
Serena terus mengejar mobil Jesica dengan kecepatan tinggi. Wanita itu juga tidak tahu kemana Jesica akan membawanya saat ini. Tatapan matanya cukup tajam. Sesekali ia melirik senjata apinya dan mengganti peluru di dalamnya, “Apa kau pikir bisa dengan mudah lari dari incaranku, Jesica Gigante.”
Jesica melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ada rasa kesal di dalam hatinya saat melihat Serena mengemudikan mobilnya dengan begitu ahli. Sudah berulang kali ia membuat trik kecil agar Serena celaka. Tapi, tidak ada satupun jebakan yang ia buat berhasil membuat Serena celaka.
Sejak dulu, Serena memang ahli dalam mengendalikan mobil kecepatan tinggi. Bukan hanya menghindar dari kejaran. Bahkan setiap mobil yang ia kejar juga tidak pernah berhasil lolos. Selama mobil itu baik-baik saja, maka semuanya juga akan berjalan dengan lancar.
Di tengah kota yang di penuhi dengan keramaian. Mobil Jesica dan Serena saling kejar-kejaran. Tidak lagi peduli dengan lampu merah atau palang kereta api. Semua mereka lalui layaknya sirkuit balap mobil.
Jesica membawa laju mobilnya menuju ke arah gedung berukuran tinggi yang berada jauh dari kota. Lokasi gedung itu cukup sunyi dan sangat menyeramkan. Wanita itu keluar dari dalam mobil mobil dengan senyum yang cukup indah. Tubuhnya sengaja ia sandarkan di depan mobil agar bisa menyambut Serena.
Serena menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari Jesica menghentikan mobilnya. Kini mobil mereka saling berhadapan. Wanita tangguh itu memperhatikan lingkungan yang ada dengan seksama.
“Kenapa wanita itu memilih tempat jelek seperti ini sebagai tempat kematiannya,” ucap Serena sebelum membuka pintu mobilnya. Wanita tangguh itu keluar dengan tatapan cukup tajam namun dengan hati yang sangat tenang. Tidak ada rasa takut atau apapun yang kini memenuhi hatinya. Serena cukup yakin kalau hari ini ia akan berhasil membunuh Jesica.
“Erena, senang bertemu dengan anda,” ucap Jesica dengan tatapan menghina, “Apa kau masih mencintai mantan kekasihmu hingga repot-repot turun tangan seperti ini?”
Serena membuang tatapannya ke arah lain sebelum bersandar di depan mobil miliknya, “Apa kau takut?”
Jesica tertawa terbahak-bahak saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Serena saat itu, “Sudah cukup lama aku menantikan momen indah seperti ini. Dimana hanya ada kita berdua di satu tempat dengan satu pertarungan yang cukup menyenangkan. Tanpa senjata apapun.” Jesica mengeluarkan pistol dari dalam sakunya, “Apa kau berani bertarung denganku tanpa senjata apapun?”
Serena menghela napas, “Apa kau ingin mati dengan senjata tajam?” Dua pistol yang ada di genggamannya ia buang ke posisi yang cukup jauh dari posisinya berada. Wanita itu menatap tajam wajah Jesica dan siap melahap wanita itu hidup-hidup.
“Jangan terlalu percaya diri, Erena. Kali ini aku tidak akan kalah darimu.” Jesica berjalan mendekati posisi Serena. Pistol yang ada di tangannya juga ia buang ke arah yang sama tempat senjata api Serena tergeletak. Tangannya sudah tidak sabar untuk memberi satu pukulan di wajah Serena detik itu juga.
Serena memastikan sekali lagi kalau di tempat itu tidak ada yang mengintainya saat ini. Setelah merasa keadaan benar-benar aman, wanita tangguh itu berjalan untuk bertarung dengan Jesica. Ia pernah sekali mengalahkan wanita itu. Kali ini ia ingin memenangkan lagi pertarungannya.
Satu pukulan di layangkan Jesica tepat ke arah wajah cantik Serena. Dengan gerakan cepat Serena menghindar dan menahan tangan wanita itu. Satu tendangan ia berikan kepada Jesica. Jesica mundur beberapa langkah saat tendangan Serena cukup kuat baginya.
