Moving On

Moving On
Pramugari Baru



Beberapa jam sebelum Zeroun datang.


Setelah Emelie berjalan ke arah bandara untuk meninggalkan Lukas. Lukas berbalik arah mendatangi posisi Zeroun. Sejak awal, Zeroun sudah ada di dalam bandara itu. Memperhatikan Emelie dari kejauhan dengan wajah yang sangat tenang.


“Bos, Putri Emelie menitipkan ini untuk anda.” Lukas memberikan setumpuk uang dihadapan Zeroun. Uang itu adalah uang miliknya yang pernah ia berikan kepada Emelie.


Zeroun menerima uang itu dengan wajah tidak terbaca. Memperhatikan gulungan uang itu dengan seksama. Ada senyum kecil di sudut bibirnya.


“Apa semua sudah siap?” tanya Zeroun sambil mengepal uang itu dengan begitu erat.


“Sudah siap, Bos.” Lukas membungkuk hormat.


“Kita harus segera berangkat.” Zeroun berjalan masuk ke dalam bandara untuk berangkat ke Inggris. Pria itu ingin membalaskan rasa sakit hatinya kepada komplotan mafia yang sudah berani menghancurkan kapal barang miliknya.


Zeroun dan Lukas berjalan dengan tenang ke arah pesawat pribadi milik Zeroun. Beberapa pramugari terlihat menyambut Zeroun pagi itu. Lukas melirik sekilas pramugari itu sebelum masuk ke dalam pesawat. Sudah bertahun-tahun ia bepergian dengan pesawat pribadi milik Zeroun.


Ini pertama kalinya ia melihat wajah pramugari itu terlihat berbeda. Ada rasa curiga saat itu di dalam hatinya. Namun, Lukas masih menyimpan perasaan curiga itu di dalam hati. Pria itu ingin menyelidiki semuanya lebih dulu sebelum mengungkapkan isi hatinya kepada Zeroun.


Pesawat itu terbang dengan begitu tenang. Lukas dan Zeroun duduk saling berhadapan. Ada meja kecil di tengah-tengah mereka berdua. Beberapa pramugari meletakkan minuman di atas meja itu. Membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Zeroun dan Lukas.


Lagi-lagi Lukas mencari wajah Pramugari yang sempat ia curigai. Wajah wanita itu kini tidak muncul di hadapannya.


“Ada apa? apa yang kau cari?” Zeroun menyadari perubahan sikap Lukas saat itu.


“Tidak ada, Bos.” Lukas menuangkan minuman itu ke dalam gelas Kristal. Tanpa curiga lagi, Zeroun mengambil gelas itu meneguk isinya secara perlahan.


“Bos, pasukan Gold Dragon akan tiba besok pagi. Apa kita langsung menyerang komplotan Mafia itu?” Lukas kembali memastikan tujuan keberangkatan mereka ke Inggris.


“Ya, lebih cepat lebih baik.” Zeroun meletakkan gelas Kristal itu kembali ke atas meja. Bersandar dengan posisi nyaman.


“Saya permisi dulu, Bos.” Lukas beranjak dari duduknya untuk mencari keberadaan wanita mencurigakan itu. Pria itu berjalan menuju ke arah dapur. Dengan sigap, ia mengeluarkan pistolnya, menodongkan senjata api itu tepat di pelipis wanita itu.


“Siapa kau?” tanya Lukas dengan wajah dingin.


Wanita itu hanya memegang pisau yang akan mengiris kulit apel. Tangannya gemetar saat ada senjata api menempel di pelipisnya saat ini.


“Sa-saya ....” Wanita itu memejamkan mata dengan wajah ketakutan.


“Bos, ada apa?” Salah satu pramugari muncul dengan wajah panik. Mendekati posisi wanita itu lalu menarik tangannya.


“Siapa dia? apa kau mengenalnya?” Lukas menarik pistol miliknya.


“Dia adik saya, Bos,” jawab Pramugari itu sambil memeluk adiknya.


“Adik? kau membawa adikmu ke dalam pesawat ini? Apa kau ingin melanggar peraturan yang ada?” Lukas mulai disulut emosi saat mendengar alasan pramugari itu tidak sesuai dengan isi hatinya.


“Maafkan saya, Bos.” Pramugari itu berlutut didepan Zeroun. Adiknya juga ikut berlutut dengan wajah takut.


