
Zeroun membawa Emelie ke Restoran Jepang. Siang itu Bos Mafia itu ingin mencicipi makanan khas Jepang. Sudah lama ia tidak mencoba aneka makanan Jepang yang dulunya sering ia santap. Bahkan hampir setiap hari waktu dulu. Lidahnya sudah terlalu bosan dengan makanan yang akhir-akhir ia makan.
Mobil Zeroun terparkir rapi di depan restauran bintang 5 yang terlihat sangat mewah. Zeroun dan Emelie berjalan dengan begitu tenang untuk masuk kedalam restaurant itu. Di depan pintu masuk. Sepasang kekasih itu sudah disambut oleh dua pria dengan setelan jas resmi yang begitu rapi.
Pelayan itu membawa Zeroun dan Emelie kesebuah meja yang hanya memilikidu abuah kursi. Setelah duduk dengan posisi nyaman. Zeroun dan Emelie mengambil buku menu untuk memilih makanan.
Zeroun yang memilih menu yang akan mereka santap bersama. Tidak menunggu waktu yang begitu lama, beberapa pelayan datang untuk menghidangkan makanan dan minuman pesanan Zeroun.
“Jam makan siangku sudah terlewat jauh.” Emelie memandang jam yang sudah menunjukkan pukul 2 lewat.
“Kau saja yang pilih. Aku tidak tahu mana yang enak.” Emelie meletakkan buku menu di atas meja. Wanita itu menopang dagunya sambil menatap wajah Zeroun.
“Baiklah, biar Akuyang pilih.” Zeroun meletakkan buku menu itu sebelum menatap pelayan yang berdiri di sampingnya.
Sushi, Sashimi, Onigiri, Takoyaki, Yakiniku, hingga beberapa jenis makanan lainnya yang menjadi makanan favoritnya sejak dulu. Emelie memutar matanya dengan tenggorokan yang tiba-tiba kering. Semua makanan itu terlihat menggugah selera. Dari penampilannya saja sudah bisa dipastikan kalau makanan-makanan itu sudah pasti sangat lezat.
Zeroun mengambil daging mentah yang tersedia di atas piring. Pria itu mulai memanggang daging yang ada di sumpitnya. Menyusun rapi daging itu di atas panggangan yang tersedia di hadapannya. Emelie mengambil makanan lain yang sudah langsung di makan. Wanita itu mencicipi salah satu makanan dengan wajah berseri.
Zeroun tersenyum memandang wajah Emelie. Pria itu mengambil daging yang telah matang dan mencelupkannya ke dalam saus sebelum melahapnya. Emelie menyodorkan piringnya untuk meminta daging yang dipanggang oleh Zeroun.
Bibirnya tersenyum semakin lebar, saat kekasihnya meletakkan beberapa daging di atas piringnya.
“Makanan ini sangat enak.”
“Tidak seenak ikan ekor kuning milikmu.”
Emelie tertawa mendengar pujian Zeroun siang itu, “Kau hanya bilang lumayan malam itu.”
Emelie masih mengingat momen malam itu. Ya, wanita itu sempat kesal karena Zeroun tidak memuji masakannya malam itu. Kejadian malam itu kembali mengingatkannya dengan mobil yang pernah ingin menabraknya. Tiba-tiba saja Emelie menyimpan rasa penasaran dengan sosok yang sempat menyelamatkan nyawanya itu. Emelie menghentikan aktifitas makannya sambil melamun.
“Emelie, apa yang kau pikirkan?” Zeroun memandang wajah Emelie dengan seksama.
“Seseorang menolongku malam itu. Aku bahkan tidak sempat mencari keberadaannya. Setidaknya Aku harus membalas budinya.” Emelie meletakkan sumpit yang sempat ia genggam. Sepertinya nafsu makannya hilang begitu saja.
“Mungkin dia tidak ingin kau membalas budi untuknya,” jawab Zeroun dengan wajah santai.
“Jika pria itu ingin meminta imbalan, sudah pasti ia memintanya sejak dulu,” sambung Zeroun lagi.
“Darimana kau tahu kalau yang menolong adalah seorang pria?”
Zeroun tersedak dengan makanan yang kini ada di mulutnya. Bos Mafia itu lagi-lagi keceplosan saat berada di hadapan Emelie.
“Zeroun, apa kau baik-baik saja?” Emelie menyodorkan minuman di depan Zeroun. Mengambil tisu dan memberikannya kepada Zeroun.
“Aku baik-baik saja.” Zeroun menerima minuman itu. Pria itu sedikit mengumpat di dalam hatinya.
Ternyata bukan dia saja. Aku juga sudah berubah menjadi pria bodoh saat ada di hadapannya. Gadis nakal!