Jesica tidak mau menyerah. Wanita itu membalas pukulan Serena. Kali ini pukulannya berhasil menghantam bagian bibir Serena. Ada bercak darah di sudut bibir Serena, “Aku bukan lagi wanita lemah yang dulu kau kenal, Erena.”
Jesica mengelurkan satu belati dan mengarahkannya ke bagian tubuh Serena. Sama halnya dengan Serena, wanita itu juga mengambil belati yang tersimpan. Kepalanya berputar saat belati Jesica mengincar bagian wajahnya. Sayatan belati itu mengiris pita rambut Serena hingga akhirnya membuat rambut panjang wanita itu tergerai indah.
Serena berjongkok lalu memutar kakinya. Kali ini jegalan yang ia buat berhasil. Jesica terjatuh terduduk di permukaan lantai. Belati yang ada di genggamannya melayang ke udara. Wanita tangguh itu melopat untuk merebut senjata milik musuhnya. Ada senyum tipis di sudut bibir Serena saat ia berhasil menggenggam belati Jesica.
“Apa kau yakin bisa menang hari ini?” ucap Serena dengan satu senyuman. Belati yang ada di tangannya ia mainkan dan siap untuk menusuk tubuh lawannya, “Sekarang katakan, kau ingin aku menusuk benda ini di bagian mana lebih dulu?”
Jesica mengatur napasnya yang terputus-putus. Bahkan tatapan mata Serena jauh lebih menyeramkan dari Zeroun. Jika di mata Zeroun hanya ingin membunuhnya agar ia lebih cepat mati. Tidak dengan Serena. Ada wajah penyiksaan di dalam sorot mata Serena siang itu. Sejak dulu Serena memang di kenal dengan kekejamannya dalam membunuh. Ia tidak segan-segan menyiksa musuhnya sebelum ajal menjemput. Bahkan setiap tetes darah yang di keluarkan akan terasa sangat menyiksa. Membuat tubuh setiap musuhnya lebih memilih mati daripada harus di siksa seperti itu.
“Aku lebih suka menyayat wajah musuhku lebih dulu. Menghilangkan satu bola mata indah yang ia miliki lalu membiarkan kaki nakal itu berlari ketakutan,” ucap Serena sambil terus berjalan untuk mendekati tubuh Jesica.
Jesica terus berusaha menghindar dan mundur ke belakang dengan kaki terseret di lantai berdebu. Hatinya benar-benar di penuhi ketakutan. Jika ia bisa merebut kembali pistolnya, maka ia akan lebih memilih bunuh diri daripada jatuh ke dalam penyiksaan Serena.
“Apa kau sudah memutuskan sesuatu, Jesica?” Serena berjongkok lalu menarik rambut Jesica. Membuat pemimpin mafia Heels Devils itu memekik kesakitan, “Apa ada pesan yang ingin kau sampaikan sebelum aku memulainya? Seharusnya kau tahu kalau aku tidak akan pernah diam jika seseorang mengganggu ketenangan orang-orang terdekatku. Kesalahanmu sudah cukup besar, Jesica. Bahkan penyiksaan ini saja tidak cukup untuk membayarnya.”
“Kau yang akan mati lebih dulu, Erena,” ucap seseorang dari arah belakang.
Damian berdiri di belakang tubuh Serena sambil menodongkan pistol. Jika detik itu ia tarik pelatuknya maka nyawa Serena akan melayang secepatnya. Ada senyum puas di bibir Jesica dan Damian saat berhasil menjebak Serena siang itu, “Dua lawan satu, kau akan kalah.”
“Bagaimana kalau dua lawan dua. Aku rasa itu cukup seimbang,” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul.
Serena mengukir senyuman saat melihat sosok yang ia kenali juga ada di situ untuk menolongnya, “Kau terlambat lima menit, Zeroun Zein."
Vote yang banyakkk... Biar author dpt inspirasi banyak juga. Berpengaruh besar itu lho.😂