Tidak hanya semua orang yang tinggal di rumah Zeorun Zein bisa bela diri. Semua awak pesawat yang berada di dalam pesawat Zeroun Zein juga harus bisa bela diri. Lukas sendiri yang memilih secara langsung pramugari-pramugari itu. Semua wanita cantik dan seksi itu rata-rata bisa melakukan aksi bela diri dan menembak dengan begitu handal.


“Maafkan saya, Bos. Adik saya juga bisa bela diri. Anda bisa mengetesnya saat ini. Tolong, jangan usir kami dari pekerjaan ini.” Pramugari itu mengatupkan kedua tangannya sambil memohon.


Dalam sekejap, Adik pramugari itu memutar tubuhnya. Menjegal kaki Lukas, hingga pria itu terjatuh di bawah. Beberapa barang juga ikut terjatuh saat terkena sambaran tangan Lukas.


“Kau!” umpat Lukas kesal, saat pria itu jatuh.


“Maafkan saya, Bos. Tadi saya tidak kosentrasi hingga tidak sadar kalau anda ada di belakang saya. Sama seperti anda saat ini.” Wanita itu angkat bicara dengan wajah menunduk.


“Ada apa ini?” Zeroun muncul dengan wajah penuh tanya. Memperhatikan beberapa barang yang berserak di bawah.


“Bos,” ucap Lukas pelan. Dengan cepat, pria itu berdiri dengan posisi tegap.


“Maafkan Saya, Bos. Saya tidak memberitahu anda dan Bos Lukas kalau saya membawa adik saya di penerbangan kali ini.” Pramugari itu angkat bicara.


“Adik?” Zeroun melirik ke arah wanita yang ada di samping pramugari itu sebelum mengalihkan tatapannya ke wajah Lukas lagi.


“Kenapa kau bisa jatuh di bawah?” tanya Zeroun penasaran.


“Saya ....” ucapan Lukas terhenti. Ada rasa malu di wajahnya, saat ia harus mengatakan kalau dirinya terjatuh karena di jegal seorang wanita.


“Bos Lukas terpeleset. Saya yang salah, Bos. Saya menumpahkan air hingga membuat Bos Lukas terpeleset.” Adik pramugari itu membela Lukas, agar pria itu tidak malu dihadapan Zeroun Zein.


“Terpeleset?” tanya Zeroun dengan wajah kurang percaya.


“Iya, Bos.” Lukas menyerah. Setidaknya jawaban itu tidak terlalu memalukan daripada harus menjawab kalah dari seorang wanita.


“Sudahlah, bereskan kekacauan ini. Lukas, ada hal penting yang perlu kita bicarakan.” Zeroun memutar tubuhnya untuk kembali ke bangkunya.


“Baik, Bos.” Lukas melirik wanita itu lagi sebelum berjalan mengikuti langkah Zeroun dari belakang. Sedangkan kedua pramugari itu hanya bisa menundukkan kepalanya melihat tatapan membunuh dari Lukas.


Tatapan itu seperti sebuah ancaman pembalasan yang tersirat dari wajah Lukas. Pramugari itu menatap wajah adiknya dengan penuh amarah. Tidak pernah ada satu ornagpun yang berani melakukan hal itu kepada Lukas sebelumnya. Adiknya adalah wanita pertama yang memperlakukan Lukas seperti itu.


“Apa yang kau lakukan?” Pramugari itu mengoyang-goyang tubuh adiknya karena kesal.


“Kakak, maafkan Aku. Tadi dia menghina ilmu bela diriku. Aku kesal mendengarnya.”


“Dia kau bilang? Bos Lukas, kau harus menyebutnya dengan kata ‘BOS’.” Ada nada penekanan di dalam ucapan pramugari itu.


“Iya, iya. Bos Lukas.” ledek wanita itu sambil berjongkok membersihkan lantai yang berserak.


“Lana, Aku tidak sedang becanda.” Pramugari itu memperhatikan wajah adiknya dengan khawatir.


“Kita ada di dalam dunia Mafia yang sangat kejam. Lelucon yang kau lakukan tadi bisa membuat dirimu kehilangan nyawamu satu-satunya.” Pramugari itu membantu adiknya membereskan lantai itu.


Lana hanya diam. Ia tidak ingin protes lagi kepada Kakaknya. Masih ada rasa kepuasan di dalam hatinya saat ia berhasil membalaskan perbuatan Lukas tadi.


Jika dia berusaha untuk membalas perbuatanku. Aku akan membalas lagi perbuatannya.


Lana tersenyum kecil saat membayangkan wajah Lukas terjatuh ke bawah.


Like, Komen, Vote 😘 Terima kasih.