
Adriana menghentikan langkah kakinya menuju kamar saat melihat Pangeran muncul. Dari pintu utama pangeran Damian berjalan beriringan bersama dengan pria berpakaian resmi. Mereka berjalan untuk mendekati posisi Adriana.
“Selamat siang Putri. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada putri Emelie. Apa saat ini Putri Emelie sudah bisa untuk ditemui?” Pria itu menatap wajah Adriana dengan seksama.
Adriana menegakan tubuhnya, “Putri Emelie tidak bisa diganggu, saya juga putri dari Raja dan Ratu. Saya bisa mewakili semuanya.” Adriana menatap wajah pria itu dengan seksama.
“Mari kita bicara sambil duduk.” Damian mengeluarkan ide. Menggiring pria itu dan Adriana berjalan ke arah sofa.
“Perkenalkan, saya inspektur Tao. Saya bertugas untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa Ratu. Disini kami ingin meminta persetujuan dari pihak keluarga, untuk memberi ijin kepada kami menangkap orang yang bertanggung jawab atas insiden ini.” Inspektur Tao membuka beberapa berkas. Meletakkan berkas-berkas itu di atas meja.
”Kecelakaan ini di sebabkan kelompotan mafia. Ada banyak mafia yang beroperasi di Inggris, tapi mafia ini bukan dari Inggris.” Inspektur Tao meletakkan foto pria yang tidak lagi asing bagi Adriana.
“Semua bukti mengarah pada mafia yang di pimpin oleh pria ini.” Inspektur Tao menunjuk wajah Zeroun Zein.
Adriana tersenyum kecil memandang Damian, “Saya menyetujui penyelidikan ini. Tangkap seluruh mafia ini dan penjarakan dengan hukuman mati.” Ada senyum licik di bibir Adriana.
“Baik putri. Anda bisa tanda tangan di sini.” Pria itu menyodorkan surat pernyataan yang harus di tanda tangani Adriana. Adriana terlihat bersemangat untuk menandatangani surat itu.
“Terima Kasih, Putri. Saya permisi dulu.”
Setelah berhasil mendapatkan persetujuan dari Adriana, inspektur Tao pergi. Di kursi itu hanya tersisa Adriana dan Damian. Keduanya saling memandang dengan penuh arti. Ada senyum kemenangan dari bibir mereka berdua.
“Aku terpaksa mengorbankan rekan bisnisku, untuk melindungimu sayang.” Damian beranjak dari duduknya.
“Tetap awasi Emelie. Jangan biarkan dia menghentikan penangkapan Zeroun Zein, apalagi bertemu dengan pria itu.” Pangeran Damian kembali memperingati Adriana agar bisa menjalankan rencana selanjutnya.
“Mau pergi?” Adriana beranjak dari duduknya menatap wajah Damian dengan seksama.
“Aku masih berstatus Pangeran di Monako. Ada banyak masalah yang harus aku selesaikan di sana.” Pangeran Damian memasang wajah serius.
Adriana tersenyum lagi, “Serahkan semuanya padaku, sayang.”
Damian tersenyum dengan lega. Memberi kepercayaan kepada wanita yang kini ada di hadapannya. Ia tidak ingin mengurus pernikahannya saat ini bersama dengan Emelie. Harapan dirinya untuk menikah dan menguasai seluruh harta yang dimiliki Emelie benar-benar sudah hilang.
Ditambah lagi, Adriana tidak akan pernah memberi kesempatan kepada dirinya dan Emelie untuk melangsungkan pernikahan. Tidak ingin berada di posisi tersulit dan terjebak di tengah-tengah, Damian memilih kembali ke daerah kekuasaan miliknya.
Berbeda dengan Adriana. Wanita sangat percaya dengan seluruh perhatian dan cinta Damian. Di dalam hidupnya hanya nama Damian yang menjadi tujuan hidupnya saat ini. Semua rencana dan kelakuan buruknya juga disebabkan oleh Damian.
Sejak awal, Damian yang terus-terusan memupuk kebencian di dalam hati Adriana. Merubah wanita lembut dan penurut itu menjadi wanita serakah. Semua yang dimiliki Emelie ingin ia kuasai seluruhnya.
Adriana benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya terhadap Damian. Ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Semua jalan yang salah kini ia anggap benar.
Dengan penuh bahagia, Adriana kembali ke kamar. Satu penghalang yang terus-terusan memaksa Emelie dan Damian menikah kini sudah tiada. Setidaknya ia bisa hidup dengan tenang sebelum menemukan rencana selanjutnya untuk menghancurkan Emelie saat ini.