Zeroun menarik napasnya dengan kasar.
Huft, hampir saja ketahuan.
***
“Apa Nona Emelie tidak tahu dengan misi kita malam ini?” Lana bertanya dengan makanan yang penuh dimulutnya. Wanita itu tidak peduli dengan apa yang kini ia lakukana. Semua pertanyaan yang sempat memenuhi pikirannya ia keluarkan walaupun makanan memenuhi mulutnya.
Berbeda dengan Lukas. Pria itu memakan makanannya tanpa berbicara sepatah katapun. Sudah banyak pertanyaan yang diajukan oleh Lana. Tapi pria itu belum menjawab satupun pertanyaan yang diberikan oleh Lana.
Lukas masih asyik menikmati makan siangnya dengan tatapan mata yang begitu waspada.
“Lukas,” ucap Lana sambil menyenggol lengan pria itu.
“Apa kau tidak bisa diam saat makan. Jika kau terus saja mengeluarkan kata, Aku akan menendangmu agar keluar dari mobil ini.” Lukas melanjutkan makan siangnya dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Kau memang pria yang menyebalkan,” jawab Lana yang juga melanjutkan makan siangnya.
Beberapa menit kemudian. Lana dan Lukas sudah menyelesaikan makan siangnya. Dua pengawal itu duduk dengan satu botol minuman yang ada di genggaman tangan. Memperhatikan Zeroun dan Emelie yang sudah keluar dari restaurant.
“Sekarang kita mau kemana?” tanya Lana sambil memandang wajah Lukas.
“Apa Kau benar-benar sudah bosan dengan hidupmu?” jawab Lukas dengan wajah sinisnya.
“Maaf,” ucap Lana sebelum menutup kaca mobilnya dan memandang keluar jendela. Wajahnya cemberut dengan hati yang dipenuhi rasa kesal. Ingin sekali ia memukul Lukas saat itu. Tapi, ini bukan momen yang tepat.
Awas saja Kau. Aku akan membalas semua perbuatamu, Lukas. Kau pria yang sangat menyebalkan.
Lukas mengemudikan mobilnya mengikuti kecepatan mobil Zeroun. Kali ini Bosnya menuju ke arah jalan menanjak. Dengan wajah tenang Lukas terus saja mengikuti arah yang dituju Zeroun.
Lukas juga sudah memberi perintah kepada seluruh pasukan Gold Dragon untuk mempersiapkan semua rencana yang sudah mereka susun dengan rapi.
Setelah hampir Dua jam berada di dalam mobil. Kini mereka tiba di sebuah tebing yang menghadap langsung dengan laut. Lana melebarkan kedua bola matanya saat melihat keindahan laut dari atas bukit itu. Dari kejauhan, terlihat matahari yang tidak terlalu cerah. Hari memang sudah semakin sore.
Angin yang berhembus juga sudah semakin kencang dan terasa sangat dingin.
“Apa Bos Zeroun membawa Nona Emelie ke tempat ini untuk melamarnya.”
Mendengar perkataan Lana, Lukas melirik dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu juga tidak tahu apa yang kini dirasakan oleh perasaan Bosnya. Tapi, satu hal yang pasti. Zeroun tidak akan melamar Emelie di tempat itu. Walau terbilang romantis, tapi tempat itu bisa juga dibilang sebagai tempat yang paling berbahaya.
Sejak dulu, Zeroun pria yang waspada. Ia tidak pernah mau hari bahagianya di ganggu oleh siapapun.
“Lukas, apa yang kau pikirkan.” Lana memukul tangan Lukas untuk memecah lamunan pria itu.
“Lana apa kau bisa diam. Kepalaku pusing saat mendengar perkataanmu. Satu lagi, jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Bos Zeroun. Kau bisa celaka karena hal itu.”
“Apa itu satu larangan?”
“Sejak dulu, Bos Zeroun tidak suka kehidupan pribadinya di campuri. Apapun itu, jika sudah menjadi keputusannya. Kita tidak akan pernah bisa menghalanginya.” Lukas menatap Zeroun dan Emelie lagi.
“Apa ini karena Ratu Queen Star?” celetuk Lana dengan suara yang pelan.
Lukas menatap wajah Lana dengan wajah memerah, “Apa kau bisa untuk tidak membantah aturan yang ada Lana.”
Lana mengunci mulutnya. Ia tidak ingin membuat masalah dengan Lukas. Wanita itu lebih memilih untuk menikmati pemandangan indah yang tersaji di depan matanya daripada harus melanjutkan obrolannya dengan Lukas.
Like, Komen, Vote