Moving On

Moving On
S2 Bab 71



Satu jam sebelum kejadian.


Emelie dan Shabira duduk di sebuah sofa sambil menonton televisi. Malam itu mereka harus menghabiskan waktu berdua karena suami mereka meminta ijin untuk keluar. Tidak ada yang harus mereka curigai. Dua pria tangguh berstatus suami mereka itu juga pasti bisa menjaga diri dan tidak akan mungkin mengecewakan mereka.


Lana keluar dari dalam kamar yang selama ini ia tiduri. Wanita itu berjalan pelan dengan senyuman indah di bibirnya, “Nona Emelie,” ucap Lana dengan nada yang lembut.


Emelie dan Shabira mengalihkan pandangan mereka. Dua wanita itu beranjak dari sofa yang mereka duduki dengan wajah berseri. Ini pertama kalinya bagi Emelie melihat Lana bisa berjalan lagi setelah beberapa hari ini wanita itu lumpuh.


“Lana, kau sudah bisa berjalan?” ucap Emelie dengan wajah bahagia. Wanita itu berlari kencang untuk memeluk Lana. Ia sangat bahagia, “Saya sangat senang bisa melihatmu seperti ini lagi.”


“Sepertinya penawarnya cukup hebat. Dalam hitungan hari saja aku sudah jauh lebih baik,” ucap Lana sambil membalas pelukan Emelie, “Terima kasih, Nona.”


Emelie melepas pelukannya, “Apa yang kau katakan? Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Semua ini memang layak kau dapatkan.”


Shabira berjalan pelan mendekati dua wanita yang berdiri tidak jauh dari hadapannya, “Kakak, semua sudah kembali normal. Sepertinya masalah Gold Dragon sudah teratasi dengan sempurna. Kalian harus melanjutkan bulan madu kalian yang sempat tertunda.” Ada kedipan mata yang diberikan oleh Shabira sebagai kode kepada Emelie.


“Ya. Tapi, aku mau selama kami bulan madu. Ada Lana dan Lukas bersama kami.” Emelie menatap wajah Lana dengan tatapan penuh arti.”


“Nona, kami tidak ingin mengganggu hari-hari bahagia Nona dan Bos Zeroun,” tolak Lana dengan nada yang lembut.


“Aku ingin melihat kalian bermesraan juga. Kalian berdua adalah pasangan favorit yang selalu aku nantikan.”


Lana tertawa kecil, “Nona, apa yang anda katakan. Kami tidak seperti itu. Lukas sangat berbeda jauh jika di bandingkan dengan Bos Zeroun.” Wajah Lana mulai memerah karena malu.


Emelie dan Shabira tertawa kecil saat melihat perubahan warna kulit Lana malam itu. Tapi, canda tawa yang baru saja tercipta itu harus hancur berkeping-keping saat seorang pria muncul di hadapan tiga wanita itu.


“Tolong aku,” ucap Inspektur Tao dengan nada yang sangat sedih.


Emelie dan Shabira menatap wajah Inspektur Tao dengan tatapan bingung. Tidak dengan Lana. Wanita itu sudah tahu kalau malam ini Agen Mia akan di tembak hingga tewas di dermaga. Ekspresi kesedihan Inspektur Tao sudah cukup mewakilkan kesedihannya terhadapan nasip Agen Mia.


“Inspektur Tao, apa yang terjadi?” ucap Emelie sambil melangkah beberapa langkah ke depan.


Shabira juga berjalan bersama Emelie. Ia ingin melindungi Kakak iparnya dari bahaya. Bagimanapun juga, sekarang orang yang di anggap baik belum tentu memiliki hati yang baik.


“Mia, tolong Mia, Nona Emelie. Malam ini Mia akan di tembak mati oleh Zeroun. Saya tidak ingin Mia kehilangan nyawanya malam ini. Tolong saya,” ucap Inspektur Tao dengan nada memohon.


Emelie cukup syok mendengar kabar yang baru saja ia dengar. Namun, dalam hitungan detik. Emelie memasang wajah setenang mungkin agar tidak terlihat panik.


“Mia seorang penghianat. Itu hukuman yang pantas ia dapatkan.” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada.


“Saya berjanji untuk membawanya pergi dari hidup kalian. Tolong selamatkan Mia.” Inspektur Tao memandang wajah Shabira. Ia cukup tahu, bagaimana hubungan baik Shabira dan Mia waktu dulu. Hanya ada harapan terakhir untuk menyelamatkan Mia.


