
London, Inggris.
Zeroun duduk di sebuah sofa dengan posisi bersandar. Sesekali wajahnya terlihat menahan sakit atas luka yang ia derita. Hanya satu lubang yang ada di bagian dadanya. Tapi, lubang kecil itu cukup berhasil mengeluarkan banyak darah setiap kali ia bergerak terlalu aktif. Bekas tembakan dari Jesica yang memang meleset dari organ vitalnya. Hingga akhirnya ia bisa selamat dan kembali berkumpul dengan yang lainnya.
Daniel membawa sahabat dan keluarga tercintanya ke sebuah rumah yang ada di kota London. Daniel memiliki cabang S.G. Group di kota itu. Tentu saja sangat memudahkan dirinya untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan aman.
Kini mereka berkumpul di ruang tengah rumah mewah itu. Shabira duduk di samping Serena untuk menjahit luka wanita itu. Sedangkan Lukas sibuk mengganti perban Zeroun yang basah.
Daniel sedikit ngeri melihat koyakan pada lengan istrinya. Sejak awal ia sudah sibuk ingin membawa Serena ke rumah sakit agar di tangani Dokter yang ahli. Namun, wanita berstatus istrinya itu menolak untuk pergi ke Dokter. Ceo makanan ringan itu memandang wajah Serena dan Zeroun secara bergantian. Hingga detik ini, kejadian yang ada di depan matanya tidak cukup masuk akal. Tanpa pertolongan Dokter luka yang mereka alami bisa sembuh dengan sendirinya.
“Sayang, apa itu benar tidak sakit atau kau menahannya?” tanya Daniel sambil menggenggam tangan Serena.
“Sedikit sakit. Tapi, tidak sesakit melahirkan,” jawab Serena dengan senyuman.
Shabira menghentikan pengobatannya. Wanita itu sedikit berpikir dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Serena, “Apa melahirkan sangat sakit?”
Serena memandang wajah Shabira sebelum mengangguk pelan, “Bahkan luka tembak saja tidak ada apa-apanya.” Wanita itu kembali membayangkan momen ia melahirkan dua buah hatinya. Tiba-tiba saja tangannya memegang perut karena membayangkan rasa sakit luar biasa yang pernah ia alami.
“Sayang, apa perutmu sakit?” Daniel memandang tangan Serena yang kini ada di depan perut rata istrinya.
Serena menggeleng pelan, “Aku baik-baik saja.”
“Zeroun, apa kau masih ingat bagaimana kau bisa selamat dan di tolong oleh Damian?” tanya Kenzo dengan wajah penasaran.
“Kabar kepergian Kakak tiba saat malam hari. Kami berkumpul di rumah Kak Erena dengan wajah tidak percaya. Kami tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidup kami kalau kakak benar-benar pergi.” Shabira menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Zeroun. Wanita itu membantu Lukas untuk membersihkan luka Zeroun setelah luka Serena selesai di obati.
“Aku justru penasaran dengan kejutan kalian hari ini,” jawab Zeroun dengan senyuman kecil. Lelaki itu menatap wajah Serena dengan seksama, “Kau ada di rumah itu sebelum pernikahan?” Zeroun cukup yakin. Kalau di hari pernikahan, Damian tidak akan seceroboh itu memasukkan orang baru walau hanya seorang pelayan.
Serena tertawa kecil, “Aku bahkan menyamar menjadi pelayan di rumah itu selama dua hari sebelum pernikahan.”
“Ya. Aku tinggal di rumah ini bersama Kenzo dan Biao. Sementara wanita ini menginap di Istana Putri Emelie,” jawab Daniel sambil menarik tubuh Serena dengan penuh kerinduan.
Serena menyandarkan kepalanya di dada Daniel. Bibirnya tersenyum sebelum mengeluarkan kata.
Dua hari sebelum pesta pernikahan.
