
1 Jam sebelum Lana dan Lukas kembali.
Lana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita tangguh itu ingin mencari barang-barang keperluan Emelie. Sesekali ia injak pedal gasnya agar laju mobil hitam itu semakin cepat.
“Baju renang, dimana aku mencari baju renang.”
Lana belum pernah menginjakkan kaki di Brasil. Selama ini ia pergi meninggalkan markas selalu saja ada Lukas di sampingnya. Tapi, tadi. Dilihat dari raut wajah Lukas. Sudah bisa dipastikan kalau pria itu tidak akan memiliki waktu untuk menemaninya berbelanja.
Kini mobil Lana tiba di Kota Salvador. Kota yang terletak tidak jauh dari tempat persembunyian mereka. Lana mulai menurunkan laju mobilnya dengan kaca mobil terbuka. Wanita itu tersenyum senang saat melihat keramaian kota pagi itu. Diujung jalan, Lana memberhentikan mobilnya. Mobil masih dalam keadaan hidup. Lana memperhatikan beberapa toko yang berbaris di pinggiran jalan raya.
“Mungkin Aku bisa menemukan baju untuk Nona Emelie di tempat ini. Tapi, bagaimana dengan selera Nona Emelie? Aku tidak sempat bertanya bagaimana pilihan baju Nona Emelie.” Lana mematikan mobilnya. Mencabut kunci itu dengan perasaan ragu. Dari balik spion, wanita itu memperhatikan gerombolan Heels Devils yang terlihat berkeliaran.
“Heels Devils?” Lana menutup kembali kaca mobilnya. Wanita itu berusaha bersembunyi agar gerombolan musuh tidak berhasil melihat wajahnya.
Tatapan mata Lana terhenti pada salah toko yang memang menyediakan pakaian renang. Dilihat dari depan toko, sudah bisa di pastikan kalau toko itu akan menyediakan barang yang ia cari.
“Aku harus bisa masuk kedalam toko itu.” Lana mencari-cari masker dan topi hitam. Tidak lupa ia memakai kaca mata hitam juga untuk menutupi penyamarannya. Dengan wajah penuh khawatir, Lana memberanikan diri untuk masuk ke dalam toko itu. Sepertinya keberuntungan masih berpihak padanya. Saat Lana berpapasan langsung dengan Heels Devils tidak ada satupun yang menyadari kalau Lana bagian dari Gold Dragon.
Setelah beberapa menit berada di dalam toko. Lana keluar dengan satu paper bag di tangannya. Di seberang jalan, Lana melihat butik yang sangat ramai akan pengunjung. Wanita itu berlari untuk menyebrang jalan. Ia ingin membeli gaun untuk ganti Emelie hari ini.
Langkahnya terhenti saat beberapa pria menghalangi langkahnya. Lana menelan salivanya dengan hati-hati. Debaran jantungnya tidak lagi normal pagi itu. Tiba-tiba saja napasnya berubah sesak. Cengkraman tangannya ia perkuat di tali paper bag itu.
“Maaf, Tuan. Anda menghalangi langkah saya.” Lana berusaha tenang agar tidak terlihat oleh musuhnya.
Tanpa mau menjawab pertanyaan Lana, pria berjaket hitam itu mengeluarkan pistol dan menodongkannya di depan Lana. Dengan gerak cepat, Lana memutar arah tubuhnya dan berlari dengan cepat ke arah mobil.
DUARR! DUARR!
Lana terus saja berlari tanpa peduli dengan peluru yang terus-terusan mengejarnya. Langkahnhya lagi-lagi harus tertahan saat melihat musuhnya sudah ada yang menanti kedatangannya di depan mobil.
Lana memandang ke arah gang sempit. Wanita itu berlari lagi untuk menghindar. Tapi, di tengah jalan, tubuhnya di tabrak oleh mobil salah satu warga. Lana tidak lagi melihat jalan saat menyebrang waktu itu. Wanita itu terpental hingga ke pinggiran jalan. Tapi, tidak ada luka di tubuhnya yang terlihat. Lana hanya merasa sakit pada bagian lututnya.
Sedangkan pria-pria berjaket hitam itu sudah mengelilinginya. Tidak ada lagi jalan untuknya berlari saat itu. Lana berusaha bangkit dan berdiri.
“Baiklah, sepertinya Aku harus mengahadapi kalian pagi ini.” Lana mengatur posisi tubuhnya untuk memperhatikan satu persatu wajah lawannya.
