Moving On

Moving On
S2 Bab 85



Cambridge.


Zeroun dan Emelie baru saja tiba di depan pintu istana. Kedatangan sepasang suami istri itu di sambut meriah oleh seluruh penghuni istana. Seluruh keluarga kerajaan berbaris rapi di depan pintu istana. Pengawal dan pelayan istana juga berbaris rapi untuk menyambut Calon Raja dan Ratu mereka.


Emelie mengukir senyuman indah dirinya telah kembali ke istana. Wanita itu sangat merindukan rumahnya. Ia sudah tidak sabar untuk memberi perintah kepada pelayan setianya. Wanita itu juga sudah tidak sabar untuk berbaring di kamar kesayangannya.


Zeroun juga terlihat bahagia. Kabar kalau Lukas tidak membunuh Morgan telah sampai kepadanya. Zeroun tidak menyalahkan Lukas. Ia tahu, apa yang saat itu dipikirkan Lukas hingga lebih memilih membebaskan Morgan. Bukankah akan jauh lebih sakit ditinggalkan wanita yang kita cintai daripada kematian? Zeroun sudah pernah merasakan hal itu dulunya.


Pintu mobil terbuka. Zeroun dan Emelie turun dari mobil secara bersamaan. Paman Arnold mengukir senyuman dengan kedua tangan terbuka. Pria itu sangat ingin memeluk tubuh Emelie. Wanita yang memang sejak dulu sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


“Paman Arnold,” ucap Emelie sebelum berlari untuk mendekati Paman Arnold. Wanita itu memeluk Paman Arnold lalu memejamkan mata dengan tetes air mata haru, “Emelie sangat merindukan, Paman.”


“Putri, apa semua baik-baik saja? Saya tidak bisa bernapas dengan tenang saat anda meminta seluruh pengawal istana untuk tidak mengikuti dan menjaga anda lagi. Anda juga tidak pernah memberi kabar kepada kami, Putri,” ucap Paman Arnold dengan nada protes.


“Kami baik-baik saja. Paman bisa lihat sendiri kalau kami tidak terluka dan pulang dengan senyuman,” jawab Emelie setelah pelukannya terlepas.


Paman Arnold mengukir senyuman. Pria itu memanggil Inspektur Tao yang berdiri tidak jauh dari belakangnya, “Putri, ini Inspektur Tao. Beliau akan menjadi pengawal pribadi anda mulai hari ini.”


Emelie memandang wajah Inspektur Tao dengan bibir tersenyum sebelum memandang wajah Zeroun. Wanita itu mendekati suaminya dan merangkul mesranya lengan kekarnya, “Ya. Saya sangat senang bisa mendapatkan pengawal pribadi seperti Inspektur Tao.”


Inspektur Tao membungkuk hormat, “Terima kasih atas pujiannya, Putri Emelie. Saya akan menjaga Putri dengan sekuat tenaga. Saya juga rela mengorbankan nyawa saya hanya untuk melindungi Putri dari bahaya yang mengancam anda,” ucap Inspektur Tao.


“Terima kasih,” jawab Emelie.


“Pangeran Zeroun, anda sudah bisa membawa Putri Emelie ke kamar. Anda juga harus beristirahat. Mulai nanti siang sudah ada banyak tugas negara yang harus anda selesaikan,” ucap Paman Arnold dengan tatapan penuh arti.


Zeroun menghela napas. Momen dimana ia harus sibuk seharian akan segara tiba. Satu keadaan yang membuatnya tidak nyaman. Zeroun hanya ingin seluruh waktu yang ia miliki di habiskan bersama dengan sang istri. Tapi, semua sudah menjadi konsekuensinya. Zeroun telah menerima jabatan Pangeran. Ia tidak ingin mengecewakan Emelie dan membuat wanita tercintanya bersedih.


“Terima kasih, Paman. Saya dan Putri Emelie permisi dulu,” ucap Zeroun dengan senyuman ramah.


“Silahkan, Pangeran,” sambung Paman Arnold.


Zeroun dan Emelie melangkah masuk ke dalam istana dengan tangan saling bergandengan. Sepanjang jalan yang mereka lewati telah ada pelayan dan pengawal yang membungkuk hormat sebagai bentuk penyambutan mereka.


