua tubuh wanita itu. Dengan gerakan cepat ia mendorong tubuh Jesica agar menyingkir dari atas tubuh Serena. Bom mini yang ada di genggaman Serena juga ia rahi dan ia letakkan di samping tubuhnya berada.


“Serena, bangunlah,” ucap Zeroun dengan wajah paniknya. Lelaki itu memeluk tubuh Serena dengan perasaan campur aduk. Kedua bola matanya melihat tubuh Jesica yang di penuhi dengan tusukan.


“Aku baik-baik saja. Tubuhnya cukup berat dan tanganku tidak bisa bergerak karena bom itu,” jawab Serena sambil mendongakkan kepalanya ke arah wajah Zeroun.


“Kak, tangan kakak terluka cukup lebar,” ucap Shabira dengan wajah kahwatir.


“Aku baik-baik saja. Luka Zeroun yang cukup parah.” Serena mengatur posisiya agar bisa memandang dengan jelas luka yang ada pada tubuh Zeroun saat itu.


“Aku juga baik-baik saja. Apa tembakan Damian tidak mengenaimu, Serena?” tanya Zeroun dengan wajah penasaran.


Serena mengukir senyuman kecil saat membayangkan aksi yang ia lakukan beberapa saat yang lalu.


Beberapa menit yang lalu.


Serena dan Jesica masih sibuk memperebutkan bom mini itu. Dari arah lain Serena melihat Damian yang sudah berhasil menggenggam sebuah pistol. Tadinya Serena berpikir kalau tembakan itu akan di arahkan ke arah Zeroun. Tidak di sangka kalau pistol itu mengarah ke posisinya berada.


Serena menarik tubuh Jesica agar posisinya menjadi kembali terbalik. Hingga akhirnya peluru itu menancap di lengan Jesica. Bom itu berhasil di kuasai oleh Serena. Di detik itu juga, Serena meraih belati yang sempat menusuk ke tangannya.


Dengan gerakan cepat Serena menusukkan belati itu ke pundak Jesica. Membuat wanita itu meringis kesakitan. Serena menarik lagi belatinya lalu menusuk bagian perut wanita itu dan mengulangnya beberapa kali hingga darah yang dimiliki Jesica mengalir deras di baju yang ia kenakan.


Jesica meregang nyawa sambil memandang wajah Serena dengan penuh kebencian. Tubuhnya terjatuh di atas tubuh Serena berbaring.


Serena berusaha untuk bangkit dan menolong Zeroun detik itu. Namun, ia melihat kemunculan Zetta secara tiba-tiba dengan sebuah pedang panjang. Ada senyum di bibirnya sebelum memejamkan mata karena lelah. Sudah bisa di pastikan kalau mereka akan memenangkan pertarungan berbahaya hari ini.


Tubuh Jesica terbaring di atas tubuhnya hingga membuat Serena kesulitan untuk bernapas. Hingga belum sempat ia mendorong tubuh wanita itu. Zeroun lebih dulu menyingkirkan tubuh Jesica dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan.


***


Zeroun dan Zetta tertawa kecil. Mereka tidak pernah menyangka kalau di saat seperti ini, Serena masih sempat untuk mengerjai mereka.


“Lalu, dimana yang lainnya kak?” tanya Shabira sambil mengeryitkan dahi.


“Kami di sini, Sayang,” jawab Kenzo dari kejauhan.


Zeroun, Shabira dan Serena memutar tubuh mereka agar bisa melihat sang pemilik suara. Kenzo berdiri di sana bersama dengan yang lainnya. Daniel berdiri di samping Kenzo. Sedangkan Lana, Lukas dan Biao berdiri di belakang tubuh dua pria itu.


Ada beberapa bekas luka di wajah mereka.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” ucap Daniel dengan wajah panik. Lelaki itu berlari kencang saat melihat tubuh Serena di penuhi dengan lumuran darah segar. Ia berjongkok lalu menyingkirkan tangan Zeroun yang sejak tadi ada di lengan Serena, “Kau sudah memiliki putri kerajaan itu. Kenapa masih menyentuh milikku,” protes Daniel.


Zeroun menghela napas sebelum berdiri dari posisi jongkoknya, “Serena juga wanitaku” ucap Zeroun dengan nada meledek.


“Hei, Bos Zeroun. Sekarang aku sudah jago menggunakan belati ataupun sebuah pistol. Kau harus berpikir ulang sebelum mengatakan kalimat itu,” jawab Daniel sambil menatap wajah Zeroun dengan satu alis terangkat.


Zeroun dan yang lainnya tertawa saat mendengar kalimat sombong yang di ucapkan Daniel.


“Apa Ceo makanan ringan ini sudah berubah menjadi penjahat, Serena?” tanya Zeroun.


“Kakak,” ucap Shabira sambil memeluk tubuh Zeroun dengan manja.


“Ya, dia sudah lulus seleksi, Zeroun,” jawab Serena sambil menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Zeroun tertawa kecil saat mendengar jawaban Serena. Lelaki itu kembali memeluk tubuh Shabira dengan penuh kerinduan.


Semua orang yang ku sayangi selamat dan dalam keadaan sehat, itu sudah cukup. Aku tidak ingin memohon doa lainnya lagi.


Likenya jangan lupa ya reader...vote juga biar bisa bertahan di 20 besar babang Zerounnya...