‘Kau bisa tidur di kamar dengan begitu tenang Emelie. Kalau bisa jangan keluar untuk selama-lamanya. Seluruh orang yang selalu melindungimu akan mengalami nasip yang sama dengan Ratu. Mulai sekarang, kau harus hati-hati dengan adik kesayanganmu ini. Putri Emelie.
Ada tatapan kebencian di mata Adriana. Wanita itu berdiri di depan foto keluarga yang tertempel di dinding. Terlihat wajah Emelie dan Adriana yang masih polos. Raja dan Ratu berada di belakang dua gadis kecil itu dengan wajah tersenyum bahagia. Tetapi, semua itu tidak lagi sama. Satu persatu kebahagiaan itu telah dirusak karena tahta dan kekuasaan.
***
Lukas sudah di pindahkan ke markas sementara milik Gold Dragon. Cuaca yang cerah siang itu tiba–tiba berubah menjadi mendung. Rintikan hujan yang turun satu–persatu mulai membasahi gedung dan jalanan. Lana memberikan segelas air putih kepada Lucas. Sejak tibadi markas Lukas sudah kembali membuka mata. Pria itu bersandar di sebuah bantal dengan wajah masih pucat. Memperhatikan Lana yang sangat teliti dalam merawat dirinya saat itu.
Zeroun duduk di kursi sambil memukul–mukul meja dengan jari. Memikirkan strategi selanjutnya untuk melawan Heels Devils. Ekspresinya yang dingin, membuat suasana ruangan itu sangat hening. Terdengar gelegar petir dari arah luar. Hujanpun mulai turun dengan derasnya. Sepertinya langit juga berduka cita atas kepergian Ratu kerajaan siang itu.
Terdengar suara sepatu yang semakin dekat. Satu pasukan Gold Dragon berlari mendekati posisi Zeroun, dengan napas terputus–putus. Wajahnya juga pucat pasi. Bajunya basah bukan karena air hujan, tetapi karena keringat yang bercucuran deras.
“Bos, gawat!” Belum sempat melanjutkan perkataanya pria itu memegang kepalanya yang terasa sakit. Lukas melempar batu kerikil kepada bawahanya itu.
“Bicaralah seperti seorang pria!” ucap Lucas dengan tatapan membunuhnya.
Lana juga memasang wajah serius, menunggu cerita rekannya itu. Gold Dragon menunduk dalam tanpa memandang wajah siapapun.
“Katakan!” Perintah Zeroun tanpa ekspresi.
“Pihak kepolisian menuduh kita sebagai penyebab kecelakaan Ratu. Pihak kerajaan memberi perintah untuk menangkap kita saat ini. Sekarang Gold Dragon buronan, Bos.” Pria itu menyudahi cerita dengan ekpresi tidak terbaca lagi. Ini pertama kalinya Gold Dragon berurusan dengan aparat negara. Bahkan di negara lain. Bukan lagi di Hongkong.
Lukas dan Lana terbelalak kaget saat mendengar berita singkat pria itu. Ada perasaan kesal dan marah di dalam hati.
“Bagaimana mungkin, kita tidak ada hubungannya dengan semua ini.” Protes Lana.
Zeroun masih terus memukul–mukul meja yang ada di sampingnya dengan jari. Ekspresinya tetap sama, walaupun sekarang dia berada didalam zona tidak aman.
“Bos, apa yang harus kita lakukan?” sambung Gold Dragon dengan wajah takut.
Zeroun beranjak dari duduknya, memasukan kedua tangan ke dalam saku. Menghirup udara segar yang masuk melalui jendela. “Gunakan topi, Masker, kaca mata, topeng atau sebagainya. Kita harus menyembunyikan wajah kita untuk beberapa hari.” Zeroun tersenyum kecil sebelum berjalan pergi.
Langkahnya terlihat sangat tenang dan tidak merasa terbebani sama sekali. Sejak awal ia sudah menebak, semua ini akan berkaitan dengan dirinya. Kini, tidak ada lagi jalan untuk menghindar. Zeroun harus menghadapi dan menyelesaikan masalah itu secepatnya sebelum pergi meninggalkan kota itu. Ia tidak ingin pergi dengan status buronan.
Lukas mengepal kuat tangannya. Pria itu semakin dendam dengan Heels Devils. Ingin sekali ia menyerang Jesica untuk membalas sakit hatinya saat ini.