“Maafkan saya, Inspektur Tao. Tapi, untuk malam ini saya tidak bisa menolong anda. Saya kenal bagaimana suami saya. Ia tidak akan mengambil keputusan seperti itu jika Mia tidak melakukan kesalahan.” Emelie tidak mau membantu Inspektur Tao. Ia juga masih sangat marah kepada Agen Mia karena wanita itu hampir saja membuat Lana kehilangan nyawanya.


“Nona Shabira, tolong bantu Mia. Mia adalah sahabat anda sejak dulu,” ucap Inspektur Tao dengan nada memohon.


Emelie dan Lana sama-sama syok mendengar kalimat yang sudah di ucapkan oleh Inspektur Tao. Berbeda dengan Shabira. Wanita itu terlihat tenang dan tidak percaya dengan kalimat yang di ucapkan oleh pria yang berdiri di hadapannya.


“Maaf, Tuan. Tapi, Mia yang saya kenal sudah meninggal. Anda tidak perlu menceritakan cerita palsu demi menyelamatkan nyawa adik anda. Saya juga berasal dari dunia mafia. Seorang penghianat tidak pantas untuk hidup. Keputusan Kak Zeroun malam ini sudah tepat,” ucap Shabira dengan wajah yang sangat tenang.


“Mia mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu. Wajahnya rusak hingga harus mengalami operasi plastik. Kecelakaan itu terjadi setelah,” ucapan Inspektur Tao tertahan beberapa detik. Pria itu menatap wajah Emelie dengan tatapan memohon maaf, “Setelah pembantaian keluarga Alexander.”


Shabira tercengang mendengar keluarga Alexander. Satu keluarga yang pernah ia bantai habis bersama dengan sahabat terbaiknya Mia. Shabira terpaksa menuruti permintaan sahabatnya untuk membunuh keluarga Alexander yang ia sendiri tidak tahu kesalahannya apa.


“Anda berbohong. Tidak mungkin Kak Zeroun membohongiku!” teriak Shabira tidak terima.


“Anda bisa menanyakan kebenaran itu kepada Zeroun langsung. Saya siap menjadi saksi dan siap memberikan bukti-buktinya.” Inspektur Tao mengeluarkan beberapa lembar foto yang berisi wajah Mia yang lama dan yang baru.


Shabira menerima foto-foto itu dengan tangan gemetar. Ia tidak sanggup untuk menerima kebenaran yang kini ada di depan matanya, “Mia. Dia memang Miaku.”


Tanpa banyak kata lagi, Shabira berlari untuk meninggalkan ruangan itu. Emelie dan Lana terlihat bingung saat melihat reaksi yang di berikan Shabira malam itu. Wanita hamil itu memiliki anak di dalam perutnya yang harus ia jaga. Emelie tidak ingin perbuatan ceroboh Shabira akan membuatnya menyesal nantinya.


“Zetta!” teriak Emelie dengan suara yang cukup lantang. Tapi, semua seperti sia-sia. Shabira tidak lagi peduli dengan teriakan kakak iparnya. Satu hal yang memenuhi pikiran wanita hamil itu adalah sahabatnya. Ia ingin segera tiba untuk mencegah Zeroun membunuh sahabatnya.


“Lana, kita harus mengikuti mereka,” ucap Emelie bingung.


“Baik, Nona.” Lana berlari ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah. Wanita itu harus mengambil alih kemudi untuk melindungi Emelie dari bahaya.


Emelie dan Lana masuk ke dalam mobil yang sama. Mobil itu juga melaju cepat untuk mengikuti Shabira dari belakang.


“Lana, bagaimana ini. Aku bingung,” ucap Emelie dengan wajah yang panik.


“Nona tenanglah. Semua akan baik-baik saja.” Lana berusaha kosentrasi dengan jalanan yang terbentang di depan.


“Zeroun memiliki posisi yang sangat sulit malam ini. Ia seorang pemimpin. Aku tahu, bagaimana posisinya saat ini. Ia tidak akan tega melihat tangisan Zetta nantinya. bagimanapun juga, Zetta adik kesayangannya.” Emelie merem*as dres yang ia kenakan malam itu. Wajahnya benar-benar panik.


“Nona, tenanglah,” bujuk Lana sekali lagi.


“Lana, aku harus melakukan satu hal untuk Zeroun malam ini. Aku tidak ingin Zeroun dan Zetta bermusuhan hanya karena Mia.” Emelie menatap wajah Lana dengan wajah yang sangat serius.


