Moving On

Moving On
Musuh Baru



Zeroun keluar dari dalam lift yang menghubungkan dirinya dengan lantai 125. Pria itu melirik ke arah kertas yang ada di tangannya. Tertulis alamat seseorang yang kini ia cari.


[Lantai 125 nomor 1667]


Zeroun berjalan dengan santai menuju ke nomor yang tertera di kertas itu. Satu persatu nomor kamar ia perhatikan dengan begitu waspada. Di sudut lorong, langkahnya terhenti. Nomor 1667 itu tertera jelas di depan pintu.


Zeroun membuka pintu kamar itu. Hatinya sedikit curiga saat melihat kamar itu tidak terkunci. Dengan langkah waspada, ia masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Zeroun tidak menemukan siapapun di sana. Kamar itu terlihat sangat rapi seperti tidak berpenghuni. Setiap sudut kamar ia periksa dengan begitu waspada. Namun, ia tidak menemukan apapun di dalam kamar itu. Satu tempat lagi, yang belum ia periksa.


Zeroun menyimpan harapan besar, kalau dirinya akan bertemu dengan orang yang ia cari di dalam kamar mandi itu. Tetap dengan sikap waspada, ia mendorong pintu kamar mandi itu dengan begitu hati-hati.


Terlihat seorang wanita berambut panjang telah berendam di dalam bathtup. Kelopak mawar merah menghiasi lantai putih di bawahnya. Rambut wanita itu berwarna cokelat. Kulitnya yang putih dan mulus, membelakangi posisi Zeroun saat itu. Satu tangannya menggenggam wine berwarna merah.



Tangannya terlihat menggosok-gosok tubuhnya dengan busa mandi. Ada lirik lagu yang keluar dari suara halusnya.


Zeroun menghentikan langkah kakinya. Ada sedikit keraguan kalau kini ia salah masuk kamar. Namun, Lukas tidak pernah salah. Pria itu tidak akan melakukan kesalahan dalam misi pentingnya kali ini.


“Tidak sopan mengintip wanita mandi.” Wanita itu mengeluarkan suara dengan tawa kecil.


“Siapa kau?” tanya Zeroun dengan waspada. Satu pistol masih melekat di tangannya.


“Aku? Kau yang tiba-tiba datang. Kenapa harus bertanya padaku seperti itu?” Wanita itu masih terus saja melanjutkan mandinya dengan wajah riang.


Zeroun menarik pistolnya, tidak ada lagi waktu bermain baginya. Siapapun wanita itu, ia harus menghabisinya detik itu juga.


DUARR!


Satu tembakan di layangkan oleh Zeroun. Dengan langkah cepat, wanita itu menghindar. Mengambil handuk yang tergantung, memakainya dengan cepat. Entah sejak kapan ia menemukan dua senjata itu. Wanita itu berdiri dengan posisi siap dengan dua pistol yang berada di tangannya.


“Selamat datang, Zeroun Zein. Senang bertemu dengan anda.” Satu senyum licik terukir di wajah cantik wanita itu.


Zeroun semakin yakin, kalau kini dia tidak salah masuk kamar. Namun, pria berusia 29 tahun itu tidak pernah menyangka. Kini ia menghadapi Mafia besar yang dipimpin oleh seorang wanita. Wanita yang tidak dikenali itu, mengingatkan dirinya dengan Serena.


Dulu, dia sempat berpikir kalau Serena adalah wanita paling berbahaya yang ada di dalam dunia mafia. Namun, detik ini ia sadar. Semua itu salah, saat ia berhadapan dengan wanita yang memimpin hampir seluruh mafia yang ada di benua Eropa itu.


“Senang bertemu dengan anda, Nona.” Zeroun mengukir senyum tipis ciri khasnya.


“Anda pria pertama yang berhasil bertemu langsung dengan saya. Sepertinya saya harus memberikan penghargaan, untuk sikap berani anda.” Wanita itu menurunkan pistolnya.


Zeroun masih tetap waspada, apapun gerakan tiba-tiba dari wanita itu. Ia harus bisa menghadapinya.


Wanita itu mengambil bunga mawar yang ada di sampingnya, melemparkan bunga mawar itu di hadapan Zeroun Zein. Dengan cepat, Zeroun menghindari bunga mawar itu.


Dalam hitungan detik, bunga mawar itu mengeluarkan asap yang begitu tebal. Zeroun menarik pelatuknya tepat di posisi wanita itu berdiri. Tembakan demi tembakan ia keluarkan. Berharap salah satu peluru itu mengenai tubuh musuhnya.


Zeroun berjalan dengan cepat untuk mengejar musuhnya. Kabut asap hilang, bersama dengan wanita itu. Zeroun menendang lemari yang ada di hadapannya dengan wajah kesal. Ada selembar surat di atas meja itu. Zeroun mengambil surat itu, membacanya dengan wajah penuh amarah.