Emelie mengukir senyuman. Wanita itu bahkan melambaikan tangan kepada pelayan-pelayan setianya, “Saatnya menjadi Putri.”


Beberapa hari kemudian, Spanyol.


Sejak kejadian itu, Lana tetap tidak tahu kalau Morgan masih hidup. Wanita itu menjalani hari-harinya dengan keceriaan. Bagaimana cara Lukas membunuh Morgan juga tidak ingin ia dengar. Di mata Lana, Morgan memang telah mati.


Hari ini, Lana jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan bersama dengan Lukas. Wanita itu cukup menikmati kebersamaannya dengan kekasihnya. Ia menggandeng lengan kekar Lukas dengan senyum yang cukup indah. Sesekali ia menjatuhkan kepalanya dengan manja.


Penampilan Lana cukup berbeda dari biasanya. Siang itu ia mengenakan dres berwarna cokelat yang panjangnya selutut. Ada syal berwarna hitam di bagian lehernya. Wanita itu juga memakai high heels yang cukup tinggi. Penampilan Lana seperti seorang model. Ia terlihat sangat cantik dan menawan.


“Aku mau ke sana,” ucap Lana sambil menunjuk ke beberapa barang yang tertata rapi di ujung.


Lukas mengangguk. Pria itu melepas tangan Lana. Ia menatap wanitanya berlari dan memperhatikannya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Lukas memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Dalam hitungan hari ia memutuskan untuk kembali ke Hongkong. Pria itu sudah cukup lelah berjalan-jalan di rumah orang lain. Ia ingin berada di rumahnya sendiri.


Lana memilih beberapa baju yang akan ia pakai. Sudah cukup lama ia tidak merubah penampilannya. Selama ini ia hanya kenal dengan warna hitam. Kali ini Lana memilih baju yang lebih berwarna untuk koleksinya.


Seorang wanita menabrak tubuh Lana. Ia memasukkan sebuah kertas di dalam saku dress Lana sebelum pergi menjauh. Lana tahu kalau ada sesuatu yang diletakkan di dalam sakunya. Wanita itu mengambil kertas tersebut dan membukanya dengan cepat.


“Temui aku di parkiran. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Setidaknya, katakan kalimat perpisahan sebelum kau pergi.”


Lana meremas kertas tersebut. Ia tahu kalau itu surat yang di tulis oleh Morgan. Lana memandang wajah Lukas yang masih berdiri memperhatikannya. Wanita itu memasukkan kertasnya kembali ke dalam saku. Ia memasang wajah seceria mungkin agar kekasihnya tidak curiga.


Lukas merasa sesuatu yang aneh dengan Lana saat itu. Ia berjalan untuk mendekat dan memeriksa kekasihnya, “Apa semua baik-baik saja?”


“Aku ingin ke toilet. Pilihkan aku beberapa baju,” ucap Lana sambil memberikan beberapa pilihan baju kepada Lukas, “Aku akan segera kembali.”


Lukas memeluk beberapa baju yang di serahkan kepadanya. Pria itu menatap punggung Lana yang sudah menjauh dari dirinya, “Kau wanita yang tidak ahli dalam berbohong.”


Di sisi lain, Lana pergi ke arah lift. Wanita itu bergerak cepat dan penuh dengan waspada. Ia tidak ingin Lukas tahu kepergiannya. Lana ingin menemui Morgan. Wanita itu ingin mengatakan beberapa kalimat kepada Morgan sebelum pergi meninggalkan pria itu untuk selama-lamanya.


“Maafkan aku, Lukas. Aku terpaksa membohongimu. Kau tidak akan setuju jika aku meminta ijin untuk menemui Morgan. Ada beberapa hal yang harus aku katakan padanya agar ia tidak terus-terusan menyalahkanku,” gumam Lana di dalam hati.


Lana berjalan cepat saat pintu lift telah terbuka. Wanita itu terlihat mencari-cari keberadaan Morgan. Gedung yang menjadi tempat bertemunya dengan Morgan terlihat sangat sunyi dan tidak terlalu terang. Lana cukup kesulitan mencari Morgan karena ada ratusan mobil di areal tersebut.


“Lana,” ucap seseorang dari belakang.