Serena memandang luar jendela dengan wajah sedih. Walaupun mereka sudah mendapat kabar kalau Zeroun selamat. Tapi, tetap saja hatinya di penuhi rasa bersalah. Seandainya saja ia datang sebelum semua terjadi, maka ada harapan kalau Zeroun tidak akan celaka hingga separah ini.
“Sayang, apa kau yakin akan masuk ke dalam istana itu sendirian?” tanya Daniel dengan wajah khawatir. Kini lelaki itu mengemudikan mobil untuk mengantar Serena pergi menuju ke Istana kerajaan Inggris.
“Ya. Hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku tahu apa yang semuanya telah terjadi. Zeroun sudah menyimpan banyak rahasia dari kita,” jawab Serena dengan wajah tidak bersemangat, “Mungkin aku bisa membantunya agar tidak lagi kehilangan wanita yang ia cintai. Sepertinya wanita bernama Emelie itu cukup berarti di dalam hidupnya. Aku sudah menyelidiki beberapa kasus yang di alami Zeroun. Semua itu berawal dari wanita bernama Emelie. Jika memang wanita itu sangat berarti, pasti Zeroun akan bahagia saat bertemu dengannya lagi.”
“Baiklah. Berjanjilah kalau kau akan keluar dengan selamat.” Daniel menghentikan laju mobilnya. Lelaki itu menarik dan mengecup bibir istrinya dalam durasi yang cukup lama. Hatinya masih di selimuti kekhawatiran. Istrinya sendirian di istana itu dan di kelilingi musuh yang cukup berbahaya. Ingin sekali ia melarang Serena, tapi itu pasti tidak akan berhasil, “Aku sangat mencintaimu. Aku akan menunggumu di tempat ini dua hari lagi.”
Serena mengangguk kepalanya dengan senyuman, “Aku pergi dulu.”
Serena keluar dari dalam mobil. Wanita itu mulai berjalan masuk ke dalam istana. Topeng dan segala atributnya sudah ia persiapkan. Detik itu ia akan dengan mudah masuk ke dalam istana tanpa ada yang curiga.
Setelah beberapa menit berjalan dengan pakaian pelayan, Serena berhasil masuk ke dalam istana. Ia sengaja menggunakan topeng yang sama dengan pelayan yang bekerja sebagai pelayan pribadi Emelie. Satu-satunya wajah yang ingin ia lihat saat ini adalah Emelie. Wanita yang telah dilindungi mati-matian oleh sahabat terbaiknya.
Serena membawa nampan yang berisi makan malam Emelie. Di sampingnya ada dua pelayan wanita yang juga membawa makanan dan minuman untuk Emelie. Serena dan yang lainnya masuk ke dalam kamar Emelie setelah salah satu di antara mereka membuka pintu.
“Kita harus bisa merayu Putri agar mau makan. Jika tidak berhasil, maka kita akan di beri hukuman oleh Pangeran Damian,” bisik salah satu pelayan sebelum masuk ke dalam kamar.
Serena hanya menghela napas. Wanita tangguh itu masuk dan meletakkan makanan yang ada di atas meja. Kedua bola matanya menatap Emelie yang duduk di tepian tempat tidur dengan kaki terlekuk. Wanita itu masih menangis di dalam kesedihan.
“Emelie? wanita ini yang bernama Emelie. Apa ia bersedih karena Zeroun?
Serena melangkah maju dari yang lain. Ia juga berusaha untuk merayu Emelie makan malam, “Putri. Sebaiknya anda jangan bersedih lagi. Seseorang juga akan merasa sedih jika anda seperti ini. Anda harus mengumpulkan tenaga untuk melawan orang yang telah melukai hati anda.”
Dua pelayan yang ada di belakang Serena tercengang. Pelayan itu tidak menyangka kalau wanita yang berdiri di hadapannya berani mengatakan hal itu. Jika Damian tahu soal hal ini, bukan hanya pelayan yang berbicara. Tetapi nasip mereka bertiga juga tidak akan selamat.