
Pagi yang indah. Matahari sudah naik ke permukaan untuk menyinari dunia. Rerumputan yang basah sudah mulai kering. Kicauan burung yang sempat terdengar kini sudah hilang. Emelie duduk di sofa yang pernah ia gunakan untuk melihat bintang bersama Shabira. Jika pada pagi hari, tempat itu sangat cocok untuk dijadikan tempat berjemur.
Emelie duduk bersandar sambil memperhatikan cincin yang melingkar di jemarinya. Perkataan Zeroun lagi-lagi harus mengiang di ingatannya. Wanita itu menjadi tidak bahagia menerima cincin yang sangat berharga tersebut. Hatinya ragu.
Zeroun berencana memberikan cincin itu di malam pertama mereka. Malam pertamanya bersama Serena pastinya. Tapi, karena Serena tidak memilihnya. Zeroun memberikan cincin itu kepada dirinya. Emelie merasa tidak terlalu berarti. Seolah ia menjadi status pengganti yang pernah hilang.
Emelie melepas cincin itu dan meletakkannya di atas meja. Lagi-lagi suasana hatinya memburuk. Selama kehamilan ini memang Ratu Cambridge itu kesulitan mengontrol dirinya.
“Kenapa dia terlihat tidak bisa melupakan Serena,” ucap Emelie kesal. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.
Daniel sedang berjalan-jalan di lokasi yang tidak terlalu jauh dari Emelie. Pria itu menahan langkah kakinya saat melihat Emelie sendirian di sana. Ia memperhatikan lagi keadaan sekitar. Pria itu tidak yakin, jika Zeroun tidak ada di samping Emelie. Tapi, sudah cukup teliti ia memeriksa keadaan sekitar, tidak juga menemukan Zeroun atau yang lainnya di sana.
Daniel memutuskan untuk mendekati Emelie. Walau bisa di bilang ini pertemuan mereka yang pertama. Belum pernah sebelumnya Daniel mendekati wanita lain dan berbincang hanya empat mata.
“Ratu Emelie, apa yang anda lakukan? Kenapa anda sendirian?” Daniel memperhatikan kilauan cincin yang terpantul cahaya matahari. Pria itu kenal dengan cincin yang ada di atas meja. Ia duduk di sofa yang bersebrangan dari Emelie.
“Tuan Daniel, anda ada di sini juga?” ucap Emelie dengan senyuman. Wanita itu mengatur posisi duduknya.
Daniel mengangguk pelan, “Aku berjemur di sana. Serena masih tidur di kamar. Tadi malam baby Al dan baby El sedikit rewel. Jadi dia kurang tidur.”
“Serena wanita yang beruntung,” ucap Emelie sambil membuang tatapan matanya.
Daniel mengeryitkan dahinya, “Apa ini cincin keluarga Zein? Anda melepaskanya? Kenapa?” tanya Daniel penasaran.
“Bukankah cincin itu seharusnya menjadi milik Serena?” sambung Emelie dengan cepat.
Daniel tertawa saat mendengar kata-kata Emelie. Pria itu mengambil cincin yang tergeletak lalu memperhatikan detail cincin itu dengan seksama, “Tentu saja cincin ini tidak di takdirkan ada di jarinya. Hingga akhirnya jatuh ke jari anda, Ratu Emelie.”
Emelie memandang wajah Daniel, “Apa maksud anda?”
“Apa anda pernah berpikir. Bagaimana kisah percintaan kita saat ini jika Serena tidak pernah mengalami kecelakaan?” Wajah Daniel berubah serius. Pria itu meletakkan cincin tersebut kembali di atas meja.
Emelie kembali mengingat cerita Shabira. Ya, memang benar. Kecelakaan itu yang membuat semuanya menjadi berubah, “Aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Zeroun,” ucap Emelie dengan suara yang pelan, “Mungkin detik ini aku sudah menjadi istri Damian,” sambung Emelie dengan wajah sedih.
“Dan aku tidak akan mungkin menikah dengan Serena. Aku tidak akan sanggup merebut Serena dari Zeroun walau kami memang di jodohkan. Zeroun melindungi Serena dengan seluruh nyawanya.” Daniel menghela napas, “Aku sempat berpikir. Jika tidak ada masa lalu tidak akan ada masa depan. Semua sudah takdir. Anda cemburu hanya karena sebuah kalimat. Bagaimana denganku? Bahkan ia menyebut nama pria lain saat tidur di sampingku.”
Deg. Debaran jantung Emelie seakan terhenti. Wanita itu mematung saat mendengar cerita Daniel. Selama ini Zeroun tidak pernah menyebutkan nama wanita lain. Tidak terbayangkan bagaimana sakit dan terlukanya hatinya jika hal itu sampai terjadi.
“Saya tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini,” ucap Emelie dengan wajah merasa bersalah.
Daniel mengukir senyuman, “Anda tidak salah. Anda wajar cemburu. Saya juga merasakan hal yang sama. Tapi, ada satu kalimat yang di ucapkan Zeroun. Kalimat itu memiliki arti yang sangat hebat. Aku cukup yakin, Serena juga merasakan sakit hati saat itu. Sama dengan apa yang kita rasakan.” Daniel menyandarkan tubuhnya. Pria itu menikmati posisinya.
Emelie mengeryitkan dahi. Wanita itu kembali memutar adegan semalam. Ia ingin memeriksa, pada bagian mana yang terlewat, “Zeroun mengatakan. Serena tidak memilihnya. Cincin itu ingin ia berikan di malam pertama mereka. Itu sudah membuktikan kalau cincin itu diberikan dengan berat hati kepada saya.”