Untuk pertemuan kita yang kedua, Aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertarung secara langsung denganku.


Zeroun mencengkram kuat kertas itu. Melemparnya ke permukaan lantai. Langkah kakinya menuju ke arah jendela yang terbuka. Namun, tidak ada siapapun yang berhasil ia temui di luar jendela itu. Zeroun memutar tubuhnya untuk mencari posisi Lana dan Lukas berada saat itu.


.


.


.


Lukas tidak berhenti sampai di situ. Belati itu ia tarik ia tusukkan di bagian tubuh yang lainnya. Membuat musuhnya merubah ekpresi dengan wajah kesakitan.


“Awas,” teriak Lana.


Satu pukulan mendarat tepat di punggung Lukas. Pria itu jatuh tersungkur ke permukaan lantai. Matanya mulai kabur dan tidak jelas. Wajah Lana yang terduduk di kejauhan samar-samar ada di hadapannya. Namun, dalam sekejap semua berubah menjadi gelap. Lukas tidak lagi sadarkan diri.


“Bos,” teriak Lana dengan wajah khawatir.


Tersisa satu musuh lagi. Namun, ia tidak memiliki tenaga lagi. Pria berbadan tegab itu kini memegang satu balok kayu yang begitu besar. Berjalan perlahan menuju ke posisi Lana.


Lana tidak ingin menghindar, dengan sekuat tenaga. Ia kembali berdiri untuk melawan musuhnya. Pria itu mengangkat tongkat kayunya dan siap untuk memukul wajah Lana.


Satu tendakan yang sangat kuat membuat pria berbadan besar itu mundur beberapa langkah. Zeroun berdiri tidak jauh dari posisi Lana berada. Memandang kekacauan yang terjadi. Tatapannya terhenti pada Lukas yang tidak sadarkan diri.


“Bawa Lukas pergi dari sini.” Zeroun menatap wajah Lana dengan seksama.


Lana mengangguk, lalu berlari ke arah Lukas. Menopang tubuh pria itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki.


Zeroun menatap tajam wajah pria yang berdiri di hadapannya. Satu tendangan ia keluarkan tepat di wajah pria itu. Hingga membuat balok kayu yang ada di genggaman musuhnya terjatuh.


Saat melihat musuhnya lengah, Zeroun mendorong tubuh pria itu ke arah jendela. Sepertinya Zeroun dibekali tenaga yang masih penuh malam itu. Kaca pecah saat berhantam langsung dengan tubuh besar pria itu. Tidak lagi memiliki pegangan, pria itu terjatuh keluar jendela. Melewati puluhan lantai gedung yang menjadi tempat mereka bertarung saat itu.


Zeroun merapikan jas yang ia kenakan. Berjalan dengan santai ke arah musuh yang tergeletak. Menarik belati milik Lukas, lalu pergi meninggalkan kekacauan itu.


“Aku pasti akan menemukanmu lagi.”


umpatnya dalam hati, saat ia tidak berhasil mengalahkan pemimpin utama yang pernah menyerang kapal miliknya.


***


Emelie dan Damian sudah berada dalam perjalanan pulang. Mereka berdua duduk di bangku belakang. Satu supir kerajaan mengambil alih kemudi malam itu. Terdapat banyak mobil di depan dan belakang untuk mengiringi laju mobil mereka. Tatapan Emelie hanya ia lempar ke arah luar jendela. Hatinya masih diselimuti penyesalan, karena tidak berhasil mengajak Zeroun bertemu lagi.


“Sayang ....” Damian meraih tangan Emelie.


Dengan cepat, Emelie menghempaskan tangan Damian dari genggaman tangannya.


Damian tertawa kecil saat melihat sikap Emelie saat itu.


“Baiklah, kali ini kau boleh berbuat sesuka hatimu. Kita lihat saja lain kali. Apa kau bisa menghindar dari sentuhanku lagi?” Damian tersenyum licik.


“Aku tidak pernah berpikir, apa tidak ada pria di dunia ini yang jauh lebih baik. Bisa-bisanya Ratu menjodohkanku dengan pria bermuka dua seperti dirimu.” Emelie tersenyum kecil saat membayangkan sikap Damian yang begitu memuakkan.


“Hati-hati dengan ucapanmu, Putri. Seorang Putri kerajaan, tidak pernah di ajarkan untuk mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu.” Damian melirik supir yang ada di depan kemudi.


“Aku juga bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih kasar dari pada ini.” Emelie mengancam Damian dengan mata melebar.


Tidak ingin masalah itu semakin panjang dan mencoreng nama baiknya. Damian menyimpan keluh kesahnya di dalam hati. Membuang tatapannya dari wajah Emelie agar tidak semakin emosi.


Like,Komen, Vote,