
Wajah Zeroun Zein terlihat tanpa ekspresi saat menatap Emelie. Satu tangannya mencengkram tangan Emelie. Satu tangannya yang lain mencengkram pinggang ramping putri kerajaan itu.
Emelie memberanikan diri untuk menatap wajah Zeroun Zein. Ini merupakan momen langkah yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Menatap wajah Bos Mafia itu dengan jarak yang begitu dekat.
Hidung yang mancung, bibir yang seksi dan merah, alis yang indah. Ada sedikit rambut yang jatuh di dahi Zeroun. Membuat penampilan Zeroun terlihat sangat tampan pada malam itu.
Tiba-tiba saja Emelie menjadi gugup dengan degub jantung yang berdetak dengan sangat cepat. Masih terdengar jelas alunan musik dansa yang melengkapi suasana romantis itu.
“Apa kabar?” Emelie memberanikan diri untuk berbicara lebih dulu. Kedua bola matanya berusaha untuk mengalihkan tatapan Zeroun.
“Baik,” jawab Zeroun dengan ekpresi dingin. Tatapan matanya teralihkan ke arah lain.
“Terima kasih,” ucap Emelie lagi.
“Untuk?” tanya Zeroun singkat. Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama. Emelie semakin gugup saat kedua bola mata hitam milik Zeroun menatap wajahnya.
“Untuk ... semuanya,” jawab Emelie dengan napas tertahan.
Zeroun mengangguk pelan membuat Emelie tidak tahu harus berkata apa lagi. Melihat Lana dan Lukas sudah menghilang dari aula itu. Wajah Zeroun berubah waspada.
“Zeroun ....” ucap Emelie dengan begitu hati-hati.
“Aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik Putri. Tidak semua orang jahat berada jauh dari dirimu. Ada kalanya orang yang paling dekat adalah orang yang paling berbahaya.” Zeroun melepas tangannya dari tubuh Emelie.
Tanpa menunggu kalimat yang keluar dari bibir Emelie, Zeroun pergi begitu saja. Sedangkan Emelie masih mematung di tengah-tengah lantai dansa.
“Bodoh, kenapa aku tidak bisa mengatakan kalimat itu,” umpat Emelie kesal. Emelie memutar tubuhnya berharap masih punya waktu untuk menghentikan kepergian pria itu. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tapi, saat ia berbalik. Zeroun sudah tidak ada di dalam aula itu. Pria itu hilang entah kemana.
Ingin sekali Emelie mengajak Zeroun untuk bertemu di lain waktu, walau hanya untuk makan siang bersama. Tapi, semua keinginannya tertahan di dalam hati. Saat ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya.
“Putri,” sapaan Adriana memecahkan lamunan singkat Emelie.
“Apa Putri baik-baik saja?” Adriana menatap wajah bingung Emelie dengan seksama.
“Saya baik-baik saja.” Emelie memandang arena dansa yang mulai sunyi. Para tamu undangan sudah kembali ke kursi masing-masing.
“Mari, Putri,” ajak Adriana sambil menggandeng tangan Emelie menuju meja sebelumnya.
Pangeran Damian sudah ada di meja itu dengan gelas berisi anggur di tanganya. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat kehadiran Emelie dan Adriana.
“Putri, dimana Tuan Zeroun Zein?” Damian meneguk minumannya secara perlahan. Menyesapi rasa pahit dan manis dengan penuh penghayatan.
“Tuan Zeroun sudah pergi,” jawab Emelie dengan ekspresi malas.
“Zeroun pria yang sangat sibuk. Dia tidak akan punya banyak waktu untuk bermain-main dengan ....” ucapannya tertahan. Damian meletakkan gelas anggur yang ada di tangannya kembali ke atas meja.
“Wanita,” sambung Damian dengan penuh penekanan.
Emelie membuang tatapan matanya dari Damian.
Apa yang ia lakukan disini? Kenapa ia tidak kembali ke Hongkong? dan ... dimana Lukas? ini pertama kalinya Aku melihat pria itu tidak ada di samping Zeroun. Apa sesuatu telah terjadi pada Lukas?
Di sisi lain.