“Anda salah Ratu Emelie. Zeroun mengatakan hal itu karena dia tidak yakin dan percaya kalau Serena akan menjadi jodohnya.” Daniel tertawa kecil sambil memejamkan mata, “Bahkan pria itu pernah mengeluarkan uang dengan jumlah fantastis hanya untuk mobil. Cincin itu sangat berharga hingga ia tidak ingin memberikannya kepada wanita yang salah. Ia tahu hatinya mencintai Serena saat itu. Tapi dia tidak yakin kalau Serena yang akan menjadi istrinya.”
“Aku orang pertama yang akan memukulnya jika Zeroun sampai seperti itu,” ucap Daniel dengan tawa kecil.
Emelie mengukir senyuman, “Terima kasih, Tuan Daniel. Anda memang pria hebat. Saya tidak pernah menyangka, bisa memiliki kesempatan untuk mengobrol empat mata seperti ini bersama anda.”
“Ya. Saya juga tidak ingin rumah tangga orang terdekat saya mengalami masalah. Apa lagi jika masalah itu berhubungan dengan Serena.” Daniel beranjak dari kursi yang ia duduki, “Saya permisi dulu, Ratu Emelie. Serena wanita yang baik. Jangan pernah membenci dan mengungkit masa lalu mereka lagi. Kita harus percaya pada perasaan pasangan kita.”
Daniel memutar tubuhnya lalu pergi meninggalkan Emelie berada. Pria itu cukup tenang dan lega karena bisa membujuk Emelie pagi itu, “Bahkan hingga detik ini saja aku masih cemburu saat mereka berdua bertemu,” gumam Daniel di dalam hati dengan senyuman.
Zeroun mendengar semua cerita Daniel dan Emelie. Pria itu bersembunyi di suatu tempat yang tidak di sadari Emelie sejak pertama kali Daniel tiba. Ia tidak ingin muncul karena memang ingin mendengar perbincangan Daniel dan Emelie. Zeroun merasa bersalah atas sikapnya yang sudah melukai hati Emelie.
“Maafkan aku, Sayang. Kau harus tahu, kalau hanya ada namamu di hatiku,” gumam Zeroun di dalam hati.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Semua orang telah kembali pulang. Daniel, Zeroun maupun Kenzo memiliki pekerjaan yang tidak lagi bisa mereka tinggalkan terlalu lama.
Hingga akhirnya, yang tersisa di rumah besar itu hanya ada Lana dan Lukas. Sepasang pengantin baru itu terlihat sangat harmonis dan mesra. Lukas si pria es yang kini sudah memiliki sifat sabar dan tidak mudah emosi lagi.
Malam ini Lukas duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Lana tergeletak di hadapannya dengan kepala terbalik. Wanita itu mengangkat kakinya ke atas. Sedangkan kepalanya berada di ujung sofa dengan posisi yang sengaja di jatuhkan. Wanita itu juga melihat wajah Lukas dengan bentuk terbalik.
“Apa yang kau lakukan?” ucap Lukas dengan tatapan menyelidik.
“Kata Dokter, posisi seperti ini sangat bagus untuk kandungan yang masih muda. Bayinya akan naik ke atas,” ucap Lana sambil mengusap lembut perutnya.
Lukas menghela napas, pria itu melanjutkan kegiatannya pada ponsel yang ada di tangannya. Ia baru saja mendapat kabar pengiriman barang. Hatinya sedikit lega karena akhir-akhir ini pengiriman barang itu tidak lagi mengalami masalah.
“Lovely...” rengek Lana dengan nada manja, “Kemari, temani aku. Kau lebih tertarik dengan ponselmu dari pada aku.”
Lukas mengangkat wajahnya. Pria itu mematikan ponselnya sebelum meletakkannya di atas meja. Ia berjalan pelan ke sofa yang sama dengan Lana sebelum duduk di samping Lana, “Apa kau menginginkan sesuatu?” ucapnya sambil mengusap lembut rambut Lana.
Lana beranjak dari posisinya. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Lukas. Ia mengukir senyuman indah sebelum memejamkan mata, “Ini sangat nyaman.”
Lukas menunduk untuk memandang wajah Lana. Pria itu mendaratkan kecupan singkat di pipi Lana sebelum mengusap lagi rambut istrinya, “Kau berubah manja sejak hamil.”
“Kesempatan. Bukankah dulu kau sangat cuek dan selalu bersikap dingin kepadaku? Hari ini pembalasannya,” ucap Lana dengan tawa kecil.
“Aku mencintaimu, Lana,” bisik Lukas mesra, “Ayo kita tidur. Ini sudah sangat malam,” ucap Lukas sambil melirik jam yang tertempel di dinding.
Lana mengangguk pelan. Wanita itu duduk lalu merentangkan tangannya di hadapan Lukas. Tentu saja wanita itu tidak mau jalan kaki ke kamar. Ia lebih memilih untuk di gendong oleh pria berstatus suaminya itu.
Lukas menatap wajah Lana dengan tatapan tajam sebelum mengangkat tubuh wanita itu. Ia mendaratkan satu kecupan cinta di bibir Lana sambil melangkah pelan menuju ke kamar. Tentu saja bukan hanya tidur yang di harapkan pria tangguh itu. Malam pengantinnya dengan Lana tidak pernah berakhir dan akan terus berlanjut setiap malamnya.