Gerombolan pria itu menyerang secara bersamaan. Membuat Lana sedikit bingung harus menyerang yang mana terlebih dahulu. Kakinya terus saja ia putar untuk menendang lawannya. Tangannya juga tidak tinggal diam. Berulang kali ia layangkan pukulan di wajah lawannya pagi itu.
“Sepertinya teknik bela diri pria itu lumayan juga.” Lana kembali mengingat Lukas. Selama ini ia terus dilatih oleh Lukas hingga bisa menghadapi musuh seperti saat ini.
Dari arah yang tidak terlalu jauh. Lukas berdiri di pinggiran jalan. Pria itu bersandar di tiang hitam sambil menonton aksi Lana pagi itu. Tidak ada niat di dalam hatinya untuk menolong wanita malang itu. Pria itu justru ingin melihat kualitas yang dimiliki oleh Lana.
“Lumayan,” ucap Lukas sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
Lana terus saja bertarung hingga napasnya tersengal. Paper bag berisi baju renang juga masih ada di dalam genggaman tangannya.
Jika begini terus-terusan, Aku bisa kalah.
Tatapan matanya terhenti saat melihat Lukas yang dengan santai berdiri di seberang jalan. Lana mengepal kuat tangannya. Wanita itu tidak lagi berpikir yang lain. Saat ini ia ingin berlari ke arah Lukas untuk meminta bantuan pria yang berstatus atasannya itu.
“Lukas, apa yang kau lakukan di sini. Kenapa Kau tidak membantuku.” Lana berdiri di hadapan Lukas dengan wajah dipenuhi luka. Napasnya terputus-putus dengan baju yang sangat kotor.
“Kau tidak bisa menghadapi mereka?” Lukas mengeryitkan dahi.
“Itu pertanyaan atau sindiran?” Lana meletakkan kedua tangannya dipinggang.
“Menyingkirlah!” Lukas mendorong tubuh Lana saat melihat musuhnya mulai mengeluarkan senjata api.
Suasana kota kecil itu berubah kacau. Orang-orang berlari kesana-kemari saat tembakan itu terdengar. Beberapa pria yang ingin menyerang Lukas telah disambut Lukas dengan senyuman kecil. Hanya beberapa gerakan yang ia lakukan. Tetapi sudah berhasil membuat lawannya tergeletak di jalanan.
“Kenapa kau tidak menolongku sejak awal!” protes Lana dengan wajah kesal.
Lukas melirik dan berjalan kearah Lana berdiri, “Sejak awal kau tidak meminta bantuanku. Untuk apa Aku menolong wanita sombong sepertimu?”
“Kau memang pria yang menyebalkan Lukas.” Lana memukul perut Lukas dengan begitu kuat. Hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
Dari kejauhan, terdengar sirine polisi. Lukas menahan amarahnya pagi itu. dengan cepat ia menarik tangan Lana untuk masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran polisi.
Setelah berada di posisi yang cukup aman, Lukas memberhentikan mobilnya dipinggiran jalan. Pria itu memandang wajah Lana dengan begitu kesal.
“Selain tidak tahu berterima kasih, apa lagi sifat buruk yang kau miliki?” Lukas menggenggam stirnya dengan begitu kuat. Memandang wajah Lana dengan tatapan membunuh.
“Maaf,” jawab Lana pelan.
“Maaf? apa kau sempat memikirkan kata-kata itu sebelum melakukannya?” Lukas masih tidak berkedip memandang wajah Lana.
“Sudahlah, kau seperti wanita. Sangat sulit untuk dibujuk. Sekarang, bantu Aku untuk berpikir. Aku harus segera kembali ke markas dan membawa baju ganti untuk Nona Emelie. Aku bahkan berjanji akan kembali dalam waktu 30 menit.” Lana memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Lukas tidak lagi ingin mengeluarkan kata. Pria itu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
“Kirimkan beberapa baju wanita dan segala keperluannya. Aku tunggu 15 menit.” Lukas memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Lana tercengang saat melihat Lukas pagi itu, “Segitu mudahnya?”
Lukas tidak lagi mau memandang dan menjawab pertanyaan Lana. Pria itu masih kesal dengan pukulan yang dilayangkan Lana.
Lana memperhatikan punggung tangan Lukas yang berdarah.
Apa luka itu karena menolongku tadi? Kenapa dia harus terluka. Membuatku jadi merasa bersalah saja.
Setelah menunggu selama 15 menit. Seorang pria mengetuk kaca mobil Lukas. Pria itu menyodorkan empat paper bag dihadapan Lukas.
Tanpa mengucapkan kata terima kasih. Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke markas milik mereka. Lana hanya diam dengan lima paper bag di atas pangkuannya.
Like,. Komen,. Vote,.