Lana dan Lukas sudah ada di lantai tertinggi gedung itu. Sejak pertama kali keluar dari dalam lift. Mereka sudah di sambut anak buah dari musuh yang mereka cari. Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh Lana dan Lukas untuk membela diri. Pasukan Gold Dragon tidak ada yang bisa ikut menjalani misi di dalam hotel itu. Hotel itu di jaga dengan begitu ketat. Zeroun tidak ingin polisi juga mengganggu misinya malam itu.
Lana dan Lukas mengeluarkan pistol yang tersimpan saat melihat beberapa pria menghadangi langkah mereka.
DUAARR!
Satu musuh mengeluarkan satu tembakan lebih dulu. Lukas mendorong tubuh Lana agar wanita itu berada di balik dinding. Sedangkan Lukas, terus menembak sambil berjalan maju ke depan.
“Kenapa dia menyembunyikanku di tempat ini,” umpat Lana kesal saat dirinya tidak diberi kesempatan bertarung.
Lima pria yang menghalangi telah tergeletak di permukaan lantai. Darah mengalir deras di tubuh musuh-musuhnya. Lana berlari mengikuti langkah Lukas dari belakang. Dengan hati-hati dan waspada, mereka berjalan memeriksa lorong sepi itu.
Beberapa menit menelusuri lorong yang terlihat sepi. Kini Lukas dan Lana di hadang oleh dua pria berbadan besar. Dua pria itu menggerakkan kepalanya untuk melemaskan urat-urat yang ada dilehernya. Tangannya saling bertumpuh, seperti sudah tidak sabar untuk memukul lawannya.
Lukas memperhatikan wajah dua pria itu secara bergantian. Ada rasa kurang percaya dengan Lana saat itu. Baginya Lana akan sangat sulit mengalahkan pria yang ukuran badannya tiga kali lebih besar dari wanita itu.
“Apa kalian pikir Aku takut?” tantang Lana dengan wajah penuh percaya diri.
Lukas melirik Lana dengan satu senyum kecil.
“Jangan terlalu percaya diri,” ucap Lukas sambil mengantongi pistol yang ada di genggaman tangannya.
Lana kaget ketika melihat Lukas memasukkan pistol itu ke dalam saku. Dengan wajah tenang, Lukas mengeluarkan belati favoritnya. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Kini pria itu siap bertarung melawan musuh yang berani menghalanginya.
“Tuan, kenapa kita tidak menembak pria itu saja?” bisik Lana dengan wajah penuh tanya.
“Kau boleh menembaknya sekarang,” tawar Lukas.
Lana mengangkat pistolnya, mengokang senjatanya di hadapan dua pria itu. Ada rasa curiga ketika ia tidak melihat perubahan ekpresi wajah dari dua pria itu. Tanpa menunggu lagi, Lana menarik pelatuk pistolnya.
Dua peluru ia lepas secara beruntun ke tubuh dua pria itu. Namun, tembakan itu tidak mengoyahkan tubuh dua pria itu.
“Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki kulit sekuat ini.” Lana mematung dengan ekpresi takjub.
“Tidak ada waktu untuk becanda,” sambung Lukas sambil berlari ke arah depan.
Lana memasukkan pistolnya ke dalam saku celana yang ada di balik dres panjangnya. Mengikuti jejak Lukas untuk menyerang langsung pria itu dengan pukulan.
Belati Lukas terpental hingga jauh. Sambil menahan tubuhnya, Lukas berusaha memukul dan menendang pria berbadan besar yang ada di hadapannya itu. Segala cara ia lakukan untuk mengalahkan musuhnya malam itu.
Di sisi lain, Lana terpental dan berbentur di dinding dengan sangat keras. Darah keluar dari mulutnya. Tangannya menahan dadanya yang terasa sangat sakit.
“Aku belum pernah berhadapan dengan pria sekuat ini,” ucap Lana. Dengan sekuat tenaga, ia berdiri lagi untuk melawan musuhnya. Tidak ada kata mundur baginya. Melihat Lukas masih bertarung, Lana juga ingin tetap bertarung.
Like, Komen dan Vote.