“Nona, apa yang ingin anda lakukan?” Lana cukup khawatir dengan kalimat yang baru saja ia dengar.


“Malam ini biar aku yang menembak Agen Mia. Zetta tidak akan marah pada Zeroun karena bukan Zeroun yang membunuh sahabatnya.”


“Nona, apa yang anda katakan? Itu hal yang cukup beresiko. Bos Zeroun tidak akan setuju dengan keputusan anda.” Lana menatap wajah Emelie sekilas sebelum melihat jalanan lagi.


“Zeroun tidak akan membenciku. Dia sangat mencintaiku. Aku harus melakukan hal ini agar Zeroun tidak bermusuhan dengan Zetta dan tidak di benci oleh Gold Dragon. Aku harus bisa melakukannya, Lana.” Emelie membuka laci mobil dan mencari-cari sebuah pistol. Ia tahu, di dalam mobil akan selalu ada senjata api dan senjata tajam.


Sebuah pistol yang cukup mengkilat di temukan Emelie di dalam laci itu. Lana melirik pistol itu. Detik itu juga Lana baru saja sadar, kalau mobil yang ia kemudikan adalah mobil milik Lukas. Senjata api yang di pegang Emelie juga salah satu koleksi senjata api kekasihnya.


“Nona, anda tidak bisa bermain-main dengan senjata itu.” Lana tidak lagi kosentrasi dengan kemudinya malam itu.


“Lana, beri tahu aku cara menggunakannya.” Emelie memeriksa bentuk senjata api yang ada di tangannya.


Lana tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, wanita itu mengajari Emelie untuk menggunakan senjata berbahaya itu. Walau ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


Emelie mengatur debaran jantungnya yang tidak karuan, “Zeroun, maafkan aku. Malam ini aku akan membantumu menyelesaikan masalah. Aku sangat mencintaimu. Aku harap kau tidak marah atas keputusan yang malam ini aku ambil. Ini demi menyelamatkan hubungan persaudaraan antara kau dan Zetta. Aku harap kau mengerti dengan semua seputusan yang aku ambil,” gumam Emelie di dalam hati.


***


Kenzo membawa tubuh Shabira untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu memandang mobil Zeroun yang masih ada di belakang mobilnya. Ia mengangguk sebagai kode kalau semua akan baik-baik saja. Kenzo cukup yakin, kalau ia bisa membujuk istrinya agar tidak bersedih lagi.


Kenzo mengitari mobil yang akan ia kemudikan. Pria itu memandang wajah Shabira yang masih menangis dengan wajah sedih, “Sayang, kau tidak pantas menangisi wanita seperti dia.”


Kenzo mulai melajukan mobilnya. Mobil Zeroun yang ada di belakang mobilnya juga mengikutinya dari belakang. Bahkan di belakang mobil Zeroun juga sudah ada mobil Lukas yang melaju dengan kecepatan sedang.


“Aku cukup kecewa dengan kalian. Kenapa kalian merahasiakan semua ini!” teriak Shabira dengan suara serak.


“Karena kau wanita yang cukup keras kepala. Tidak ada kata-kata dari kami yang akan kau dengar selain kata-kata yang terucap dari bibir Serena.” Kenzo berusaha membela dirinya.


“Kalian bisa menjelaskan semuanya padaku. Setidaknya aku tidak kecewa seperti ini,” ucap Shabira sambil menghapus air mata yang masih menetes, “Aku tidak ingin ke markas Gold Dragon.”


Kenzo menatap wajah Shabira sekilas, “Baiklah. Malam ini kita tidur di hotel dulu sampai kau benar-benar tenang.”


“Aku juga tidak ingin tidur di hotel!” teriak Shabira dengan suara yang semakin kuat.


“Sayang, kita tidak bisa berangkat ke Sapporo sebelum menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ingin kau berselisih paham dengan Zeroun.” Kenzo tampak menolak permintaan Shabira malam itu.


“Aku ingin ke rumah sakit. Perutku sakit,” sambung Shabira sambil mengusap lembut perutnya yang buncit.


“Ru-rumah sakit?” ucap Kenzo dengan bingung. Pria itu menatap perut Shabira dengan wajah khawatir.


“Kenzo, cepat. Ini sangat sakit!” protes Shabira sambil memejamkan mata menahan sakit, “KENZO!!!”


“Iy-iya, Sayang.” Kenzo menginjak pedal gasnya. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.